Ketika Sedekah Tak Laku Lagi

“Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Thahir] Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] dari [Amru bin Harits] dari [Abu Yunus] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga harta yang ada pada kalian melimpah ruah, yang akhirnya si pemilik harta merasa sedih karena tidak ada seorang pun yang bersedia menerima sedekahnya. Dan orang yang dimintanya untuk menerima sedekahnya menjawab, ‘Aku tidak membutuhkan sedekah Anda.” [HR. Muslim No.1682]

Wah, bagaimana ya rasanya jika sedekah kita ditolak oleh orang lain. Tentu sedih dan kecewa. Barangkali kita akan bergumam: “Seandainya saya bersedekah sejak dini tentu banyak tetangga, kerabat, atau sahabat yang mau menerimanya.” Yup, mungkin juga. Tetapi itulah sifat manusia. Kita diingatkan pepatah berbunyi: Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Kemudian muncul nasihat yang layak kita cermati dan pedomani: ‘jika akan berbuat baik jangan menunda-nundanya.’ Sesungguhnya tak ada kebaikan yang sia-sia. Jangankan melaksanakan suatu kebaikan, baru berniat untuk melakukan kebaikan saja sudah dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu kebaikan.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Seringkali pula kita diingatkan bahwa dalam rezeki yang kita peroleh ada hak orang lain. Seorang blogger yang menerima fee Rp.200.000 dari job review jangan segan-segan untuk mengiris sedikit daripadanya. Kaum duafa yang mengharap rezeki di lampu merah, pasar, TPU, depan masjid tentu layak diperhatikan dan diciprati rezeki itu. Tak usah menunggu fee job review yang akan datang jika kotak infaq masjid lewat di depan kita.

Dalam salah satu tauziahnya Mama Dedeh mengajak pendengarnya untuk membagus-bagusi amal kita hari. “Bagusi amal kita hari ini karena esok hari belum pasti,” ujar beliau. Ya benar itu, hanya hari ini yang kita miliki. Hari esok kita tidak tahu apakah kita masih bisa bernafas atau tidak, bukan.

Ketika Raymoe sedang membersihkan mobil tiba-tiba datang seorang laki-laki yang minta tolong. “Mas Ray, mohon maaf, jika tidak keberatan saya minta tolong pinjam mobilnya. Isteri saya mengalami kesakitan karena akan melahirkan. Saya ingin membawanya ke rumah sakit.” Melihat mobil belum selesai dibersihkan maka Raymoe menjawab dengan enteng: “Waduh, mohon maaf nich. Mobil sedang saya bersihkan.” Ketika acara bersih-bersih mobil selesai Raymoe segera menuju rumah tetangganya. Tetapi terlambat, isteri tetangganya telah menutup mata karena kehabisan darah. Raymoe tak habis-habisnya menyesali sikapnya. Seandainya Raymoe segera mengantarnya ke rumah sakit kemungkinan isteri tetangga bisa diselamatkan.

.

Cara bersdekah

Jangan menunda-nunda untuk melakukan kebaikan

.

Sedekah Tanpa Harta

Setelah shalat Isya, Mbah Muslim, Kromo Dingklik, dan Cak Ngaderi berangkat bersama-sama ke rumah Haji Sholeh. Sesepuh desa itu baru saja pulang dari melaksanakan ibadah umrah bersama isteri, anak, dan menantunya. Saat memasuki halaman rumah, Mbah Muslim dan rombongannya disambut penerima tamu. Sambil salaman, petugas penerima tamu memberikan tas cantik terbuat dari bahan kain. Terlihat di dalamnya ada sarung, kopiah haji, dan sajadah. “Oleh-oleh dari Abah Haji,” demikian penjelasan dari penerima tamu.

Usai sambutan dari shahibul bait dan pembacaan doa oleh seorang ustadz para tamu dipersilakan menikmati hidangan. Para tetangga, sahabat, dan kerabat benar-benar menikmati acara yang singkat tetapi cukup padat dengan aneka hidangan dan oleh-oleh yang memikat.

“Enaknya jadi orang kaya. Bisa menjalankan ibadahnya dengan baik. Naik haji, umrah, ngasih oleh-oleh, dan nyuguhi aneka makanan yang lezat,” ujar Cak Ngaderi sambil menikmati gulai dan sate kambing.

“Benar-benar dimanja oleh Allah ya,” Kromo Dingklik menimpali.

“Begitulah orang yang banyak sedekah dan selalu bersyukur. Rezekinya mengalir terus.” Mbah Muslim melirik temannya.

“Nggak seperti saya. Boro-boro sedekah, untuk beli sarung saja harus nunggu lebaran.”

“Kamu juga bisa sedekah kalau mau,” sahut Mbah Muslim sambil nyruput es buah nan segar.

“Jangan ngenyek tho, Mbah. Emangnya duit dari Hongkong,” ujar Cak Ngaderi.

