Teks

Nilai Sebuah Tungku

Cara membuat tungku

Foto tungku buatan Emak ini saya unggah ke Instagram tanggal 10 Desember 2016 menjelang selamatan 40 hari wafatnya Emak tercinta.

Mengapa tungku saja kok diupload di instagram? Apa istimewanya? Mau pamer kejadulan?

Iya, memang hanya sebuah tungku. Alat untuk masak non minyak tanah, apalagi elpiji yang bisa membuat pemakainya menjadi awut-awutan wajahnya. Bukan hanya itu, juru masak bisa gobyos keringatnya karena panas api yang membara. Rambut bisa kotor terkena abu kayu yang terbakar ketika sedang meniup apinya. Jika tidak hati-hati, bara api juga bisa melayang lalu hinggap di daster sehingga pakaian wanita yang praktis, ekonomis, dan isis itu bisa berlubang karenanya.

Tetapi bagi saya tungku memiliki sejarah panjang dan sangat bernilai. Betapa tidak, di rumah saya di Jombang, tungku sudah hadir puluhan tahun lamanya. Saya melihat tungku sejak kecil hingga sekarang. Sementara tetangga saya bisa dihitung dengan jari yang memiliki peralatan masak unik dan menarik ini. Yaaaa….mereka sudah beralih ke kompor, mulai dari kompor minyak sampai kompor yang menggunakan bahan bakar elpiji.

Itu bukan berarti Emak tidak memiliki kompor. Tidak, Emak juga mempunyai kompor. Lalu untuk apa tungku yang terkesan kotor dan kumuh itu dipertahankan?

Ketika jaman kompor belum masuk desa Emak dan juga orang sekampung memasak nasi, lauk pauk, dan aneka jenis makanan selalu menggunakan tungku. Benda yang dibuat sendiri dari bahan bata merah dan dilapisi semen atau tanah liat secara permanen berada di dapur kami.

Khusus untuk di rumah saya, tungku ini khusus dimanfaatkan untuk menyiapkan makanan dalam jumlah besar. Dengan tungku inilah Emak menyiapkan nasi dan lauk pauknya untuk menjamu tamu saat saya menikahkan anak saya Eny dan Sandy. Hal yang sama juga dilakukan ketika Emak menyelenggarakan acara selamatan ini-itu termasuk acara akikah untuk para cucu, selamatan peringatan 40, 100, 1000 hari wafatnya keluarga kami. Pada acara ini tamu yang hadir selain dijamu makan juga dibawain makanan dan laukpauknya untuk dibawa pulang. Namanya ‘berkatan.’

Pada acara pernikahan keluarga, ada kegiatan-kegiatan pendahuluan yang memerlukan makanan. Kegiatan tersebut dimulai dengan acara ‘nonjok’ yaitu mengantar nasi dan lauk pauk kepada kerabat dan tetangga. Itu diperlukan tungku untuk memasak nasi dan lauk-pauknya. Setelah itu ada kegiatan ‘ngaturi’ yang dilakukan pada hari H-1 resepsi. Selain menghidangkan tumpeng untuk baca doa kami juga sudah mulai menerima tamu para kerabat dan tetangga. Kaum ibu yang datang membawa aneka kue atau bahan makanan pulangnya kami bawakan bingkisan berupa nasi dan laukpauknya.

Kepada tamu yang datang pada acara selamatan apapun kami hidangkan makan bergaya ‘piringan.’ Artinya, nasi dan lauk pauk sudah disiapkan dalam piring-piring. Begitu acara formal usai maka piring nasi tersebut kami keluarkan untuk dinikmati undangan. Sambil menikmati makan bingkisan untuk dibawa pulang kami bagikan (semacam goodybag begitulah hahaha)

.

Cara menyiapkan makan untuk tamu

Cara membuat nasi kotak berkatan

Makan gaya piringan dan berkatan untuk tamu undangan

.

