Ada Apa Dengan Inspektur Suzana?

Puluhan sms masuk di handphone Inspektur Suzana. Isinya senada. Ucapan selamat atas kenaikan pangkatnya dari lpda menjadi Iptu. Suzana membaca dengan cermat sms dari ibunya.”Selamat ya Nak atas kenaikan pangkatmu. Sekarang pikirkan masa depanmu. Sudah saatnya kamu membangun rumah tangga. Ibu kan juga pengin segera momong cucu.” Gadis manis berambut ala Demi Moore  itu tersenyum membaca pesan ibunya yang panjang. Seperti biasa anak sulung yang selalu menghormati orangtuanya menjawab sms dengan santun.”Inggih, Bu. Pangestunipun. Matur nuwun.”

Terdengar suara adzan maghrib di televisi. Suzana segera berwudhu dan melaksanakan sholat di kamarnya. Ranti yang biasanya ikut sholat berjamaah belum juga datang. Siang tadi adiknya memang pamit untuk jalan bersama teman-temannya.

Setelah sholat maghrib Suzana  mengaktifkan kembali handphonenya. Dengan mata nanar dia melihat barisan puluhan sms. Yang dicarinya tidak muncul. ”Bayu tak mengucapkan selamat,” gumam perwira berbadan atletis itu. ”Tampaknya dia memang mencoba melupakan saya.” Suzana merebahkan badan sambil nonton tivi.

Terdengar nada dering. Sms dari Ranti masuk. ”Mbak, makan-makan donk. Kan sudah naik pangkat. ” Suzana tersenyum. ”Yuk, di mana?” balasnya.

“Di rumah makan Misyu saja. Mbak tunggu di tempat biasa ya, saya akan segera menyusul,” balas adiknya.

“Nggak pakai lama lho ya.” Suzana tahu benar kelakuan adiknya yang menganut madzab jam karet.

“Siap, Inspektur,” balas Ranti.

Suzana segera memacu jip kesayangannya menuju lokasi. Tempat makan yang terletak di sebuah kawasan Surabaya Timur itu memang tak asing lagi baginya. Banyak kenangan manis bersama Bayu di tempat nan indah itu. Selain tempatnya bersih dan romantis makanannya juga beraneka ragam. Tak heran jika pengunjungnya selalu ramai.

Setelah memarkir jeepnya Suzana langsung menuju ruang VIP. Tempat makan favoritnya. “Saya suka Sate Padangnya,” tuturnya ketika dulu Bayu bertanya mengapa kencan mereka berdua selalu di tempat yang itu-itu juga. ”Ayam popnya juga oke banget,” tambahnya. Beda banget dengan Bayu. Perwira yang pernah mengikuti pendidikan di Fort Huachuca, Arizona, Amerika Serikut itu lebih sering kongkow-kongkow di Cafe De Koboi.”Selain kulinernya asyik juga ada art and fashion show nya,” ujar Bayu.

Suzana memilih tempat duduk yang strategis agar bisa melihat lalu-lalang pengunjung. Ranti belum kelihatan batang hidungnya. Ini memang kebiasaan kurang baik dari adik yang sangat dicintainya itu. “Budaya telat kok dipelihara.” Suzana mengirim sms ke Ranti.

Sambil menunggu sang adik, Suzana memanggil pramusaji yang sejak tadi terlihat mengamati dirinya. ”Tolong pesan orange juice dulu ya,” ujarnya. Pramusaji berponi mengangguk sambil mencatat pesanan:“Hanya itu, Bu?” Suzana mengacungkan jempol.

000

 

Suzana kembali melihat sms yang masuk. Tak ada pesan dari Bayu.Tidak tahu, lupa, sibuk atau memang sudah melupakan kenangan manis. Itu yang ada dipikiran Suzana.

Dia teringat awal mula perkenalannya dengan Bayu setahun yang lalu. Kala itu Suzana  harus menghadiri wisuda sarjana Ranti, adiknya yang kuliah di fakultas kedokteran sebuah universitas terkenal. Orangtua mereka  yang tinggal di Palembang tidak bisa datang ke Surabaya karena kesibukan tugasnya. Ayahnya yang menjadi komandan Korem di kota Mpek-mpek itu harus menghadiri acara penting di Jakarta. Ibu juga mendampingi sang komandan karena ada kegiatan Persit yang harus diikutinya.