“Sedekah kan tidak selalu harus dengan uang,” jawab Mbah Muslim. Kromo Dingklik tertawa ngakak mendengar jawaban sahabatnya.

“Pakai klaras atau kreweng ya, Slim?” tanya Kromo Dinglik seolah mengejek.

Diam-diam Mbah Muslim memahami ucapan teman-temannya. Orang selalu beranggapan bahwa sedekah selalu dikaitkan dengan uang atau barang. Padahal dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak dijelaskan tentang aneka macam sedekah yang bisa dilakukan oleh seorang muslim.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:” Peliharalah dirimu dari neraka walau dengan (bersedekah) sebelah buah kurma. Jika kamu tidak sanggup, maka dengan tutur kata yang baik.” Mbah Muslim mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. “Jelas tho, bertutur kata yang baik saja sudah merupakan sedekah. Masa kalian nggak sanggup.” Kromo Dingklik dan Cak Ngaderi mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Apalagi yang termasuk sedekah tanpa uang, Mbah?”

“Yo wis kapan-kapan saya jelaskan. Sekarang nikmati makanan dulu ya.”

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu seluas-luasnya kepada hamba-Nya yang ingin melakukan sedekah walau tidak mempunyai harta. Dalam hadits banyak sekali petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan sedekah yang tidak berupa uang atau harta benda. Berikut salah satu hadits.

Abu Dzar ra mengatakan, beberapa orang sahabat Nabi pernah bertanya kepada beliau:” Kaum hartawan dapat memperoleh harta yang lebih banyak. Mereka sholat seperti kami shalat. Mereka puasa seperti kami berpuasa, dan dapat bersedekah dengan sisa harta mereka.” Mendengar keluhan para sahabat, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi berbagai macam cara untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah. Setiap kalimat takbir adalah sedekah. Setiap kalimat tachmid adalah sedekah. Tahlil adalah sedekah. Mengajak kebaikan dan melarang kejahatan (amar ma’ruf dan nahi munkar) adalah sedekah. Bahkan pada kemaluanmu pun terdapat pula unsur sedekah.”

“Kalau begitu apakah kami dapat pahala jika kami memuaskan nafsu syahwat kami?” tanya para sahabat.

“Kalau kamu melakukannya dengan cara yang haram, tentu kalian berdosa. Sebaliknya apabila kalian lakukan dengan yang halal, kalian dapat pahala,” jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.[HR. Muslim]

.

Membantu tetangga adalah sedekah

Membantu tetangga dengan tenaga juga sedekah

.

Subhanallah, begitu banyak kesempatan bagi muslim untuk bersedekah walaupun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Dengan demikian maka tak ada alasan lain bagi muslim untuk lalai dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika kita tak memiliki uang sepersen untuk disedekahkan maka kita bisa membersihkan kamar mandi dan toilet yang ada di sekitar musala atau masjid. Demikian pula jika melihat ada paku, duri, atau batu yang berada di jalan. Tak ada salahnya menyingkirkan benda berbahaya itu agar tak melukai orang yang lalu lalang di situ. Perbuatan baik seperti itu jika dilakukan dengan ikhlas pasti akan dilihat dan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga amal ibadah kita diterima dan mendapat ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Sedekah komentar hihi.

    Menurut Pak Dhe, apakah zaman sekarang sedekah udah beneran g laku? Mungkin akan tiba masa saat org g perlu makan lagi…juga ga perlu bantuan org lain. Ngerii

    Sekarang masih laku keras kok

  2. rosa says:

    sedekahnya senyum aja apa yaa.. hihi

    Iya, nggak apa-apa asal ikhlas

  3. Seruni says:

    Tapi masih banyak masyarakat Indonesia yang pengen disedekahin, kita bisa melihat ketika menjelang lebaran idul fitri, padahal mereka mampu. Itu bagaimana ?

    Prinsip dasarnya sih tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah

  4. abunaf says:

    saya suka tulisan ini, sedekah 🙂 ah.

    Mari, semampu kita

  5. Wadiyo says:

    lah terus piye Pak Dhe, kalau sedekah seribu rupiah pingin imbalannya sepuluh ribu rupiah?
    salam kenal dan terima kasih

    ustad juga beda pendapat tentang hal itu
    Ada yang harus ikhlas dan ada pula yang boleh mengharap
    Tuhan memang tak pernah mengabaikan sebuah kebaikan

  6. Sejak dulu, saya termasuk yang lebih bisa sedekah fikiran, waktu dan tenaga, hehehe. kayanya tidak mengeluarkan apapun ya, tapi alhamdulillah, meskipun sedikit, berarti buat orang lain.
    tulisannya bagus pakde, mencoba mengungkap sisi lain sedekah.

    Berbuat baik sudah termasuk sedekah

  7. Tulisan yg sangat inspiratif pak dhe…
    Mengingatkan kita betapa pentingnya sedekah…syukron jazakalloh ahsanal jaza

    Sedekah dengan ikhlas dan sesuai kemampuan tak akan sia-sia

Leave a comment