Dengan seringnya menyelenggarakan aneka acara yang mengundang kerabat dan tetangga maka penyiapan hidangan dan berkatan dengan menggunakan tungku lebih cepat. Alat untuk menanak nasi berupa dandang yang cukup besar, ada pula panci besar untuk menyiapkan sayur berkuah, dan wajan besar untuk menggoreng ini-itu. Nyala api yang besar karena berbahan kayu bakar membuat masakan cepat matang.

.

Di mana tungku itu berada?

Jaman dulu tungku berada di dapur. Bisa dibayangkan betapa panasnya ruang dapur jika Emak sedang memasak. Walaupun ada lubang angin di sana-sini tetapi panas api tetap dirasakan. Apalagi saat meniup kayu bakarnya.

Kini tungku itu sudah dibuat di luar dapur pada ruang terbuka. Pada saat ada kegiatan memasak tetangga yang membantu menyiapkan sayuran, lauk, dan lain-lain juga bekerja di seputar tungku sambil ngobrol aneka topik.

.

Cara memasak dengan tungku

Tungku memiliki dua lubang, bisa digunakan untuk memasak nasi dan sayur sekaligus

.

Tentang memasak dengan tungku ini ada suatu kisah yang unik. Konon, jaman dulu ada pesan agar jika sedang memasak nasi dengan menggunakan tungku maka pemasak tak boleh meninggalkan tempat. Dia harus menunggu masakannya itu sampai matang. Barangsiapa yang melanggar larangan ini maka akan dimakan Betoro Kolo, seorang raksasa yang sangat ganas dan menakutkan.

Jika dilogikakan, larangan itu mengandung pesan tentang bahaya memasak tanpa ditunggui. Api mungkin bisa membesar dan menimbulkan kebakaran, bukan. Selain itu bisa saja dandang, kuali, atau pancinya terguling sehingga merugikan.

Dari balik kisah-kisah ringan itulah foto tungku saya unggah ke instagram. Tungku buatan Emak itu tetap dijaga dan dipelihara hingga kini dan insya Allah sampai nanti. Apalagi bulan Februari 2017 nanti kami akan memperingati 100 hari wafatnya Emak tercinta. Itu berarti tungku akan difungsikan lagi untuk menyiapkan hidangan dan bingkisan untuk tetangga, kerabat, dan sahabat. Masak besar lagi deh.

Itulah #KisahFotoInstagramku, mana kisahmu?

Cara membuat baner lomba

Tulisan ini diikutkan dalam Hani Widiatmoko First Giveaway Kisah Foto Instagramku”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

15 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Saya udah pernah nyoba nyalain pawon di rumah simbah, Dhe. Makwuzzzz… raiku njuk ayu merok2 kebak awu :)) Tapi ya, lauk jenis santenan seperti sambel goreng itu, kalo dimasak di pawon / tungku, syedeeepp tenan, ada aroma kayu bakarnya.

    Kalau sampai idepmu kebakar tentu sayatak bisa memaafkan dirimu hahaha

  2. Emak sampe sekarang masih pake Dhe. Lha nyiapin jualan mulai jam 4 sampai jam 9an, kalau pake kompor gas kelamaan. Bisa2 jam 11 baru selesai 🙂

    Betul. Enak pakai tungku

  3. Novri.nh says:

    Di rumah almarhumah Simbah saya juga masih ada tungku seperti itu Pakdhe. Pada kayu bakar yang menyala, di pangkalnya biasanya keluar sedikit air/cairan yang berbuih-buih kecil, kalau saya sakit kutilen (waah ketahuan kalau cilikanku sering kutilen) Simbah mengoleskan buih-buih dari kayu bakar tersebut. Rasanya ya panas-panas gimana gitu. Katanya bisa cepat sembuh. Wallahu a’lam

    Betul, saya juga mengalami dan memang sembuh

  4. monda says:

    biasanya mau hidupkan bara di tungku kalau di kampung saya itu harus niup pakai bambu..
    susah betul de …,

    Wah kami niup pakai mulut langsung

  5. rita dewi says:

    Saya juga sangat familiar dengan tungku. Dulu tiap libur sekolah sy pasti nginap di rumah simbah, dan kegiatan favorit saya setiap bangun pagi adalah duduk di dingklik di dpn tungku untuk menghangatkan diri.