Setelah acara foto bareng kakaknya selesai Ranti memperkenalkan sahabatnya yang juga akan berfoto bersama orangtuanya. ”Mbak, kenalkan ini Melly sahabat saya.” Bhirawa menjabat tangan Melly dan kedua orangtuanya. Melly tersenyum manis ketika menyebutkan namanya. “Selamat ya Mel, selamat Bapak, Ibu,” ujar Suzana sambil menjabat tangan mereka.

“Eh sampai lupa memperkenalkan kakakku. Mas Bayu ini Ranti sahabatku, dan Inspektur Suzana mbakyunya.” Seorang pemuda berbadan tegap, berambut cepak dan berseragam militer ikut tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arah Ranti dan Suzana.

Perkenalan singkat itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan rutin. Ini semua karena ulah Ranti. “Mbak, tadi Melly membisikiku katanya mas Bayu itu masih jomblo loch,” ucap Ranti setibanya di rumah. ”Coba deh dekati, siapa tahu berjodoh.” Suzana  tersenyum sambil ngucel-ucel rambut adiknya. “Kamu takut mbakyumu yang ayu ini jadi perawan tua ya?”

“Bukan hanya itu, saya takut kalau harus melangkahi Mbak hi hi hi hi,” ujar Ranti sambil lari ke kamar.

Sejak saat itu Suzana dan Bayu semakin akrab. Kapten Bayu yang masih berstatus bujang mulai menyukai Suzana. Meskipun laki-laki piawai main tenis itu belum menyatakan cintanya tapi dia yakin Suzana juga mempunyai perasaan yang sama. Ucapan, sikap, dan tindak tanduk Inspektur Suzana memberikan sinyal ke arah itu.

Suatu kali secara tak terduga Suzana bertanya kepada Bayu: ”Mas, saya pantas enggak menjadi isteri tentara?” Bayu tersenyum. Dipandangnya wajah Suzana yang sedang menunduk tersipu-sipu. Bhirawa meraih jari-jemari Suzana. ”Bukan hanya pantas, tetapi pantas sekali. Kamu cantik, pintar, dan anak seorang kolonel pula.” Suzana mencubit lengan Bayu.”Gombal ah,” ujarnya sambil tersenyum. Bayu mengaduh senang. “Saya justeru yang ingin bertanya apakah saya pantas menjadi pendamping seorang polwan yang cantik sepertimu?” Suzana tak menjawab, disandarkannya kepalanya di pundak Bayu. Tanpa menunggu Suzana membuka suara perwira muda itu faham apa sesungguhnya jawaban kekasihnya.

Sayangnya cinta mereka kandas. Ayah Suzana ternyata telah menjodohkan putri sulungnya dengan laki-laki lain. Bayu pasrah ketika Suzana memberitahu tentang perjodohan itu. ”Dik, walaupun saya sangat mencintaimu tetapi saya tak berkehendak melawan orangtuamu yang juga seniorku,” ujar Bayu dalam kesempatan makan bersama di restoran langganan mereka. Suzana tak kuasa menahan tangisnya. ”Apakah begitu kakunya hubungan antara atasan dan bawahan sehingga Mas Bayu tak mau membelaku di hadapan ayah?”

Hubungan mereka mulai renggang. Tilpon dan sms Suzana juga tak dijawab Bayu. Kesibukan tugas di kantornya menyebabkan Suzana sejenak melupakan kisah cintanya.

000

 

Waiter berponi datang. Dengan sopan diletakannya orange juice di meja. Suzana mengucapkan terima kasih. “Ini ada titipan surat untuk Ibu,” kata waiter sambil menyodorkan amplop berwarna pink. Suzana bergegas membukanya.

“Congratulation, Inspector. We are waiting for you. You should come right now or your never meet me again. I’m crazy for tryin’, I’m crazy for cryin’ And I’m crazy for lovin’ you. Warm regards Bayu.”

