Merah Biru Masa Kecilku

Merah biru adalah warna masa kecilku, ada plus-minusnya. Semua dipengaruhi oleh lingkungan pemukiman, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sahabat pasti sering mendengar kalimat: “Biasa, namanya juga anak-anak.” Begitulah kira-kira warnaku.

.

Sebagai anak tunggal hidup, ada sentuhan kemanjaan pada diriku. Bukan dalam bentukan gelontoran uang dan harta beda lainnya.Jaman itu ekonomi orangtua masih tergolong pas-pasan. Jika aku minta sesuatu, tak selalu seketika dipenuhi. Tetapi untuk urusan pendidikan Emak memang menempatkannya pada top priority.

Trauma dengan meninggalnya mbakyuku pada usia 2 tahun, Emak menjagaku dengan agak ketat. Walaupun Emak tidak berjenggot tetapi beliau selalu merasa kebakaran jenggot jika aku sakit. Kukira semua orangtua akan bersikap seperti itu jika buah hatinya kurang sehat.

Emak juga siap bertempur jika aku tersakiti, fisik maupun batinku. Suatu ketika Emak melihat aku dan kawan-kawan dikejar oleh penjaga tebu. Emak segera menuju TKP. “Memang anakku makan tebu berapa batang kok sampeyan kejar-kejar kayak maling?” Melihat Emak meradang, Skaut (mungkin dari kata Squad ya) yang masih tetangga itu langsung melakukan pemunduran, lepas-libat dengan lawannya yang bersuara halilintar hahahaha. Emak gitu loch.

Untuk mengamankan anaknya Emak memang tidak melaksanakan Turjawali (pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli) Tapi beliau menetapkan daerah terlarang bagi si ganteng ini. Sungai Brantas dan kota Jombang termasuk daerah yang belum boleh kukunjungi. Kota Jombang berjarak 8 km dari rumah. Walaupun lalu lintas belum sepadat sekarang tetapi Emak takut anaknya “ketabrak montor.” Sungai Brantas yang hanya berjarak sekitar 150 meteran dianggap tempat berbahaya karena bisa menghanyutkan anak bagusnya.

Bagaimana sesungguhnya raportku semasa kecil? Ini dia datanya. Masing-masing kuberi 3 contoh saja karena jumlah kata dibatasi oleh shohibul GA.

..

Rapor Merahku

Kuuraikan lebih dahulu agar para sahabat mengetahui bahwa masa kecilku juga ada nakal-nakalnya. Jangan ditiru!

1. Cuek Bebek Dengan Pekerjaan

Anak tunggal berjenis kelamin laki-laki pasti berbeda dengan anak perempuan. Saya jarang membantu pekerjaan orangtua. Ketika bapak lagi menyapu halaman saya cuek bebek, malah duduk nangkring saja. Wajah Emak langsung sengak.

2. Jahil-methakil Alias Usil

a. Menggangu orang yang membuat batu bata untuk kakek. Pada batu bata yang masih basah saya arahkan ayam betina dan anak-anaknya. Lalu saya gertak. Pasukan ayam lari tunggang langgang melalui gelaran bata yang masih basah. Jadilah bata berlogo ‘Ceker Ayam.’

b. Menggangu orang shalat di musala kakek. Kuambil kentongan kecil untuk mengganjal bokong orang yang sedang sujud. Ketika duduk di antara dua sujud jadi kedudukan deh sang kentongan.

3.  Maling Cilik

Saya beberapa kali ambil koin milik Emak yang berserakan di bawah kasur. Untuk jajan atau beli mainan. Emak kok tahu ya.

.

Rapor Biruku

1. Otakku cemerlang. Nilai raporku biru terus. Pernah sekali pelajaran berhitung diberi nilai 5. Langsung saya protes karena selama belajar tak pernah dapat angka merah. Pak Karnadi, guruku, langsung menggantinya dengan angka 7. Biru deh semua nilaiku.

2. Piawai memainkan harmonika, rebana, dan ketipung. Juga pernah main drama, dan menari ngremo pada pentas ludruk anak-anak.

3. Lulus terbaik waktu SD dengan nilai 30.Paling top di kelasku.

Alhamulillah, kenakalan sudah nggak berlanjut. Kehidupanku asyik-asyik saja. Menyangdang pangkat Brigjen, menjadi blogger, dan penulis buku itu oke banget, kan.

.

.

Tulisan ini Diikutsertakan Dalam Pena Cinta First Giveaway

.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. jelas oke banget sekarang Pakdhe…

    Lebih jos ya Jeng

  2. Mugniar says:

    Hihihi Pakdhe rupanya sejak kecil jail ya … pantesan ….

    Pantesan kreatif, maksudnya 😀

    Pwol, usil sampai sekarang

  3. wah Pakde piawai main harmonika 🙂 videoin dong pas pakde main harmonika. Di rumah ada harmonika, waktu jaman SD saya pengen beli aja gitu. Sampai sekarang masih gak ngerti cara mainkannya.

    Mudah kok hanya tipu dan sedot saja
    Lama-lama kan hafal lagunya

  4. inda fitri says:

    haiyaaahh waktu kecil trnyata pak de jahil abis yak..:)

    Pwol, ada mbalsem mata anak tetangga juga loch

  5. Waahhhh diliat dari fotonya pakdhe emang bintang kelas nih hehhehe

    Sayangnya di SD nggak ada hadiah untuk si bintang kelas hehehe

  6. Wehehe usil, jahil itu saya banget tuh pakde waktu kecil dulu. Btw ayuk pakde bertemu 😀

    Yuk, kapan, dan di mana?

  7. Rohmah Azha says:

    Wehhhh seru ini masa kecilnya pak…. heeee

    Sukses untuk GAnya ya pak… hee

    Sama2. matur nuwun

  8. Liswanti says:

    Emak memang luar biasa ya menjaga pakdhe. Seru banget pakdhe masa kecilnya.

    Terima kasih sudah ikutan GA saya.

    Terima kasih kunjungannya

  9. Salam kenal,
    Huebat tenan Pak Komandan. Sekarangpun tetep JUARA (giveaway) salute ..!
    Tuh jadi ortu jangan pobhia kalo bujang ciliknya nuakal mbethakil .. hahhahah
    Tapi tetep “pelajaran bekal hidup” yg utama.

    Betul sekali. Manusia bisa berubah

Leave a comment