Rahasia Awet Langsing

Kini saya akan membuka rahasia awet langsing.

Tahun 1971 sampai tahun 1974 adalah masa jaya kelangsingan bodi saya. Dengan tinggi 170 cm, berat badan saya hanya 56 kg. Harap jangan curiga dulu bahwa rampingnya tubuh saya itu karena kurang makan atau nggak pernah ngemil. Bukan saudara-saudara. Saya benar-benar langsing tanpa diet ketat. Wong sebenarnya kala itu saya malah ingin agar bodi saya lebih berisi kok.




Saat itu saya sudah menjadi Taruna Akabri Darat. Jadwal kuliah di kelas dan aneka latihan cukup padat. Pola makan juga tertib dengan gizi yang baik. 4 sehat 5 sempurna tercukupi. Bahkan pada saat tingkat I kami benar-benar bernafsu untuk mengisi perut sebanyak mungkin. Maklum, kegiatan fisik yang bertubi-tubi membuat kami merasa lapar terus. Usai makan malam kami masih blusukan ke kantin adalah hal yang biasa.

Makanan yang masuk tak sempat mengendap menjadi lemak. Bagaimana mau jadi lemak wong setelah makan kami harus berlari menuju ke barak. Belum lagi jika di tengah perjalanan kami dinilai tidak tertib. Lari sambil ngobrol, langkah tidak sama, barisan acak-acakan, lupa menghormat atasan, dan tingkah polah kami yang tidak bagus dianggap sebagai sebuah kesalahan. Pelatih, pengasuh, dan para senior tak segan-segan memberikan tindakan fisik. Squat jump, push-up, sit-up, jungkir, berguling merupakan makanan sehari-hari. Tindakan fisik tak boleh dianggap sebagai suatu penyiksaan tetapi merupakan latihan fisik. Kami sepakat, walau tak jarang juga menggerutu.

.

Aku Pratar

Makan banyak tak sempat jadi lemak

.

Walaupun tingkat II sampai tingkat IV kewajiban lari sudah ditiadakan tetapi kegiatan itu tetap kami lakukan dengan penuh kesadaran. Selain itu pelajaran cross country, jalan cepat, longmars, halang rintangan, senam militer, beladiri militer, senam balok, turun tebing, snepring, renang militer, ilmu medan, patroli, dan latihan-latihan tempur tetap melibatkan olah dan gerak fisik.

Lembaga juga mengalokasikan waktu untuk kegiatan ekstra kurikuler misalnya olahraga permainan (voly, tenis, basket, dll) dan bela diri (judo, karate, pencak silat) Teman-teman yang masuk menjadi anggota Drum band Canka Lokananta juga melakukan latihan fisik khusus loch.

Badan agak berisi sedikit ketika kami melaksanakan cuti. Apalagi ketika cuti akhir tahun setelah kami naik tingkat. Kami bisa leha-leha di kampung halaman tanpa diganggu kegiatan fisik oleh senior, pelatih, dosen, atau pengasuh. Namun pipi gembil itu tak berlangsung lama. Setelah kembali cuti sudah ada jadwal terpasang di barak. Food mobility (jalan kaki atau cross country) biasanya menjadi santapan kami setelah kembali ke kampus.

Kegiatan fisik yang padat itulah biang dari kelangsingan tubuh kami. Konon, lari memiliki nilai aerobik tinggi. Dengan bangga saya katakan bahwa hanya 1 dari 100 taruna yang perutnya agak berisi. Itu pun masih bisa dicover dengan sebutan ‘faktor keturunan.’ Sit-up yang rutin sebagai kuncinya.

Pernah mendengar lagu Kereta Malam? Nah, istilah itu juga ada di kampus Akabri. Setelah apel malam kadang ada taruna yang lari dalam hubungan kompi atau batalyon. Lari sambil menyanyi merupakan salah satu pembinaan fisik, ada atau tidak ada kesalahan yang kami lakukan. Lari keliling komplek Akabri yang cukup luas ini memang enak untuk pengantar tidur. Kata senior loch.

Bagaimana kondisi bodi kami setelah lulus dan menjadi perwira? Teman-teman yang dinas di satuan tempur (utamanya dari corp infantri) pada umumnya masih memelihara kesamaptaan jasmani secara rutin. Mereka yang tugasnya how to find the enemy dan menghajarnya masih membutuhkan kegesitan untuk bergera di segala medan dan cuaca.

Berbeda dengan kami yang bertugas di satuan bantuan administrasi tak lagi ketat melaksanakan pembinaan fisik. paling banter hanya senam pagi atau lari secara berkala. Mungkin seminggu sekali. Olahraga tenis memang ada yang setiap hari tetapi lebih banyak yang seminggu 3 kali. Tak heran jika bodi kami sudah mulai berubah. Bahkan yang ekstrim kesibukannya di belakang meja bodinya sudah mulai membengkak. Tetapi ada juga yang tetap langsing karena faktor keturunan hehehehe.

Ada test kesemaptaan jasmani yang dilakukan secara berkala di tiap kesatuan. Hal yang sama juga dilakukan ketika kami mengikuti berbagai pendidikan. Itulah sebabnya selalu dianjurkan agar pembinaan fisik terus dilakukan dengan penuh kesadaran. Padatnya tugas satuan kadang bisa melupakan kegiatan olahraga.

.

Pola makan sehat

Setelah makan enak jangan lupa bergerak

.

Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah pentingnya olahraga secara teratur untuk kesehatan dan kebugaran jasmani dan ruhani. Tentu masih harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi fisik masing-masing. Untuk wanita bagus juga sih jika masih mau olahraga lari atau jalan cepat. Demikian pula untuk lansia seperti saya. Namun demikian perlu cek kondisi kesehatan sebelum memilih olahraga yang pas untuknya. Memaksakan diri melakukan suatu jenis olahraga yang tidak sesuai kemampuan bisa berakibat fatal.

“Abah jangan lagi loncat-loncat atau melakukan sprint. Cukup jalan kaki atau sepedahan saja secara rutin,” begitu nasihat seorang paramedis.

So, saya tak perlu merasa masih kuat seperti ketika masih berstatus taruna Akabri. Jika bola tenis sudah berada di luar jangkauan maka saya tak perlu lagi mengejarnya seperti dulu.




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Sari Novita says:

    olah raga dan ndak ngemiil itu kalo saya sih Pak De..dulu pun saya pernah gemuk karena banyak ngemil dan makan

    Sebaiknya begitu, seimbang

  2. zata ligouw says:

    Saya dulu rajin olahraga pakde, tapi akhir2 ini gangguan di perut saya muncul lagi, jadi nggak bisa olahraga berat, paling jalan kaki aja dan mau aktif yoga-an lagi 🙂

    Iya, sesuaikan kemampuan dan kesehatan

  3. jempolkaki says:

    yang penting gerak aja, gak harus olahraga berat

    Betul, jangan banyak duduk

Leave a comment