Manfaat Ganda Kartu BPJS Kesehatan

Kartu SehatAlhamdulillah, Allah subhanahu wa Ta’ala memberikan saya kesehatan yang baik. Sepanjang usia saya yang hampir 66 tahun ini saya baru sekali dirawat di rumah sakit. Itu terjadi pada tahun 1972 ketika saya berstatus taruna Akabri Darat. Entah karena apa, saya mendadak muntah-muntah sewaktu latihan berenang. Usai pelajaran berenang saya diantar ke KSA (Kesehatan Asrama) setempat. Saya sempat menginap selama dua hari di situ.

Sakit yang pernah saya alami antara lain: sakit gigi, flu, bisulen, batuk-pilek, sakit kepala, diare, sakit mata, radang sendi. Saya biasanya cukup berobat jalan. Setelah disuntik dan diberi obat pada umumnya langsung sembuh sehingga tak perlu rawat inap.

Selama dinas aktif sebagai perwira TNI, saya mendapat fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Fasilitas itu juga dinikmati oleh isteri dan anak saya. Selain berobat gratis, saya juga dijadwalkan pemeriksaan kesehatan secara berkala di rumah sakit tentara. Kartu Asuransi kesehatan (Askes) juga saya miliki.

Zaman berganti, musimpun bertukar. Tahun 2006 masa dinas saya sudah habis dan selanjutnya menyandang label purnawirawan. Ndilalahnya, kartu Askes saya juga sudah habis masa berlakunya. Saya lalai, belum sempat memperpanjang kartu tersebut hingga sekarang.

Kemudian pemerintah membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang lazim disingkat BPJS. Salah satunya untuk bidang kesehatan (BPJS Kesehatan) Beberapa kerabat dan teman di media sosial menyatakan keuntungan memanfaatkan BPJS Kesehatan ini. “Wah untuk operasi ini, jika harus membayar maka saya bisa mengeluarkan jutaan rupiah. Untung saya sudah punya kartu BPJS sehingga hanya mengeluarkan seidkit uang untuk tambahan beli obat saja.”

Saya langsung tertarik dan akhirnya mendaftarkan diri. Pada bulan Desember 2014 saya telah mempunyai kartu kesehatan tersebut. Demikian pula isteri saya. Anak, menantu, dan cucu yang KKnya sudah terpisah dengan saya juga sudah memiliki kartu tersebut. Fasilitas Kesehatan Tingkat I yang tercantum dalam kartu BPJS adalah Medical Centre ITS. Sip, klinik ini tak jauh dari rumah saya.

Pemilik kartu BPJS Kesehatan sesungguhnya bukan warga negara yang bermental gratisan. Mengapa? Yaaaa karena kami kan berkewajiban membayar iuran setiap bulan yang besarnya sudah ditentukan. Jika pemegang kartu tersebut selalu sehat maka berarti dia sudah membantu pemerintah menyediakan dana kesehatan dengan iuran bulanan tersebut. Iuran dari orang-orang yang sehat itulah yang digunakan oleh pemerintah untuk membantu orang-orang yang sakit dan berobat dengan memanfaatkan kartu BPJS Kesehatan. Inilah manfaat pertama jika memiliki kartu BPJS Kesehatan.

Manfaat kedua jelas meringankan beban si sakit, utamanya dari segi keuangan. Saya bukan sedang berjualan kecap karena saya memang merasakan manfaatnya. Berikut ini pengalaman saya.




Ketika sedang berada di kampung saya terserang flu. Saya lalu berobat ke sebuah klinik di kampung tetangga (bukan Puskesmas) Untuk penyakit sejenis ini biasanya saya disuntik dan atau diberi obat. Biayanya hanya sekitar Rp.30.000. Nah pada kali yang lain saya mencoba berobat ke klinik yang satunya yang menerima kartu BPJS.

Ketika mendaftar saya mengatakan akan menggunakan kartu BPJS. Petugas minta kartu saya dan melihatnya. “Pak, mohon maaf, Bapak tidak bisa menggunakan kartu ini karena Bapak bukan penduduk Jombang,” kata seorang gadis yang bertugas di tempat pendaftaran pasien. Saya mencoba menguji nyalinya. “Hla, wong saya sakit di kampung masa harus ke Surabaya. Nanti tak laporkan Pak Jokowi loch.” Mendengar ucapan saya tersebut rekan kerjanya mengambil kartu saya lalu bilang: “Iya, bisa, Pak. Tapi hanya untuk dua kali berobat jalan saja. Untuk keadaan darurat bisa beberapa kali seusai kebutuhan.” Bingo, akhirnya saya mempunyai pengalaman perdana, berobat dengan memanfaatkan kartu BPJS.