    Betul, tapi baun pakaian jadi berasap

  6. Nchie Hanie says:

    Wah begitu tho dhe kisah di balik tungku.

    Iya rumah mbah di boyolali, sampe sekarang masih pake tungku gitu, ga mau beralih ke kompor, padahal ada dibeliin sama anak cucu2nya.

    Aku pernah masak, dan iya jata mbah ga boleh kmana mana, kalo belim mateng. Hmm sampe ireng2 deh mukaku

    Jadi kayak monyet kah?

  7. Vico Bagoes says:

    Banyak banget yak jadi makananany? apa mba buka jasa catering?

    Itu untuk tamu

  8. Dulu, almarhumah uyut saya juga menggunakan tungku, Dhe. Saya masih kecil tapi ingat banget bagaimana resik/bersihnya tungku dan sekitar perapian ini oleh tangan terampil almarhumah uyut saya. Bahkan untuk kayu bakarnya, beliau menyempatkan waktu untuk memotongnya dalam ukuran yang seragam dan disimpan untuk keperluan harian di sekitar tungku, sementara stok yang dalam jumlah besarnya disimpan pada tempat khusus di luar dapur. Sayang, beranjak SD, dan kami pindah ke kota, tungku itu tak pernah lagi saya lihat, kecuali pulang ke kampung menjenguk almarhumah uyut.

    Pakdhe mah, mending, tungkunya sampe sekarang masih ada. Beruntungnya dirimu, Dhe…. fotoin lagi donk tungkunya, Dhe, untuk instagram saya. Hehe….

    Lha itu kan sudah ada foto tungkunya

  9. Munasya says:

    Kebanyakan anak muda yang salah satunya Adalah saya tidak bisa masak di tungku, asapnya itu loh bikin kipas-kipas terus

    Iya betul. Harus rajin melihat kayu bakarnya agar tidak habis

  10. Ada masa ketika elpiji belum ada, dan yang ada hanya tungku. Tungku ini bikin dapur jadi sumpek, dan bikin muka jurumasaknya jadi tidak elok dilihat.

    Tetapi dulu orang menggunakan tungku ini untuk memasak dalam kapasitas besar untuk orang banyak, seperti yang dicontohkan bundanya Pakde ini. Alangkah mulianya memasak untuk orang banyam meskipun dengan peralatan seadanya.

    Jaman sekarang, ada aja orang yang sanggup beli elpiji bertabung-tabung. Tetapi disuruh memasak makan malam untuk menyuguhi tamunya saja susah banget.

    Padahal menjamu tamu itu perbuatan bernilai ibadah ya

  11. sampai sekarang di rumah emak di Kampung masih menggunakan tungku De. Untuk masak air dan rendang 😀

    Wah cakep tuh rendangnya
    Makanan favorit saya

  12. iga says:

    kalau masak nasi di tungku menag sangat berbeda sangat enak sekali. jadi kangen masakan ibu.

    Masakan Ibu memang ngangeni

  13. Di rumah sini juga masih ada tungku. Biasa dipakai kalau ada acara besar…baru deh masak-masak pakai tungku.

    Idem Emak

  14. hani says:

    Wah, betul-betul tungku bersejarah dan penuh kenangan ya PakDe. Sudah ga keitung manfaatnya. Makasih sudah ikut ga saya. Salam dari Bandung.

    Iya, sampai sekarang masih eksis dan kami pelihara. Terima kasih atas kunjungannya.

  15. Tungku sangat dekat sama masakecilku, hehehe. Aku sering genen di depan tungku sambil bakar ubi, bakar singkong, bakar beton, hehehe

    Jadi ingat waktu di Akabri. Saya bilang:”Ijin makan beton, Mayor Taruna.”
    Senior yang dari Tapanuli kaget

Leave a comment