Pentingnya Memegang Teguh Komitmen

Ketika seorang laki-laki dan wanita akan menikah pada umumnya bercita-cita untuk membentuk keluarga yang sejahtera dan bahagia. Mereka juga berjanji untuk melakukan apa saja agar keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang mereka impikan bisa terwujud. “Insya Allah saya akan setia mendampingmu dalam suka dan duka selama hayat di kandung badan, Mas.” Itulah yang lazim disebut komitmen yaitu berjanji untuk melakukan atau memberikan sesuatu.

Dalam pertunjukkan wayang atau ketoprak, saya sering mendengar seorang ksatria mau memberikan apa saja kepada wanita yang digandrungi atau dicintainya. “Diajeng, apa bae kang dadi panjalukmu bakal Kakangmas turuti kajaba tumuruning lintang utawa rembulan.”Kalimat romantis dalam bahasa Jawa tersebut artinya,” Adinda, apa saja yang kamu minta akan saya penuhi kecuali turunnya bintang atau rembulan.”  Hebat kan. Tak heran jika seorang ksatria pontang-panting berusaha keras mengerahkan segala upaya agar bisa membuat seribu candi yang diminta oleh pujaan hatinya. Ksatria tersebut memegang teguh komitmen atau janjinya untuk memenuhi permintaan kekasihnya.

Cita-cita untuk mewujudkan keluarga sejahtera, bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah memang tidak mudah. Tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Dalam perjalanannya tentu ada saja rintangan dan hambatan. Tuhan juga tak jarang memberikan ujian dan cobaan. Bentuknya bisa berupa harta, anak, jabatan, pangkat, atau manusia. Sebuah pernikahan yang semula aman dan damai, menjadi porak-poranda. Suami yang baru saja mendapat promosi jabatan dan pangkat mendadak tergona godaan, berpaling ke wanita lain. Komitmen untuk selalu setia dan saling mencintai sampai akhir hayat telah diingkarinya.

Komitmen ada kaitan dengan banyak hal. Niat yang lurus ketika akan menikah merupakan salah satu di antaranya. Jika menikah dengan niat untuk ibadah Insya Allah mahligai rumah tangga akan barokah. Pasangan suami isteri akan berusaha keras untuk memegang komitmen yang telah disepakati bersama. Masing-masing pihak akan menjaga agar pikiran, ucapan, sikap, dan tingkah lakunya diupayakan agar senantiasa bernilai ibadah. Dengan cara seperti itu maka akan menjaga agar tidak mencederai komitmen yang telah dibuatnya.

Jika komitmen itu adalah janji maka suami-isteri akan berusaha keras untuk menepatinya. Mereka faham betul bahwa janji adalah hutang. Mengingkari sama halnya dengan tak membayar hutang. Mereka juga faham apa resiko bagi orang yang tidak menepati janji yang telah diucapkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan agar kita menepati janji sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (QS.Al-Isra`: 34)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa ssalam juga menegaskan  bahwa mengingkari  janji adalah salah satu tanda orang munafik. “Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Khishalul Munafiq no. 107 dari jalan Abu Hurairah)

Pasangan suami-isteri yang memegang teguh komitmen Insya Allah akan memberikan dampak positif bagi rumah tangganya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. denature says:

    tausiyah yang luar biasa pak. Nasehat bagus untuk yang masih belajar berumah tangga seperti saya

    Komitmen memang penting Mas

  2. Ade anita says:

    Komitment itu terbangun karena saling percaya pakde

    Betul, jika kepercayaan hilang maka akan ternodai

  3. Memegang komitmen itu penting banget apalagi dalam dunia bisnis.. Orang yg gak pegang komitment gak bisa dipercaya..

    Betul, tanpa komitmen sebuah rumah tangga bisa gonjang-gonjing
    Bisnis bisa kacau

  4. lubena ali says:

    Memegang komitmen itu memang sangat diperlukan, kalau dua orang sudah disatukan maka komitmen harus dijalankan.

    Betul sekali
    Satu saja belok ke sana maka bisa memercikkan masalah

  5. Man Tsabata Nabata
    Siapa yg berkomitmen niscaya akan sukses berkembang

    Insya Allah

Leave a comment