Bandung Lautan Kenangan

Magelang, 1971.

Kompi saya sedang melakukan mars menuju kawasan Salam untuk memulai suatu latihan berganda. Termasuk di dalamnya cross country menyusuri Bukit Menoreh. Dalam perjalanan seorang pengasuh yang mendampingi kami berteriak:”Nyanyi lagu Sangkuriang!”

Saya dan beberapa teman yang terbiasa menyanyi lagu mars agak sedikit heran. Namun dengan senang hati kami mengumandangkan lagu tersebut. Di antara kami ada yang hafal lirik dan nadanya dan adapula yang tidak. Saya termasuk yang hafal karena saya mengenal lagu yang dibawakan oleh Tetty Kadi ini sejak saya duduk di bangku SMP.ย Sambil menyanyi dan berjalan kaki ingatan saya menuju kota Bandung.

Bandung adalah kota kedua terbesar yang saya kunjungi setelah Surabaya. Injakan kaki pertama kali di Kota Kembang alias Paris van Java adalah kawasan stasiun Bandung.Saya tiba di pemberhentian kereta api ini pada pagi hari, twiwulan keempat tahun 1970. Dari stasiun saya dan puluhan remaja asal Jawa Timur ini diangkut dengan bis menuju Lembang.

Di tempat berhawa dingin ini kami akan tinggal selama beberapa minggu. Ratusan remaja dari seluruh pelosok tanah air juga sudah datang. Kami akan mengikuti test lanjutan untuk masuk menjadi Taruna Akabri Darat. Setelah mengikuti aneka test kami dinyatakan lulus. Beberapa hari kemudian kami dibawa lagi ke stasiun Bandung untuk selanjutnya diberangkatkan ke kampus Akabri Darat, Magelang.

.

Menyerang Kota Bandung

Setelah 4 tahun mengikuti pendidikan di Akabri Darat kami dilantik menjadi perwira dengan pangkat letnan dua oleh Presiden Soeharto. Sudah selesai? Belum, saudara-saudara. Setelah mendapat cuti selama sebulan kami harus berangkat lagi ke Bandung untuk mengikuti kursus sesuai kecabangan masing-masing. Karena saya masuk kecabangan Polisi Militer maka saya mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan Polisi Militer di Cimahi selama 6 bulan.

Di sela-sela pendidikan, dengan formasi kelompok 2-4 orang saya dan kawan-kawan sering menyerang kota Bandung. Selain membeli pakaian dan berwisata kuliner kami berburu kacamata dan celana jeans. Busyet, hampir semua perwira muda polisi militer berjumlah 30 orang ini kompak memilih kacamata merk Rayban dan celana jeans merk Levis. Saya tidak tahu persis siapa yang pertama kali mempunyai gagasan absurd ini.

“Kalau membeli kacamata Rayban pilih yang ada tulisan BL, itu yang asli” kata seorang teman. Kami manut saja, mungkin dia sudah tahu banyak tentang asli atau tidaknya sebuah barang. Sejak saat itu jika rekreasi pada saat hari libur tampak perwira muda yang berRayban ria. Saya ingat betul, toko yang menjual kacamata Rayban itu adalah Cobra Optical di Jl. Asia Afrika, Bandung. Semoga toko kenangan itu masih ada.




Lain halnya dengan kisah celana jeans mek Levis. Saya yang sejak sekolah belum mempunyai celana tebal itu juga ikut membelinya. Saya lebih suka yang model biasa, sementara beberapa teman memilih jeans cutbray. Hingga lansia ini kegemaran saya memakai celana jeans tak pernah surut. Pakaian santai ini enak dipadupadan dengan baju atau tshirt apa saja. Nggak disetrika juga nggak masalah.

Untuk membeli dua benda yang masuk kategori trending fashion kala itu kami harus rela mengurangi uang jajan. Saya yakin ratusan perwira teman saya yang tersebar di lembaga pendidikan di kota Bandung juga melakukan serangan untuk memburu Rayban dan Levis. Kalau perwira muda belum mempunyai koleksi dua benda itu rasanya kok belum pantas diberi label ‘kekinian’ hahahaha.

.

Kekinian sesuai jamannya

.

Rayban setia menemani ketika saya bertugas

dalam misi perdamaian UNTAG di Namibia

.

I like Jeans. What about you?

.

Berangkat Ke Luar Negeri Dari Bandung

Pada tahun 1983 saya mendapat tugas untuk mengikuti Intensive English Course yang diselenggarakan di Sekolah Calon Perwira. Lokasi kampusnya di kawasan Hegarmanah, Bandung. Lama pendidikan hanya 10 minggu. Tak ada kegiatan lain selain belajar di kelas dan masuk laboratorium bahasa. Kami harus ikhlas menirukan suara orang bule yang sudah direkam di kaset. “Repeat after me,” itu suara yang terdengar di headphone. Rasa lapar dan mengantuk harus ditahan untuk melemaskan lidah agar fasih berbicara bahasa asing ini.

