Rumah Bukan Sekedar Tempat Berteduh

Harga rumah

Jika ada yang berkata bahwa sebuah rumah bukan hanya sekedar tempat berteduh tentu ada benarnya. Orang Jawa Timur bahkan ada yang bilang: “Omah kok muk digawe ampiran ae,” yang artinya rumah kok hanya dibuat tempat singgah saja. Ya bisa saja, mungkin pemiliknya seorang bujangan yang super sibuk dengan kegiatan di luar rumahnya saja.

Bahkan bisa saja dikembangkan. Seorang suami yang memang pulang ke rumah hanya sekedar ganti pakaian atau mengambil sesuatu barang. Lalu hanya dalam hitungan menit nglayap atau keluyuran lagi di luar rumah. Baginya, mungkin rumah mewah itu hanya mempunyai nilai tangible yang tinggi tetapi minus nilai intangible. Waduh, kok lincip banget ngomongmu, Pakde. Lha kan memang begitu. Secara fisik, sebuah rumah beserta perabotannya harganya bisa milyaran rupiah. Tetapi nilai non fisik justeru minus. Tak ada aroma kedamaian, ketentraman, keceriaan, dan kebahagiaan di dalamnya.

Rumah bukan hanya sekedar tempat berteduh dari sengatan matahari atau guyuran hujan. Juga bukan hanya tempat berlindung dari serangan binatang buas, gangguan manusia, dan makhluk lainnya. Di dalamnya ada aktivitas manusia, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun antara manusia dengan Tuhannya.

Ketika sepasang anak manusia menikah dan menempati sebuah rumah maka ada aktivitas pembinaan rumah tangga di dalamnya. Pasangan pengantin baru ini berusaha menumbuhsuburkan rasa cinta dan kasih sayangnya. Manusia yang tentu mempunyai perbedaan dalam tutur kata, sikap, dan tingkah laku ini segera berusaha untuk menyesuaikan satu sama lain. Mereka selayaknya mengetahui bahwa menghilangkan perbedaan di antara keduanya adalah hal yang mustahil dicapai. Saling mengerti, menghormati, dan menghargai satu sama lain lah yang bisa mereka kembangkan.

Manakala di antara pasangan suami isteri telah hadir si buah hati maka kegiatan asih, asuh, dan asah mulai dilaksanakan. Kerepotan namun berbalut kebahagiaan mulai menghiasi rumah. Sang isteri yang sering bangun di tengah malam untuk mengganti popok dan menyusui anak mungkin membuat suasana menjadi agak berisik. Namun hal ini disikapi dengan bijak dan penuh pengertian oleh suaminya. Demikian situasi terus berkembang sepanjang perjalanan sebuah rumah tangga.

Home sweet home, kata orang barat. Baiti janati, rumahku adalah surgaku, kata yang lain. Jika diartikan lebih luas, tak ada tempat yang nyaman selain di rumah. Rumah sebagai sebuah aset, nilai tangiblenya mungkin hanya sekitar 50 juta rupiah. Tetapi nilai intangible, yang tak bisa diukur dengan angka, bisa menyebabkan penghuninya tersenyum. Dalam rumah yang tak mewah itu penuh dengan aroma cinta dan kasih sayang, ketenteraman, kebahagiaan, sabar dan syukur.

Sebaliknya, ada rumah mewah, harganya milyaran rupiah, tetapi penghuninya tak betah. Rumah bak istana, alih-alih ada kesejukan di dalamnya, yang muncul justeru api yang selalu membara. Tak ada hari bernama Selasa, Rabu, dan seterusnya. Yang ada hanya hari Senin, penghuninya saling ‘nyeneni’ atau saling memarahi. Suami galaknya bukan main, sementara isterinya bawel akut. Sang isteri hobi minum jamu galian cerewet, dan si suami seneng banget mengonsumsi jamu galian tempeleng. Anak-anak yang masih haus cinta dan kasih sayang malahan setiap hari ketumpahan imbas semprotan kemarahan orangtuanya.

“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai rumah juga ya, Mas,” tutur seorang isteri setibanya di rumah yang sederhana. “Iya, Bu. Seenak-enaknya di hotel berbintang tetap enakan berada di rumah sendiri,” sahut suami dengan penuh kegembiraan. Anak, menantu, dan para cucu menyambut gembira kedatangan mereka. Itulah gambaran sebuah rumah yang memiliki nilai intangible tinggi.

Kaum muslimin tentu sudah banyak yang mengerti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah” (HR Muslim no. 1300). Tentu akan lebih afdhol jika kaum muslimin bukan sekedar membaca tetapi juga memahami artinya lalu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita.

Home sweet home, baiti jannati, atau apa pun istilahnya, mengungkapkan perasaan manusia tentang rumahnya. Tak peduli seberapa besar, mahal, mewah, atau sederhananya jika dilihat dari nilai tangible. Yang mereka rindukan justeru nilai kenyaman, keamanan, kedamaian, cinta dan kasih sayang, serta kebahagiaan. Nilai intangible itulah yang menyebabkan manusia tak terlalu ingin berlama-lama berada di luar rumahnya.

Home sweet home, baiti jannati, bisa diwujudkan. Caranya: penghuninya meningkatkan kualitas keshalihan individual dan keshalihan sosial baik dalam rangka hablumminallah dan  hablumminannas. Tak bisa manusia hanya beribadah hanya untuk kepentingan akhiratnya saja. Ibadah untuk urusan dunia pun selayaknya dilaksanakan dengan baik, selaras, serasi, dan seimbang dengan untuk urusan akhiratnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [QS. Surat S. Al-Qashash (28): 77]

Semoga bermanfaat.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Mas Nuz says:

    Siap laksanakan, Ndan! 🙂

    Good

  2. Mbak Avy says:

    super sekali pakde

    Matur nuwun

  3. Tatit Ujiani says:

    Jos Dhe
    rumah bagi saya adalah dimana tempat saya pulang. Dan selalu merindu dengan segala isinya.

    Betul, kalau di rumah sudah nggak krasan ya gimana ya

  4. Inayah says:

    Mohon doanya pak Dhe sabtu ini aku mau survey rumah. Moga jodohh

    Aamin
    Yang gede ya

  5. siti hairul says:

    semoga rumah kita bisa menjadi baiti jannati ya Pakdhe, ta tambahi satu doa pakdhe kalau mau mengamalkan dari QS Almukminun:29. doanya Nabi Nuh agar diberi tempat yang berkah.

    Iya bener.
    Rumah harus berkah walau tak mewah ya

Leave a comment