Ulurkan, Ringankan, dan Manusiakan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan satu tujuan yaitu agar manusia beribadah kepadaNya. Hal ini secara tegas difirmankan Allah dalam Al-Quran Surat Adz Dzariyat ayat 56 yang artinya:”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Ibadah dimaksud tentunya bukan hanya ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, dan menunaikan ibadah haji. Ucapan, sikap, dan tingkah laku yang baik dan bermanfaat yang berhubungan dengan makhluk lainnya juga termasuk di dalamnya.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

Kita selayaknya berusaha untuk menebar kebaikan kapan saja, di mana saja, dan untuk siapa saja.




Ulurkan Tangan

Dalam kehidupan sehari-hari sungguh masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Di mana-mana kita jumpai mereka yang terpaksa hidup dengan mengharapkan belas kasihan orang lain. Di jalan raya, utamanya di lampu merah kaum duafa itu menadahkan tangannya minta sedekah kepada para pengendara sepeda motor atau mobil. Di antara mereka juga terdapat para pengamen yang menyanyi sekedarnya dan menggunakan alat musik apa adanya. Mereka juga terlihat di depan pertokoan, datang ke rumah-rumah, atau hanya duduk di tepi jalan atau jembatan penyeberangan.

Kita yang Alhamdulillah diberi rezeki yang cukup selayaknya mengulurkan tangan membantu mereka. Sedekah yang kita berikan dengan ikhlas, seberapapun jumlahnya, tentu sangat menggembirakan hati mereka. Ketika melihat para peminta-minta itu tak usahlah berdiskusi panjang lebar. Jika di lampu merah kita berdebat apakah akan memberikan kail atau ikan maka kesempatan untuk berbuat kebaikan akan hilang ketika lampu merah sudah berganti dengan hijau. Jika ada uang atau makanan lebih baik segera kita berikan kepada peminta-minta itu daripada memikirkan kail atau ikan.

.

Ulurkan tangan dengan ikhlas sesuai kemampuan

.

Mengulurkan tangan tentu bukan hanya kepada kaum duafa tetapi juga untuk aneka jenis kegiatan positif lainnya. Manakala di sekitar kita ada pembangunan masjid, mendirikan perpustakaan, rumah singgah, panti asuhan, rumah jomba, dan fasilitas umum lainnya selayaknya kita juga membantu sesuai kemampuan. Jika tidak bisa membantu dengan uang atau barang maka kita bisa memberikan bantuan tenaga.

.

Ringankan Beban

Apa yang kita lakukan ketika ada tetangga yang sakit? Kunjungi mereka dan ringankan bebannya. Doakan dia agar segera sembuh dari penyakitnya. Bangkitkan rasa optimisnya agar dia kuat dan tidak menyerah dalam menghadapi ujian atau cobaan tersebut. Tentu sangat baik juga jika kita bisa memberi bantuan uang atau makanan sesuai kemampuan.

Hal yang sama juga dilakukan ketika ada sahabat atau kerabat yang mengalami musibah misalnya meninggal dunia. Datang melayat, ikut sholat jenazah, dan mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman adalah wujud nyata kepedulian, cinta, dan kasih sayang kita kepada mereka.

Meringankan beban orang lain juga bisa kita lakukan jika mereka mempunyai hutang kepada kita. Jika kita memang belum memerlukan uang tersebut dalam waktu dekat tak ada salahnya memberikan tempo lagi ketika yang berhutang belum bisa membayar hutangnya. Demikian pula jika pihak pengontrak atau penyewa rumah kita belum mampu membayarnya. Kita bisa memberikan sedikit kelonggaran kepada mereka sampai uangnya cukup. Tentu kita bisa melihat gelagatnya apakah penyewa atau pengontrak tersebut nakal atau tidaknya.

Di kampung saya masih ada tradisi membantu tetangga yang akan mempunyai hajat. Mereka tak segan-segan berperan ikut sebagai anggota panitia. Kaum laki-laki membantu membuat bleketepe, memasang janur, menata meja kursi, dan pengaturan parkir. Sementara kaum wanita membantu membuat kue, memasak makanan di dapur, dan kegiatan lainnya. Gotong royong seperti ini masih berlangsung hingga kini.

.

Para tetangga ikut meringankan beban saya

.

Manusiakan

“Kamu itu memang pemalas. Bodimu saja yang kayak raksasa tetapi mentalmu memang mental pengemis.” Ah, tak perlulah kita mengeluarkan kalimat pedas tersebut kepada seorang peminta-minta. Pemberian uang lusuh bernilai Rp.1000 yang disertai hinaan seperti itu sangat menyakitkannya. Walaupun dia membutuhkan uang tetapi janganlah kita serta merta melecehkannya. Mereka tentu juga memiliki hati dan harga diri. Mari kita tetap memanusiakan orang yang kita bantu agar apa yang kita lakukan bernilai ibadah.

Tak elok juga jika kita mengungkit-ungkit bantuan yang sudah kita berikan kepada orang lain. “Kalian itu memang remaja yang tidak tahu diri. Rumah singgah dan tempat belajar yang saya bangun dengan biaya tak sedikit itu kan sangat menguntungkan kalian. Kini kalian malah bermalas-malasan, menyapu halamannya saja kalian tidak mau.” Kalimat seperti itu sebaiknya diganti dengan kalimat yang lebih sejuk dan memotivasi. “Hayo anak-anak, mari kita bersih-bersih agar lingkungan menjadi sehat dan menyehatkan.” Dengan kalimat ini maka mereka akan dengan senang hati mengerjakannya. Mereka merasa ‘diwongke” atau dimanusiakan.

.

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayPeduliKasih




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. inda fitri says:

    aseg, rewang manten masuk di kategori ringankan beban ngge de. kmren abis rewang soalnya. blm bs bantu dana. hehe. matur nuwun renungannya ngge pak de

    Hidup memang harus saling bantu

  2. 21inchs says:

    terima kasih atas reminder pakdhe, sangat inspiratif dan ‘mengajak’..
    bisa jadi juara giveaway ini..

    Amiin

  3. Terima kasih sudah diingatkan, Dhe. Kadang manusia lupa, kalau rezeki yang dimiliki itu juga ada hak orang lain..

    Betul, harus diserahkan kepada yang berhak

  4. Eko Nurhuda says:

    Hadir, Pakdhe.
    Membantu dengan apapun yg bisa dilakukan, insya Allah akan sangat berkesan serta bermanfaat bagi orang lain. Jangan lupa, harus ikhlas seperti surat al-Ikhlash yang gak ada kata ikhlash-nya satu pun. 😀

    Ikhlas itu sangat penting ya Mas

  5. abdurrohman says:

    Berat sama dipaggul, ringan sama dijinjing, begitulah gambaran masyarakat sosial.
    tahu ponorogo
    Leres Mas

  6. Lidya says:

    berikan lalu ikhlaskan jangan diungkit lagi ya pakde

    Betul, entar malah nggak dapat apa2

  7. Inayah says:

    Memanusiakan. Itu yang sering lupa. Ah..betapa kita mudah lalai hanya karena kostum

    Kasihan kan habis kita kasih kita ungkit2 atau kita bentak2 dan lecehkan

  8. susanti dewi says:

    ketiga hal tsb harus kita miliki sebagai makhluk sosial ya pakde….

    Betul
    Kita jangan hanya memiliki keshalihan individial tetapi juga memiliki keshalihan sosial

  9. ah memang kadang kita lupa menghargai orang lain, ngakunya aja a b c tapi kalo ngomong sama yng derajjatnya lebih rendah kayaknya kasar banget. heheh

    Betul sekali Nak

Leave a comment