Menyiapkan Bekal Utama Sebelum Menghadap Sang Pencipta

Baner GA Desi

.
Sebuah lagu merdu mendayu terdengar dari bilik tetangga sebelah.

.
Setiap mendengar lagu Andai Kutahu yang dipopulerkan oleh Ungu saya langsung merinding. Sebagai manusia biasa yang sejak lahir sudah berlabel turis (keturunan Islam) saya mengetahui benar bahwa setiap manusia akan mati. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185) Namun tak seorang pun yang mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana cara dia mati.

Saya memang sudah berlabel lansia. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan saya kesehatan, kesempatan, dan kelapangan rezeki. Tetapi itu tidak akan menjamin bahwa saya akan bisa hidup seribu tahun lagi. Sekalipun jiwa raga saya sehat tetapi mana mungkin saya berganti kulit atau order nyawa cadangan. Saya, kamu, dia, dan mereka tak akan bisa menghindar dari kematian. Saya, yang seorang pensiunan Brigadir Jenderal TNI juga tak akan bisa lolos dari kematian. Sekalipun saya bisa berlindung atau bersembunyi di dalam kendaraan lapis baja milik satuan TNI atau benteng yang kokoh kematian itu akan menjemput. Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengingatkan. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78)

Kematian saya pasti akan tiba. Entah jam ini, hari ini, atau dalam minggu ini. Lalu apa yang harus saya lakukan jika waktu di bumi tinggal 8 hari misalnya? Yang jelas, setiap saya takziah dan ikut mengantar jenazah kerabat atau sahabat ke tempat peristirahatan terakhirnya saya bergumam:”Saya juga akan menyusul dia.” Kematian bisa datang setiap saat. Tak peduli siapa dia, di mana dia, dan sedang apa dia. Kematian tak bisa diminta, dihindari, atau ditolak.

.

Tak ada manusia yang bisa menghindar dari kematian

.

Setiap berdiri di mimbar khatib saya selalu mengingatkan diri saya sendiri dan jamaah shalat Jum’at untuk meningkatkan ketaqwaan. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.“[QS. Ali Imron: 102] Perintah Allah itu selalu diulang-ulang untuk mengingatkan kaum mukminin.

Manusia tentu tak bisa begitu saja memproklamirkan bahwa dirinya telah bertaqwa. Ketaqwaan harus diwujudkan dengan menjalankan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala laranganNya. Segala ucapan, sikap, dan perbuatan manusia akan diperlihatkan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

Sebagai seorang muslim tak ada alternatif lain bagi saya kecuali menyiapkan bekal untuk menghadap Al Khaaliq. Bekal tersebut bukanlah harta benda berupa barang-barang mewah atau uang berlimpah. Itu semua tak akan saya bawa. Saya memahami bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. al-Baqarah: 197)

Umur saya sudah 65 tahun lebih. Jika dari sepertiga waktu itu saya gunakan untuk tidur maka sesungguhnya hanya 2/3 dari padanya yang saya gunakan untuk berbagai kegiatan. Sebagai seorang muslim memang saya sudah menjalankan 5 rukun Islam yaitu membaca syahadat, sholat, zakat, puasa, dan naik haji. Namun demikian saya tidak berpretensi bahwa saya telah sempurna menjadi seorang muslim karena sesungguhnya saya tidak mengetahui bagaimana nilai ibadah saya di depan Allah Subhana wa Ta’ala. Oleh karena itu saya masih harus meningkatkan kualitas ibadah saya.

