Stagen Merah

 “Ibu….Ibu….grup kami juara satu. Bulan depan lagu kami akan direkam!”  Suara bocah lanang itu mengejutkan Marni. Segera dilemparkannya stagen berwarna merah itu dari tangannya. Janda beranak dua itu segera lari ke arah datangnya suara. Di depan pintu kamar Marni memeluk erat kedua anaknya, Jupri dan Juli. Tangisnya tak terbendung. “Iya, Bu. Kami juga mendapat hadiah uang sepuluh juta,” sahut Juli anak bungsunya sampul menyorongkan sampul coklat. Tubuh Marni mendadak lunglai. Jerit tangis Jupri dan Juli mengundang perhatian tetangganya.

***




 

“Maaf ya, Yu. Kabar itu memang benar adanya. Cak Darwan sudah menikah dengan wanita yang rumahnya tak jauh dari tempat jualan bakso Cak Darwan.” Airmata Marni mengalir di pipinya.

“Dik Ngatno tahu dari mana?”

“Cak Darwan sendiri yang memperkenalkan isterinya ketika saya bertemu mereka di pasar.”

Marni memang sudah mulai khawatir ketika suaminya jarang pulang belakangan ini. Darwan biasanya pulang sebulan sekali untuk mengirimkan uang belanja bulanan. Tetapi sudah empat bulan ini suaminya tidak menampakkan batang hidungnya. Ngatno, sahabat Darwan yang sama-sama hijrah ke Surabaya untuk jualan bakso semula juga mengaku tak tahu menahu tentang Darwan. “Saya juga sudah lama nggak kontak dengan Cak Darwan, Yu. Maklum tempat kos kami berbeda,” begitu tutur Ngatno. Tetapi, seperti kata pepatah ‘sepandai-pandai orang membungkus bangkai akhirnya ketahuan juga.’ Ngatno memergoki Darwan bersama perempuan lain di pasar. Marni yang tak mau dimadu minta cerai dari Darwan, pria yang menikahi dirinya 15 tahun yang lalu.

Untuk menghidupi dirinya dan dua anaknya Marni mencoba berjualan nasi pecel di rumahnya. Bukan hanya itu saja, Marni juga terpaksa harus mencari penghasilan tambahan dengan mencuci pakaian tetangga untuk membiayai pendidikan Jurpri dan Juli. Sayangnya usaha jualan nasi pecel itu akhirnya gulung tikar karena banyak pelahap nasi pecel yang menerapkan ‘makan dulu bayar bulan depan.’

Sebenarnya ada satu dua orang laki-laki yang ingin menikahinya. Marni yang masih trauma dengan pernikahan pertamanya masih enggan menerima lamaran mereka. Janda yang masih tampak cantik itu takut jika laki-laki yang melamar hanya terpikat kecantikannya tetapi tak bisa menyayangi kedua anaknya. Baginya Jupri dan Juli adalah segalanya. Hanya merekalah yang menjadi penghibur ketika Marni sedang bersedih. Jupri dan Juli yang selalu mendapat rangking di sekolah juga merupakan anak yang manis, penurut, rajin shalat, dan pintar mengaji. Itulah sebabnya Marni bertekad untuk bekerja apa saja agar kedua anaknya bisa menjadi orang.

Hati Marni kembali terkoyak ketika pada suatu hari Darwan datang menemuinya. Selain memberikan uang untuk biaya hidupnya Darwan juga menyampaikan tujuan kedatangannya.

“Mar, saya ingin mengajak Jupri dan Juli ke Surabaya. Saya ingin mereka ikut bersama saya agar kehidupannya lebih baik.” Marni kaget bukan kepalang.

“Apa maksud Cak Darwan?” Suara Marni meninggi.

“Saya lihat hidup kamu mulai kedodoran. Daripada Jupri dan Juli terlantar lebih baik mereka ikut saya. Dengan begitu kamu bisa menikah lagi. Saya dengar sudah banyak laki-laki yang melamarmu.” Darwan mengucapkan kalimat itu dengan nada enteng.

Marni berdiri. Ia merasa terhina dengan ucapan bekas suaminya. “ Cak Darwan keluar dari rumah ini atau saya berteriak!” Jupri dan Juli yang diam-diam mendengarkan percakapan orangtua mereka langsung memeluk Ibunya.

“Saya dan Juli tidak terlantar,” ujar Jupri sambil memandang ayahnya. “Kami tak mau ikut ayah.” Juli menyambung ucapan kakaknya.

Darwan meninggalkan Marni dan kedua anaknya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Usaha Darwan untuk memboyong Jupri dan Juli ternyata tak berhenti sampai di situ. Beberapa kali Darwan datang ke sekolah dan berusaha membujuk Jupri dan Juli untuk ikut ke Surabaya. Ini yang membuat Marni cemas. “Jangan-jangan Cak Darwan nekat menculik Jupri dan Juli,” begitu pikirnya.

