Begal Asmara

“Para pelanggan yang kami hormati. Beberapa saat lagi Kereta Api Argo Bromo Anggrek akan tiba dan berhenti di stasiun Pasar Turi Surabaya. Silakan mengemasi barang bawaan Anda dan pastikan tidak ada yang ketinggalan. Selamat jalan dan sampai jumpa di lain kesempatan.Terima kasih.”

Kenyo Ayu merapikan rambutnya. Disaputnya wajah dengan bedak tipis-tipis. Lipstik berwarna pink pun dioleskan ke bibirnya. Plong rasanya tiba di Surabaya dengan selamat. Perjalanan panjang ini memang melelahkan sekaligus menjemukan. Namun Kenyo memang lebih senang memilih moda transportasi kereta api yang dianggapnya paling aman.

Papan nama stasiun Pasir Turi sudah tampak. Kereta api mulai memperlambat jalannya. Dari balik jendela Kenyo melihat para portir sudah mulai berlarian di sisi gerbong. Rona gembira tampak di wajah mereka. Satu persatu portir masuk gerbong. “Pasar Turi..Pasar Turi…ada yang bisa dibantu, Bu.” Kenyo menunjuk koper yang terletak di bagasi di atas tempat duduknya. Dengan cekatan portir mengambil koper dan dos yang ditunjukkan ole Kenyo. Setelah kereta api berhenti dengan sempurna Kenyo segera bergegas mengikuti portir keluar dari gerbong.

*

“Taksi….taksi…..” Kenyo tak menoleh sedikitpun.

“Berhenti di sini dulu, Pak.” Kenyo memberi aba-aba kepada portir. Dilayangkannya pandangannya ke pelataran taksi. Hampir semua taksi beken telah dikerumuni penumpang. Kenyo memakluminya. Long weekend seperti ini penumpang kereta api memang mbludak. Tak heran jika taksi juga cepat ludes diserbu penumpang. Rio, satu-satunya adik yang diharapkan bisa menjemput di stasiun ternyata telah ditugasi ibunya untuk menjemput Om Narto di bandara Juanda.

“Mau kemana, Neng. Hayuk saya antar. Naik ojek juga asyik kok.”  Dengan halus Kenyo menolaknya. Seumur-umur Kenyo belum pernah memanfaatkan jasa tukang ojek. Ngeri melihat pengendara sepeda motor yang suka meliuk-liuk, belak-belok, dan menyelip di antara mobil yang memadati jalan raya. Kenyo tak pernah terpengaruh ocehan Rini sahabatnya yang gemar naik ojek. “Yeeee naik ojek itu lebih cepat sampai tujuan loch. Sensasinya juga jempolan, apalagi jika tukang ojeknya ganteng,” ujar Rini berpromosi.

Sebuah taksi berwarna pink berhenti persis di depan tempat Kenyo Ayu berdiri.

“Taksi, Bu.” Ujar sopir taksi melalui jendela mobilnya yang sudah terbuka. Rini memperhatikan sopir taksi dan portir bergantian.

“Silakan, Bu. Kayaknya taksi lain sudah full.” Tanpa persetujuan Kenyo, portir langsung melangkah mendekati bagasi taksi yang sudah terbuka.

Tanpa babibu, setelah memberikan uang kepada portir, wanita cantik menik-menik ini segera membuka pintu dan masuk ke dalam taksi. Udara sejuk beraroma lemon segera menyergap tubuhnya.

“Assalamu ‘alaikum, Ibu.” Sopir taksi berkumis dan memakai kacamata hitam itu menyapa penumpangnya dengan takzim.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Kenyo menyambut salam sambil melirik sopir. Kenyo sebenarnya merasa risih melihat sopir tetap memakai kacamata hitamnya. “Jangan-jangan……,” pikiran negatif yang sempat menghinggapi dirinya segera ditepis. Bukankah sekarang juga banyak orang memakai kacamata hitam walaupun pada malam hari sekalipun.

“Ibu mau diantar kemana?”

“Kompleks Blue Village. Tahu tempatnya, Bang?”

“Insya Allah tahu, Bu.” Sopir taksi segera memasang sabuk pengamanan. Taksi meluncur pelan.  Suara Josh Groban terdengar mengalun dari radio.

You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up to walk on stormy seas
I am strong when I am on your shoulders
You raise me up to more than I can be

Sopir taksi tersenyum mendengar penumpangnya ikut menyanyi.

“Suara Ibu bagus. Suka lagu ini ya, Bu?”

