Sentilan: Mainan Favorit Masa Kecilku

Permainan dan alat mainan zaman saya masih kecil beraneka ragam. Pada umumnya jenis dan bentuknya sangat sederhana. Ada yang berupa mainan ketangkasan atau ketrampilan dan ada pula mainan yang hanya untuk bersenang-senang belaka. Alat mainan tersebut ada yang saya buat sendiri dan ada pula yang harus saya beli karena saya kurang bisa membuatnya. Jika saya membuat mainan gangsing atau kèkèhan bentuknya kurang bagus. Itulah sebabnya saya lebih sering membeli kepada tetangga yang pakar membuat gangsing. Demikian pula halnya dengan layang-layang. Membuat sih bisa tetapi kadang nggak bagus terbangnya. Lebih enakan membeli, toh ada donatur tetap yaitu Emak.

Mainan yang agak modern misalnya mobil-mobilan dari plastik, jarang saya beli. Selain agak mahal saya juga belum boleh pergi ke pasar atau ke kota Jombang. Bapak dan Emak pun amat jarang bepergian ke kota. Maklum kala itu kendaraan bermotor belum booming seperti sekarang. Alhasil saya dan teman-teman sepermainan lebih suka main dengan apa saja yang bisa kami ciptakan. Mainan karet, gambar, tulupan, jedulan, katapel, roda-rodaan, mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali, dan layang-layang paling banyak dijumpai kala itu.

Mainan yang paling saya sukai ketika masih kecil adalah sentilan. Mainan ini menguji ketangkasan untuk membidik dan menembak sasaran. Sasarannya ya berupa karet gelang yang dicantelkan pada sebatang tiang kecil. Tiang ini dibuat dari ranting bambu atau ranting pepohonan. Karet gelangnya dipasang pada anak ranting lalu kami sentil dari jarak tertentu sesuai kesepakatan. Karet gelang yang jatuh itulah yang menjadi hak milik penyentil. Alat penyentil juga karet gelang.

.

Karet gelang sebagai sasaran penyentilan

.

Cara bermainnya sebagai berikut.

1. Peserta urunan karet gelang misalnya 5 buah. Lalu karet hasil urunan tersebut dicantelkan pada tiang yang ada kaitannya.

2. Peserta mengadakan hompimpah. Yang menang mendapat kesempatan nyentil pertama. Dia menuju tempat penyentilan yang jarak sekitar 3-5 meter dari sasaran.

3. Karet yang jatuh menjadi hak miliknya. Jika masih ada karet yang tersisa maka penyentil kedua mendapat giliran. Demikian seterusnya sampai karet itu habis. Jika karet masih tersisa dan semua penyentil sudah melaksanakan tugasnya maka peserta bisa urunan lagi atau menghabiskan karet yang tersisa. Hompimpah lagi.

.

Karet gelang yang jatuh menjadi hak milik penyentil

.

Lama-kelamaan kami merasa tidak puas. Jumlah peserta yang makin banyak menyebabkan karet gelang yang dicantelkan di tiang semakin banyak pula. Kami sudah bosan dengan alat sentil yang hanya berupa sebuah karet gelang. Hasilnya kurang maksimal karena daya dobrak karet gelang tersebut kurang dahsyat. Bingo, kami sepakat untuk menambah alat penyentil lebih dari satu karet gelang dan boleh diberikan beban agar dobrakannya semakin yahud.

Maka muncullah aneka alat penyentil. Ada yang memberikan beban berupa mur dari besi yang diikatkan pada beberapa karet gelang. Saya yang kala itu belum menemukan mur menggunakan kunci gembok sebagai pemberatnya. Benar saja, ketika alat sentil itu kami luncurkan maka karet gelang yang dicantelkan pada tiang kecil langsung berhamburan. Bahkan sangking dahsyatnya tiang kecil adakalanya ikut terjungkal.

.

Karet gelang dengan pemberat gembok juga joss

untuk mendobrak sasaran

.

Tiang pun ikut terjungkal bersama karetnya

.

Dengan alat sentil berbobot tersebut maka jarak tembak juga ditambah. Jika sentilan hanya menggunakan sebuah karet gelang maka jarak tembaknya cukup 3-5 meter. Dengan alat sentilan diperberat maka jarak tembak ditambah menjadi 5-10 meter.

.

Jarak tembak ditentukan oleh

jumlah karet yang dipasang dan alat penembaknya

.

