Lamaran Yang Ditukar

Binsat merapikan kumisnya. Ia tak ingin wanita cantik itu menilai dirinya ceroboh karena membiarkan rambut di atas bibirnya semrawut. Binsat ingat, Pertiwi pernah mengirimkan pesan melalui inbox Facebooknya yang mengoreksi profile picturenya:”Tumpukan buku pada rak yang menjadi background foto selfie Mas Binsat acak-acakan. Makanya segera cari pendamping lagi agar ada yang mengingatkan.”

Malam ini akan menjadi malam bersejarah baginya. Yup, Binsat memang tidak akan menembak wanita pujaannya. Dia akan langsung melamarnya sebagai isteri untuk mengisi hari-harinya yang kosong selama hampir sepuluh tahun sejak kematian isterinya. Dea, anak tunggalnya, bahkan sudah mengisyaratkan persetujuannya. “Kalau Papa ingin menikah lagi silahkan asal sudah menemukan wanita yang baik dan mencintai Papa,” begitu kata Dea. Ucapan Dea diamini oleh Koko, suaminya. Lain halnya dengan Tiara, cucu satu-satunya. Sarjana ekonomi yang agak tomboi ini kurang setuju jika Eyangnya menikah lagi. Ketidak sukaannya disampaikan kepada Binsat pada suatu malam saat mereka berdua nonton pertandingan sepakbola di layar televisi.

“Eyang, boleh Rara bertanya sesuatu?”

“Boleh donk, masa cucuku yang cantik nggak boleh bertanya.”

“Tapi janji Eyang nggak akan marah.”

“Emangnya Rara pernah melihat Eyang marah?”

“Ya tidak sih. Tapi siapa tahu pertanyaan Rara kali ini bisa membuat Eyang kurang suka.”

“Jangan menuduh donk. Katakan apa pertanyaanmu.”

“Gini loch. Beberapa teman sekantor bilang jika Eyang sok dekat dan sok akrab dengan seorang wanita di media sosial. Betul enggak sih?” Binsat agak kaget mendengar pertanyaan yang tak diduga dari cucunya. Tetapi laki-laki berusaha 65 tahun ini segera bisa menguasai keadaan. Dielusnya rambut cucunya.

“Lha kalau di media sosial kita nggak ramah kan entar dikira sok pejabat, sok jaim, dan sok-sok lainnya. Mereka yang suka main di Facebook kan heterogen.”

“Iya sih, tapi kok kata sayang, I love you, honey, sweetheart, dan yang senada bertebaran begitu. Jangan-jangan Eyang naksir nich sama si itu.” Binsat semakin heran dengan kejelian Rara.

“Ah kaw,” kata Binsat sambil mengusek-usek poni cucunya.

 

***

Sebuah taksi berhenti di depan rumah Binsat. Laki-laki itu merapikan sekali lagi sisiran rambutnya. Hem batik lengan batik dipadupadankan dengan celana panjang berwarna hitam. Itu yang disampaikan kepada Pertiwi melalui SMS yang telah dikirimkannya.

“Eyang, taksi sudah datang,” suara Tiara mengagetkannya. “Kenapa sih pakai taksi segala, Eyang?”

“Biar praktis, Nduk. Malam Minggu begini jalanan macet. Mendingan naik taksi saja nggak ribet.”

“Kan ada Pak Min yang siap mengantarkan.”

“Pak Min tadi minta ijin menengok anaknya yang baru datang dari umrah.”

Dea mendekati Papanya. “Emangnya mau ke mana, Pa. Rapi amat.”

“Ada teman yang ingin ketemu dan ngopi bareng,” Binsat menjawab sekenanya.

Dea mahfum dan menduga papanya pasti akan kencan dengan seorang wanita. Rara memang sudah pernah cerita tentang lagak-lagu Eyangnya di media sosial. ”Laki-laki atau perempuan, Eyang?” tanya Rara spontan. Dea menyubit anaknya. Binsat melenggang ke taksi sambil tersenyum.

Taksi meluncur perlahan.

Binsat mengenal wanita yang dikagumi itu di Facebook. Dari profile picture yang ada di album fotonya Binsat menilai wanita berambut ikal sebahu itu mirip banget dengan almarhumah isterinya. Umurnya ditaksir terpaut antara delapan sampai sepuluh tahun dengan dirinya. Setelah berkenalan lebih lanjut, Pertiwi, demikian nama yang tertera pada akunnya, mengaku sudah menjanda lebih dari lima tahun karena ditinggal mati suaminya. Pengakuan ini memberi amunisi kepada Binsat untuk terus mendekati Pertiwi.

Taksi berhenti di rumah makan Golden Lavender. Binsat bergegas turun dan langsung masuk masuk ke dalam restoran yang tampak ramai sekali pengunjungnya. Laki-laki yang selalu berpakaian necis itu memang sengaja datang lebih awal untuk meyakinkan bahwa meja yang dipesan sudah tertata rapi sesuai keinginannya. Ini memang kebiasaan Binsat sejak menjadi perwira.

“Selamat malam, Bapak. Untuk berapa orang?” Seorang pelayan laki-laki menyambut tamunya.

“Saya sudah pesan meja untuk dua orang yang di taman.” Pelayan segera membawa tamunya ke meja yang sudah disiapkan.

“Silakan, Bapak.” Pelayan menyerahkan daftar menu.

“Saya masih menunggu teman. Kira-kira seperempat jam lagi dia datang. Tolong minta lemon tea hangat dulu ya.”

