Dua Tanda Cinta

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” [QS. Ash-Shaaffaat: 99-111]

Nabi Ibrahim Alaihis Salam dianugerahi putra ketika usianya sudah mencapai 86 tahun. Tentu saja beliau sangat mencintai Ismail. Sampai suatu hari Nabi Ibrahim Alaihis Salam bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putra kesayangannya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas.

Apakah Nabi Ibrahim Alaihis Salam lantas bersikap : “pikir-pikir dulu’ atas perintah untuk menyembelih putranya? Ataukah beliau langsung menyeret putra tercintanya ke tempat penyembelihan? Ternyata tidak. Beliau menyampaikan mimpi itu kepada putranya dan sekaligus memberikan waktu kepada Ismail untuk menyampaikan pendapatnya. Nabi Ibrahim Alaihis Salam jelas mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentu saja beliau juga sangat mencintai Ismail putranya. Tetapi kecintaan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ditempatkan paling atas.

Sebaliknya, Ismail tidak serta merta membantah atau menyangkal mimpi ayahnya.  Ismail juga tak melarikan diri untuk menghindari penyembelihan atas dirinya. Putra kesayangan Nabi Ibrahim Alaihis Salam ini jelas mencintai orangtuanya, mencintai bapak-ibunya. Namun kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ditempatkan di atas kecintaannya kepada orangtuanya. Ujian kepada dirinya disikapi dengan kesabaran yang luar biasa.

Setiap muslim memahami ending dari kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Ismail ini. Ketika prosesi penyembelihan nyaris terlaksana Allah Subhanahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba. Hewan inilah yang kemudian disembelih oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam.

Ketika manusia mengatakan ‘ Saya beriman’, Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas memberikan aneka ujian dan cobaan kepadanya. Ujian dapat berupa duka-lara atau suka-cita. Keduanya untuk mengukur seberapa kokoh-kuat iman hamba-Nya. Seorang hamba yang diuji dengan gelimangan harta ternyata juga ada yang tak mampu menyukurinya dengan ikhlas dan benar. Dia bahkan semakin tamak untuk terus mengumpulkan harta dengan berbagai cara. Kita bisa melihat pejabat yang melakukan korupsi itu akhirnya diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menempatkannya di dalam penjara.

Demikian pula seorang hamba yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang tidak memahami ujian tersebut. Ketika menerima ujian berupa kesengsaraan , kesabarannya lantas hilang, kekufurannya muncul. Mereka bahkan menjadikan Tuhan sebagai tersangka. “Tuhan tidak adil,” begitu ucapnya.

Setiap Idul Adha seharusnyalah semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ujian yang diberikan kepada manusia biasa tentu tidak akan lebih berat daripada ujian yang diberikan kepada Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan nabi-nabi yang lainnya. Mari kita simak hadits di bawah ini.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Bahwa setiap hamba-Nya akan diuji itu sudah pasti. Bagaimana seharusnya seorang sikap muslim jika diuji dengan aneka kesedihan atau kesengsaraan? Mari kita cermati dan pedomani firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 155-157 yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Orang beriman akan mempunyai sikap yang baik terhadap segala macam ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

.

Hewan Qurban

Idul Adha hampir tiba. Muslim yang berkecukupan selayaknya menyisihkan sebagian dari hartanya untuk menyembelih hewan Qurban. Hal ini sesuai perintah Allah yang artinya: “Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh orang yang membencimu akan terputus (dari rahmat Allah SWT).” [QS. Al-Kausar 1-3]

Keutamaan berqurban dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits di bawah ini.

Dari Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah ‘Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Hakim berkata isnad hadits shahih)

Dua tanda cinta telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim Alaihis salam dan Ismail, putranya. Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ditempatkan di atas kecintaan Nabi Ibrahim Alaihi salam kepada putranya. Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ditempatkan di atas kecintaan Ismail kepada orangtuanya.

Semoga kita dapat meneladani Nabi Ibrahim Alaihi Salam dan orang-orang yang bersama dengan-nya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan-nya. “ ( QS Al Mumtahanah : 4 )

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

4 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Aamiin.
    Semoga tiap tahun bisa menerapkan kisah Nabi Ibrahim ya, Pakde. ^^

    Aamin

  2. Dua tanda cinta yang sangat luar biasa, dan sekarang diteladani oleh muslim seluruh dunia ya, Pakdhe 🙂

    Iya
    Seharusnyalah begitu

  3. Sebuah pengingat yang manis pakdhe.

    Terima kasih

  4. Tia Marty says:

    Semoga selalu bisa menauladaninya

    Aamiin

Leave a comment