Menjelang akhir pendidikan ada test bahasa Inggris untuk mengikuti pendidikan di luar negeri. Syarat tambahannya adalah pernah mengikuti pendidikan intel dan atau pernah menduduki jabatan intel. Bingo, saya memenuhi dua persyaratan tersebut. Test dilaksanakan di Labsa Markas Besar Angkatan Darat dan dilanjutkan dengan test di Kedubes Amerika Serikat, Jakarta. Saya dan dua orang perwira dinyatakan lulus. Pada bulan Juni 1983 saya berangkat ke kampus USAICS yang berlokasi di Fort Huachuca, Arizona-USA. Kami tinggal di sana selama 10 minggu.

Nah, berkat mengikuti Intensive English Course di Bandung itulah saya bisa mengikuti pendidikan di luar negeri. Ini adalah kunjungan perdana ke mancanegara bagi saya. Kelak saya berkali-kali berangkat ke luar negeri lagi untuk mengikuti pendidikan, seminar, maupun meeting dengan negara sahabat.

.

Narsis di kampus USAICS, Fort Huachuca, Arizona, USA

.

FEBA stands for Forward Edge of the Battle Area

.

Sekolah Bersama Calon Presiden

Pada tahun 1988 saya mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad). Lokasinya di Jl. Gatot Subroto, Bandung yang berdekatan dengan Sesko ABRI (Sekarang Sesko TNI) Lama pendidikan 11 bulan. Ini merupakan pendidikan tertinggi di lingkungan TNI-AD. Bangga donk bisa masuk dan belajar di kampus ini setelah mengikuti serangkaian test akademik, kesehatan, kesamaptaan jasmani, dan psikologi.

Salah satu perwira siswa yang mengikuti pendidikan ini adalah Mayor Inf Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah meniti karir di lingkungan militer dan non militer beliau akhirnya terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. So, saya pernah mengikuti pendidikan bersama calon presiden R.I, bukan.

Dalam pendidikan tersebut Mayor Inf. Susilo Bambang Yudhoyono, saya, dan beberapa teman masuk dalam tim bola voly. Tim ini dilatih dan disiapkan dalam rangka mengikuti pertandingan pada Pekan Kegiatan Bersama Kejuangan dengan perwira siswa dari Seskoal, Seskoau, dan Sespimpol. Dalam tim ini Pak SBY adalah smasher yang andal. Dengan tinggi badan yang aduhai, smashnya memang keras dan menukik. Alhamdulillah Tim Seskoad menjadi juara I dan kami mendapat hadiah tambahan cuti pendidikan selama 2 hari. Asoiiii.

.

Pak SBY nomor 3 dari kanan (tolak pinggang)

.

Gatotkaca Terbang Dari Bandung

Pagi umun-umun ratusan tentara berpakaian PDLT (Pakaian Dinas Lapangan Tempur) sudah berada di Lapangan Udara Sulaiman, Margahayu, Bandung. Ini adalah hari yang mendebarkan bagi saya. Hal yang sama pasti juga dirasakan oleh teman-teman. Yup, beberapa saat lagi saya akan naik pesawat terbang lalu diturunkan di Batujajar. Pesawatnya sih tidak mendarat, kami harus turun dengan parasut. Ya, hari itu kami akan mempraktekkan pelajaran yang sudah kami terima sebelumnya. Terjun payung yang merupakan mata pelajaran pokok Kursus Para Dasar yang kami tempuh selama 3 minggu di Grup-3 Kopassus-Batujajar.

.

Deg-degan itu pasti, narsis jalan terus

.

Perwira menengah siap melakukan latihan terjun payung

.

Pada jam J, satu persatu kami naik pesawat Hercules. Tak ada tempat duduk. Kami berdiri berjajar. Perwira paling depan berdiri tak jauh dari pintu pesawat yang terbuka. Hercules take off dengan cantik meninggalkan Bandara Sulaiman dengan tujuan Batujajar. Kami berdoa ndremimil. Mohon kepada Tuhan agar penerjunan kami lancar dan selamat.

Saya jadi teringat sebuah lagu di kampus Akabri yang liriknya gimanaaa gitu.

Bila apel malam telah tiba

Segera siapkan penerjunan

Hatiku dag dig dug tak karuan

Memikirkan nasib seseorang

.

Bila payung tidak mengembang

Segera cabut payung cadangan

Bila itupun tak mengembang

Serahkan nyawamu pada Tuhan

.

