Wirausaha: Kebahagiaan dan Keuntungan

Sebagai anak tunggal hidup saya tidak dididik atau diajari ‘mencari uang’ oleh orangtua. Mereka juga tidak pernah memberi contoh nyata cara lain untuk mendulang fulus kecuali mata pencarian tetap. Gaji bulanan bapak sebagai guru plus sebidang sawah itulah yang dipakai untuk menafkahi keluarga dan menyekolahkan saya sampai STM.

Setelah saya menjadi perwira kegiatan sampingan juga tak saya lakukan. Plek ketiplek saya menafkahi keluarga juga dari gaji bulanan. Walaupun ada yang bilang:” Tentara itu lebih banyak hormatnya daripada uang yang ada di dompetnya” tak mendorong saya untuk mencari uang dengan cara lain. Babahno tah.

Wirausaha mulai saya lirik ketika saya dinas di Jawa Timur. Bertugas di kampung sendiri ini menyebabkan saya sering mudik untuk menengok Emak dan Eny, si sulung yang tinggal bersama beliau. Di belakang rumah ada kebun berisi pohon mangga, pisang, jambu, pepaya, rumpun bambu yang agak kurang terurus. Atas saran dari sepupu, kebun itu saya sulap menjadi sebuah kolam renang berukuran 10meter x 15 meter. Di sampingnya saya tambahi kolam renang mini dan dangkal untuk balita.

Setelah saya launching maka kolam renang itu terbuka untuk umum dengan harga tiket dompet friendly. Murah-meriah dan sesuai daya beli tetangga. Emak juga membuka kantin mini dengan menjual snack dan minuman murah. Jika langkah ini bisa disebut sebagai wirausaha maka inilah wirausaha perdana saya.

Wirausaha ini menggunakan menejemen tukang cukur. Hasil kolam renang langsung disetor kepada Emak. Tak perlu dicatat berapa hasilnya dan berapa biaya operasionalnya. Demikian pula hasil penjualan makanan dan minuman. Tak pernah diaudit oleh auditor cap kupu-kupu apalagi auditor resmi dan bersertifikat.

Bagaimana dengan penggunaan hasil wirausaha kolam renang tersebut? Yaaa untuk membeli cabe atau telur dan jajan para cucu saja. Keuntungan materi tak dihitung. Tapi ada keuntungan lainnya yaitu kegembiraan dan kebahagiaan. Emak sangat bahagia manakala melihat tingkah-polah anak-anak di kolam renang maupun yang lagi makan mi instan dan es teh kesukaan mereka. Tetangga ada juga yang kecipratan rezeki. Ada yang menjadi juru parkir mobil atau sepeda motor. Yuk Cing juga bisa jualan tempe-tahu petis tanpa membayar retribusi. Penjaga karcis dan petugas kebersihan juga bisa membeli rokok atau bakso. Ada juga tetangga yang nitip onde-onde, ketan sambel di kantin. Rombongan anak sekolah juga menikmati diskon 50%.

Kadang terpikir oleh saya untuk menutup kolam renang ini dan memanfaatkan lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang gemar mandi atau berenang. Bagaimana pula mereka yang rajin latihan berenang ketika akan masuk mendaftar menjadi tentara atau polisi. Warming up apa yang saya tawarkan ketika saya mengundang teman-teman blogger untuk kumpul di Jombang selain mandi bareng? Oleh karena itu wirausaha kolam renang ini lebih banyak nilai sosialnya daripada keuntungan materi akan tetap saya pertahankan. Yang penting hepi.

.

.

Apa yang saya lakukan di atas sebaiknya jangan ditiru ketika sahabat berniat untuk melakukan wirausaha dengan serius. tentu. Saya sebenarnya juga ingin meniru Wirausaha “Kipas-kipas” yang dijalankan oleh Om NH. Tentu bukan di kampung saya melainkan di kota yang dekat dengan tempat pendidikan. Surabaya adalah tempat yang ideal untuk membuka usaha kos-kosan.