Sambil menunggu kedatangan Pertiwi laki-laki dendy itu mengarahkan pandangannya ke berbagai sudut taman. Diam-diam Binsat berharap agar tak ada koleganya yang datang di Golden Levender. Maklum ini kencan perdana dengan wanita yang bakal langsung dilamarnya. Bisa berabe jika acara yang sudah disusun rapi ini menjadi berantakan karena ada sohibnya yang ikut nimbrung di mejanya. Pertiwi sendiri sudah wanti-wati berpesan agar dalam pertemuan ini tidak menarik perhatian umum. “Ini adalah pertemuan saya pertama kali dengan orang yang belum saya kenal secara fisik sejak suami saya meninggal dunia. Saya harap semuanya berjalan rapi,” begitu bunyi SMS yang diterima dari Pertiwi siang tadi.

Golden Lavender termasuk restoran ternama. Walaupun harga makanan dan minumannya tergolong agak mahal namun tempat makan ini memiliki cita rasa tinggi. Tak heran jika pengunjungnya selalu ramai terutama pada saat weekend. Selain menyajikan makan Indonesia, Golden Lavender juga menyediakan makanan Eropa, Timur Tengah, dan Chinese Food. Satu lagi keistimewaan Golden Lavender. Restoran ini boleh dikatakan ‘bebas anak-anak’ pada bagian yang ada tamannya. “Agar pengunjung lebih nyaman dan rileks, Bapak. Tak elok kan jika sedang menimati makanan ada anak-anak yang berlari kesana-kemari sambil berteriak-teriak atau menangis.” Begitu penjelasan pemiliknya. Tak heran jika di taman ini juga sepi dari remaja atau ABG. Barangkali mereka merasa kurang fun jika mereka makan sambil terus diperhatikan oleh ‘Kaum Opa dan Oma’

Lagu Als de Orchideen Bloeien terdengar berkumandang. Binsat yang dalam akun Facebok menggunakan nama Wanstar menunggu dengan hati berdebar-debar kedatangan seseorang yang dikaguminya. Wanita cantik berlesung pipi itu membuat gairah hidupnya menjadi bangkit. Binsat ingat bagaimana jawaban Pertiwi ketika dia mengomentari profile picture yang baru saja diupload di Facebooknya. Kala itu Binsat mengatakan: ”Senyum yang menampakkan lesung pipi ini bisa menyeret saya ke dalamnya.” Pertiwi langsung reply dengan nada tanya:”Naksir ya, Mas?” Pertanyaan Pertiwi hanya dijawab Binsat dengan tersenyum. Pensiunan gaul itu semakin yakin bahwa Pertiwi telah memberikan lampu hijau.

.

“Selamat malam, Jenderal,” Binsat menengok. Seorang pria gagah menghormat dengan sigap. Binsat langsung berdiri menyambut tamunya.

“Saya datang memenuhi undangan makan malammu. Sekaligus melamar Tiara cucumu yang cantik untuk cucuku perwira yang ganteng ini,” ujar wanita berlesung pipi itu sambil tersenyum.

“Pertiwi?” Binsat tergagap melihat kecantikan Pertiwi yang mengenakan gaun malam berwarna biru.

“Iya, Mas. Maaf atas keterlambatan saya karena ada beberapa orang yang memaksa untuk ikut malam bersama kita.” Pertiwi tersenyum sambil menengok Letnan Satrio cucunya.

“Eyaaaaaaaang. I’m coming.” Pertiwi dan Satrio tersenyum mendengar suara nyaring. Tiara langsung memeluk pacarnya, seorang perwira remaja yang gagah. Dea dan Koko ikut tertawa di belakang putrinya.

“Kalian….”

“Iya Pa. Kami mengaku bersalah karena telah bersekongkol untuk menguras habis dompet Papa,” ujar Dea sambil tertawa untuk menutupi kegalauan hatinya.

“Jadi…..”  Binsat tak bisa melanjutkan kalimatnya karena sudah dipotong oleh Rara. “Iya, Eyang. Orangtua Mas Satrio yang saat ini berada di New York sudah memberikan wewenang kepada Eyang Pertiwi untuk melamar Rara. Boleh kan, Yang. Please.”

Binsat geleg-geleng kepala sambil mengusek-usek poni cucunya. Sementara Dea tak kuasa menahan airmatanya. Sungguh, Dea tak menyangka bahwa wanita yang akan dikencani papanya adalah calon besannya.

.

Catatan. Kisah ini diambil dari buku Kumpulan Cerpen Ngetop Begal Asmara karya Abdul Cholik yang diterbitkan oleh Penerbit Sixmidad.

.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Bagus dhe. Gak kebayang endingnya gini 😀
    Eh tapi Binsat ini gambaran gayanya pakdhe banget yaa…Necis necis gimanaaa gitu.

    Masa sih? Ngaca lagi ach

  2. Inayah says:

    begal asmara? awwaww..lucu judulnya.

    Penulisnya padahal nggak lucu ya

  3. Lidya says:

    wow pembaca udah mikir macam2 awalnya heheh

    Mikir apa hayoooo?

  4. Amy Zet says:

    Twist banget endingnya wahahaha. Kasian yaa tapi Eyang Binsat 🙁

    Padahal sudah mupeng ya

  5. cputriarty says:

    unexpected ending story ya pakde…kok bisa bikin alur seperti ini butuh expert writer 🙂

    Tinggal mlintir saja seeeer

  6. Sukul says:

    cerita yang sangat menarik pakde.. endingnya tak terduga..

    Terima kasih Mas Sukul

Leave a comment