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran surat adz-Dzaariyaat ayat 56 ini sudah jelas. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya memahami bahwa ibadah bukan hanya ibadah mahdah seperti sholat, puasa, zakat, dan naik haji saja. Ibadah memiliki dimensi yang luas. Seorang muslim yang mentaati perintah Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam maka itu termasuk ibadah. Demikian pula jika manusia menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Waktu tinggal di bumi tinggal 8 hari lagi. Masih ada kesempatan untuk menghisab diri. Umar bin Khattab Radi Allahu anhu berkata: “Hasibu anfusakum qabla anthasabu,” yang artinya: “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Menghisab penggunaan umur selama ini untuk apa saja sungguh menyesakkan dada. Saya memang tidak pernah melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi saya mengimani bahwa Allah aja wazalla senantiasa melihat dan mendengar apa-apa yang saya ucapkan dan saya lakukan. Kelak ketika buku rapot ditunjukkan saya tak akan bisa mengelak apalagi protes. Ketika Dzat Yang Maha Agung itu bertanya tak ada suara dari mulut saya yang sudah terkunci. Tangan dan kaki akan melaporkan bagaimana saya memanfaatkan raga ciptaanNya.

Sebelum ajal tiba masih ada waktu untuk meningkatkan bekal utama untuk menghadap Sang Pencipta. Masih bisa bertaubat dan memohon ampun atas segala salah dan dosa. Menebar kebaikan akan saya lakukan agar saya bukan hanya memiliki keshalihan individual tetapi juga keshalihan sosial serta untuk mendapatkan ridhoNya. Juga masih sempat bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,”Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. Amiin.” Saya harus zuhud, tak lagi silau gebyarnya dunia.

.

.

Sekali lagi saya bukan takut menghadapi kematian. Yang saya takutkan justeru dosa dan kesalahan yang pernah saya buat pada masa lalu. Ada dosa kecil dan ada dosa besar. Setiap saat saya tidak lupa minta maaf jika saya melakukan kesalahan kepada manusia, sengaja atau tidak. Tak heran jika Ungu juga mengalami rasa takut sebagaimana diutarakan dalam lagunya di atas.

Aku takut

Akan semua dosa-dosaku

Aku takut

Dosa yang terus membayangiku
Andai ku tahu

Malaikatmu kan menjemputku

Izinkan aku

Mengucap kata taubat padamu..

Ampuni aku

Dari segala dosa-dosaku

Ampuni aku

Menangis ku bertaubat padamu

.

Saya memang harus memperbanyak istighfar memohon ampunan Allah. Saya meyakini bahwa Al Ghaffaar akan mengampuni segala salah dan dosa saya. FirmanNya: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

.

.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

24 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Terima kasih, sudah diingatkan Pakde.. Ingat dosa dan kematian

    Mari kita saling mengingatkan agar kita selalu ingat

  2. dee ann rose says:

    Benar, Pakde. Enggak peduli sedang betah di dunia pun, kalau kematian sudah datang, tak ada yang bisa menghadang. Kekayaan, usia muda, pangkat tinggi, dsb, tak bisa apa-apa. Dan, Ya Allah… bicara bekal, duh… :/

    Iya Jeng
    teman saya sedang menjalani treatmen untuk kebugaran malah alatnya meledak dan teman saya termasuk korbannya

  3. Enny says:

    Merinding bacanya pakdhe, sesungguhnya memang bukan kematian itu sendiri yang menakutkan, tapi dosa dan kecukupan bekal kita saat menghadapNya.

    Betul karena kematian pasti akan datang

  4. Elang W says:

    Subhanallah, melihat & mendengar nyanyian Pakde jadi merinding.

    Itu puji-pujian yang sering kami lantunkan di musala sambil menunggu jamaah datang.

