Plong

 “Tidak. Mama tidak suka kamu meneruskan hubunganmu dengan Satria, apalagi sampai ke jenjang pernikahan.”

“Tapi mengapa, Ma?”

“Kalau Mama bilang tidak suka ya tidak suka, titik!”

“Mama egois!”  Laras lari sambil menangis meninggalkan Mamanya dan langsung masuk ke kamar.

“Laras!”  Lasmi mencoba membuka pintu kamar anak semata wayangnya. Tapi pintu sudah terkunci.




Laras heran mengapa Mamanya tiba-tiba berubah sikap seperti itu. Setahun yang lalu Mama tampak bahagia ketika Letnan Satria menyatakan akan menyunting dirinya. “Mama tak keberatan jika Nak Satria akan menjadikan Laras sebagai pendampingmu asal Nak Satria benar-benar mencintai Laras dan mau berjanji tidak akan menyia-nyiakannya.”

“Siap, Ma. Saya sangat mencintai Dik Laras dan Insya Allah saya akan membahagiakannya lahir-batin.”

Sepulang dari mengikuti pendidikan di Amerika Serikat Letnan Satria bermaksud melamar Laras dan dilanjutkan dengan acara pertunangan.

“Saya akan pindah tugas ke Balikpapan, Dik. Makanya kita bertunangan dulu agar saya bisa tenang selama berada di luar pulau,” kata Satria kepada Laras.

“Saya sih setuju saya, Mas. Nanti saya akan bilang kepada Mama tentang rencana itu.” Laras menjawab dengan perasaan bahagia.

Tapi kebahagiaan Laras itu tak berlangsung lama. Ternyata Mamanya tidak menyetujui hubungan mereka. Pertanyaan Laras tentang alasan ketidak setujuan jika tidak dijawab oleh Mamanya. “Kamu boleh menikah dengan laki-laki mana saja asal bukan dengan Satria. Sudah jangan tanya-tanya lagi, apa yang Mama katakan sudah final.”

Semalaman Laras tidak bisa memejamkan mata memikirkan perubahan sikap mamanya. Hatinya sangat terpukul. Cintanya yang kandas membuat gadis cantik itu ogah melakukan apa-apa. Laras bahkan tak menjawab telepon Letnan Satria. Beberapa SMS yang dikirim perwira tampan itu juga belum dibalas. Laras tak sanggup menyampaikan kepada Satria apa sebenarnya yang sedang terjadi.

*

Sementara itu Lasmi sendiri merasa sedih karena dengan sangat terpaksa harus menyampaikan keputusan tak enak kepada putri yang sangat dicintainya. Hati Lasmi hancur berkeping-keping.  Terjadi pertarungan hebat antara kebencian yang bertahta dalam dirinya dengan kebahagiaan putri tunggalnya. Ombak Samudra yang menjadi pangkal segalanya.

Sudah tiga puluh lima tahun peristiwa itu terjadi. Sebuah malam yang menyakitkan sekaligus merontokkan harga diri. Lontong cap gomeh yang biasanya terasa lezat mendadak menjadi hambar. Sambal pun seolah ikut menyengat lidahnya, pedih.

“Maafkan saya, Dik Lasmi. Saya tak kuasa menolak permintaan ayah. Sebelum meninggal dunia ayah berpesan agar saya menikahi putri sahabatnya. Ternyata ayah sudah mengikat janji bahwa beliau akan menikahkan saya dengan putri sahabat seperjuangannya.” Kalimat yang diucapkan dengan lembut dan sangat hati-hati oleh Kapten Pragoya Ombak Samudra itu bagaikan petir di siang bolong. Lasmi  menghentikan makannya. Airmatanya mengalir deras.

“Antarkan saya pulang, Mas.” Lasmi melangkah meninggalkan restoran Tentrem Marem diikuti Prayoga. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Kalimat-kalimat yang menghibur dari laki-laki yang sangat dicintai tak kuasa meredam kesedihannya. Lasmi mencoba memahami apa yang sedang dihadapi oleh Kapten Prayoga tetapi hatinya yang tergores tetap tak bisa menerimanya.

“Selamat ya Mas. Semoga Mas Prayoga bahagia dengan wanita pilihan orangtua.” Ucapan selamat yang bernuansa cemburu keluar saat Lasmi menutup pintu rumah. Tak ada tawaran untuk singgah sejenak bagi Kapten Prayoga seperti hari-hari sebelumnya.

