Lebaran Angka cantik

Kue LebaranAngka cantik mewarnai lebaran saya tahun 2016. Jika dihitung sejak tahun kelahiran saya maka lebaran tahun 2016 ini adalah lebaran ke-66 bagi saya. Dua angka kembar itu cantik,bukan?

Pada umumnya saya selalu berlebaran di Jombang, tanah kelahiran saya. Walaupun saya bertugas di luar kota, misalnya di Cimahi, Surabaya atau Jakarta, saya sempatkan mudik lebaran. Ketika saya dinas di Balikpapan dan Palembang saya memang jarang pulang. Selain waktu cutinya tidak lama juga ada kesibukan tugas dan ongkos yang tidak murah.

Bagi anak tunggal seperti saya, kehadiran saya dan anak cucu saat lebaran sangat berarti bagi Emak. Apalagi setelah Bapak sudah tiada. Tak elok jika membiarkan Emak bersedih karena saya tidak berada di dekat beliau pada hari bahagia tersebut. Sementara bagi seorang anak, sebuah lebaran mungkin dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Situasi lebaran dari masa ke masa memang terasa ada perubahan-perubahan. Zaman dulu pemudik harus hadir secara fisik di stasiun untuk antri karcis kereta api. Kini tiket bisa dipesan secara online atau dibeli di mini market yang bekerjasama dengan PT.KAI. Ini cukup menyenangkan, bukan.

Dulu belum ada acara Mudik Gratis. Kalau mudik yang harus menyiapkan uang yang cukup. Untuk membeli tiket angkutan dan juga bekal selama mudik memang perlu uang. Termasuk di dalamnya uang untuk salam tempel kepada orangtua, kerabat, atau sahabat.

Kue tradisional yang dulu merajai meja kini mulai surut. Saya sudah mulai mengalami kesulitan untuk mendapatkan kue opak atau ladu, krecek atau rengginang, kue semprong alias jepit, jenang madumongso, dan jenang tepung. Orang sudah mulai mencari jalan pintas dan berpikir praktis saja. Kue kering atau basah bisa dibeli di toko atau di pasar. Tak perlu mengaduk adonan jenang sampai berkeringat. Pengin jenang madumongso atau keciput ya tinggal order saja.

Bagaimana dengan pakaian baru? Untuk yang satu ini kayaknya belum surut. Berburu aneka busana lebaran tampaknya masih menjadi primadona. Apalagi pesona iklan pakaian dan aksesoris di layar televisi juga sangat menggiurkan. Model, warna, dan harganya beraneka ragam. tergantung selera dan fulus di dompetnya.

Lebaran tak bisa dipisahkan dengan silaturahmi. Bagi para perantau, silaturahmi menjadi penting saat mudik. Setelah bekerha keras di rantau orang maka perlu moratorium sejenak. Melepas penat sambil bertemu sanak-kadang di hari bahagia sungguh sangat menyenangkan. Silaturahmi adalah salah satu bentuk birrul walidaiyn. Silaturahmi juga dapat menjadikan kita panjang umur dan murah rezeki.

Saat lebaran di kampung untuk sementara tinggalkan gadget dan pernak-perniknya. Orangtua dan kerabat ingin bercengkerama, berbincang, dan bercanda. Mereka inginkan kita masih seperti yang dulu, akrab, santun, dan ramah. Maaf, ketika melihat ada orang yang membuka handphone, tablet, atau laptop, orang-orang kampung, termasuk saya, sudah tak lagi menganga. Semua sudah dianggap biasa. Mengapa? Karena mereka sudah terbiasa dan sangat sering melihat orang memakai barang elektronik itu di layar televisinya.

Lebaran angka cantik bukan hanya kali ini saja. Saya juga pernah mengalaminya beberapa kali antara lain lebaran ke 33. Saat itu saya sedang berada di mana ya?

Selamat Idu Fitri 1437 H

Mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan dan kekhilafan saya




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Halo Pakde..
    Saya kerja di Jakarta, mudik ke Magelang trus mudik lagi ke tempat mbah di Mojokerto..
    Seneng plus capek sih..
    Selamat Idul Fitri yaa Pakde..

    Bagus Mas
    Kokoh-kuatkan silaturahmi

  2. damarojat says:

    Pakde, sugeng riyadi. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan.

    Lebaran angka cantik ya Pakde. Yang ke-33 Pakde sedang di Arizona, ya kan? Lebaran tahun ini pas ulang tahun pernikahan saya yang ke-8. Hehe…

    Iya, daripada beli nomor cantik untuk HP yang harganya mahal heheheh
    Maaf lahir batin ya Jeng

  3. Catcilku says:

    Taqabalallahu minna wa minkum… Mohon Maaf Lahir dan Batin ya Pakdhe.

    Tdk pernah mudik lebaran nih saya Pakdhe. Semua sdh di Jakarta

    Sama2, maaf lahir batin

Leave a comment