Teks

Ketika Allah Mengambil Titipan-Nya

Hanpdhone berdering. Saya lihat di layar ada notifikasi pesan pendek dari Sandy, anak saya yang tinggal di Bolaang Mongondow. Bergegas saya buka dan saya baca pesan si bungsu. “Pa, saya keguguran.” Dhuarrrrrr….berita itu seperti halilintar yang membuat saya terkejut. Saya pun segera mengucap Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.Setelah menata hati saya segera mengirim pesan balasan. “Papi ikut prihatin tapi nggak apa-apa, Nduk. Yang sabar ya, jaga kesehatanmu. Insya Allah akan diganti lagi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tak lama kemudian muncul pesan pendek dari Ferdy, suami Sandy. “Maaf, Pak. Saya tak bisa menjaga adik dengan baik.” Lagi-lagi saya membesarkan hati anak dan menantu yang berdomisili cukup jauh dari kami. Nasihat seperti ini saya anggap penting agar anak dan menantu tak larut ke dalam kesedihan.

Beberapa minggu setelah kehamilannya Sandy memang sudah mengabarkan bahwa anak yang dikandung adalah calon kembar. Kami memang merasa senang dengan pemberitahuan itu. Tetapi juga ada sedikit kekhawatiran. Hamil anak kembar tentu memerlukan kehati-hatian lebih. Belum lagi kerepotan yang akan terjadi paska melahirkan. Sementara kami tentu tak bisa sering-sering menengok mereka.

Terbayang di mata saya Sandy yang sedang berbaring di rumah sakit. Tentu bukan hanya sakit jasmaninya tetapi juga bersedih kehilangan calon anaknya. Konon, wanita yang keguguran harus dirawat secara intensif. Pembersihan paska keguguran rasa sakitnya juga tak tertahankan. Tetapi itu belum seberapa dibandingkan rasa kecewa yang cukup mendalam.

Isteri yang saya kabari berita itu juga menangis. Ya pastilah. Walaupun kami sudah mempunyai 2 orang cucu dari Enny, si sulung, tetap saja ada rasa sedih ketika mendengar berita yang mengagetkan itu. Setelah 3 tahun menikah Ferdy dan Sandy tentu sudah mendambakan kehadiran buah hatinya.

Sebagai seorang muslim tentu kami tak patut berlarut-larut dalam kesedihan akibat kehilangan calon cucu tersebut. Sangat kami sadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tak lepas dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah sebabnya kami ikhlas menerimanya. Demikian pula Sandy dan suaminya. Setelah beberapa waktu mereka tampaknya mulai bisa menerima kenyataan itu.

Alhamdulillah dua tahun kemudian Sandy mengandung lagi. Kali ini Sandy dan suami berusaha keras untuk menjaga agar anak yang dikandung dan ibunya selalu dalam keadaan sehat. Tentu tak lupa mereka, termasuk saya dan isteri, juga berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjelang kelahirannya ternyata si bayi posisinya kurang bagus. Akhirnya operasi caisar dilakukan oleh tim dokter. Kami gembira ketika Sandy dapat melahirkan dengan lancar. Saya selaku MbahKung memberinya nama Zahra Bellamy Matindas kepada gadis kecil itu. Kini Bella sudah duduk dibangku SD kelas 2.

Bhirano Fersa Matindas lahir 5 tahun kemudian. Cowok kecil ganteng, pintar, dan lucu ini juga lahir melalui operasi caisar. Biyan, demikian kami memanggilnya, kini telah berusia 3 tahun. Dua calon anak yang diambil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah diganti-Nya dengan dua anak pula. Alhamdulillah.

.

Foto bagus Sandy, Ferdy, Bella, dan Biyan

Alhamdulillah Sandy telah dikaruniai 2 anak yang sehat, manis,  dan pintar

.

