Ngebut Benjut!

Mbah Muslim sedang asyik menanam aneka tanaman obat di samping rumah ketika Cak Ngaderi datang dengan senyam-senyum sumringah.

“Assalamu ‘alaikum, Mbah,” Cak Ngaderi Uluk salam sambil memamerkan kertas kartun bertuliskan kalimat Ngebut Benjut!.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Apaan tuh Ri, mau demo?” Mbah Muslim mengernyitkan dahi.

“Weee…kok demo sih. Poster ini mau saya pasang di mulut gang.”

“Untuk apa?”

“Yaelaaaaa, ya untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. Cukup banyak pengendara sepeda motor yang nggak tahu diri. Kalau naik motor sering ugal-ugalan. Di gang saya kan banyak anak kecil. Kalau mereka melaju kencang gitu kan bisa menabrak anak-anak.”

“Kok tulisannya berbunyi Ngebut Benjut! itu apa maksudnya?”

“Ini semacam deterrent gtzuuu, Mbah.”

“Klincipen lambemu. Maksudnya untuk menakut-nakuti pengendara sepeda motor?”

“Yoi, Mbah.”

“Lha polisi tidur yang seabreg di gangmu itu masih kurang tah?”

“Kayaknya kurang efektif Mbah. Faktanya masih banyak yang ngebut kok. Apalagi bunyi knalpotnya juga memekakkan telinga.”

“Jika seandainya papan peringatan itu tidak manjur gimana?”

“Ya tahu sendiri akibatnya. Sesuai bunyi poster itu mereka akan benjut kepalanya.”

“Siapa yang akan membenjuti kepala pengebut itu?”

“Ya saya donk ach. Mungkin tetangga juga akan ikut mbenjuti.”

“Emangnya tetanggamu juga kamu ajak ngroyok mereka?”

“Ya tidak, Mbah. Ngapain saya menyuruh tetangga ikut campur.”

“Walaupun kamu tidak menyuruh tetapi kalimat di poster itu bisa memprovokasi mereka untuk melakukan pengeroyokan.”
“Gitu ya, Mbah.”

“Ya, iyalah. Kamu kan sering melihat di layar televisi. Kalau ada pencopet yang tertangkap dan salah satu anggota masyarakat melakukan pemukulan yang lain umumnya ikut urunan memukul.”

“Jadi enaknya bagaimana, Mbah?”

“Ganti saja tulisannya dengan yang agak lunak dan lebih persuasif?”

“Dilarang ngebut-banyak anak-anak!  Gitu ya, Mbah.”

“Nah, itu lebih joss.”

“Tumben nggak ngasih kultum.” Cak Ngaderi mulai cengengesan.

“Ada donk. Kamu jangan menjadi pelopor untuk berbuat keburukan.”

“Maksudnya?”

“Yaaa. Meskipun kamu tidak mengajak tetanggamu untuk melakukan pemukulan terhadap pengendara sepeda motor tetapi poster berbunyi Ngebut Benjut! itu bisa merangsang tetanggamu. Apalagi jika kamu memukuli pengendara sepeda motor itu dan tetanggamu terprovokasi lalu ikut melakukannya. Jika itu terjadi maka dosa mereka akan ditumpahkan pula kepadamu.”

“Waduh beratnya. Memang ada dalilnya, Mbah?” Cak Ngaderi mulai menanyakan akurasi kultum Mbah Muslim.

“Ya ada donk. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Nyali Cak Ngaderi menjadi ciut. “Kalau begitu posternya saya ganti saja Mbah. Ngeri kalau tetangga langsung main bak buk bak buk saja kepada pengendara sepeda motor yang ngebut.”

“Sip. Lebih baik kamu menjadi pelopor kerja bakti membersihkan musala, masjid atau pemakaman umum sana biar dapat pahala,” pesan Mbah Muslim sambil melanjutkan kegiatan menanam TOGA.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Ida Tahmidah says:

    Kalau inget hadist itu jadi ngeri deh..Pakde..mudah2an jadi pelopor kebaikan aja biar pahalanya kita dpt juga 🙂

    Betul, tak ada kebaikan yang sia-sia

  2. Anisa AE says:

    Bahasa yang unik, penuh makna, tanpa menghakimi. 🙂

  3. Inayah says:

    Udah otomatis begitu di masyarakat kita, bahkan aparat sering memaklumi

  4. Amy says:

    Pak de emang keren! 😀
    Semoga kita semua bisa menjadi pelopor kebaikan, tanpa menjadi pelopor sebuah amalan buruk ya Pak de. Aamiin ^^

  5. ninda says:

    dialognya pakdhe disini bikin saya ngerasa sedang baca surat kabar lokal yang kental jawa timuran 🙂 akrab

  6. almond says:

    karena sejatinya berdakwah itu mengajak bukan menghakimi…

    Betul sekali

  7. Indah nuria says:

    Jadi pelopor kebaikan memang tidak gampang ya pakdhe.. Suka lupa 🙂

    Ya yang dekat2 saja
    Misalnya murah senyum, berkata baik, dan lain sebagainya

  8. geguritan says:

    masih heran apa sih yang di banggain dari kebut kebutan,, mending kalau motornya keren,, motor butut juga buat kebut kebutan.. kelakuan emang

    Terkesan macho kale ya

Leave a comment