Kondisi ekonomi Marni semakin memburuk. Upah kerja mencuci pakaian tetangga juga semakin berkurang karena ada tetangga yang ikut latah menjadi buruh cuci setrika. Satu-satunya kalung pemberian Emaknya beberapa puluh tahun yang lalu juga sudah tergadaikan untuk kulakan pulsa. Harapan Marni, dengan berjualan pulsa dapurnya akan bisa terus berasap. Harapan tinggal harapan. Marni kalah gesit dengan penjual pulsa lain yang sudah berpengalaman.

***

 

Marni memandang sehelai stagen berwarna merah. Tekadnya sudah bulat. Tekanan ekonomi, tekanan Darwan, dan doa yang tak kunjung terjawabkan menjadikan dirinya sudah tak bisa berpikir lagi.

Setelah menulis surat untuk Jupri dan Juli, Marni mengikatkan ujung stagen ke lubang angin di kamarnya. Dengan tubuh gemetar  Marni naik ke atas kursi yang sudah disiapkan sebelumnya. Dililitkannya ujung stagen yang satunya ke lehernya lalu diikatnya dengan kencang. Marni masih ragu-ragu untuk melanjutkan langkah berikutnya. Bayangan Jupri yang periang dan lesung pipi yang menambah kecantikan Juli menggodanya. Bayangan kedua anaknya lenyap, berganti dengan bayangan wajah Darwan yang tersenyum menyeringai. “Saya lihat hidup kamu mulai kedodoran. Daripada Jupri dan Juli terlantar lebih baik mereka ikut saya. Dengan begitu kamu bisa menikah lagi. Saya dengar sudah banyak laki-laki yang melamarmu.”  Kalimat yang terdengar kembali di telinga Marni mendorong janda cantik itu menendang sandaran kursi dengan tumitnya. Marni menjerit.

***

 “Alhamdulillah, Bu Marni sudah siuman.”  Marni terkejut. Begitu banyak orang di kamarnya. Jupri dan Juli memeluk dirinya sambil menangis.

“Ada apa ini?” Marni memandang wanita cantik yang duduk di dekatnya. “Ibu Lurah, ada keperluan apa Ibu kemari?” Di salaminya tangan Ibu Lurah.

“Masya Allah, Bu Marni tadi pingsan. Untung anak-anak segera menghubungi tetangga.” Bu Lurah menjelaskan duduk perkaranya. “Kebetulan tadi ada tamu dari perusahaan rekaman yang singgah di kantor kelurahan jadi sekalian saya antar ke mari.”

Seorang laki-laki membuka map berwarna biru.

“Silahkan ditandatangani surat kontraknya dan juga tandaterima uang muka royalty sebanyak 25 juta untuk lagu anak-anak yang akan segera direkam. Selamat ya, Bu.”

“Maaf ya Bu Marni. Karena tadi Ibu masih pingsan ya saya yang mewakili membaca surat kontraknya. Tapi kalau Bu Marni membaca ulang ya silahkan, ” kata Bu Lurah yang baik hati sambil tersenyum.

“Masya Allah, terima kasih ya, Bu. “Saya jadi merepotkan Ibu Lurah.” Dengan tangan gemetar dan airmata bercucuran Marni menandatangani kontrak dan menerima amplop coklat dari tangan wakil perusahaan BintangSatu Record.

“Selamat ya, Bu. Jupri dan Juli telah mengangkat nama desa kita.” Bu Lurah menyalami Marni.

***

“Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu yang tak terhingga. Ampunilah dosa, kesalahan, dan kekhilafan, serta ketidaksabaran hamba-Mu ini.”

Marni yang nyaris mengakhiri hidupnya tersenyum bahagia menyaksikan tingkah polah Jupri dan Juli di layar tivi. Lagu Tamasya ke Taman Impian yang dinyanyikan oleh ketika buah hatinya dalam lomba itu bukan hanya disukai oleh anak-anak Indonesia tetapi tak juga terkenal sampai negeri jiran. Ini diketahui dari dukungan SMS yang mengalir kepada Ju&Ju, nama grup kedua anaknya.

“Dalam kehidupan manusia selalu berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada bahagia adapula derita. Tuhan akan selalu memberikan aneka ujian dan cobaan kepada-Nya. Harta berlimpah adalah ujian, demikian pula kemiskinan. Ketika kita diberi rezeki yang banyak selayaknya kita bersyukur dan sebaliknya ketika yang datang adalah penderitaan  janganlah lari. Hadapi ujian itu dengan penuh kesabaran karena Tuhan tidak akan memberikan ujian atau cobaan di luar kemampuan hamba-Nya.”  Marni menutup mata, merasa malu dan tersindir oleh tausiah Mbah Muslim.




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Lidya says:

    tiap cobaan pasti ada jalankeluarnya ya pakde

    Sumuhun

  2. Eko Nurhuda says:

    Cak Darwan keterlaluan itu. Untungnya Allah masih sayang sama Mbak Marni jadi usahanya mau bunuh diri gagal. Meski kisah fiktif (iya to, Pakde?) tapi bisa dijadikan renungan bagi kehidupan kita, bahwa seberat apapun cobaan hidup kita pasti bisa melewatinya asalkan hanya bersandar pada Allah.

  3. dan akhirnya selalu ada jalan terbaik dari-Nya 🙂

Leave a comment