Duitmu Wangi Duitku Lari

“Bingo! Ini dia info yang saya cari,” ucap Lastri sambil bertepuk tangan kegirangan. Wanita berambut ikal sebahu yang memakai nama Last3 di sebuah media sosial itu langsung nimbrung berkomentar di sebuah status berjudul Rezeki Melimpah dengan Jalan Mudah.” Ikutan donk,” tulisnya. Sejak saat itu Lastri rajin mengunjungi Grup Oeang 4U. Grup yang banyak berdiskusi tentang cara mencari uang itu anggotanya memang cukup banyak. Aneka tips dan trik muncul hampir setiap hari.

“Tanam modalnya sedikit saja dulu untuk uji coba. Saya sih sudah 2 tahun join di bisnis ini. Sampai sekarang oke-oke saja,” tulis seorang anggota grup yang telah bergabung dengan perusahaan jasa keuangan Doeitmoe Wangi Finance. “Baca menu Perihal pada situsnya agar mengetahui seluk beluknya. Jika cocok bisa langsung datang ke kantornya,” tambahnya sambil menampilkan link perusahaan yang berkantor di pinggiran kota Bakung Ungu. Puluhan anggota grup yang mengaku bergabung juga di perusahaan jasa keuangan membenarkan. Bahkan ada yang sudah menikmati panen bisnisnya selama 5 tahun.

Lastri mulai menghitung. “Jika menanam modal 25 juta mendapat fee satu juta rupiah per bulan kan lumayan banget tuh,” ujarnya. Pemilik warung sembako itu bertekad menarik uang yang ditabung di sebuah bank untuk dialihkan ke bisnis yang baru dikenalnya. Semula sempat ragu ketika salah seorang anggota grup mengingatkan teman-temannya agar berhati-hati. “Pengalaman menunjukkan bisnis yang menawarkan fee menggiurkan hanya setia pada tahun pertama. Setelah itu pengelolanya kabur entah kemana sambil menggondol uang nasabahnya.” Tetapi keraguan itu dengan cepat ditepisnya berdasarkan keterangan anggota grup yang sudah ikut bisnis ini lebih dari tiga tahun. “Pak Randi Burhandi orangnya baik sekali, ramah, dan profesional,”, tulisnya.

***

Lastri ternganga melihat kantor Doeitmoe Wangi Finance yang megah. Setelah mengambil kartu antrian langsung duduk di ruang tunggu. “Weleh-weleh banyak amat antriannya,” batin Lastri sambil melihat angka di kartu antrian. “Tahu gitu saya berangkat pagi-pagi deh.” Lastri langsung duduk di kursi dekat seorang bapak yang berbodi subur-makmur.

“Selamat pagi. Mau gabung juga, Pak,” tanya Lastri sambil tersenyum.

“Selamat pagi, Bu. Saya sudah ikutan selama 3 tahun. Ini mau mendaftarkan adik saya yang di kampung. Dia tampaknya ingin mengikuti jejak saya. Ibu juga mau invest?”

“Iya, Pak. Tapi nggak banyak kok. “
“Nggak apa-apa. Nanti kalau rezeki bisa kok nambah dana lagi.”

“Tapi  aman ya, Pak? Maaf, selama ini kan sudah cukup banyak perusahaan sejenis ini yang gulung tikar dan pengelolanya membawa kabur uang peserta.” Lastri berbisik.

“Selama ini fine-fine saja.Beda dengan perusahaan yang berkasus itu.” Penjelasan laki-laki disebelahnya itu semakin memantapkan tekad Lastri.

 

Dalam urusan keuangan Lastri memang merasa kewalahan. Penghasilan dari usaha warung sembako dirasa kurang cukup untuk membiayai kehidupannya bersama tiga anaknya. Hasil panen sepetak sawah peninggalan suaminya juga tak cukup untuk membiayai pendidikan putra-putrinya. Wanita yang awet muda itu sebenarnya tak berani mengotak-atik tabungan deposito di bank milik almarhum suaminya. Tetapi diskusi di media sosial itu telah mengubah cara pandangnya. “Jika deposito ini saya manfaatkan untuk bisnis yang lebih menjanjikan tentu almarhum tak akan keberatan,” begitu pikirnya.

***

“Nomor antrian 65 silakan masuk,” suara merdu melalui pengeras suara itu mengagetkan lamunan Lastri. Setelah membetulkan pakaiannya Lastri langsung memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh petugas satpam.

