Teks

Nonton Bal-balan

Semalam saya ndelok bal-balan (nonton sepakbola) AFF 2016 di televisi. Yang bertanding adalah tim Indonesia melawan Tim Thailand. Ini merupakan pertandingan final leg 2 yang diselenggarakan di negara gajah putih. Sementara pertandingan final leg 1 antara dua tim tersebut di selenggarakan di Indonesia. 

Pada pertandingan leg 1 Indonesia menang dengan skore 2-1. Thailand keok. Skor berubah pada pertandingan leg 2, tim Thailand menang 2-0. Dengan demikian maka Thailand menjadi juara dan menggondol (atau memboyong ya) Piala AFF.

Bagi saya, perjuangan tim Indonesia patut diacungi jempol karena bisa masuk final. Kalah tahun ini ya nggak apa-apa. Semoga tahun-tahun berikutnya tim Garuda bisa berjaya.

Orang Jawa suka membuat keratabasa atau mereka-reka arti bahasa. Ada yang masuk akal tetapi ada juga yang kurang pas. Namanya saja mereka-reka.
Kata ‘ndelok’ (menonton/melihat) diartikan “keNDEL aLOK” alias berani ngomong, nylatu, mencela, bahkan memaki.

Dalam kejadian sehari-hari kita sering mendengar orang yang menonton pertandingan olahraga berani ngomong bahkan teriak-teriak seenaknya. Contohnya: “Wong bola tinggal nutul saja kok nggak bisa masuk.” Satu lagi teriakan sok ngatur: “Bola di kandang sendiri jangan terlalu lama digoreng donk, tendang ke depan sanaaaaaaaaaaaaaa.”

Pertandingan final Indonesia VS Thailand

Teriakan-teriakan juga seringkali terdengar ketika saya nonton ludruk. Jika ada polisi yang clingak-clinguk mencari perampok maka kami (berarti termasuk saya) suka berteriak: “Mburimu….mburimuuuuu…” Kadang pemainnya juga suka njarag (mengeluarkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang kurang disukai). Semakin diteriaki penonton semakin menyebalkan ulahnya.

Seorang pemeran ibu tiri yang galak bahkan tak jarang dilempari sandal oleh penonton yang gemez wal sebel. Penonton nggak mau tahu apakah itu sandiwara atau bukan. Pemain antagonis memang sering dihujat. Jangan-jangan di bawah panggung mereka juga dicubiti oleh kaum hawa ya. Sementara pemain yang baik, memelas, sengsara, atau tak berdaya sering ditangisi oleh penton.

Seorang senior yang sedang nonton kami main bilyar di mes perwira.Setiap saya ancang-ancang mukul bola dia langsung menyutradarai: “Di ribbon ae, Dik. Arahkan bola ke sini,” katanya sambil jari-jarinya memberi tanda di pinggir meja bilyar.  Pada kali yang lain dia berucap: “Pukul tipis di sisi kiri.” Main bilyar disutradai seperti itu nggak enak blas. Kebebasan berkreasi menjadi terganggu.

Terus terang dan terang terus saya kadang nggrundel sendiri jika melihat pemain sepakbola terlalu lama bermain-main di kandang sendiri. Apalagi jika bola itu bisa direbut oleh pemain lawan. Lebih parah lagi jika akibat terlalu lama menggoreng bola di kandang sendiri kemudian diterobos oleh pemain lawan dan menciptakan goal. Janzurit tenan lho. Rasanya ingin menelan kwaci sebungkus deh.

Nonton bal-balan antara Indonesia VS Thailand semalam saya lebih khusu’karena tak ada yang menemani. Isteri, anak, dan cucu sedang nonton tv di kamar. Alhasil saya bisa nggrundel dan berteriak sendiri sepuasnya. Walaupun Indonesia kalah namun saya tetap bangga kepada para pemain Indonesia yang telah bekerja keras mengharumkan nama bangsa.

Pernahkah sahabat mendengar penonton pertandingan olahraga yang sok pintar?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

1 Comment

Skip to Comment Form ↓
  1. Pertandingannya seru ya Pakde.. Sayangnya tim lawan lebih tangguh.. Btw, tim Indonesia tetap hebat sebab sudah berjuang untuk memenagkan pertandingan.. namun nasib dan kesempatan kayaknya belum untuk saat ini..

    Iya, yang penting terus semangat

Leave a comment