Dalam kehidupan sehari-hari tak sedikit di antara hamba Allah yang kehilangan anak atau calon anak. Usianya juga beraneka ragam. Ada calon bayi yang meninggal dunia ketika masih kandungan, seperti yang dialami oleh Sandy. Ada pula anak yang meninggal dunia ketika dalam usia bawah lima tahun, saat remaja, dan bahkan ada anak yang meninggal pada usia dewasa.

Kakak saya meninggal dunia pada usia 2 tahun karena diare. Maklum pada tahun 1940an itu kondisi kesehatan, tenaga kesehatan, dan peralatan kesehatan tentu belum sebaik sekarang. Saya hanya bisa membayangkan betapa sedih Emak saya kehilangan anak-perempuannya itu. Itulah sebabnya Emak agak over protective (memberikan perlindungan berlebihan) kepada saya, anak laki-laki yang bagus banget ini. Saya menjadi anak-tunggal karenanya.

Sekali lagi, kehilangan calon anak atau anak tentu merasa sedih. Walaupun orangtua memiliki selusin anak tetapi tak ada yang merasa gembira jika salah satu anaknya meninggal dunia. Namun harus tetap disadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti saya sebutkan di muka.

Dalam Al Qur’an surat Al-An’aam ayat 59 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Anak adalah amanah dan titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orangtua yang diberi amanah dan titipan itu selayaknya mengembannya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ketika amanah dan titipan itu diambil kembali oleh-Nya maka tak ada alternatif lain kecuali merelakan dengan hati yang ikhlas.

Kehilangan calon anak atau anak juga merupakan ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Ujian ini bisa merupakan teguran tetapi juga harus diyakini bahwa ujian itu untuk meningkatkan derajat keimanan kita.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 2 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cobaan)?” Ini mengandung pengertian bahwa manusia tak cukup hanya berkata: “Saya telah beriman” jika belum dibuktikan dengan sikapnya ketika menerima ujian atau cobaan.

Tiap manusia diuji sesuai kadar imannya. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tak pernah memberikan ujian di luar kemampuan kita.Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).

.

Keluarga bahagia

Harta yang paling indah adalah keluarga

.

Kehilangan calon anak atau anak memang menimbulkan duka lara. Bukan ujian atau cobaan itu sebenarnya yang harus diratapi tetapi cara menyikapi ujian itu yang jauh lebih penting. Kesabaran dan keikhlasan adalah kuncinya. Bersedih hati itu manusiawi. Tetapi sungguh tak elok jika Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu justeru kita dijadikan sebagai sebagai tersangka dengan sangkaan ‘Allah tidak adil.’

Kehilangan calon anak atau anak bukanlah akhir segalanya. Bagi pasangan yang masih muda tentu masih ada kesempatan untuk berusaha mendapatkan keturunan. Apalagi dunia kedokteran juga semakin maju. Tentu perlu dibackup dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Al-Qur’an ada beberapa doa yang dipanjatkan oleh para nabi. Ini dia lafadznya.

1. Robbi hab lii minash-shoolihiin [Doa Nabi Ibrahim As]

Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang salih. [QS. As-Saffat:100]

2. Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yuniw waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.

Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqan: 74]

3. Rabbi hab lii miladunka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii’ud-du’aaa.

Artinya: Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” [QS. Ali Imran]

Dengan berusaha sungguh-sungguh dan disertai doa yang khusu’, tawaddu’, dan penuh harap, in sya Allah akan diijabah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

So, jangan pernah putus asa atas rakhmad Allah Subhanahu wa Ta’ala.

.