“Selamat pagi, Ibu. Perkenalkan saya Randi. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang laki-laki berbaju biru Benhur dan berdasi menyambut kedatangannya dengan ramah.

“Lastri.” Setelah dipersilakan duduk Lastri langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

“Sebelum Ibu bergabung saya ingin mengetahui dari mana Ibu mengetahui perusahaan kami ini?” tanya Randi dengan ramah.

“Dari grup media sosial, Bapak. Ada seorang anggota yang menuliskan pengalamanannya sambil memberikan link dari situs Doeitmoe Wangi. Setelah membaca dengan seksama artikel di situs itu saya tertarik untuk bergabung.” Lastri menjelaskan sambil bertanya berbagai hal kepada Randi termasuk warning dari salah satu anggota grup.

“Saya memahami kekhawatiran, Ibu. Maklum, beberapa waktu yang lalu cukup banyak pelaku bisnis bodong dengan iming-iming fee yang menggiurkan. Tapi saya berani mengatakan bahwa Doeitmoe Wangi Finance termasuk perusahaan jasa keuangan yang bonafid, andal, jujur, dan terpercaya. Nasabah bukan hanya kami anggap sebagai asset tetapi juga sebagai keluarga besar. Itulah sebabnya secara berkali kami menyelenggarakan acara Social Gathering. Yah..sekedar makan bakso bareng sambil ajojing. Just for fun,” jelas Randi. Lastri manggut-manggut sambil melirik sebuah kata bijak yang ditempel di bawah foto Randi. “Honesty is the bet policy.”

Randi menyerahkan kartu nama kepada Lastri.

“Baiklah, Pak. Terima kasih atas penjelasannya. Saya semakin mantap untuk bergabung dengan Doeitmu Wangi Finance,” ujar Lastri sambil tersenyum.

“Ibu bisa menghubungi saya kapan saja melalui telepon, WA, BB, email, Facebook, dan Twitter.”

“Apakah dananya saya serahkan Pak Randi sekarang juga?”

“Wah, Bu Lastri kok resmi sekali. Panggil saya Randi saja.” Lastri mengangguk. “ Setelah ini Ibu silakan mendaftar di staf finance. Mereka akan mengurus semua keperluan Ibu. Selamat bergabung dengan Doeitmoe Wangi. Terima kasih atas kepercayaan, Ibu.” Randi menyalami Lastri sambil tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Upss..eh…Nggak enak ach kalau manggil nama saja,” jawab Lastri.

***

Apa yang disampaikan oleh bos Doeitmoe Wangi Finance ternyata benar. Stafnya ramah-tamah, murah senyum, dan professional. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan uang, Lastri langsung menerima semacam sertifikat yang bentuknya cukup mewah, mirip ijazah.

“Ibu simpan sertifikat ini dengan baik. Jika Ibu akan meningkatkan jumlah investasi maka kami akan memberikan sertifikat lagi. Fee akan langsung ditransfer ke rekening Ibu setiap bulan. Ibu bisa menghubungi saya atau langsung ke Pak Randi setiap saat. Mungkin ada lagi yang ingin Ibu sampaikan?”Staf Finance yang masih muda dan cantik itu menyerahkan kartu namanya. Karena merasa sudah cukup maka Lastri langsung berpamitan.

“Terima kasih sudah bergabung dengan Doeitmu Wangi, Ibu.”

***

Sudah empat bulan Lastri bergabung dengan perusahaan jasa keuangan yang dipimpin Randi. Selama itu dana yang ditanam sudah mencapai seratus juta rupiah. Hasil dari warung sembako ditambah hasil menjual perhiasan  serta sisa deposito milik almarhum suaminya telah dikucurkan ke Doeitmoe Wangi Finance. Dengan investasi itu Lastri mendapatkan fee sebesar empat juta setiap bulan. Kehidupannya dirasakan semakin membaik, Lastri juga bisa bernafas lega karena biaya sekolah anak-anaknya tertutupi.

Lastri tak mau sukses sendirian. Tiga orang adiknya juga telah menjadi nasabah Doeitmoe Wangi. Mereka mengucapan terima kasih atas info yang diberikan oleh Lastri.

“Mbak, bagaimana kalau Ayah kita ajak gabung juga?” tanya Dwi, adiknya.

“Uang pensiun Bapak kan nggak seberapa,” jawab Lastri.

“Lha, sawah Bapak saja dijual. Selama ini Bapak kan sudah sambat kalau hasil sawahnya sudah tidak sebanding dengan jerih payahnya.”

