Teks

Cara Menyenangkan Hati Isteri

Hari Sabtu tanggal 31 Desember 2016 kemarin saya menghadiri undangan walimatul ursy di rumah tetangga. Beliau menikahkan putri sulungnya. Acara yang lazim disebut walimahan tersebut berlangsung sederhana namun cukup khitmad. Acara dengan hiburan musik nasyid ini dimulai pukul 09.00 Wib.

Cara menyelenggarakan resepsi pernikahan

.

Acara walimatul ursy sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam yang artinya: “Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad, Ath-Thayalisi, dll]

Setelah acara pembukaan oleh pembawa acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Sambutan penyerahan oleh wakil pengantin laki-laki dijawab dengan sambutan penerimaan oleh wakil pengantin perempuan.

Sebagaimana biasanya, dalam acara walimatul ursy ada acara nasihat pernikahan atau Mauidhatul Hasanah. Pada acara ini Seorang ustad memberikan beberapa nasihat kepada kedua mempelai agar tujuan pernikahan yaitu untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah terwujud.

“Suami harus memanggil isterinya dengan panggilan yang dapat menyenangkan hati isteri,” itulah salah satu pesan ustad kepada pengantin laki-laki.

“Jika suami memanggil Dik, maka isterinya akan memanggil suaminya Mas. Jika suami memanggil isterinya Umi, maka isteri akan memanggil suaminya Abi. Jika suami memanggil Mama, maka isteri akan memanggil suaminya Papa. Jika suami memanggil Emak, maka isteri akan memanggil suaminya Bapak.” Begitu kata Ustad.

“Zaman sekarang ada suami-isteri yang memanggil pasangannya dengan menyebut namanya saja. Katanya agar lebih akrab,” sindir Ustad. Saya mengangguk-angguk tanda mengerti. Maklum saya juga sering mendengar penyebutan nama pasangan oleh suami atau isteri tanpa menambah kata Dik, Jeng, Mama, Mom, Dinda, atau Mak.

Hal serupa juga saya dengar di sinetron atau film seri mancanegara. Isteri memanggil suaminya dengan sebutan Charles ada di film seri Little House on the Prairie, bukan. Sementara Gopi cukup memanggil Aheem kepada suami, sebaliknya Aheem juga memanggil Gopi kepada sang isteri. Rashi memanggil suaminya cukup dengan sebutan Jigar dan suaminya juga cukup memanggil Rashi. Lain halnya dengan Kokila, mertua Gopi ini biasanya menyebut :”Parag, suamiku.”

Berbeda dengan di serial Jodha Akbar. Raja Jalaluddin memanggil isterinya dengan sebutan Ratu Jodha, Ratu Shalimar, dan Ratu Ruqayya. Sebaliknya para isteri memanggil suaminya dengan sebutan Yang Mulia.

Bagaimana dengan saya? Saya dulu awalnya memanggil isteri saya dengan sebutan Dik. Lalu berubah menjadi Mom, dan sekarang malah Mak. Jika bertanya kepada anak, saya biasa mengatakan:”Mamimu mana?” Nah jika bertanya kepada cucu beda lagi. Saya bilang: “Mbah Uti masak apa?”

Setelah makan siang acara walimahan ditutup. Sambil menyalami shohibul hajat para undangan meninggalkan tempat dengan membawa goody bag berisi makanan dan minuman.

Bagaimana cara sahabat memanggil pasangan masing-masing?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Retno says:

    Tergantung situasi Pakde… Kalo nggak ada tamu panggilnya “Yang ” hihihi…

    Ada teman yang saling memanggil Yang
    Tapi nggak akur

  2. Wawan Seger says:

    Biasanya manggilnya ayang mbeb malahan hahahaha

    Gak kok canda.
    kalo saya belum punya pasangan #numpangpromo
    Tapi rencana mau manggil ……….. (tergantung situasi dan kondisi nanti)

    Jangan hanya manggil Kokila loch ya

  3. Inayah says:

    iya, harusnya emang gitu ya pak dhe. aku belum tahu nanti bagaimana

    Semua akan baik-baik saja
    Semoga bahagia
    Salam untukmu

  4. Dewi Adikara says:

    Kalau saya dipanggil dek sm pak Suami, tapi setelah punya anak kedua, anak saya dipanggil dek juga.. Dan panggilan ke saya kdg bingung dek, kadang Bunda.. Hehehe.. Memang setiap perubahan Moment, perubahan sikap, beriringan dengan perubahan perlakuan ya pakdhe.
    Dengan aturan baik dari ceramah pak Ustad bersumber pada agama sehingga bs saling menghargai satu sama lain dalam pernikahan. Sungguh luar biasa:-)

    Salam kenal pakde Cholik saya bloger baru, blog saya masih vakum kena kesibukan domestic hehehe… Semoga saya bisa jadi semangat lagi menyempatkan waktu untuk ngeblog. Inspirasi dari pakdhe “harmoni”
    🙂 terimakasih..

    Saling menghargai memang penting dalam sebuah rumah tangga termasuk cara memanggil pasangan

  5. hani says:

    Sebelum menikah, saya njangkar, panggil nama, karena kami seumur, serasa teman sih. Sehari sesudah menikah, ayah saya dawuh ke saya. Katanya dapat pesan dari besan (= ibu mertua), supaya saya jangan njangkar. Kata beliau, suami tuh guru laki, malati. Weleh, jalur atas uy, Ibu koq ya ga bilang langsung ke saya. Eh…saya panggil Mas nih. Lah, suami ga nengok, karena beliau ragil. Ga ada yang panggil Mas di rumah. Hehe…Sekarang sih, Mas, Pak atau Akung (dari Yang Kakung). Kadang2…Ayang…hehe…

    Hehehe…teman saya juga ada memanggil nama pasangannya
    Kayaknya sekarang sudah manggil Ma dan Pa
    Syokur deh

  6. pokoknya.com says:

    Hmmmmm jadi pengen nikah…. 🙂

    Mari

  7. indah nuria says:

    saya punya panggilan sayang khusus, pakdhe hehehe…jadi special 🙂

    Good, yang penting saling menghargai

  8. Ehmm.. Pangilan saya Dik, kalo lagi gemes ya tak pangil sayang atau istriku, hehe

    Saya nggak pernah manggil “Isteriku”

  9. Ha..ha…. Gopi numpang tenar di blog ini.
    Punya panggilan sayang dong, Pakdeee…. kalau tidak lagi di depan anak-anak. Soalnya kalau didengar anak mbarep pasti diledek… “Weeeee…. Bunda sama Ayah pacarannnnn”.

    Iya. Konon ada yang ditegur mertuanya karena memanggil “Yang” di segala medan dan cuaca

Leave a comment