Giveaway Dian Onasis

Artikel ini diikutsertakan dalam #GADianOnasis

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

24 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Sedih banget pastinya Pakde kehilangan buah hati yang sudah berbulan-bulan dinanti, alhamdulillah saya belum pernah mengalaminya. Istri saya sekarang lagi mengandung anak ke-3, semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam kelahirannya. 🙂

    Aamiin, jaga kesehatan isteri Mas

  2. Dian Onasis says:

    alhamdulillah… terima kasih atas keikutsertaannya ya pak de…

    saya tinggalkan jejak dulu… 🙂

    Terima kasih kunjungannya

  3. Alhamdulillah sekarang mbak Sandy dikaruniai sepasang anak yang cantik dan ganteng

    Iya, mereka bahagia bersama buah hati tercinta

  4. Hani says:

    Terimakasih pakDe sharing reminder ayat2 Allah swt. Kemana lagi mencari kekuatan selain ke Yang Maha Agung. Alhamdulillah cucu2 udh nambah. Sehat selalu supaya bisa nengok cucu2…

    Aamin, matur nuwun Jeng

  5. inayah says:

    kehilangan kesempatan…kehilangan kepercayaan, juga bisa menimbulkan rasa sakit dan trauma

    Betul, oleh karena itu kita harus menjaganya dengan baik

  6. Retno says:

    ikut sedih, Pakde…pasti ada hikmah dari setiap peristiwa…semoga Pakde dan keluarga selalu diberi kesehatan…aamiin…

  7. Lidya says:

    Selamat siang pakde? apa kabar?
    semoga pakde dan keluarga sehat selalu ya. Salam untuk semua

  8. Anak selalu didamba kehadirannya, dan ketika harus kehilangan.. tak sedikit yang kemudian luluh lantak dan putus asa. Namun keyakinan, keikhlasan dan tawakalnya kita pada Allah pasti akan berbuah indah. 🙂 Salam buat keluarga besarnya ya, pakdhe.

  9. infoana says:

    pasti ada hikmah dari setiap peristiwa…semoga Pakde dan keluarga selalu diberi kesehatan.

  10. haji khusus says:

    Sedih mendengarnya, saya pun pernah mengalaminya.. mendampingi istri di saat tersulit adalah kewajiban seorang suami. Insya Allah diberikan penggantinya oleh Allah

  11. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Pasti ada hikmah yang terkandung dalam setiap kejadian…

  12. saat santai says:

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu bersama orang yang sabar.
    Sabar yah Pakde, karena setiap kejadian ada hikmah yang bisa diambil 🙂

  13. alhaka says:

    alhamdulillah ya pak de sudah dikarunia cucu yang manis,
    semoga pak de kuat akan segala cobaan

  14. Nofantoro says:

    Sabar ya pak, semoga dengan ujian ini Allah melimpahkan pahala untuk bapak, dan di berikan ganti dengan yang lebih baik lagi…

  15. seimbang says:

    Barokallah..

  16. Syuhada says:

    Terut berduka, pakde. Makasih sudah sharing dan mengingatkan tentang semua hal yang kita punya itu memang cuma titipan dari Alloh. Semoga kita bisa lebih memahami hakikat titipan itu. Sehingga tidak terlalu larut dalam kesedihan ketika kehilangan apa yang dititipkan.

  17. sumbercenel says:

    Mungkin Allah menrencanakan yang terbaik untuk pakde dan keluarganya Aamiin

  18. rebellina says:

    pernah juga mengalamai keguguran, jadi tahu sakitnya seperti apa, Tapi percaya Allah punya rencana tersendiri unuk hambaNya

  19. indah nuria says:

    Kebayang sedihnya Pakdhe kalau kehilangan buah hati maupun calon buah hati. Tapi Allah SWT memang tidak pernah mencoba hamba-Nya jika itu semua di luar kemampuan hamba-Nya..

  20. Munasyaroh says:

    Seperti biasa, Tulisan tulisan Pakde selalu memukau, isinya sangat inspiratif

  21. abahadil says:

    jadi ikut sedih , semoga dengan cobaan ini pakde dapat ganjaran yang lebih disisi allah

  22. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Semoga kita bisa lebih memahami hakikat titipan itu.

  23. hikss jadi baper. Semoga Alloh beri kesabaran

  24. istri saya pernah divonis bo 2x, bahkan yang ketiga hampir divonis bo lagi. Alhamdulilah 2x bo, dapat ganti 2 anak juga. Semoga masih bisa nambah lagi 🙂

Leave a comment