Jangan Memaki Orangtua Dengan Meminjam Mulut Orang Lain

Berbakti kepada orangtua merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu firman-Nya terdapat dalam Al Qur’an surat Al Israa ayat 23 yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Dari firman Allah di atas jelas bahwa seorang anak dilarang keras berkata kasar, membentak, atau memaki orangtuanya. Ini benar-benar perlu diperhatikan. Sengaja atau tidak sengaja ada saja anak yang berkata kasar kepada bapak-ibunya. Seorang ustadz bahkan mengatakan bahwa ada semacam durhaka kecil yang secara tidak sadar diperlihatkan oleh anak. Wajah anak yang masam disertai dengan kernyitan dahi merupakan bahasa tubuh tanda kurang suka ketika mendengar nasihat atau teguran orangtuanya. Jika ibu mengingatkan:”Hayoooo segera belajar, jangan nonton tivi saja lusa kan sudah mau ujian.” Ketika anak tak segera meninggalkan tivi, ibunya mengulangi lagi perintahnya. Tanpa menoleh si anak langsung berkata:” Iya, iya, iyaaaaa.” Ucapan seperti itu sudah cukup mengisyaratkan kekurangsukaannya. Kenapa sih harus diulang sampai tiga kali, bukankah lebih enak didengar jika anak bilang:”Iya, Ma, terima kasih sudah mengingatkan.”

.

Larangan memaki orangtua

Berkata:”Ah” saja tak boleh apalagi memaki dan membentak. Disuruh belajar marah, dimintai tolong membersihkan kamar mandi ngambek, di larang pulang larut malam malah banting pintu sambil berteriak. Itu kan anak yang berperilaku minus.

Perlu diingat oleh setiap anak bahwa memaki orangtua tak selalu harus langsung kepada mereka. Bisa saja melalui cara lain atau tidak langsung tetapi dampaknya sama dengan memaki orangtua sendiri secara langsung. Misalnya, si A menjelek-jelekkan atau memaki orang tua si B. Merasa orangtuanya dipermalukan maka si B balik memaki orangtua si A. Itulah yang disebut memaki orangtua sendiri melalui orang lain. Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam juga telah mengingatkan tentang hal itu. Mari kita  simak hadits berikut ini.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin  ‘Al Ash ra Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Di antara dosa-dosa besar ialah jika seseorang memaki kedua orangtuanya.” Tanya para sahabat,” Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang memaki kedua oragtuanya?,” jawab beliau,” Ada yaitu seseorang yang memaki ayah orang lain, kemudian orang lain itu memaki ayahnya. Dan dia memaki ibu orang lain, kemudian orang lain itu memaki ibunya.’ [HR. Bukhari Muslim]

Ketika dua orang sedang berselisih faham atau bertengkar secara sengaja atau tidak sengaja salah satu di antara mereka menyerang dengan memaki atau menjelek-jelekkan orangtua sahabatnya. “Kamu memang seperti ayahmu, kalau berhutang selalu ngemplang.” Mendengar orangtuanya dikaitkan maka yang diserang pun membalas serangan dengan mengucapkan kalimat yang tak kalah menyakitkan.”Sembarangan saja, bapakku tak seperti bapakmu yang koruptor itu.” Tak ayal, pertengkaran semakin menjadi-jadi. Orangtua yang tidak tahu apa-apa ikut terbawa-bawa.

Di kala sedang marah, jangan sampai kita lepas kendali dengan memaki orangtua dengan mulut sendiri maupun melalui mulut orang lain sebagaimana contoh di atas.

Di televisi sering ditayangkan sinetron yang menggambarkan perilaku anak yang tidak baik kepada orangtuanya. Ada anak yang setelah sukses menjadi orang tidak mau mengakui ibunya karena malu kepada teman sekantor atau bawahannya. Maklum orangtuanya orang desa dengan penampilan yang dianggap kurang pas. Ada pula anak yang membentak-bentak orangtua karena tidak diberi uang. Orangtua yang menempati kamar kecil di rumah anaknya yang megah dan mewah juga ada. Si ibu diperlakukan seperti pembantunya. Ending cerita dalam sinetron ada yang tidak baik misalnya anak tertabrak mobil sampai meninggal dunia. Ada pula yang happy ending, si anak menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepada orangtuanya dan perilakunya berubah menjadi baik sekali. Sinetron yang bagus memang harus menunjukkan pesan moral sehingga bisa dipetik pelajarannya.

Birrul walidayin

Salah satu wujudd birrul walidaiyn

.

Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal dunia

Berbakti kepada orangtua bukan hanya ketika bapak-ibu masih hidup. Ibadah ini juga bisa terus dilakukan setelah mereka berpulang ke rahmatullah. Kaum muslim pada umumnya telah melakukannya. Berziarah ke makam orangtua sambil mendoakan mereka merupakan kegiatan yang lazim dilaksanakan. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai pengingat bahwa semua manusia akan mati. Dengan mengingat kematian maka manusia bisa menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya yaitu taqwa. Tak sedikit anak-anak yang menyelenggarakan acara tahlil setelah orangtua meninggal dunia. Memohonkan ampunan atas dosa orangtua dan agar bapak-ibu mendapat tempat yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan doa yang sering dipanjatkan oleh putra-putrinya.

Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal dunia bukan hanya mendoakan,  mengunjungi, dan membersihkan makamnya. Masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk birrul walidain. Mari kita simak hadits di bawah ini.

Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa sesuatu sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?” Beliau bersabda, “Ya, engkau mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, memuliakan teman keduanya, dan silaturahmi yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya.” [HR. Al-Hakim]

Menunaikan janji orangtua termasuk wujud bakti anak kepada orangtua yag sudah meninggal dunia. Tentu saja janji yang diwujudkan haruslah janji yang baik dan bermanfaat. Misalnya, orangtua semasa hidupnya mempunyai hutang kepada tetangganya dan berjanji akan melunasi hutangnya setelah sawahnya panen. Maka anak harus mewujudkan janji tersebut.

Memuliakan teman dan menyambung silaturahmi adalah perbuatan baik. Oleh karena itu apa yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selayaknya diteruskan oleh anak setelah orangtua mereka meninggal dunia.

Mari kita berbuat baik kepada orangtua agar kehidupan kita juga semakin membaik. Amiin




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

33 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. nh18 says:

    Ini betul sekali pak de …
    Sederhana … namun jujur saja …kami masih sering lupa …
    Terima kasih diingatkan kembali Pak De …

    Salam saya

    Kadang dalam hati dongkol sama ortu loch hahahaha

  2. retno says:

    Pakde bikin saya kangen sama Bapak dan Ibuk hiks….

    Saya juga Jeng

  3. susanti dewi says:

    Terima kasih Pakde sudah mengingatkan akan hal ini, kadang kita suka lupa ttg hal sprti ini

    Harus diingat

  4. Tulisan yang bermanfaat sekali, Pakde. Seringkali kita tidak sadar bahwa dengan menghina orang lain (termasuk orang tuanya), sebenarnya kita telah menghina diri sendiri.

    Iya, kelihatan nilai pribadi kita

  5. Rani R Tyas says:

    terima kasih Pakdhe, tulisan ini kembali mengingatkan fitrah saya sebagai seorang anak

    Sama2 Mbak

  6. misfah says:

    Terima kasih sdh mengingatkan Pakdhe aku masih punya ibu dan ibu mertua dan aku juga ibu ini nasihat yg sangat bagus

    Saya juga, Emak dan Ibu Mertua masih eksis

  7. Reminder buat saya, semoga bisa menjaga lisan ini. Terima kasih sudah mengingatkan kami yang sering lupa.
    Sungkem dari Semarang

    Kalau kopdar jangan ngrasani ya

  8. Susindra says:

    Ah ya, ini bulan Sya’ban, bulan ruwah, bulan arwah. Saatnya bagi yang lupa agar kembali ingat pada orang tuanya. Bagi teman-teman yang tidak lupa, bisa mengingat pernahkah menyakiti orang tua.
    Soal sinetron, Pakde, saya semakin prihatin. Pertengkaran anak dan ortu ditunjukkan secara gamblang. Aduh.. kenapa saya jadi bingung mau komentar apa. hahahaha

    Sering banget tuh
    Anak mengusir orangtua yang datang ke kantor
    Pakai satpam pula

  9. Setuju Pakdhe,
    Terima kasih buat artikelnya, Pakdhe 🙂

    Sama2 Mbak

  10. Nia Haryanto says:

    Ihiks… Jleb banget, Pakde. Makasih banyak sudah diingatkan. 🙁

    Mari kita saling mengingatkan agar selalu ingat

  11. Pakde ini mirip gus ipul. Harusnya di panggil gus cholik aja pakde. Wong ndak mirip sama pakde karwo sama sekali kok.
    Artikelnya bagus, banyak nilai-nilai yang bisa di ambil sebagai pelajaran.

    Hahaha…matur nuwun Mas

  12. Mbak Avy says:

    selalu banyak wejangan yang bermanfaat kalau mampir di sini..
    terima kasih pakde…..