“Banget. Pria yang mendendangkan lagu ini telah membuat saya bangkit dari keterpurukan, Bang. Ups.” Kenyo menutup bibirnya. Sopir taksi tersenyum.

“Maksud Ibu Josh Groban?”

“Iya, Josh Groban van Surabaya.” Kenyo menjawab tanpa ekspresi.

Sopir taksi manggut-manggut.”Tak salah jika ada kata bijak ‘ A friend in need is a friend indeed’.” Kenyo mengernyitkan dahi. Tak menyangka kalimat itu bisa keluar dari seorang sopir taksi. Laki-laki yang dimaksud itu sebenarnya bukan sekedar teman.

*

Jalan sudah mulai ramai. Kenyo agak heran.” Pada mau kemana ya mereka hari Minggu kok lalu lintas sudah mulai padat?”

“Ya macam-macam, Bu. Ada yang mau rekreasi dan ada pula yang akan balik mudik setelah mereka menghabiskan long weekend di Surabaya.” Kenyo mengangguk-angguk.

“Bisa lewat jalan Darmo, Bang?” tanya Kenyo kepada sopir taksi.

“Wah maaf, Bu. Kalau hari Minggu seperti ini jalan Darmo berlaku car free day. Jalan ditutup. Di sana digunakan oleh warga Surabaya untuk olahraga dan rekreasi.” Sopir taksi melirik penumpangnya melalui kaca spion.

“Emangnya sampai jam berapa jalan Darmo ditutup?”

“Setelah jam sepuluh baru dibuka kembali.”

“Ooooo…ya sudah. Lewat mana saja deh yang penting cepat sampai rumah.”

“Btw, ada acara penting ya Bu di Surabaya?” Lagi-lagi Kenyo terkesima. Sopir taksi ini sepertinya gaul banget.
“Nengok ibu yang sedang sakit, Bang.”

“Oh. Saya ikut prihatin. Semoga Ibu segera sehat kembali. Nasib kita sama, Ibu saya juga sedang sakit. Makanya saya bekerja keras agar bisa segera membawa Ibu ke rumah sakit,” kata sopir taksi ikut-ikutan curhat.

“Ibu sakit mungkin karena memikirkan saya, Bang. Beliau hampir tiap minggu menanyakan kapan saya mengakhiri kejombloan saya. Itu sangat saya fahami. Ibu mana sih yang tidak khawatir jika putrinya tidak segera menikah. Beliau takut jika saya menjadi perawan tua kalee. Itulah sebabnya saya juga ingin minta maaf kepada Ibu. Ehhhh…kok saya jadi curhat.” Kenyo tertawa. Dadanya merasa plonk bisa mengeluarkan isi hatinya. Sopir taksi ikut tertawa.

“Wanita jaman sekarang suka lupa waktu, Bu. Kalau mereka sedang mengejar karier kadang terlena. Maaf loch ya.”

“Nggak apa-apa kok. Itu juga yang saya rasakan. Saya hijrah ke Jakarta, meninggalkan Ibu dan laki-laki yang menyintai saya demi mengejar ambisi. Karir…karir…karir. Mungkin sudah saatnya saya mengadakan revolusi.”

“Waduh, istilahnya itu loch. Resolusi kalee.” Kenyo dan sopir taksi tertawa bareng.

“Apapun istilahnya, Bang. Kejombloan ini harus segera saya akhiri. Saya tak bisa memaafkan diri saya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada diri Ibu.” Dari kaca spion sopir taksi melirik lagi penumpangnya. Tampak ada guliran airmata dari pelupuk matanya.

 

Hijrahnya Kenyo ke Jakarta memang bukan tanpa alasan. Dua kali ditinggal laki-laki yang dicintai menyebabkan hatinya seolah alergi terhadap kata ’cinta’. Laki-laki tampan kakak kelasnya di Fakultas Ekonomi yang mencoba mendekati juga dicuek-bebekkan. Dalam hati sesungguhnya Kenyo menyukainya, demikian pula ayah dan ibunya. Walaupun Kenyo agak kurang suka dengan rambut cepaknya tetapi laki-laki ketiga ini tampak beda. Selain dikenal sebagai mahasiswa pintar di kampusnya dia juga jago main basket. Tutur katanya juga menunjukkan bahwa si rambut cepak ini seorang mahasiswa yang santun dan berbudi. Sayangnya, Kenyo tak segera percaya begitu saja. Ketika laki-laki tampan itu menyatakan cintanya Kenyo tak menanggapi dengan serius. Berbagai usaha pedekate yang dilakukan si jago bakset tak pernah berhenti. Sarjana ekonomi yang bekerja di sebuah perusahan terkenal di Surabaya itu kembali menembaknya beberapa hari setelah Kenyo di wisuda. Alih-alih mengangguk, Kenyo bahkan memutuskan untuk hijrah ke Jakarta.

