Bukan Bisma Dari Dunia Sana

Bus yang membawa rombongan Blogger Wanodya Krida Utama berhenti di depan sebuah gedung yang cukup besar. Halamannya tampak asri. Aneka tanaman bunga sedang mekar seakan ikut gembira menyambut kedatangan mereka. Terlihat papan nama yang cukup besar berdiri dengan gagah dekat pagar. Panti Pesona Bunga Bangsa, begitu bunyinya. Yayasan yang pendiriannya diprakarsai oleh Panglima Kodam ini menampung, merawat, dan mendidik putra-putri TNI, utamanya yang ayah dan ibunya sudah meninggal dunia sejak mereka masih balita.

Di depan pintu masuk tampak beberapa remaja laki-laki dan perempuan berdiri berjajar dengan rapi. Dari jauh terlihat beberapa pria dan wanita keluar dari dalam gedung. Tampaknya mereka adalah para pengurus yayasan.

“Hayo kita segera turun. Anak-anak dan pengurus sudah menyambut kedatangan kita tuh.” Ratna yang menjadi ketua rombongan memberi aba-aba kepada anggota grup. “Pak Mardi dan Pak Waluyo jangan lupa barang bawaan di bawa masuk ya.”

Para wanita merasa gembira karena program tali asih yang sudah direncanakan sejak lama akhirnya terwujud. Sasaran pertama grup ini adalah memberikan bingkisan kepada yayasan yang mengurusi putra-putri purnawirawan. Maklum, Ratna yang menjadi ketuanya dan para anggotanya adalah anak-anak prajurit TNI juga. Bingkisan berupa alat perlengkapan sekolah, sembako , dan bantuan uang saku ala kadarnya.

Satu persatu para remaja menyalami Ratna dan rombongan. Ratna tak henti-hentinya mengusap pundak atau kepala mereka. Wajah mereka tampak ceria. Usai menyalami para remaja Ratna melanjutkan salaman dengan para pengasuh.

“Selamat datang Ibu-Ibu.” Ratna menyambut uluran tangan seorang laki-laki yang mengenakan pakaian dinas seragam Angkatan Darat. Sambil tersenyum dibacanya label nama yang tersemat di dada.

“Bisma,” ujar laki-laki berpangkat Kolonel itu.

“Ratna,” sambut ketua rombongan sambil mendongakkan kepala, menatap wajah sang Kolonel. Kedua anak manusia itu beradu pandang. Ratna mendadak lunglai, pandangannya tiba-tiba kabur. Badannya terasa ringan, bumi tampak oleng. Kolonel Bisma yang berdiri di dekatnya kaget. Segera ditangkapnya tubuh Ratna sebelum wanita yang dikenalnya itu jatuh ke tanah.

***

 

Ratna membuka mata perlahan-lahan.

“Alhamdulillah mbak Ratna  sudah siuman,” ujar seorang perempuan yang mengenakan jilbab pink dan bertahi lalat dekat bibirnya.

“Di mana saya ini,” tanya Ratnaa sambil menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.

“Di Denkes, Mbak. Kolonel Bisma dan Mbak Sri yang membawa kemari. Setelah acara di Yayasan selesai barulah kami menyusul kemari.”

“Masya Allah. Terima kasih ya Mbak.”

“Kolonel Bisma pamit mau ke Kodam, ada rapat katanya. Sepulang dari Kodam akan kemari lagi, begitu pesan beliau, Mbak.” Wanita yang disebut Mbak Sri menjelaskan ketidak beradaan Kolonel Bisma. Mbak Sri seolah tanggap atas pandangan mata Ratna.

Seorang perawat masuk ruangan membawa nampan berisi makanan.

“Makan siang, Bu,” ujarnya sambil meletakkan nampan di meja.”Setelah makan jangan lupa minum obatnya ya.”

“Sebaiknya segera makan, Mbak. Lapar kan, hayoo ngaku.” Ratna tersenyum.

“Sejak semalam saya memang belum makan. Saya menyiapkan bingkisan hingga larut malam. Tadi pagi juga hanya minum teh hangat, nggak sempat sarapan.” Ratna menjelaskan kondisinya untuk menutupi suasana hatinya.

“Kalau begitu silakan segera makan, Mbak. Kami berdua pamit ke sekolah dulu karena harus menjemput anak-anak. Insha Allah nanti habis Ashar mbak-mbak yang lain akan nengok Mbak lagi.”  Ratna mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

***

Airmata Ratna meleleh di pipinya. Ia sungguh tak menyangka dipertemukan kembali dengan laki-laki yang telah mengkhianatinya. “Bodohnya aku ini. Mengapa tidak mengecek siapa pimpinan yayasan itu,” gumam Ratna.