    *ini juga testing hehehehe
    bbrp kali nggak bisa komen

    Sama2. Mungkin yang lain masuk spam

  13. ida Tahmidah says:

    Kok jadi inget bapak 🙁

    Saya juga

  14. Ani Berta says:

    Pakdeee saya jadi merasa ingin bertemu orang tua sekarang jugaaaa hiksss.
    Terima kasih ulasannya Pak de, selama ini jarang yang mengingatkan hal seperti ini.
    Adem banget.

    Jauh ya Mbak kediamannya?

  15. Keke Naima says:

    Bener juga ya, Pakde. KAdang kita gak sadar degan hal ini. Terima kasih, Pakde

    Kita memang harus hati2 menjaga lidah

  16. windi teguh says:

    terima kasih sdh diingatkan pak dhe. salam dr medan

    Sama2

  17. echaimutenan says:

    kangen mama papa :”)

    Sama

  18. saya jadi kangen almarhum Papa, pakdhe..terima kasih sudah diingatkan. Semoga bisa selalu ingat dan mendoakan semua orang tua kita ya..

    Saya juga, semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisiNya

  19. saya kehilangan kata untuk berkomentar tentang topik ini

    Lha ini!

  20. vanda says:

    Matursuwun Pak Dhe sudah mengingatkan lewat tulisan ini. Jadi teringat alm Bapak dan Mamah ini pak Dhe T-T

    Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisiNya. Amiin

  21. Sri Lestari says:

    Sungguh memang tidak bisa dipungkiri orang tua adalah orang yang harus kita hormati dan patuhi serta tidak boleh untuk dilawan karena berkat mereka lah kita bisa lahir kedunia ini.

    Betul sekali
    Ada yang bilang orangtua itu malaikat katon

  22. eda says:

    pakdheee… terima kasih sudah diingatkaan.. dulu waktu kecil, sering banget ngomong yg kenceeng sama ortu.. sekarang juga, kalo gak enak ati sama ortu, masih suka mecucu and the merenguts.. huhuhuuu…

    jadi ingat almarhum abahku 🙁

    maturnuwun pakdhe catatannya

    Idem dito sama akika
    Kadang gimanaaaa gitu mendengar omongan ortu

  23. Nyes baca ini Pakde.

    Kadya siniram banyu sak sumur

  24. monda says:

    emang harus selalu diingetin pak de biar nggak lupa
    makasih ya
    salam buat emak

    Menghadapi ortu yang tak sama frequensinya dengan kita selayaknya tetap sabar

  25. Kania says:

    Mksh sudah diingtkan pakde, saya malah suka lupa telpon orangtua 🙁

    Tilpon kan sudah bukan barang mewah lagi tho hehehe

  26. Pakdhe terima kasih tulisannya pak dhe. Ini mengingatkan agar saya sebagai anak harus berbakti kepada orangtua.
    Sedih ya kalau anak jaid durhaka 🙁

    Jaman sudah berubah, semoga tidak ada lagi anak yang durhaka sama orangtua ya

  27. ipin Lambar says:

    jadi kangen ibu ne pakde

    Saya juga Mas

  28. Suwun pakdhe di ingatkan, karena terkadang kita juga bisa khilaf.

    Mari kita saling mengingatkan

  29. Agung Rangga says:

    Semarah apapun pada orang tua, saya tidak pernah sampai memaki-maki mereka.
    Paling ngambek sebentar, habis itu rukun lagi.

    Yup, mosok sudah diasuh, diasah, dan dikasihi malah memaki orangtua ya Mas

  30. @dodon_jerry says:

    tulisannya pas dan menyentuh. semoga kita dijauhkan dari perbuatan ini. aminnnnn

    Terima kasih
    Amiin

  31. waduh jadi ingat masa kecil dulu sering “ilok-ilokan” pakai nama ortu eh segede saya sekarang kadang kalau dimintain tolong ibu kadang masih menggerutu…astaghfirullah

    Saya dulu juga suka menghilang kalau disuruh ortu

  32. Ranny says:

    Pakde saya jadi ingat sama Papa. Makasih banget udah ingetin tentang berbakti pada orangtua yang sudah meninggal.. 🙂
    Perihal ‘ah’ ini selalu ada di kepala, selalu berusaha untuk menghindari ucapin ah ke orangtua walau capek, kesel, marah 🙁

    Frequensi kita kadang nggak sama dengan orangtua
    maklum beda generasi

  33. Prih says:

    Terima kasih Pakde untuk pengingat berharga ini, belajar memelihara bakti selamanya. Salam hormat katur Emak.

    Iya Jeng
    Orang tua jasanya tiada tara je

Leave a comment