 

“Semoga pria itu masih tetap menyintai, Ibu,” ujar sopir taksi menghentikan lamunan Kenyo.

“Tak tahulah, Bang. Sejak pertemuan terakhir itu tak ada kabar beritanya lagi. Mungkin dia marah karena cintanya tak saya sambut dengan semestinya. Sekarang barangkali dia sudah menikah dan beranak pinak.”

“Di zaman gadget gini kan mudah berkomunikasi tho, Bu. Masa nggak pernah kontak sama sekali.”

“Pernah sih. Tapi sms dan telepon saya nggak pernah direply. Saya memahaminya. Ah sudahlah. Btw, warna taksi ini kok unyu sekali,Bang. Baru sekali ini saya melihat taksi berwarna pink” Kenyo tertawa sambil menghapus airmatanya. Tampaknya Kenyo ingin mengakhiri pembicaraan tentang kisah cintanya yang kandas.

“Ini kan ulah teman-teman, Bu. Katanya agar Begas Taxi kesannya out of the context gitu. Maklum jumlah taksi di Surabaya demikian banyak jadi kami berusaha mencari trobosan-trobosan baru untuk menarik perhatian calon penumpang, Bu. Ternyata sambutan mereka bagus sekali. Banyak wanita dan pasangan remaja senang naik Begas Taxi.” Sopir berbadan atletis itu mencoba mempromosikan taksinya.

“Oooooo begitu. Pantas aksesorismu juga berwarna pink,” tambah Kenyo sambil melirik jepitan rambut sopir taksi.

“Kalau jepitan rambut dan frame kacamata berwarna pink ini ulah adik saya, Bu. Biar match dengan warna taksi katanya.” Kenyo dan sopir tertawa bareng lagi.

“Ngemeng-ngemeng saya emang sudah kelihatan tuwir ya, Bang?”

“Mengapa Ibu bertanya seperti itu?” Sopir taksi heran.

“Lha sejak tadi Abang selalu memanggil saya Ba-Bu-Ba-Bu terus.”

“Oh, maafkan saya. Terus terang saya trauma. Dulu pernah dimarahi penumpang karena saya memanggil beliau dengan sebutan Mbak. Ternyata wanita itu seorang isteri pejabat penting di Jakarta. Tapi setelah dimarahi saya dikasih ongkos tiga kali lipat, Bu.” Kenyo tertawa ngakak mendengar cerita sopir taksi.

“Karena saya bukan isteri pejabat penting maka panggil saya Mbak saja ya.”

“Baik, Bu…. ehhh Mbak.”

Diam-diam Kenyo mengamati ruang kemudi. Pada sebuah taksi biasanya ada ID Card pengemudi yang berisi nama pengemudi dan fotonya. Nama taksi dan nomor telepon juga tak terlihat. Radio panggil yang biasanya riuh rendah dengan aneka informasi dari markas taksi juga tidak ada. Argometer juga tidak ada. “Jangan-jangan nanti sopir taksi minta ongkos seenaknya. Jangan-jangan….” Kecurigaan muncul lagi dibenak Kenyo. Pikiran negatif itu cepat-cepat ditepisnya lagi setelah mengetahui taksi sudah melaju pada arah yang benar. Kenyo hafal benar sekali yang dilaluinya.

*

Taksi masuk ke kompleks perumahan Blue Village.

“Nomor berapa rumahnya, Mbak?” tanya sopir taksi.

“AC 238, Bang.”

“Kapan-kapan kalau ke Surabaya silakan call Begas Taxi ya, Mbak.” Kata sopir sambil tersenyum.

“ Ya boleh saja. Tapi kayaknya nggak ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Nggak kayak taksi lainnya.”

“Nanti saya kasih nomor HP saya saja. Eh, kapan Mbak balik lagi ke Jakarta? Saya siap mengantar lagi.”

“Kok tahu kalau saya tinggal di Jakarta?” Kenyo mengernyitkan dahi.

“Kan tadi Mbak bilang kalau hijrah dari Surabaya ke Jakarta.”

“Eh iya, lupa.” Kenyo tertawa menyadari kelupaannya.