Penerbangan baru berjalan 10 menit. Terdengar bunyi bel…kriiiiiiiiiing. “Persiapan,” teriak pelatih. Yup, lampu hijau menyala. Pelatih menepuk pundak perwira yang berdiri paling depan.”GO!!” Satu persatu kami melangkahkan kaki keluar dari pesawat. Yuuuup…..payungpun mengembang. Kami melayang di udara, bumi terasa naik menjemput kami. Puluhan personil tampak sudah berkerumun di daerah penerjunan, Batujajar. “Badan ditegakkan, tangan merapat ke badan, kaki agak dilipat sedikit.,” teriak pelatih melalui megaphone. Sruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut….jleg, glundung. Saya mendarat dengan sukses di tanah lalu merebahkan diri. Anak-anak kecil berlarian membantu melipat payung. Dua puluh ribu rupiah saya serahkan kepada mereka. Penerjunan hari pertama sukses. Akan dilanjutkan dengan penerjunan kedua dan ketiga.

Setidaknya kami 3 kali berkumpul di Lanud Sulaiman Bandung dan siap naik pesawat untuk melakukan penerjunan di Batujajar. Ini merupakan kenangan yang ngeri-ngeri sedap bagi kolonel senior yang baru pertama kali terjun payung. Brevet penerjun disematkan oleh isteri saya pada acara Wing Day.Bangga loch.

.

Bukan Amoy Tapi Siomay

Sahabat pasti tergeitik untuk bertanya.”Pakde punya kenalan mojang Priangan?” Terus terang, tanpa tedeng aling-aling, secara jujur saya harus menjawab:”Punya.” Ya hanya kenalan dan teman biasa saja. Ketika senior saya bertanya apakah saya sudah punya pacar maka saya mengangguk mengiyakan. Eh, beliau bilang begini: “Kalau kamu sekolah di sini maka sebentar lagi kamu akan lupa dengan pacarmu yang ada di kampung.” Yaelaaaa, provokatif banget ucapannya hahaha.

Cerita donk tentang kisah-kasih Pakde selama di Bandung. Enggak ach, saya kan orangnya pemalu.

Di Bandung saya menikmati beberapa makanan yang belum pernah saya rasakan ketika saya tinggal di ‘Jawa.’ ย Lotek, siomay, karedok, batagor, dan mi kocok adalah makanan favorit saya. Untung di Surabaya dan Jombang banyak yang jualan siomay. Minuman kesukaan saya sekoteng dan bandrek. Bahan minuman ini juga banyak dijual di mini maket sehingga saya bisa bernostalgia.

.

Siomay makanan favorit saya

.

Kopdar Bandung

Sebagai seorang blogger tentu kurang elok jika saya tidak bercerita tentang kegiatan khas blogger yaitu kopdar (kopi darat) Acara temu wajah dan temu hati ini memang menjadi kesukaan saya. Sebagai anak tunggal saya memang berusaha mencari sahabat sebanyak-banyaknya. “Sahabat seribu masih kurang, musuh hanya satu sudah kebanyakan.” Kata bijak itu saya fahami betul.

Kopdar pertama berlangsung di BSM, Bandung Super Mall. Nchie, Erry, Bang Aswi dan keluarga, serta Asops hadir menemani saya. Ini adalah pertemuan perdana antara saya dengan teman-teman blogger Bandung. “BSM namanya sudah ganti menjadi TSM, Trans Studio Bandung, Dhe,” tulis Nchie dalam SMSnya. [Tapi SMS asbun itu kemudian diralat dalam komentarnya di artikel ini.”pakdee ..TSM itu Trans Studio Mall *ahhahaaโ€ฆ]




.

Kopdar Mini di Bandung Super Mall

.

Karena mertua saya tinggal di Cimahi maka pada saat saya menengok beliau saya sempatkan kopdar dengan teman-teman. Pertemuan selanjutnya adalah Kopdar Ampera Rancabolang yang kami gelar dengan peserta agak lebih banyak. Ini mirip kopdar Lalapan Party karena lebih banyak sayur lalapannya daripada lauknya. Nchie dan Erry kembali hadir menghiasi acara tersebut. Acaranya gayeng banget. Lesehan sambil menikmati sambal lalap dan gorengan.

.

Full lalapan

.

.

Kangen sama wajah-wajah cerah dan sumringah ini

(Courtesy: Asop)

.

Bandung, bukan hanya panorama, mojang, budaya, dan kulinernya saja. Ada beberapa kisah asyik-menarik menjadi kenangan indah bagi saya seperti yang saya utarakan di atas.