Ratna mengenal Bisma saat laki-laki itu berpangkat kapten. Kala itu Ratna baru saja diwisuda menjadi Sarjana Pendidikan. Reni, teman satu angkatan Ratna dan sama-sama menjadi wisudawati ternyata adik Bisma. Sejak perkenalan perdana itu Reni seolah menjadi Mak Comblang, ingin mendekatkan kakaknya dengan Ratna. Gayung pun bersambut. Ratna ternyata juga menyukai Bisma, seorang perwira yang tampan dan santun. Janji setia sampai rencana melangkah menuju pelaminan telah mereka ikrarkan.

Kisah cinta dua sejoli itu mulai berantakan setelah Kapten Bisma mengikuti pendidikan di Bandung. Pada bulan pertama sejak perpisahan, long distance relationship masih terasa manis. Namun menginjak bulan kedua komunikasi di antara mereka sudah tidak intensif lagi. Telepon Ratna hanya dijawab sepatah dua patah kata. Ratna merasa bahwa kekasihnya telah mulai berubah. Pada bulan ketiga komunikasi antara Ratna dengan Bisma terputus. Wanita ayu berbintang Virgo itu merasa telah ditelantarkan. Reni, sahabat kentalnya yang kabarnya telah menikah juga tak ketahuan rimbanya. Satu-satunya yang masih bisa menghibur hati Ratna adalah murid-muridnya yang lucu dan menyenangkan. Namun hati Ratna sudah retak. Beberapa pria yang mencoba mendekati tak berhasil memecah kebekuan hatinya. Tampaknya Ratna sedang menikmati kejombloannya.

***

Ratna baru saja usai sholat Ashar. Pintu kamarnya terbuka. Kolonel Bisma masuk disertai seorang wanita. Ratna menaksir usia wanita itu tak jauh berbeda dengannya.

“Selamat sore. Bagaimana keadaanmu, Dik?” Bisma membuka obrolan.

“Seperti yang Anda lihat, Kolonel,” jawab Ratna dengan suara datar. Bisma tersenyum.

“Waduh, formal amat jawabannya.” Bisma mencoba mencairkan suasananya. “Oh iya, kenalkan ini Bu Sofi, salah satu pengurus yayasan yang menangani pendidikan anak-anak.” Ratna menyambut uluran tangan tamunya.

“Mbak Ratna, saya beserta jajaran pengurus dan anak-anak mengucapkan terima kasih atas bantuan Grup Blogger Wanodya Krida Utama. Bantuan itu sungguh sangat bermanfaat bagi kami. Semoga amal ibadah Ibu dan Grup mendapat balasan berlipat ganda dari Allah  Subhanahu Wa Ta’ala. Tak lupa kami mendoakan semoga Ibu segera sehat kembali. Amin.”

“Sama-sama, Bu Sofi.” Kolonel Bisma menengok stafnya sambil tersenyum. Sofi tanggap.

“Maaf Mbak Ratna saya mohon pamit duluan. Ada tugas dari komandan yang harus saya laksanakan. Malam ini sebagian anak-anak akan mengikuti lomba pidato berbahasa Inggris. Saya akan mengecek kesiapan mereka. Selamat sore.”

“Terima kasih bu Sofi.”

Kolonel Bisma menggeser tempat duduknya, mendekati Ratna.

“Suamimu sudah diberitahu, Dik?” Ratna mengalihkan pandangan dari tatapan Bisma.

“Belum,” jawab Ratna dengan nada tetap datar. “Sudah berapa putramu, Kolonel?”

Bisma tertunduk. Dia memahami sikap Ratna yang ditinggalkannya begitu saja. Perlahan disingkapnya celana panjangnya sampai lutut. Ratna melirik. Wanita berusia setengah abad itu kaget melihat kaki Bisma.

“Masya Allah, kenapa kakimu, Mas?”

Dengan tenang Bisma menceritakan peristiwa yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. “Sepulang dari latihan kendaraan yang saya tumpangi ditabrak bus yang melaju kencang dari arah berlawanan. Perisiwa itu terjadi di kawasan Raja Mandala. Sopir saya meninggal dunia dan kaki saya harus diamputasi karena remuk tergencet badan bus.”