Setelah pertemuan malam itu tak ada komunikasi lagi antara Lasmi dengan Kapten Prayoga. Lasmi bahkan sudah menghapus nama Prayoga Ombak Samudra dari handphonenya. Kartu undangan pernikahan yang dikirim oleh Kapten Prayogya juga tak disentuh.

“Datanglah, Nduk. Bagaimanapun juga dia perwira yang baik. Dia telah mengorbankan kepentingannya demi baktinya kepada orangtua. Akan lebih bagus jika kamu mendoakan agar pernikahan mereka bahagia.” Lasmi diam. Nasihat Mamanya memang benar tetapi hati Lasmi sudah mengeras.

*

Lasmi menyambut kedatangan Abimanyu dengan suka cita.

“Bagaimana acaranya di Kuala Lumpur, Pa.”

“Alhamdulillah. Sepertinya kerjasama perusahaan kita dengan pengusaha negeri jiran itu sesuai rencana. Mereka setuju untuk mengimport produk kita.”

“Syokur deh. Semoga semuanya lancar.”

“Laras mana nich?”

Lasmi ragu-ragu mengatakan apa yang sedang terjadi dengan putrinya.

“Ada, Pa, di kamarnya. Sudah tiga hari ini dia mengurung diri.”

“Memangnya ada apa, Ma?”

“Papa mandi dulu gih biar segar lalu makan malam.”

“Enggak.” Lasmi kaget. “Saya nggak akan mandi dan makan sebelum Mama cerita mengapa Laras mengurung diri.”

Lasmi menyodorkan selembar kartu nama.

“Satria Ombak Samudra? “ Abimanyu bergumam.

“Ada apa dengan perwira muda ini?”

“Saya melarang Laras menikah dengannya. Itulah sebabnya dia marah dan mengurung diri dalam kamarnya.” Lasmi meneteskan airmata. Abimanyu kaget mendengar penuturan isterinya.
“Melarang? Apa alasannya?” Abimanyu mengernyitkan dahi. Lasmi menangis terguguk.

“Maafkan saya, Pa. Saya tak sudi mempunyai menantu anak dari seorang laki-laki yang telah menyakiti hati saya.” Abimanyu menggeser tempat duduknya. Dipandangnya wajah isterinya dengan tajam. Lasmi tak kuasa menatap mata sang suami.

“Rahasia apa yang Mama sembunyikan?” Lasmi merasa sudah waktunya menceritakan kisah cintanya yang telah lalu. Abimanyu tak kuasa menahan tawa. “Ceileeeeee,” kata Abimanyu menggoda Lasmi. Kini Abimanyu mengerti duduk persoalannya. “Luka lama nich ceritanya.” Mau tak mau Lasmi juga tersenyum sambil mencubit lengan suaminya.

“Ma, saya memahami perasaanmu. Tetapi peristiwa itu sudah sangat lama. Rasa benci, sakit hati, apalagi dendam, hanya akan menggerogoti jiwa dan raga Mama.” Abimanyu memegang pundak isterinya. Tangis Lasmi meledak. Wanita ayu itu tak menyangka suaminya begitu bijak. Lasmi jadi ingat kembali nasihat Mama kala itu.

“Saya ingin menjaga perasaanmu, Pa. Saya takut Papa marah dan cemburu jika tahu bahwa besan kita adalah laki-laki yang pernah singgah di hati Mama.”

“Cemburu? Ma, saya memang tidak tahu apakah Prayoga itu lebih tampan dariku atau tidak. Tetapi semua itu adalah masa lalu. Kini kita sudah tua. Mama juga sudah menjadi milikku dan telah menjadi Ibu dari anakku. Apakah Mama rela merenggut kebahagiaan Laras hanya untuk menuruti dan memuaskan ego kita?” Lasmi semakin mempererat pelukannya. Melalui ekor matanya Abimanyu melihat Laras mengintip dari balik celah-celah kordin.

Suara adzan Isya berkumandang.

“Ma, yuk kita shalat Isya berjamaah dulu. Panggil Laras untuk ikut shalat lalu kita makan bareng.” Abimanyu tersenyum kita melihat anak gadisnya lari ke kamarnya.

Tanpa babibu Laras langsung bergabung dengan kedua orangtuanya. Mereka shalat dengan khusu. Usai shalat Lasmi dan Laras mencium tangan Abimanyu.

“Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan punya menantu seorang perwira tampan, santun, dan shalih ya, Ma.” Abimanyu pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang dialami anaknya.