Sudah lama saya tak ke Bandung. Saya dengar Bandung kini semakin rapi, indah, dan cantik berkat kerja keras Walikota Ridwan Kamil dan jajarannya. Bandung, saya akan mengunjungimu lagi!

.

.

.

“Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung”

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

22 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. 21inchs says:

    kaca mata rayban nya pak dhe, sangat legendaris..

    Iya, kalau nglirik nggak kelihatan

  2. Pokoknya nungguin cerita kisah-kasih pakde waktu di Bandung ah.

    hahahaha…jadi malu

  3. Jiah says:

    Woooaa byk kenangan di Bandung….

    Dhe, 20 rb buat lipat payung tu byk bgt

    Nglipat parasut itu nggak boleh sembarangan Bude.
    Mereka kan berempat waktu itu
    Pasaran emang segitu kayaknya hahahaha

  4. Gilang Maulani says:

    wiih pakde pengalaman di Bandung banyak banget. duh pakde pernah mengikuti pendidikan bareng pak SBY juga ๐Ÿ™‚

    Iya, pendidikan militer umumnya terpusat di Bandung

  5. Lidya says:

    pakde sama gantengnya dengan Pak SBY ๐Ÿ™‚

    Iya Jeng
    Banyak yang bilang begitu, termasuk Emak

  6. inayah says:

    Mantaaap surataapp pokoke pak Dhee

    Terima kasih
    Ikutan yuk

  7. 21inchs says:

    pak dhe kok suwe gak mampir nang blog ku pak..

    Sebentar lagi ke sana kok

  8. Nchie Hanie says:

    pakdee ..TSM itu Trans Studio Mall *ahhahaa…

    Ihh pakde kenapa kisah kasih sama Budhenya ga diceritain.
    Tetep yaa dari dulu Narsise pwool abiis..
    Ganteng, keren, gaya ….

    Saya juga curiga, kok aneh amat kepanjangannya. M kok jadi Bandung

  9. Kalo aku inget Bandung itu identik dengan kulinernya yang beragam.. Jadi kangen pengen ke Bandung lagi.. Terakhir tahun 2002 yang lalu..dah lama banget ya.. Sepertinya kota Bandung sekarang tambah keren ya dipimpin Walikota yang keren pula..

    Bandung memang lagi dandan Jeng

  10. Nia Haryanto says:

    Waaaah…. seru. Pakde memang banyak pengalamannya. Jempooool.
    Makasih banyak sudah ikut berpartisipasi di GA saya. ๐Ÿ™‚

    Lha sudah tua Jeng
    Sama2

  11. HeniPR says:

    Di Bandung, sambil kuliah sambil nemu jodoh.
    Jadi pingin nulis kisah kasih di Bandung.
    Mewakili pakde yang gak mau crita ๐Ÿ™‚

    Aku dapat jodohnya juga di Cimahi
    Anak guruku hahahaha

  12. Rani R Tyas says:

    Biasanya mah tentara emang pada dapat anak tentara juga ya Pakdhe? tapi aku kok nggak, issh apa sih ini! Hehe bajigur masuk minuman favorit juga nggak Pakdhe?

    Iya, saya ambil anak tentara saja hahahaha
    Bajigur juga Bandung atau Jakarta tuh?

  13. inda fitri says:

    sedari akabri, sampek jd blogger kece, pak de selalu bersentuhan *aseg, dg bandung ngge de, jodoh emang mah ๐Ÿ™‚

    Iya, pas di mata, pas di hati hahahaha

  14. Dolly Putra says:

    Mantap, Pak. Ceritanya mengalir. Mungkin suatu saat bisa menjadi penulis biography. hehehe.

  15. susanti dewi says:

    kota bandung benar2 menjadi kota kenangan buat pakde ya…

    Iya Jeng
    Banyak momen sip di sana

  16. ulfa says:

    ceritanya keren pak de ๐Ÿ™‚
    semoga menang ………
    dan semoga saya bisa trevelling kebandung juga ๐Ÿ™‚

    Amiin, terima kasih

  17. Yeni says:

    Kereeen Pak De, petualangannya di Bandung
    Salam dari Urang Bandung

    Hatur nuhun
    Salam dari arek Jombang

  18. khairiah says:

    pak dek keren banget pengalamannya,

    Lha sudah tuwa.
    Terima kasih Jeng

  19. Yayu Arundina says:

    wah keereen bingiiits dan asyik ceritanya. hmm… jadi tau nih hidupnya tentara. nambah plus buat bandung dan cimahi

  20. selvy says:

    wah, pakde sohiban ama pak sby juga, kereen … kacamatanya okeeh bingits hehe

    Iye, sama2 jadi perwira siswa

  21. Keren dijamanya ๐Ÿ˜Ž

Leave a comment