Saturday Class Action

Saturday Class Action

Sabtu pagi, umun-umun.

Mbah Wantu Trifo, ketua RT 23 RW 08, sedang asyik membaca buku berbahasa Jawa berjudul Lanang Kudu Ngono. Buku motivasi dan pengembangan diri setebal 238 halaman karangan Ki Tiran ini bertutur perjuangan seorang laki-laki yang tak mengenal kata menyerah. Setelah mengalami 50 kali jatuh bangun akhirnya upaya untuk mewujudkan cita-citanya berhasil. Bisnis martabak pancarasa tersebar di segenap penjuru Nusantara. Cabangnya bahkan sudah mulai menjalar ke mancanegara.

“Sugeng enjing, Pak RT.”

“Sugeng enjing,” sahut mbah Wantu sambil menengok ke arah datangnya suara. Tiga orang warga RT yang sudah dikenalnya menampakkan wajah serius. “Pasti ada sesuatu nih,” batin sang ketua RT. Ketiga tamu tersebut langsung dipersilakan duduk di kursi teras rumahnya.

“Kok njanur gunung, kadingaren. Pagi-pagi dik Medsosin dan kawan-kawan sudah bertandang. Ada yang bisa saya bantu?”

“Inggih, Mbah. Kami bertiga ingin curhat tentang masalah yang sedang kami hadapi.” Mbah Wantu membetulkan kacamatanya yang mlorot.

“Masalah? Memangnya ada apa kok saya malah nggak dengar sesuatu blas.”

“Saya akan menceritakan masalah pribadi saya dulu. Nanti mas Ilfil dan dik Drimkamtru akan menjelaskan masalah mereka masing-masing.” Ilfil dan Dirkamtru mengangguk.

“Waduh, pagi-pagi sudah disodori 3 masalah. Ya silakan dilanjutkan.” Mbah Wantu mengeluarkan buku catatan dan balpoin dari sakunya.

Medsosin menelah ludah sejenak lalu mulai curhat. “Begini Mbah. Jika mbah Wantu memperhatikan kepala saya akan terlihat bahwa dahi saya ini kan lebar sekali. Selain itu saya termasuk laki-laki yang memiliki jenis kulit berminyak. Saya sudah berusaha melakukan aneka tritmen baik secara mandiri maupun pergi ke beberapa salon tetap saja kulit ini, utamanya di dahi, masih mengkilat.”

Mbah Wantu menahan tawa. “Wong dahi lebar dan mengkilat saja kok disebut masalah. Kirain ada irigasi yang jebol atau hama wereng di sawahmu.”

Medsosin menggeleng-gelengkan kepala. “Masalahnya justeru berasal dari dahi dan minyak itu, Mbah. Bisik-bisik tetangga yang saya dengar, banyak di antara warga yang memberi julukan kepada saya sebagai laki-laki TukMis, alias Batuk Klimis.”

Kali ini Mbah Wantu tak bisa menahan tertawanya sehingga tawa itu keluar menggelegar. Pak Ketua RT langsung mencatat masalah nomer 1 “TukMis”

“Oke, oke saya mengerti. Nanti kita bahas lebih lanjut ya. Lha dik Ilfil mau curhat tentang apa? Saya lihat dahi dan kulitnya normal.”

Ilfil yang berambut keriting mengelus hidungnya yang agak mancung. “Masalah saya bukan di dahi dan di kulit, Mbah. Tetapi masih sekitar julukan. Ini saya anggap bukan hanya saya anggap menyerang fisik tetapi juga batin saya.” Mbah Wantu mengernyitkan dahi.

“Hla, kok sampai menyerang batin segala. Piye masalahmu?”

“Saya dikatakan sebagai laki-laki Hidung Belang, Mbah.” Kali ini Mbah Wantu menahan tawa lagi.

“Siapa yang memberi sebutan itu?”

“Cukup banyak, Mbah. Tidak secara frontal di hadapan saya atau pointing their fingers to me tetapi berupa kampanye berbisik juga.” Ilfil memang suka meniru gaya bicara artis, bahasa Indonesia di kasih topping bahasa asing. “Rumor itu justeru datangnya dari ibu-ibu, Mbah.Mohon atensi dan follow up nya nggih Mbah. “

“Baik. Saya catat sebagai case nomer 2,” ujar Mbah Wantu sambil ngurek-urek buku notes mini miliknya. “Dik Drimkamtru juga punya masalah?”