Ratna meneteskan airmata. “Jadi karena itu lalu Mas Bisma nggak menjawab telepon saya? Jahat sekali sih.” Ratna  menangis sesenggukan sambil memegang tangan Bisma.

“Bukan hanya itu, Dik. Akibat kecelakaan itu saya juga telah kehilangan banyak hal kecuali nyawaku.” Bisma menunduk sambil mengelus kaki palsunya.

“Maksud, Mas?”

“Saya…saya…tak mungkin bisa membahagiakan wanita apalagi mempunyai keturunan. Itulah sebabnya saya lebih baik tidak menghubungimu lagi walau hati saya teriris-iris. Saya tak ingin membuat Dik Ratna menderita.” Ratna memegang tangan Bisma erat-erat. Tangisnya semakin kencang.

“Mas, tega sekali kamu melakukan itu kepada saya.”

“Maafkan saya, Dik. Tentu kamu sudah mendapatkan pendamping yang lebih baik daripada saya. Sudah berapa putramu?”

“Sejak komunikasi kita terputus saya hampir gila memikirkanmu, Mas.” Ratna memukuli tangan Bisma. “Kesetiaan yang saya bangun untukmu tak tergoyahkan. Beberapa laki-laki yang mencoba mendekati tak saya hiraukan.”

“Jadi…” Bisma tak kuasa menahan lelehan airmatanya. Digoyang-goyangkannya pundak Ratna.

“Sampai bapak-ibu meninggal dunia saya masih tetap menanti keajaiban akan kedatanganmu, Mas.”

Pintu kamar berderit. Seorang pria gagah masuk diiringi wanita dan beberapa anak-anak. “Sudaaaaaaaaah. Terima saja lamaran kakakku, Rat. Kalian berdua tentu kewalahan mengasuh anak-anak panti yang jumlahnya cukup banyak itu..”

Ratna melempar bantal ke arah Reni. Sahabat karibnya itu ternyata telah bersekongkol dengan kakaknya. Diam-diam Reni menyembunyikan keberadaan Kolonel Bisma.

“Kakakku bukan Bisma dari dunia sana, Rat.” Reni menyubit pipi Ratna.

“Maksudmu?” tanya Ratna tak mengerti.

“Yaaa…jangan biarkan kakakku jomblo selamanya donk. Tapi semuanya sih tergantung kamunya. Kalau kamunya nggak mau ya nggak maksa tapi persahabatan Ratna dengan Reni terpaksa harus end!” Reni tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mata.

Bisma memegang telapak tangan Ratna. Wajahnya seolah mengundang tanya adakah Ratna bersedia mendampingi dirinya. Ratna tersenyum lalu mengangguk perlahan.




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

13 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Aduh aduhh…baperrr aku
    Sama

  2. rebellina says:

    Pakdhe selalu bisa mengaduk-aduk emosi yang baca. Jadi ceritanya penantian yang tidak sia-sia dong.

    Tapi terlalu lama ya

  3. mangKoko says:

    Ah pakdhe ini …
    membuat saya jadi lelaki cengeng … yang harus mengambil selembar tissue untuk menghapus sesuatu di sudut mata.

    hahaha…pakai ujung sarung juga nggak apa2

  4. Sari Novita says:

    Sedih Pak De

    Masyaaa

  5. Gia Ghaliyah says:

    Jadi pengen nangiiiiisss

    Menangislah jika itu bisa membuatmu lega Nduk

  6. Mugniar says:

    Pakdhe, apa benar LDR sama ABRI itu sulit?
    *jadi kepo*

    Enggak tuh, saya sering kok

  7. blue wizard says:

    kepo nih pengen ikut rombongan blogger

    Yuk ikutan

  8. Lidya says:

    Allhamdulillah akhirnya lamaran di terima. Ternyata karena kecelakaan ya makanya mereka putus. tega tapi gak mau kasih tau alasannya seolah digantung hehehhe

    Jomblo kan nggak jos

  9. emosi teraduk – aduk gini, ikut berdebar juga

    hahahaha…CLBK

  10. wylvera says:

    Akhirnya jadi juga ya. Jodoh itu memang dahsyat!

    Betul, semoga langgeng lestari

  11. Ini toh blognya pak de itu..ternyata suka nulis fiksi salam kenal pak de..

    Sebagai selingan

  12. LEBAY.ID says:

    BW di malam hari, semoga admin sehat selalu. Amin

    Panjenengan juga ya

  13. so sweeeet…ini kolonel setiaaa beneeer 🙂

    Bukan setia takut kasihan sama pacarnya

Leave a comment