Lasmi yang tanggap ke mana arah pembicaraan suaminya mengangguk sambil melirik Laras. “Iya, Pa. Mama juga sudah ingin menimang cucu nih.”

Laras bingung mendengar ucapan orangtuanya. Setelah berpamitan kepada Papa dan Mamanya Laras langsung masuk kamar. Pelan-pelan Abimanyu dan Lasmi masuk ke kamar putrinya. Abimanyu melihat foto tergeletak di meja rias.

“Ganteng juga ya perwira ini.Kemana dia kok nggak apel ke mari?” Abimanyu tersenyum.

“Nggak tahu, Pa.”  Lasmi menatap wajah Laras yang tampak agak pucat.

“Laras, ayo kita makan dulu.” Laras menggeleng. Abimanyu segera menarik tangan putrinya.

“Sudah seminggu Papa nggak mendengar ceritamu. Ayo temani Papa-Mama makan.” Dengan rasa enggan Laras mengikuti orangtuanya menuju meja makan.

*

Abimanyu baru saja sampai di rumah ketika sebuah mobil masuk ke halaman. Letnan Satria turun dari mobil diikuti seorang pria dan wanita.

“Selamat pagi, Pak. Habis lari nih kelihatannya. Maaf menganggu.”

“Eh, Nak Satria. Apa kabar?”

“Kabar baik, Pak. Perkenalkan ini ayah dan ibu saya. Yah, Bu, ini Pak Abimanyu yang saya ceritakan.” Abimanyu menyalami tamunya dan menyilakan mereka masuk rumah.

“Nak Satria, Pak, Bu, silakan duduk. Saya panggil isteri dulu.”

Lasmi terkejut melihat tamunya.

“Rani.”

“Lasmi.”

Kedua wanita itu saling berpelukan. “Jadi kamu tho wanita yang dijodohkan dengan Mas Prayoga?” tanya Lasmi.

“Kok kamu tahu?” Rani bengong.

“Emangnya suamimu tidak bercerita?”

Prayoga tersenyum.” Ini Mamiek yang pernah saya ceritakan sebelum kita menikah dulu, Ma.” Lasmi tertawa.” Mamiek panggilanku waktu kecil,” ujarnya menjelaskan.

“Ya, ampun. Maafkan saya deh. Sungguh saya nggak ngeh jika Mamiek itu kamu, Las.”

“Sudah sana peluk mantanmu supaya nggak penasaran,” ujar Abimanyu mencoba mencairkan suasana. “Ihh, Papa.” Lasmi mencubit lengan suaminya.

Suasana menjadi ger-geran ketika Prayoga, Lasmi, dan Rani bercerita sesuai versi masing-masing. Abimanyu senang melihat isterinya sudah bisa menguasai keadaan.

“Gini lho Miek, saya dan Mas Prayoga datang ke mari untuk melamar anakmu yang katanya cuantik pwol.” Rani yang asli Surabaya ceplas-ceplos menjelaskan maksud kedatangannya.

“Nggak uwah dilamar. Nak Satria, bawa saja Laras ke Balikpapan sana,” jawab Lasmi mengimbangi ucapan Rani yang waktu Mapras dulu menjadi mentornya.

Laras yang sejak tadi mengintip tamunya dari balik kordin langsung menghambur ke pelukan Mamanya.

“Terima kasih, Ma, Pa.”

Letnan Satria Ombak Samudra tersenyum sambil mengedipkan mata. Plong.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

4 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Ruth Nina says:

    Pakde, Ceritamu bagus. Aku penasaran tema ODOP hari ini, dan yakin pasti Pakde sudah posting haha. Makanya langsung mampir. Bacanya jadi senyum-senyum sendiri deh nih.

    Terima kasih
    Makin cepat posting makin baik hahahaha

  2. @kakdidik13 says:

    Kisah cinta yang sangat mengharukan dan sungguh endingnya sangat membahagiakan dan satu kata “PLONG” hehe

    Iya, kasihan kalau endingnya dibuat maratap-ratap

  3. Dari mantan jadi besan ya ceritanya pakdhe 🙂

    Iya, semoga nggak lirak-lirik ya hahahaha

  4. Yati Rachmat says:

    Keren, Pakde cerpennya. Kereeen…banyak kejutannya. Bunda suka. #bukanlebaylho. Alur ceritanya menarik dan bunda suka karena happy ending.

    Kasihan gadisnya kalau nggak hepi Mbak
    Terima kasih

Leave a comment