.

Berkaitan dengan wirausaha siswa saya jadi teringat koperasi taruna Akabri di Magelang. Saya tidak mengetahui dengan pasti tentang modal usaha mereka. Saya hanya ingin mengatakan bahwa koperasi ini menjual aneka barang yang dekat dengan hati para taruna. Saya misalnya, suka membeli tas, t-shirt, training pack, kertas surat, amplop, handuk, gantungan kunci, mug, dan kalender yang ada tulisan dan logo Akabri. Rasanya kok mentereng gitu kalau naik motor sambil pakai t-shirt atau rtaining pack berlogo Akabri. Maklum jiwa muda. Di stasiun atau terminal bus juga banyak yang melirik tas berlogo Akabri. Pacar saya juga suka jika membaca surat yang kertasnya berlogo Akabri hahahaha.

Mungkin para siswa juga bisa menjual barang-barang yang dekat dengan hati para remaja. Bukankah sekarang banyak dijual t-shirt, topi, gantungan kunci, stiker, dan bungkus handphone dengan gambar dan tulisan yang bergenre remaja.

.

Mengakhiri tulisan ini saya ingin sedikit memberikan tip kepada adik-adik remaja yang ingin belajar berwirausaha.

1. Niatkan berwirausaha untuk ibadah. Dengan niat yang lurus maka dalam menjalankan usaha akan tetap on the right track (pada koridor yang benar)

2. Jujurlah. Ungkapan honesty is the best policy masih valid. Tanpa kejujuran maka pelanggan atau calon pembeli bisa lari. Lebih baik menjual martabak untuk mendapatkan martabat daripada menjual martabat untuk mendapatkan martabak.

3. Bayangkan keberhasilan dan jangan membayangkan kegagalan. Ini sebagai pemicu dan pemacu agar tidak mudah patah semangat.

4. Jadikan tekun, kerja keras, sabar, dan syukur sebagai pilar utama. Ini juga bisa melekat dan menjelma menjadi karakter yang sangat berguna kelak jika memiliki usaha yang lebih besar.

5. Jangan serakah untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Untung sedikit tetapi terus mengalir dan barokah akan lebih bagus.

6. Administrasi yang rapi dan tertib.

7. Buat dan manfaatkan jaringan kerja. Internet sangat membantu untuk mempromosikan usaha.

.

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua Tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

6 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. inayah says:

    Keluarga ngga ada yang wirausaha, jadi tiap mau jalan…mereka nya yang takut:-)

    Mulai jualan pulsa dulu
    Nggak perlu toko
    Cukup satu meja dan kursi saja
    Dikantongi juga bisa kan. Jualpulsa keliling

  2. felyina says:

    sebagai keluarga pedagang, sebaliknya orang tua mendorong kami anak-anaknya untuk berwirausaha. tapi sayang anak-anaknya yang nggak jiwa bisnis sejak dini. Baru menuruti apa kata ortu setelah usia mendekati kepala 3. Hihihihihi

    Ya lumayan, saat usia sudah matang

  3. Jiah says:

    Saya sdh bayangin keberhasilan tp megap lg kalo mikir modal. Butuh nekat

    Nabung dulu ya

  4. inda fitri says:

    pak de, selalu inspiratif tulisannya,
    makasih tipsnya ngge de, catet langsung

    Sama2

  5. Mulia sekali PakDe, yang demikian biasanya membawa berkah. Jadi kepingin berenang di kolamnya deeh. Salam sukses yaa pak

    Biar orang kampung ikut merasakan kebahagiaan

  6. suzie icus says:

    pakde.. keren banget ih ide kolam renangnyaa
    lumayan juga ya
    alhamdulillah bisa memberikan kebahagiaan untuk orang banyak
    makasih juga tips usahanya
    makasih ya pakde, sehat selalu
    makasih ud ikut GA nya:)

    Sama2 Jeng

Leave a comment