Permainan ketangkasan ini memang membutuhkan sedikit biaya yaitu untuk membeli karet gelang. Peserta yang jagoan banyak mengumpulkan karet gelang. Yang keok bisa membeli dari pemenang atau membeli di toko yang ada di kampung.

Permainan sentilan ini melatih kami untuk membidik sasaran dan juga kepiawaian untuk menahan nafas saat akan melepas alat dobraknya. Kelak permainan ini sangat bermanfaat ketika saya menjadi taruna Akabri. Pada latihan menembak senapan, pistol, sten (Carel Gustaf), dan SMS (Senapan Mesin Ringan) kami juga dilatih untuk membidik sasaran, menahan nafas, dan menekan picu. Jedhooooor….!!

.

Nafas, bidik, tahan nafas, tekan picu

Dhooooor..!

.

Oh iya, permainan sentilan ini tidak ada hubungannya dengan acara Sentilan Sentilun di sebuah stasiun televisi. Juga tak ada hubungannya dengan hobi yang dilakukan oleh orang-orang yaitu menyentil orang lain, sahabat, atau lawan politiknya.

.

Tulisan ini sebagai teaser dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

.

.

Permainan jenis apakah yang sahabat sukai? Silakan share.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

11 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. irowati says:

    Sy br tahu mainan ini dhe, klo jaman sy…pakai lingkaran siapa yg paling luar dia yg kalah…yg dpt semua karet yg lemparannya paling dalam… Sukses GA-nya dhe…semoga menang…

    Betul, macam2 kok Jeng

  2. Ila Rizky says:

    Biasanya sentilan buat nyari mangga yang mateng, pakdhe. 😀 atau kalau ga, mainannya pakai kelereng yang ditaruh di sentilan.

    Beda
    Karet yang dipakai diplintengan adalah irisan ban sepeda

  3. Erwin says:

    Sukses dgn giveawaynya Pak dhe….
    Btw, sentilan itu apa sama dgn plintengan itu ya…

    Beda
    Plintengan pelurunya batu
    Sasarannya bisa burung atau mangga, dan jambu

  4. nh18 says:

    Hahahah …
    permainannya asik-asik gimanaaaa gitu …
    Kalo Komisi Perlindungan Anak sudah terbentuk saat itu … mainan ini mungkin akan dilarang …

    Mengandung unsur judi … (halah-halah om-om … biasaa ae lah …)
    (ihik)

    salam saya Pak De

    Kata mas Pramono Anung :”Kemajon” hahahaha

  5. jampang says:

    baru tahu kalau karet gelang dimainkan seperti ini. dulu karet gelang yang saya mainkan hanya dengan permainan yang namanya “kutik” 😀

    Anak perempuan juga main karet namanya “Uncal”

  6. Keke Naima says:

    saya baru tau mainan ini. Ini langka sejak tahun berapa, ya? Jaman saya udah gak ada hehehe

    Tahun 1957 saya sudah main ini

  7. vizon says:

    Ini permainan masa kecil saya juga, Pakde. Tapi posisinya bukan digantung, melainkan ditumpuk di tanah dalam sebuah lingkaran. Untuk penyentilnya, saya juga bikin dengan jalinan seperti itu, tapi nggak kepikiran pake gembok segala.. hahaha… 😀

    Pokoknya, main beginian mengasyikkan dan sering suka lupa waktu..

    Mainan murah-meriah dan aman Mas

  8. felyina says:

    Alamak, kayaknya susah. Besok saya coba ah. Penasaran.

    Bisalah wong ini ilmu katon kok

  9. kultwit says:

    baru tau saya ada mainan sentilan, cuma taunya acara butet di metro sentilan sentilun hahaha

    Daerah lain mungkin punya istilah sendiri ya

  10. Topik says:

    Dulu juga pernah mainan pake karet gelang tapi bukan dibuat sentilan tapi malah lompat tali, biasane kalau untuk bidik membidik pakainya malah plinteng juga mirip kayak untuk tembak menembak yg digunakan untuk bidik burung

    Lompat tali, uncal, juga ada Mas
    Plinteng atau katapel untuk sasaran burung atau mangga (tetangga hahahaha)

  11. Hihi…rupanya masa kecil Pakde dulu suka mainin karet gelang juga ya..hehe.. Kalo aku selain main yeye, karet gelang itu aku pakai utk betet cicak yang sering nangkring di plafon rumah.. Caranya, ambil lidi dibuat runcing ujungnya, lalu karet gelang itu dipakai sebagai busurnya.. dan diarahkan ke cicak.. sesekali kena tuh cicaknya, hehe..

    Ih..nakal..nakal..nakal

Leave a comment