Bukan Hanya Ibu Budi Tetapi Juga Budi Pekerti

When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost.

Billy Graham

.

Saya ingat sekali pada rapor Sekolah Rakyat terdapat kolom nilai Budi Pekerti dan diberi keterangan Baik. Yup, ini menandakan bahwa budi pekerti saya dinilai baik oleh para guru. Bapak dan Ibu guru mengamati dengan seksama bagaimana para murid bergaul dengan teman-temannya serta unggah-ungguhnya dalam bertutur, bersikap, dan bertingkah laku. Dari hasil pengamatan tersebut maka para guru akan menentukan nilai Budi Pekerti muridnya dan mencantumkannya dalam Rapor. Nilainya bisa Baik, Cukup, atau Kurang.

Selain nilai Budi Pekerti juga terdapat kolom Absensi. Di sana di bagi beberapa kolom terdiri dari Sakit, Ijin, dan Alpa. Keduanya melengkapi nilai Akademik yang diletakkan paling atas. Nilai Akademiki berisi nilai untuk masing-masing mata pelajaran. Jika nilai mata pelajaran di bawah angka 6 (kala itu) maka nilainya ditulis dengan tinta berwarna merah. Sedih rasanya jika nilai pada rapor ada warna merahnya.

Nilai Budi Pekerti tidak berhenti hanya di buku Rapor Sekolah Dasar. Hal yang sama juga tercantum pada Rapor SMP dan SMA/SMK. Alhamdulillah nilai Budi Pekerti saya selalu baik.

Ketika saya mengikuti pendidikan di Akabri Darat dan pendidikan militer lanjutannya nilai kepribadian juga dimasukkan dalam ijazah. Hanya istilahnya ada yang berjudul Nilai Konduite dan ada pula berjudul Kepribadian. Kedua istilah ini pada hakekatnya sama yang menunjuk kepada nilai Budi Pekerti anak didik. Nilai Kepribadian ini tidak ditulis ketika saya mengikuti pendidikan di mancanegara.

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa di sekolah apapun jenisnya, budi pekerti seorang siswa sangat diperhatikan oleh para guru, dosen, guru militer, atau para pembina/pengasuh. Nilai Budi Pekerti, Konduite, atau Kepribadian merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai akademik dan nilai Kesamaptaan Jasmani. Khusus nilai Kesamaptaan Jasmani ini barangkali hanya dikenal di lingkungan pendidikan militer.

Budi pekerti sejatinya merupakan standar moral, etika, prinsip, dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh seseorang dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan bertingkah laku. Setiap orang memiliki nilai budi pekerti sendiri. Ada yang baik sekali, baik, cukup, dan kurang. Nilai budi pekerti ini bukan hanya berlaku di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan di lingkungan masyarakat. Tentu saja di luar sekolah nilai budi pekerti tidak dicantumkan tetapi  masyarakatlah yang menilai apakah kita orang yang baik budi pekertinya atau sebaliknya.

Di lingkungan sekolah, para guru tidak hanya mengamati atau memantau kepribadian para pelajar atau mahasiswa saja. Para pendidik juga memberikan pendidikan budi pekerti dengan berbagai media dan cara. Ketika seorang anak masuk Sekolah Dasar para guru tidak hanya mengajari ‘Ini Budi’ tetapi juga memberikan pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti ini diberikan secara berkala dan berlanjut pada semua lini dan tingkatan.

Saya diingatkan sebuah lagu yang liriknya seperti di bawah ini.

Oh Ibu dan Ayah selamat pagi.

Ku pergi sekolah sampai kan nanti

Selamat belajarlah nak penuh semangat

Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman

.

Lagu berjudul Pergi Belajar karya Ibu Sud ini mengandung pelajaran budi pekerti, bukan. Seorang anak sekolah bukan hanya dianjurkan untuk menghormati guru tetapi juga menyayangi teman-temannya. Sungguh memprihatinkan juga seorang anak sekolah sampai tidak menghormati gurunya. Mengerikan jika seorang pelajar sampai menganiaya, membuli, dan atau memaki-maki temannya.

