Nonton Televisi: Me Time Favorit Saya

I watch a lot of TV. That’s how I spend most of my time outside of work. If I had more time, I would fill it 100 percent with watching TV.
Luis von Ahn

Saya mengenal istilah me time setelah nggrombol di Facebook. Banyak di antara sahabat yang menulis status me time disertai gambarnya yang sedang ini atau itu. Secara grambayangan sih saya bisa menebak artinya. Tetapi, saya yang selalu ingin tahu tentang banyak hal mencoba mendapatkan arti yang lebih komprehensif (halah..halah..halah..) Nah saya mendapatkan sebuah artikel bagus berjudul How Do You Define “Me Time”? Saya kutipkan sebagian isinya untuk sahabat.

“Me Time” is the time in your day …that you devote totally to you, doing things that renew your mind, body and spirit, doing something that is not related to your role as a mother, employee, wife, daughter or sister.  Basically, “Me Time” is that time in your day that you spend doing things that you enjoy, or resting, dreaming, planning, reading, journaling or just thinking.

Dedicating time to focus on ourselves is the key to health and happiness.

Sudah jelas kan?

Sejak televisi muncul di Indonesia saya penggemar beratnya. Ketika televisi masih didominasi oleh TVRI dan warnanya hanya dua yaitu hitam dan putih hampir semua acara saya tonton. Lha wong memang sudah kadung jatuh cinta. Dari siaran berita sampai acara Cerita Untuk Anak saya nikmati dengan sukacita. Termasuk di dalamnya selingan iklan yang namanya macam-macam. Apalagi sekarang, stasiun televisi sudah semakin banyak, warnanya juga beraneka-ragam. Kalau stasiun A menyiarkan iklan maka saya bisa dengan mudah pindah saluran.

.

Acara televisi

Nonton kesenian memperhalus perasaan

.

Terus terang, tanpa tedeng aling-aling, me time dengan menonton acara televisi memang termasuk favorit saya. Jika ada yang bilang: “Saya mah nggak pernah nonton sinetron karena memang nggak suka. Habis terlalu bla bla blu blu…” saya tersenyum mengangguk-angguk. Lha sah-sah saja mereka berpendapat seperti itu. Masa orang nggak suka dipaksa-paksa untuk suka.

Saya berusaha untuk mengambil sebesar-besar manfaat dari acara yang saya tonton. Dengan menonton sinetron saya bisa memetik pelajaran daripadanya. Kebenaran akan mengalahkan kebatilan, itu salah satu di antara hikmahnya. Ketika menonton siara berita yang menayangkan kenakalan pedagang untuk menjemput rezeki idem dito. Begitu rusuhnya cara manusia mendulang uang sampai menghalalkan segala cara. Menjual obat palsu, menjual makanan kedaluwarsa, memakai pewarna pakaian untuk mewarnai kue, menggunakan borak dan formalin untuk mengawetkan makanan, dan atau menjual daging ‘tiren’ (mati kemarin) masih terjadi.

Menonton siaran agama, apapun judul dan temanya, penting bagi saya untuk mengisi batin, agar keimanan dan ketaqwaan bisa lebih baik. Acara ilpengtek semakin memperluas cakrawala agar tak merasa sudah pintar sendiri. Melihat seorang tersangka kasus korupsi masih senyam-senyum di depan kamera kadang mengelus dada. Teganya..teganya…teganya. Tapi saya kemudian mbatin: “Senyum tersangka sesungguhnya untuk menutup duka-nestapa sekaligus untuk menenteramkan keluarganya.”

Me time dengan menonton televisi murah dan sederhana. Sudah puluhan tahun saya tidak menonton film di gedung bioskop. Bagi saya film di televisi sudah cukup menghibur. Hanya dengan berseragam kaos oblong dan sarungan saya bisa nonton film The Messengger atau Spider Man. Tak perlu keluar uang untuk membeli bensin atau snack. Juga tak perlu bermacet ria dan antri karcis.

Langkanya pertunjukan ludruk, wayang orang, dan wayang kulit bisa terkurangi manakala di layar televisi ada acara kesenian tradisonal tersebut. Gelak tawa menyaksikan dagelan para pelawak dan acara ‘Goro-goro’ di layar televisi juga sama dengan tertawa ngakaknya nonton di panggung beneran. Kini saya juga tak bernafsu membeli kaset, CD, atau VCD musik. Lha wong tiap hari ada acara musik di layar televisi kok.

Me time dengan menonton televisi merupakan favorit saya. Sejak dulu hingga kini, dan Insya Allah sampai nanti.




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. inda chakim says:

    sama pak de, 🙂

    sip, murah-meriah

  2. yudy ananda says:

    entah kenapa mendengar ‘me time’ jadi ingat film tarzan dulu yang ngomongnya blepotan

    “me tarzan, you jane” hehehe,

    eniwey kalau saya kira2 udah 4 tahunan lebih gak kebioskop, ya nonton tv pun kadang2 juga paling berita sama film layar lebar

    Saya tiap hari nonton Tv nich
    Aneka acara saya lihat

  3. felyina says:

    Me time saya apa, ya kalo gitu. Makan sushi, nonton drama korea, maen IG, maen FB, chatting ngalor ngidul sama temen-temen di WA atau Line, nonton youtube, mondar mandir di mall (sukur-sukur belanja pas ada duit), jalan-jalan ke tempat wisata, tidur, glibukan di kasur sambil baca novel. E lha….. me time ku kok banyak ya Dhe. Hihihihihi…. Kakehan me time, tibake. :p
    Saya juga nggak pernah menonton bioskop sejak punya anak, Dhe. Mungkin nanti kalo kedua anak saya sudah bisa diajak nonton bioskop, baru kami sekeluarga akan pergi menonton bioskop lagi. 5 tahun lagi mungkin. Hahahahahaha…. Well… tak apa lah, gak begitu suka nonton juga. Apalagi kalo yang ditonton bukan film action, berasa rugi gitu bayar mahal-mahal *medit
    Salam hangat. Stay happy and healthy ya Dhe

    Nonton film untuk menemani anak-anak juga oke
    Terima kasih. You too

  4. Me time ku, kalau bisa jalan-jalan dan kulineran hehehe, atau bisa baca novel tanpa diganggu apapun

    Saya dulu hobi banget baca novel, sekarang sudah berkurang

  5. Wia says:

    Bisa relax sambil baca buku di tempat tidur, ketiduran, doodling… baca buku lagi.. ;-D
    My me time

    Saya juga suka begitu
    Ketiduran selagi mbaca

Leave a comment