Suzana mengernyitkan dahi. “Apa sih maksud semuanya ini? Apakah Mas Bayu mau memamerkan pacar terbarunya?” gumam Suzana. Kata ‘We are waiting for you’ membuatnya penasaran. Jangan-jangan Kapten Bayu sedang bersama kekasihnya?

Suzana yang tak pernah ragu menghadapi pelaku kejahatan sekarang justeru berada dalam kebimbangan, antara memenuhi permintaan Bayu atau melupakannya. Tetapi apa maksud Bayu mencantumkan potongan lirik lagu Crazy nya Julio Iglesias dalam suratnya. Lagu yang sering didendangkan Bayu setiap kencan dengannya.

Suzana mencoba menekan egonya. ”Sebagai seorang perwira saya harus menunjukkan sikap ksatria.” Dilipatnya kertas berwarna pink itu. “Jika Mas Bayu menikah dengan wanita lain itu sah-sah saja,” kata Suzana pasrah.

Setelah membayar minuman Suzana segera meninggalkan tempat. ” Kalau adik saya datang bilang bahwa saya pulang ya,” pesan Suzana. Waiter berponi itu mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.

“Mbak, tunggu,”  Suzana menengok ke arah datangnya suara. Dilihatnya Ranti datang bersama seorang pemuda.
“Ih, lama amat sih. Maaf saya nggak bisa menemanimu makan. Ada urusan penting,” ujar Suzana kepada adiknya.

“Tunggu donk, Mbak.”  Ranti menarik lengan kakaknya. “Nih kenalin Bisma seniorku di FK dulu,” Suzana memandang wajah teman adiknya. Hati Suzana mendadak berdebar. Wajah pemuda itu bak pinang dibelah dua dengan Bayu, mirip banget. ”Bis, ini Suzana, kakakku. Perwira yang masih jomblo, belum laku-laku.” Ranti memang suka bicara ceplas-ceplos. Suzana menjabat tangan Bisma. Serrrrr..ada desiran aneh di dadanya.

Setelah berbasa-basi sejenak Suzana pamit. Ranti mencegahnya. ”Mbak, saya ikut.Tapi kita antar dulu Bisma ke Hotel Sky Surya. Katanya ada acara kumpul-kumpul keluarga di sana.” Tanpa menunggu jawaban, Ranti langsung menggandeng kakaknya. Suzana tak kuasa menolak ajakan adiknya. Setengah jam kemudian mereka telah tiba di lobi hotel.

Sambil berjalan sesekali Suzana melirik Bisma. “Jika Bayu tak dapat, Bisma kayaknya juga oke. Jangan-jangan Tuhan memang mengirimkan untukku,” Suzana tersentak sendiri atas pikirannya yang mulai menggoda.”Terima kasih Tuhan.” Ranti dan Bisma yang berjalan di sisinya menengok. Suzana tak kurang kaget atas ucapannya barusan.

Tak berapa lama mereka sudah sampai ruangan tempat acara.Tampak puluhan tamu laki-laki dan perempuan sedang asyik ngobrol sambil memegang minum di tangannya. Sekelompok pemusik memainkan lagu-lagu yang akrab di telinga Suzana.  Sepertinya ada acara khusus.

Suzana menebarkan pandangannya ke segala arah. ”Kayaknya tempat ini cocok untuk acara kumpul-kumpul sambil syukuran kenaikan pangkat,” batin si polwan ayu. Di sana-sini tergelar aneka makanan dan minuman.”Indonesia banget suasana dan hidangannya. Andai saja Bayu ada di sampingku.”

Suzana teringat surat yang barusan diterima dari Bayu. Iapun memberi isyarat kepada Ranti untuk segera meninggalkan tempat. Digandengnya tangan sang adik. ”Have a good time, Bisma.” Suzana dengan bahasa Inggris yang fasih mengucapkan salam perpisahan. Bisma mengangguk sambil tersenyum: ”You too.” Bayu mengedipkan mata. Ranti melihat tatapan aneh di mata kakaknya.