Drimkamtru mengeluarkan smartphone. “Benar, Mbah. Sebelumnya saya mohon maaf menganggu waktu istirahat panjenengan. Namun masalah saya ini tak lagi bisa saya pending” Mbah Wantu manggut-manggut mendengar tutur kata pria paruh baya yang mengucapkan kalimat pembuka agak apik ini.

“Gak opo-opo. Speak up,” pak RT latah mengikuti jejak Ilfil.

Drimkamtru memperlihatkan video 2 cowok dan 3 cewek yang sedang menyanyikan potongan lagu Buaya Darat diselingi tertawa gelak-gelak. Setelah selesai memutar video Drimkamtru mengajukan pertanyaan kepada Pak RT. “Bagaimana tanggapan Mbah tentang video itu?”

“Begitulah para remaja, mereka enerjik dan selalu hepi. Masalah buat loe?” ujar Mbah Wantu menirukan gaya remaja.

“Pak RT ini bagaimana. Lagunya sih tidak masalah tapi dalam video itu kan ada foto saya yang ditampilkan dalam berbagai gaya. Itu kan artinya mereka menyindir saya sebagai buaya darat.” Nada suara Drimkamtru naik tiga oktaf.

“Calm..calm. Saya angggap ini masuk case nomor 3 ya. Nanti saya akan minta klarifikasi kepada para remaja apa maksud mereka menampilkan fotomu dalam video clip mereka.”

“Lalu kapan kami bertiga mendapatkan jawaban atas curhat kami dan follow up nya, Mbah?” tanya Medsosin mewakili curhater yang lain.

Frankly speaking, untuk tiap case saya memerlukan waktu minimal 2 hari untuk blusukan, mengumpulkan keterangan,  dan verifikasi data. Jadi paling tidak saya memerlukan waktu sekitar one week deh.”

“Saya minta janji Mbah bukan lip service atau memPHP kami. Harap diketahui bahwa banyak laki-laki yang mendapat aneka label tersebut loch. Jika boleh dikatakan, kami bertiga ini melakukan class action, mewakili mereka yang tak berani membuka mulut. Kalau langkah pak RT kami anggap tidak memuaskan maka kami bisa mengajak mereka berbondong-bondong kemari atau bahkan maju langsung ke Pak Kades.”

“I know and I’ll do my best. Hepi?” Tak urung Mbah Wantu ngeper juga mendengar ultimatum Medsosin.

Hepi atau tidak hepi ketiga curhater itu menganggukkan kepalanya. Usai ketiga tamu tersebut berpamitan, nyai Rikmo Sadepo, isteri Mbah Wantu nyamperin sang suami.

“Ketiga warga itu termasuk laki-laki SETIA alias SEtiap TIkungan Ada. Awas nek panjenengan ketularan!” ujar nyai Rikmo Sadepo sambil nyubit sasaran sekitar pangkal paha suaminya.

Mbah Wantu mengaduh sambil mengancam:” Awas nanti malam!”




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. barhan says:

    hahaha…..dunia lelali..eh lelaki

    Full action kan hehehehe

  2. rita dewi says:

    Dan hasil dari penyelidikan mbah Wantu ttg ketiga curhatan itu apa…?
    Apa hayoooo?

  3. Agak roaming saiah membaca postingan ini. :))))

    Memang harus menyertakan rasa

  4. evrinasp says:

    itu serius diselipin bahasa inggris pak dhe? ceria amat ya class actionnya 😀

    Class action dengan kemasan suasana pedesaan

  5. #berpikirkeras #masihpolos

    Tutup mata

  6. Keke Naima says:

    Berarti harus ditanya lebih llanjut kalau ada laki-laki yang mengaku setia. Jangan-jangan …? Hehehe

    Bisa diantemi yang tanya

  7. Susindra says:

    Weitz…. yang gitu-gitu sering jadi masalah ya Pakde. hehehehehe… Lha wong cuma anggapan orang kok dibikin capek.

    Ya mungkin merasa tak nyaman kalau ada bisik2 tetangga

Leave a comment