  5. Terimakasih telah mngingatkan, pakde. Sejatinya ita semua adalah camat… calon mati. Sukses nge-GA nya Pakde 🙂

    Betul Jeng. Jangan sok muda loch hehehe
    Matur nuwun

  6. desi says:

    Matur nuwun Pakde.. trimakasih trimakasih. trimakasih , smoga mlimpah berkah sgala urusannya 🙂

    Amiin
    Sama-sama..sama-sama..sama-sama

  7. Terima kasih sudah diingatkan Pakde. Saya slalu tersentuh tiap denger puji-pujian itu :'(

    Saya juga
    Sama2

  8. Terima kasih sudah diingatkan, nggak peduli tua atau muda, kematian pasti akan datang tanpa ada yg tahu. Sebaiknya bersiap sebelum terlambat ya, Pakdhe 🙂

    Betul. Terlambat bisa gawat
    Matur nuwun

  9. Nangis melihat dan mendengar lagu taubat pakde.
    Matursuwun pakde.

    Melihat wajah penyanyi dan suaranya yang gimanaaaaaaaa gitzu ya
    Sama2

  10. Tulisan yang mengingatkan kita dengan akan datangnya hari itu. Matursuwun pakdhe

    Iya, harus dipersiapkan secara dini

  11. Duh jadi merinding nih, Pakdhe, tnyata bekal saya masih kurang banyak nih. Harus makin giat ngumpulin ‘bekal’ menuju kematian.
    Terima kasih sudah diingatkan.

    Mari kita berusaha terus untuk meningkatkan kualitas bekal kita

  12. kania says:

    terimakasih pengingatnya pakde 🙂

    Mari kita sama2 mengingatkan agar ingat terus

  13. kalau kita yakin dan percaya kepada ALLAH SWT,,serta selalu mematuhi tuntunan-NYA dan menjauhi larangan-NYA, maka kematian pastilah bukan hal yang menakutkan
    selamat berlomba, salam dari makassar – banjarbaru 🙂

    Iya, kematian sudah pasti

  14. adi putro says:

    mati sesuatu yang pasti agar calon penghuni Bumi yang sudah mengantre di belakang kita, dapat giliran untuk menempatinya…begitu setrusnya sampa hari kiamat datang

    salam kenal pakde, dari blogger baru 🙂

    Betul sekali

  15. Dewi Fatma says:

    Jika saatnya tiba, semoga kita husnul khatimah ya, Pakdhe.. Amiinn..

    Amiin, harapan kita semua

  16. saya selalu merinding setiap kali mendengar tentang kematian Pakdhe, yang ada dibenak saya, apakah bekal saya sudah cukup saat waktu itu datang??

    Kita berusaha, Tuhan yang akan menilai

  17. Anisa AE says:

    Duh tulisannya mak jleeeb. 🙁 Gak tau harus komentar apa.

    Jleb juga oke

  18. pututik says:

    Salah satu amar Makruf nahi munkar, semoga tulisan pakde juga bisa menjadi ladang ibadah karena mengingatkan hal kebaikan.

    Amin, matur nuwun

  19. saya pun takut Pakdhe..terima kasih sudah diingatkan..

    Iya, bekal harus disiapkan secara dini

  20. Peserta #dnamoragiveaway Delapan Hari Menuju Kematian | LANGIT MIMPI says:

    […] Pakde Cholik : Menyiapkan Bekal Utama Sebelum Menghadap Sang Pencipta […]

  21. kematian, mau tak mau memang akan menjumpai setiap manusia.
    nice sharing pakde ^_^
    semoga snantiasa dbrikan kesehatan jasmani dan ruhani aminn

    Betul
    Yang muda jangan lengah
    Amiin

  22. khairiah says:

    mati sesuatu yang pasti tapi banyak yang lengah mempersiapkannya, semoga kita mati dalam khusnul khotimah

    Amiin
    Harus bersiap bekal terbaik

  23. Kematian memang sesuatu yang pasti ya pakdhe. Sayangnya kita seringkali justru lupa mempersiapkan sesuatu yang pasti itu, dan terlalu bersibuk diri dengan sesuatu yang tak pasti 🙂

    Betul, ngitung uang terus ya hahahaha

  24. intan rosmadewi says:

    Salam kenal . . .

    Tulisan yang sangat menyentuh . . .

    Alhamdulillah Juara
    Selamat Pak De

    Terima kasih Mbak Intan
    Salam kenal juga

Leave a comment