Teks

Mantan

Jika menghadiri tahlilan, sahabat saya senang duduk bersama saya dan tetangga yang lain. Walaupun tuan rumah menyilakan duduk di deretan para pamong dia lebih senang berbaur dengan tetangga yang lain di bawah tenda.

Sambil nunggu acara dimulai kadang guyon soal hobi nonton ludruk di masa lalu. Seringkali kami saling ngelmpar parikan yang lucu-lucu.
“Sewek parang klambine ijo.
Tak peniteni nok nduwur dada
Tiwas nyawang gak dadi bojo
Aluwung mati nok ngisor klapa.”

Kami pun tertawa ngakak.

Saya dan dia memang sudah mantan. Jadi tak merasa perlu duduk di deretan VIP. Santai saja mas bro.

Perlikau mantan

Foto: Courtesy Indah Nuria Savitri

.

Tetapi mengisi tempat di depan masih perlu. Kapan? Ketika sedang sholat berjamaah. Sungguh sangat elok jika jamaah mengisi tempat paling depan terlebih dahulu. Saf yang lurus, rapat, itulah yang selalu disampaikan oleh para imam sebelum mulai shalat berjamaah.

Mantan pejabat memang sebaiknya ikhlas bahwa dirinya sudah bukan pejabat lagi. Istilah lainnya adalah legowo. Jika tidak ikhlas dan legowo maka bisa timbul rasa kecewa, merasa tidak dihargai, tidak hormati, dan tidak-tidak lainnya. Jika hal itu terjadi maka orang lain akan mengatakan bahwa dirinya terserang post power syndrome.

Sangat penting untuk diingat, ketika masih menjadi pejabat tak perlulah selalu bertolak pinggang. Nada suara juga tak harus selalu tinggi. Sebuah sikap dan atau gaya yang diulang-ulang akan menjelma menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi karakter.

Nggak enak kan jika ada orang yang berteriak: “Turunkan tanganmu dari pinggang dan turunkan pula nada suaramu.”

Ketika sudah menjadi mantan selayaknya kita perankan predikat itu dengan sebaik-baiknya. Soal dihormati atau dihargai oleh orang lain itu sepenuhnya tergantung perilaku masing-masing saat masih menjadi pejabat atau setelahnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inda Chakim says:

    Selalu adem baca tulisan pak de,
    Sependapat soal mantan, juga soal pejabat,
    ๐Ÿ™‚

    Kalau hot nanti malah kena suspen Google

  2. Inayah says:

    si mantan lagi baper pak dhee

    Kayaknya seperti itu tapi jika faktanya benar kan tinggal nglaporin

  3. Jeje says:

    tak kira mantan apa…. Setuju pak de,,, perilaku kita sangat menentukan di sini

    Kalau kita kemilinthi nanti kalau pensiun nggak ada yang mau mendekat

  4. ndop says:

    Aku nek tahlilan panggon cedek pak yai. Ben ketularan apik. haha

    Kalau kyaine baik penjenengan bisa entuk tambahan apem loch

  5. shoheh riza says:

    Andap ashor njeh pak….

  6. yuni says:

    Masih menaikkan suara pertanda gangguan post power syndrome…

  7. felyina says:

    Jaman saya SD dulu saya suka sebel sama teman-teman saya yang dorong-dorongan malah nggak mau baris di depan. Rumongso tinggi semua soale.
    Jaman SMP dan SMA ketika kami diberi hak untuk memilih bangku di kelas, kami juga rebutan duduk di bangku paling belakang.
    Benar-benar rendah hati ya kami, Dhe. Nggak mau menempati tempat VIP. Hihihihi

  8. Menurut saya, mantan apa pun wajib hukumnya untuk tahu diri. Lebih elegan, lebih nyaman, lebih sopan. Yeah, setidaknya sebagai mantan sejauh ini –Alhamdulillah– saya lumayan mampu untuk tahu diri. Hihi…. #kok cuma lumayan? kok malah curhat ngene?

Leave a comment