“Tapi Bapak kan sering bilang kalau orang desa nggak punya sawah itu nggak gaya,” jawab Lastri sambil tertawa.

“Ah, itu kan jaman pra-gadget, Mbak.”

Entah karena umur sudah sepuh atau termakan promosi Lastri dan adik-adiknya, ayah mereka akhirnya setuju untuk menjual sebagian sawahnya. Hasilpenjualan sawah itu langsung ditanam di Doeitmoe Wangi. “Saya sisakan sepetak agar tiap panen saya dan ibumu masih bisa menikmati beras dari sawah sendiri,” begitu penjelasan ayahnya. Lastri dan adik-adiknya mengangguk setuju.

***

Malam hari itu hati Lastri sedang berbunga-bunga. Uang sebanyak seratus juta rupiah hasil penjualan sepetak sawah peninggalan suaminya sudah distorkan kepada Pak Randi Burhandi. Ini berarti jumlah investasi yang ditanam di perusahaan Doeitmoe Wangi Finance yang bergerak dibidang jasa keuangan itu menjadi dua ratus juta rupiah. “Hanya dengan duduk ongkang-ongkang tiap bulan dapat uang delapan juta itu sesuatu banget,” kata Lastri dengan wajah sumringah. “Nggak apa-apa sawah terjual. Toh selama ini hasilnya hanya dua juta setiap panen. Investasi dengan fee memikat setiap bulan kan lebih asoi dibandingkan dengan penghasilan sawah yang hanya seciprit tiap tiga bulan.” Lastri mulai membandingkan hasil kerja kerasnya di sawah dengan investasi yang sedang dijalaninya.

***

“Satuan Reskrim Polres Bakung Ungu saat ini sedang melakukan pencarian terhadap Randi Burhandi pemilik perusahaan Doeitmoe Wangi Finance. Laki-laki ceking berkumis tipis itu dikabarkan menghilang setelah ratusan nasabah  perusahaan abal-abal yang dipimpinannya unjuk  rasa di kantornya beberapa hari yang lalu. Seorang laki-laki yang mengaku menanamkan uangnya sebanyak tiga milyar rupiah jatuh pingsan saat unjuk rasa berlangsung. Kini kantor dan dua buah rumah mewah yang tampak sepi itu telah dipasang police line. Belum diperoleh informasi kemana Randi beserta isteri dan anak-anaknya kini berada. Sekian breaking news kali ini. Breaking News berikutnya dapat Anda ikuti satu jam kemudian.”

 

Suara penyiar berita di sebuah stasiun swasta yang berwajah manis itu seperti palu godam yang menimpa kepala Lastri. Running text berbunyi: ”Randi Burhandi buron. Ribuan nasabah panik,” semakin menambah kecemasannya. Terbayang ayah dan adik-adiknya yang juga menjadi nasabah bisnis ngeri-ngeri sedap itu. Lastri mencoba menghubungi Randi melalui beberapa nomor yang tertera di kartu namanya tetapi selalu mendapat jawaban yang sama. “Nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau di luar jangkauan. Silakan menghubungi kembali beberapa saat lagi lagi.”

 

Kriiiiiiing. Deringan HP yang dipegang mengagetkannya. “Mbak Lastri segera pulang, Bapak dan Ibu baru saja masuk ICU.”

Mata Lastri berkunang-kunang. Janda beranak tiga itupun pingsan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

6 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Riski Ringan says:

    Oh ini cerita perusahaan yang M itu ya PakDhe. Ada temenku yang ketipu juga puluhan juta.

    Kayaknya bukan, ada beberapa kasus yang mirip kan

  2. Aduh.
    Ada nih kejadian di lingkunganku Pakde, tapi waktu itu beliau main aman saja. Nanam modal 5 jeti. Tiap bulan dapet transferan, tapi tetep aja jumlahnya ya ga sampe 5 juta.
    Ada-ada ajaaa

    Iya, akal-akalan belaka

  3. Ini investasi bodong ya Pak Dhe. Kasian ya korbannya. Duuuh, kok ya tega gitu yak.

    Cukup banyak kan

  4. laluuu gedung mewah untuk kantornya itu hanya menyewa thoo? niat banget nyewa bangunan keren dan mahal, hanya untuk ditinggal lari kemudian

    Sewa-lari

  5. Yessi Greena says:

    Kasian Lastri. Trus piye kuwi sawah e?

    Buyaaaar

  6. begitulah, budaya ingin kaya secara instan. Ampun ngantos kados mbak lastri

    Serakah ya

Leave a comment