Archive for the 'Nostalgia' Category

Reuni Temu Wajah Temu Hati

Terus terang, terang terus, saya kok amat jarang yang mengikuti acara reuni sekolah. Maaf, bukannya saya kuper, bukannya saya sok jaim, bukannya saya nggak gaul, tapi memang situasinya kurang mendukung. Lokasi alumnus yang tersebar dan belum canggihnya komunikasi menyebabkan kami sulit untuk kontak. Apalagi data alumnus juga belum rapi dan tak ada yang rajin mengupdatenya. Artikel selengkapnya

Tebu, Riwayatku Dulu

Rumpun tebu

Setiap mendengar kata tebu, melihat rumpun, dan batang tebu saya selalu teringat masa kecil. Apalagi jaman sekarang banyak pedagang di pinggir jalan yang menjual minuman khas air tebu. Para sahabat bisa melihat air tebu yang dijajakan di kawasan Mojokerto dan Jombang. Bahkan di kota Surabaya juga mudah menjumpai minuman khas ini. Terus terang saya belum pernah membelinya.  Artikel selengkapnya

Emak, Aku Masuk Majalah

“Kata tetangga kamu masuk majalah ya, Nak. Kok pinter,” tulis Emak dalam sepucuk suratnya. Itu terjadi pada tahun 1980an ketika saya dinas di Balikpapan. Kata “Kok pinter” itu sering diucapkan Emak manakala saya mendapat nilai baik pada pelajaran sekolah. Termasuk jika saya tiba-tiba berbaik hati mengisi bak kamar mandi atau mencuci kursi tamu menjelang lebaran. Maklum, sebagai anak tunggal saya amat jarang turun tangan mengerjakan tugas rumahan¬†hahahaha. Artikel selengkapnya

Pengalaman Mengikuti Ujian

Waktu saya duduk di bangku SR, SMP, dan STM yang namanya ujian ya hanya sekali saja. Ujian dilaksanakan pada saat kami sudah kelas 3, waktunya menjelang berakhirnya tahun ajaran. Sebelum ujian tersebut nilai raport di ambil dari hasil ulangan harian. Selain itu ada ulangan umum menjelang kenaikan kelas yang lamanya kalau tidak salah seminggu. Hasil ulangan umum ini juga untuk mengisi raport. Bagaimana cara guru mengisi raport saya tidak tahu. Yang penting saya selalu naik kelas dan lulus ujian setelahnya. Artikel selengkapnya

Hanya Kaum Perempuan Yang Suka Marah

Tradisi atau kebiasaan di desa berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Perubahan jaman juga menyebabkan sebuah tradisi perlahan-lahan sirna. Ada yang karena kesadaran masyarakat menyebabkan tradisi itu kini tiada. Kondisi ekonomi dan keinginan untuk melakukan penghematan serta mencegah pemborosan ikut mempengaruhinya. Namun tak sedikit pula penduduk yang masih melestarikannya walaupun wujudnya sudah dimodifikasi, agak berbeda dengan aslinya namun esensi dan tujuannya tetap sama. Artikel selengkapnya