Teks

Airmata Buaya

Sungguh, saya tidak tahu siapa yang pertama mencetuskan istilah airmata buaya. Apakah pencetusnya juga pernah nginceng ketika si buaya itu mengeluarkan airmatanya ya. Munculnya suatu istilah biasanya berawal dari pengetahuan dan pengalaman, bukan? Jangan-jangan memang ada.

Saya hanya mengira-ngira, buaya mengeluarkan airmata bukan karena bersedih tetapi hanya untuk mengelabui makhluk lainnya. Mungkin dulu ada pawang buaya atau pemburu buaya yang ingin ngantemi si buaya. Lalu binatang berkulit tajam itu mengeluarkan airmata agar si pemburu atau pawangnya tidak menganiayanya. Nah, setelah mereka pergi si buaya lalu joged-joged sambil bergumam. “Tak bujukiiiiiiiiiiiii….”

Manusia yang sedang menangis sampai mengeluarkan airmata memang harus diperhatikan dengan seksama. Di sinetron misalnya, ada seorang wanita yang bersedih lalu menangis sambil mengusap airmata. Mereka yang melihat lalu iba, jatuh hati, dan merasa kasihan. Namun setelah siiba memberikan uang atau nasi dan pergi maka si penangis langsung tertawa gembira. “Tak bujukiiiiiiiiiiiiiii….”

Sepandai-pandai mengeliarkan airmata buaya suatu saat akan ketahuan juga. Ini juga sering saya lihat di sinetron. Begitu ketahuan belangnya maka orang yang semula iba atau kasihan berubah menjadi geram, getem-getem, dan ingin ngaplokinya. Tak jarang ada yang membuat siasat untuk menangkap basah pelakunya.

Di dunia nyata nama-nama binatang juga sering dijadikan kiasan oleh manusia. Sebut saja istilah ‘cuek bebek.’ Kata ini digunakan untuk menggambarkan sikap dan perilaku manusia yang acuh tak acuh terhadap situasi di sekelilingnya. “Saya sudah mengingatkan Raymoe agar dia tak main judi tapi dia kayaknya cuek bebek saja. Setelah ditangkap polisi barulah dia mlongo.” 

Ingatkan sahabat tentang istilah ‘buaya darat’? Ini sebutan untuk laki-laki yang gemar mengoleksi wanita. Pacaran dengan si Annu, si Anniy, dan si Anna. Ketika ketiga gadis itu mengetahui akal bulusnya maka benjotlah si buaya darat.

Malah ada istilah yang menggunakan dua nama binatang sekaligus. Musang berbulu ayam, contohnya. Ini sebutan bagi manusia jahat tetapi berpura-pura baik. Begitu sasaran lengah maka dia akan melakukan kejahatannya.

Di lingkungan orang Jawa ada juga nama binatang yang dipakai sebagai peribahasa. ‘Cecak nguntal lo’ artinya orang yang cita-citanya terlalu muluk-muluk, tidak sesuai dengan kemampuannya. Sementara ‘kebo nusu gudel’ untuk menggambarkan orangtua yang belajar atau berguru kepada yang lebih muda.

Kembali ke airmata buaya. Penjahat yang tertangkap aparat penegak hukum mungkin ada juga yang mengeluarkan airmata binatang seram ini. Dia bisa menangis meraung-raung mohon ampun saat dilakukan penangkapan. Tetapi begitu masuk penjara bukannya dia menyadari kesalahannya malah giat belajar tentang tehnik melakukan aneka penipuan.

Polisi biasanya sudah hafal dengan kelakuan si pemilik airmata buaya.

Pernahkah sahabat mengeluarkan airmata buaya? Hayooo..ngaku

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. K. Ginting says:

    Pernah ngga ya.. Sambil mikir keras pak. ?

    Mungkin engga, mungkin juga pernah tapi lupa atau pernah tapi pura2 lupa atau pernah tapi berusaha keras ngelupain…

  2. Inayah says:

    pernah dibahas juga nih pas sidang jessica.

  3. Bayik says:

    Katanya gini Pak…

    Setelah buaya memakan mangsanya, buaya akan meneteskan air mata. Bukan karena penyesalan buaya tersebut, namun secara alami terjadi karena kelenjar air mata buaya akan mengeluarkan cairan untuk mengeluarkan kelebihan garam dari buaya.

Leave a comment