“Suzana, kemari kamu!” terdengar seseorang memanggilnya. Suara itu sangat dikenalnya. Suzana membalikkan badan dan melayangkan pandangannya ke arah tamu. Tampak Bayu beserta ayah dan ibunya tersenyum. Dan di samping mereka, ahhhh… Suzana bergegas menghampiri orang yang sangat dicintainya. Dipeluknya kedua orangtuanya erat-erat.

“Ayah, ibu kapan datang? Kenapa nggak memberi kabar terlebih dulu? Ada acara apa di sini?” Suzana bertanya seperti suara rentetan panjang senapan mesin.

“Tadi sore. Bapaknya Bayu yang mengundangku ke Surabaya. Dia teman ayah satu angkatan.” Suzana ternganga mendengar ucapan ayahnya.|”Soal mengapa saya tak ngasih kabar terlebih dulu tanya saja kepada Nak Bayu,” ujar ayahnya sambil tersenyum.

Bayu mendekat. Dada Suzana berdebar-debar, dia mencoba untuk tetap tenang. Dipandangnya wajah perwira itu dalam-dalam. “Beruntung sekali gadis yang akan dipersunting Mas Bayu,” pikirnya.

“Mana calon isterimu, Mas. Kenalin donk,” ujar Suzana sambil menyalami Bayu. Dikontrolnya emosinya. Suaranya dibuat sebiasa mungkin.

Bayu tiba-tiba memeluk Suzana kuat-kuat. “You, My Inspector!” Bayu mengelus rambut Suzana.

Ayah Bayu tersenyum. “Nggak usah pakai lama. Segera tentukan tanggal pernikahan mereka, My Besan.”  Kolonel gagah itu menepuk pundak ayah Suzana.  Seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan.

Suzana merogoh saku. Ditunjukkannya kertas bewarna pink kepada Bayu.

“Penasaran ya, Yank?” tanya Kapten Bayu sambil mencium pipi kekasihnya.

.

Catatan. Kisah di atas diambil dari buku kumpulan fiksi Begal Asmara karya Abdul Cholik, penerbit Sixmidad, Bogor.

Begal Asmara




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

11 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. tanti amelia says:

    Saya sudah beberapa kali mbaca cerpen yang ini Pakdhe, sukaaaa!

    Iya, tayang ulang atas permintaan pengunjung

  2. So sweet, Pak Dhe.
    Sampai deg-degan baca endingnya.
    Malah pakai berdoa, semoga happy ending gitu.
    Selamat ya, Suzanna.
    Aku sukaaaa… cerpen ini

    Biar hepi, endingnya diset ketemu lagi

  3. Rani R Tyas says:

    terlalu indah untuk jadi cerpen *eh kenyataan Pakdhe. Tapi aku suka endingnya, balikan lagi sama Bayu hehe

    Iya, konfliknya yang enteng2 saja

  4. Lidya says:

    namanya jodoh gak kemana ya akhirnya mereka bersatu kembali

    Sumuhun

  5. susanti dewi says:

    romantis banget pakde… 🙂

    Yoi

  6. jampang says:

    aaah…. so sweeeeet.

    ahhh..cuit2

  7. Inayah says:

    Duuh kenapa namanya harus suzanna sih Pak dhe…

    Kalau Susanto kan laki-laki

  8. Pakde, namanya diganti Wulan aja yaa. 😀 Habisnya, setiap baca Suzanna, saya kepikiran nyi roro kidul 🙂

    Saya malah kepikiran Radio Suzana Surabaya

  9. mantap gan post nya.

    Terima kasih

  10. sumarno says:

    kenapa harus suzana pakdhe…. kan bacanya jadi horor…. :D… itu yang terakhir belum muhrim kuk udah pake peluk dan cium segala…. wkwkwkwkwk 😀

    Masa horor

  11. Eko Nurhuda says:

    Nama Suzana sudah identik sama hantu, Pakde. Tapi cerpen ini membuatnya berubah, jadi seorang inspektur cantik 🙂

    Nama ini saya adopt dari Ludruk Ajdam V/Brw yang manggung di kampung sebelah tahun 1970an.
    Salah satu lakonnya adalah Inspektur Suzana yang diperankan oleh Mas Sujio kalau nggak salah

Leave a comment