Pengalaman kedua terjadi ketika saya ingin mencabut gigi yang sudah berlubang. Gigi berlubang itu jika sedang sakit rasanya minta ampun. Walaupun Megi Z melantunkan syair lagu dangdut berbunyi: “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” saya tetap memilih tidak sakit keduanya. Saya mengunjungi Medical Centre ITS sebagaimana tercantum dalam kartu BPJS saya.

Setibanya di sana saya langsung mendaftarkan diri untuk cabut gigi. Petugas depan bertanya: “Pakai apa, Pak”” Saya tahu maksudnya. “BPJS, Mas.” Petugas langsung minta bartu saya dan mencatatnya di komputernya. “Bapak nomor urut 28, silahkan menunggu nanti akan dipanggil.”

Sampai pada nomor urutan yang ditentukan, saya masuk ke ruang dokter. Dari sorot mata dan bahasa tubuhnya, dokter gigi wanita yang ayu itu tidak memperlihatkan sikap yang ‘cuek bebek’ kepada pasien gratisan. Dengan keramahtamahan beliau menangani saya dengan baik dan santun. Setelah diperiksa dan diberi obat saya diminta kembali seminggu kemudian untuk dicek lagi.

Seminggu kemudian saya kembali. Prosedurnya tetap sama. Setelah bu dokter memeriksa gigi saya beliau berkata: “Bapak saya rujuk ke rumah sakit ya karena di sini tidak ada fasilitas untuk memotret gigi Bapak. Setelah difoto akan tampak dengan jelas posisi gigi. Nanti Bapak bisa langsung dicabut di sana sehingga Bapak tidak harus bolak-balik ke mari.” Saya di rujuk ke RSU Haji Surabaya yang lokasinya juga tak jauh dari rumah saya.

Saya mulai memanfaatkan kartu BPJS Kesehatan di RSU Haji Surabaya. Setelah mendaftar dengan memakai kartu BPJS saya langsung dibuatkan kartu berobat. Bentuknya mirip kartu ATM, indah sekali. “Setiap berobat jangan lupa membawa kartu ini ya, Pak.” Berdasarkan formulir pendaftaran yang sudah saya isi saya harus antri di bagian BPJS Kesehatan. Nomor urutan antrian saya adalah 52. Alamaaak, kok banyak amat.

Setibanya di sana saya agak syok melihat antrian yang cukup panjang. Untungnya konter petugas BPJS cukup banyak sehingga pelayanannya juga cepat. Setelah data saya direkam maka saya diberi lagi formulir berjudul Surat Elegibilitas Peserta Peserta & Case-Mix RSU Haji Surabaya. Di poliklinik gigi saya mendapat nomor antrian nomor 24. Aloamaaak lagi deh hehehehe.

Singkat kata akhirnya saya masuk ke ruang dokter. Setelah diperiksa saya diberi obat lagi dan diminta kembali seminggu kemudian untuk tindakan lanjutan yaitu cabut gigi. Saya disuruh untuk potret gigi terlebih dulu di luar rumah sakit karena alat potret di RSU Haji saat itu ada sedikit gangguan.

Cabut gigi dengan memanfaatkan kartu BPJS benar-benar gratis. Kalau tidak memakai kartu BPJS biayanya sekitar 100K lebih. Kok Pakde tahu? Ya tahu donk karena saya juga mengalaminya dan juga di RSU Haji. Ini terjadi ketika kartu rujukan saya ketlisut. Saya mengira ada di file pasien ternyata tidak ada. “Kan sudah saya kembalikan kepada Bapak waktu itu,” kata petugas di poli gigi. Gara-gara tidak membawa surat rujukan itu maka saya tidak bisa memanfaatkan kartu BPJS. Karena saya malas kembali ke rumah untuk mencari kartu rujukan itu maka saya tetap ingin cabut gigi dengan fasilitas umum (tanpa kartu BPJS)  Setelah pencabutan selesai saya langsung membayar biaya yang angkanya sebagaimana saya sebutkan di atas.

Itulah manfaat kedua dari kartu BPJS Kesehatan. Saya bisa cabut gigi gratis dan mendapat obat gratis pula.

“Saya sangat sering memanfaatkannya semenjak mempunyai BPJS. Keutungannya berobat gratis, opname gratis (sesuai kelas) Bahkan pernah naik ke VIP juga free. Bisa dipakai di mana saja untuk IGD/UGD (nasional) Tetapi kalau untuk Faskes 1 hanya bisa dipakai di Faskes 1 sesuai yang didaftarkan. Jadi ada beberapa yang diagnosa yang tercover, ada yang tidak. Sayangnya Noorma ndak hafal apa saja” kata Noorma seorang blogger sahabat saya.

“Operasi juga gratis ya?” tanya saya lebih lanjut.

“Pernah bedah operasi kecil gratis. Pernah tanya operasi gigi juga gratis. Bapak saya operasi batu ginjal empedu gratis tapi ada obat yang bayar,” lanjut Noorma.