Pelajaran agama, Pendidikan Moral Pancasila, membaca buku kisah-kisah kepahlawanan, mendongeng, membezuk guru atau teman sekolah yang sedang mengalami musibah (sakit, kebanjiran, kebakaran, dan lain-lain) juga merupakan pendidikan budi pekerti. Jangan pula dilupakan, guru dan staf sekolah selayaknya menjadi contoh dan teladan dalam ucapan, sikap, dan tingkah laku yang mencerminkan budi pekerti yang baik. Pepatah berbunyi: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, masih valid hingga kini dan sampai nanti.

Para orangtua bisa memberikan pendidikan budi pekerti mulai dari hal-hal yang tampaknya sederhana tetapi cukup penting. Mengucapkan Bismillah sebelum melakukan perbuatan baik dan Alhamdulillah setelahnya merupakan salah satu contohnya. Mengucapkan terima kasih, maaf, permisi, dan ucapan bernuansa tata krama dan santun juga perlu ditanamkan secara dini. Di lingkungan orang Jawa ada perbedaan kata jika berbicara dengan sesama dan kepada orang yang lebih tua. Jika kepada sesama teman atau sebaya kami bisa menggunakan kata ‘mangan (makan) tetapi untuk orangtua kami menggunakan kata ‘neda’ dan ‘dahar’. Kepada teman sebaya kita bisa menyebutnya ‘Kowe’ tetapi kepada orang yang lebih tua dan dihormati kami harus menyebut ‘Panjenengan.’

Ketika saya masih kecil, Emak langsung melirik saya manakala saya ‘ndombong’ (ngowoh, mulut ternganga) ketika Emak sedang berbincang-bincang dengan tamunya. Saya faham lirikan Emak dan langsung meninggalkan Emak bersama tamunya. “Anak kecil nggak boleh mendengarkan orangtua yang sedang ngobrol dengan tamu,” nasihat Emak setelah tamunya pulang. Emak juga melarang saya duduk sambil kaki nangkring (istilah di kampung saya ‘medingkrang’) di depan orang yang lebih tua.

Setelah melakukan penghormatan, tentara mancanegara boleh saja bertolak pinggang sambil ngobrol dengan atasannya. Itu tidak akan terjadi di lingkungan TNI dan Polri. Kami tak akan pernah ngobrol dengan senior atau atasan sambil tolak pinggang. Itulah etika kami.

Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan. Di lingkungan instansi pemerintah, penilaian terhadap budi pekerti pegawai atau karyawan juga masih dilakukan. Dapen (daftar penilaian) dibuat secara berkala dan berlanjut. Dapen ini berisi penilaian terhadap kinerja dan budi pekerti mereka. Loyalitas, kejujuran, sikap kerja, kerjasama, kepemimpinan, dan lain sebagainya termasuk elemen yang dinilai.

Pendidikan budi pekerti perlu ditanamkan secara dini, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Para orangtua, guru, tokoh agama, tokoh masyarat, dan anggota masyarakat selayaknya berperan aktif memberikan pendidikan budi pekerti sesuai kemampuan masing-masing dengan menggunakan media yang ada.

Kita selayaknya mencermati quote Bill Graham di atas. Jika kekayaan hilang tidak ada yang hilang, jika kesehatan hilang ada sesuatu yang hilang, jika karakter (budi pekerti) hilang maka semuanya hilang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

2 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Pas aku udah SMP…PPKN berubah nama jadi KN (kewarganegaraan) jadi udah gda budi pekerti. Entah sekarang

    Dulu ada yang menyebut Civic
    Kayak merk mobil ya

  2. Yang terpenting sekarang ini tidak hanya diajarkan secara teori tapi juga prakteknya ya pakdhe. Mau murid-murid berbudi pekerti ya guru dan orang tuanya juga harus nyontoni, nggak boleh jarkoni 🙂
    Harus itu
    Jangan hanya berkata :” Hayooo segera ke musala” tapi emaknya asyik nonton serial Utarran ka ya nggk bisa dijadikan contoh

Leave a comment