 

Taksi berhenti di depan sebuah rumah mewah. Kenyo terkesiap. Tampak begitu banyak kerumunan orang di depan rumah. Gadis itu segera bergegas masuk ke dalam rumah diikuti sopir taksi sambil membawa koper dan dos milik Kenyo.

Tanpa mempedulikan orang-orang yang ikut menyambut kedatangannya, Kenyo segera memeluk ibunya yang sedang duduk di kursi roda. “Ibu, maaafkan saya.” Sang Ibu tak kuasa menahan haru. Dielusnya rambut anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. “Syokur kamu segera pulang, Nduk.”

Seorang laki-laki beruban yang ikut menyaksikan pertemuan antara anak dan ibunya segera berdiri.

“Berhubung semuanya sudah berkumpul maka ijinkanlah saya mengutarakan maksud kedatangan saya. Hari ini detik ini juga saya melamar Nak Kenyo untuk menjadi pendamping hidup anak saya yang kece dan macho ini. Semoga lamaran kami diterima.” Semua tamu bertepuk tangan. “Terima…terima…terima…” teriak mereka.

“Saya terima lamaran Bapak. Saya ikhlas anak saya Kenyo Ayu menjadi calon isteri Nak Bagus Prasojo,” ujar wanita cantik itu sambil berdiri dari kursi rodanya. Kenyo terkejut melihat sang Ibu bisa berdiri dengan anggun. Lebih terkejut lagi ketika mendengar nama Bagus Prasojo disebut-sebut oleh ibunya.

Sopir taksi membuka kacamata dan wignya. Didekatinya Kenyo yang masih bengong. “Ken, sudah waktunya kita segera mengakhiri kejombloan kita ini. Maukah kamu menjadi isteriku?”

Kenyo ternganga melihat laki-laki yang sangat dikenalnya memegang tangannya. Ini tembakan ketiga yang diterima dari si jago basket. Kali ini bukan menggunakan senapan tetapi sebuah mortir yang memporak-porandakan kebekuan hatinya. Diam-diam Kenyo mengagumi kegigihan dan perjuangan si rambut cepak.

“Sebelum menjawab pernyataanmu jelaskan dulu kepada saya apa arti kata Begas yang ada di lambung taksi berwarna pink itu?”

“Begal Asmara!” jawab Bagus mantap.

“Nakal!” ujar Kenyo sambil memukuli dada laki-laki yang mencintai dan sesungguhnya juga sangat dicintainya. “Ini benar-benar pembegalan asmara. But I like it.”

Kenyo mengambil jepit rambut berwarna pink dari wig Bagus lalu dijepitkan di rambutnya yang ikal sebahu. “Weekend nanti saya ingin kamu mengantar saya kembali ke Jakarta dengan menggunakan BegAs Taxi berwarna pink itu,” bisik Kenyo.

“Siapa takut.” Bagus memeluk kekasih yang sangat dirindukannya.

“Sah,” seloroh tamu yang hadir pada acara pagi yang penuh kebahagiaan itu.

.

Catatan. Begal Asmara merupakan bagian dari buku kumpulan cerita pendek karya Abdul Cholik yang diterbitkan oleh penerbit Sixmidad, Bogor.

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. cinta penuh kesabaran dan ketekunan….heheheh…. salam sukses.

    Long war

  2. momtraveler says:

    Pakdhe kereeeennnn….

    Terima kasih
    Baru belajar

  3. Oooooo..begal asmara….:)

    Hooh

  4. sulis says:

    Waaa….nama tokohnya terlalu njawani pakdhe,jadinya malah jadi nama cowok. Biasanya kan jadi kanya, atau kania….
    Bagus pakdhe klo di re- write jadi skenario ftv..

    Perlu belajar nulis skenario ya

  5. Aiih ternyataa….

    Hepi ending

  6. Kalau begal yang satu ini siiih okeeee 😉

    Hooh..cakep soalnya

  7. Mujib says:

    judulnya itu loh… bikin tertarik

    Ngeri-ngeri sedep

  8. prih says:

    Keren pwool Pak Lik [kapan Pakdhe Cholik nggak kereen]…….
    Kenyo Ayu – Bagus Prasojo, endingnya manis. Apresiasi luar biasa utuk kumcer ngetop ini.
    Salam

    Iya Jeng, kasihan kalau dibuat sad ending

  9. mutia says:

    Hihi… judulnya nggak nahann!! Pak Dhe kreatipp! Inopatip !! 🙂

    Biar tampil beda

Leave a comment