Saya masuk BPJS Kesehatan bukan mengharap sakit tetapi untuk berjaga-jaga. Istilahnya sedia payung sebelum hujan. Menjaga kesehatan memang lebih utama tetapi jika Tuhan sudah berkehendak tentu saya sekeluarga tak bisa mencegahnya. Pensiunan kan tak harus kemlinti atau jaga gengsi. Jika ada jalan beraspal mengapa memilih jalan becek atau berbatu-batu. Jika ada fasilitas gratis mengapa harus memilih yang berbayar hehehe.

Oh iya, saat berada di ruang tunggu poliklinik gigi RSU Haji Surabaya tak ada perbedaan dalam perlakuan. Pasien berbayar tak diutamakan, sebaliknya pengguna kartu BPJS juga tak diabaikan. Alhamdulillah.

So, sekali lagi. Kartu BPJS Kesehatan mempunyai manfaat ganda. Jika kita tidak sakit berarti iuran kita untuk mensubsidi yang sakit. Sedangkan jika kita sakit maka kita dapat berobat gratis. Memang tidak semua keluhan tercover oleh PBJS tetap tetap saya menguntungkan dan meringankan beban bagi si sakit dan keluarganya.

Apakah sahabat juga sudah mempunyai Kartu BPJS Kesehatan?




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

12 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. echaimutenan says:

    saya dan keluarga jug apakai ini pakde. saya untuk terapi dan mama untuk cuci darah. dicover. cuma emang harus pintar-pintar milih RS

    Iya, pilih yang menerima BPJS

  2. Izzah Annisa says:

    Saya juga pakai, Pakde. Alhamdulillah, sangat membantu. Rontgen dan terapi tulang belakang saya gratis.

    Sip, iuran kita bermanfaat ya

  3. zata ligouw says:

    Mama saya juga pakai untuk operasi mata di klinik khusus mata pakde..

    Sip, banyak manfaatnya

  4. Mudah2an kartunya tidak pernah digunakan oleh saya dan keluarga Pak De. Iurannya mudah2an jadi amalan aja. Tapi seperti kata Pak De, perlu payung buat jaga-jaga…

    Iya, mensubsidi yang sakit

  5. Horas says:

    Iyes, saya juga ikut BPJS pak de. Harapannya sih, semoga tidak ada lagi kasus yang membeda2kan pelayanan antara pengguna BPJS atau bayar pribadi. Biar sama2 enak 🙂

    Yang saya alami memang nggak ada perbedaan

  6. dey says:

    Operasi bypass saya juga pakai BPJS, termasuk pemeriksaan yg lain, yang kalau ditotal bisa ratusan juta rupiah. Sampai sekarang kontrol tiap bulanpun pakai BPJS. Kalau obat memang ada yang beli sendiri. Karena ternyata ada 1 jenis obat yg dicover ternyata ngga cocok untuk saya.

  7. toss dulu pakde. ketika si kecil lengannya patah, operasi memasang pen dan mengambil pen, gratis tis. tak keluar uang sedikit pun. beruntung kami ikut bpjs kesehatan

    Iya, kalau bayar kan jutaan ya

  8. Yosua Herbi says:

    Aiihh… dari dulu sampe sekarang saya nggak dapet kesempatan dapet bpjs kesehatan.
    mau cari tapi sistematikanya susah katanya… mungkin kalo udah kelar urusan daftar kuliah mau cari, kata bapak gitu pakde…

    Lho, gampang kok

  9. imron says:

    Mantap bpjs semoga selalu memberikan pelayanan terbaik

    Amiin

  10. imron says:

    Mantap

    Matur nuwun

  11. Mustafa Zain says:

    Kami sekeluarga juga pakai BPJS pakde. Alhamdulillah besar manfaatnya. Kita tidak lagi memikirkan biaya yang harus di tanggung ketika berobat. Karena bisa-bisa nambah penyakitnya ketika harus memikirkan besarnya tagihan sewaktu berobat 😀

    Betul
    Jika ada yang ringan mengapa memilih yang berat

  12. edi gunawan says:

    BPJS memang pilihan terbaik untuk jaminan kesehatan dari pemerintah tetapi menurut saya jaminan kesehatan dari pihak swasta masih lebih baik dari segi pelayanan administrasi dan beban yang ditanggung juga lebih besar dari BPJS.

    Kalau ditanya apa saya menggunakan BPJS, tentu saja iya, karena dipaksa oleh kontrak kerja di kantor. hehe

    Kesimpulan saya, BPJS adalah asuransi pemerintah dengan prinsip tolong menolong yang sangat penting untuk keseahteraan masyarakat, tetapi lembaga ini harus lebih transparan, lebih profesional, dan tidak memaksa (haha)

Leave a comment