Usaha Rumahan Mas Suyoko Meringankan Kerepotan Keluargaku

“Jika ada jalan mulus dan beraspal mengapa harus memilih jalan becek, berdebu, dan atau berbatuan.” Kalimat ini dilontarkan oleh senior saya ketika saya dan sahabat saya bonek (bondo nekat) memasak makanan sendiri. Kala itu kami masih berstatus bujangan dan tinggal di mess perwira di Balikpapan. Beberapa senior saya yang juga tinggal di mess ternyata memesan makanan dari jasa catering. Istilahnya ‘makan rantangan.’

Pulang dari kantor ketika mereka sedang menikmati makanan dalam rantang kami justeru baru mulai memasak makanan. Beuh, perut lapar dan keringat bercucuran karena panas kompor ternyata kurang nyaman. Akhirnya kami mengikuti jejak para senior dengan memesan makanan rantangan.

Kejadian mirip di atas terulang lagi. Dulu, Emak, saya, dan anak-anak lebih suka membuat kue sendiri dibandingkan dengan membeli kue di pasar atau di toko. Saya ingat betul, Emak sudah mulai sibuk menyiapkan kue lebaran saat puasa Ramadhan baru mulai. Kesibukan yang sama terjadi manakala Emak menikahkan saya. Aneka kue dan makanan untuk tamu disiapkan sendiri dengan dibantu tetangga. Riuh rendah suara alat-peralatan dan pembicaraan selalu mewarnai dapur.

Jaman berubah, musimpun bertukar. Emak, isteri, dan anak-anak saya sudah tak mau melalui jalan becek dan berbatu. Jika memerlukan kue untuk aneka keperluan kami tinggal memesannya di mas Suyoko tetangga kami. Kehadiran usaha kue milik teman saya sewaktu Sekolah Rakyat ini benar-benar meringankan beban saya sekeluarga.

Kapan  keluarga saya memesan kue kepada Mas Suyoko? Ini dia waktu yang kami manfaatkan untuk memesan kue basah atau kue kering di mas Suyoko.

1. Menjelang hari raya Idul Fitri. Biasanya kami pesan kue kering plus jenang madu mongso dan tape beras ketan.

2. Mempunyai hajat menikahkan atau sunatan cucu kami. Kami memesan kue untuk suguhan diletakkan di meja tamu dan untuk isi kotak untuk di bawa pulang.

.

Kue untuk suguhan tamu saat acara pernikahan atau sunatan

.

3. Acara keluarga misalnya syukuran kelahiran bayi, aqiqah cucu yang baru lahir. Biasanya kami memesan kue basah dan sedikit kue kering.

4. Selamatan memperingati wafatnya kakek, nenek, atau bapak. Para tetangga yang ikut tahlilan biasanya kami bawain nasi dan kue dalam kotak untuk dibawa pulang. Kami menyebutnya “Berkatan”

.

Goodybag alias berkatan berisi nasi dan kue kotak

.

5. Menyumbang tetangga atau kerabat yang akan mempunyai hajat. Ini kegiatan reciprocal karena para tetangga juga menyumbang kue saat kami menikahkan anak-anak.

6. Acara arisan pensiunan angkatan saya dan acara kopdar dengan blogger yang selenggarakan di kampung. Teman-teman lebih menyukai kue tradisional yang unik-unik guna mengenang masa kecil.

.

Aneka kue, bahkan tumpeng bisa di pesan di Mas Suyoko

.

Kue yang kami pesan di mas Suyoko beraneka ragam sesuai kebutuhan. Pada saat Lebaran kami biasanya memesan kue kering khas desa. Kuping gajah, kue tok, kue semprong, rengginang, kripik pisang, pastel, usus kering, dan cake (kami menyebutnya roti ban) kue kering juga kami pesan jika menyelenggarakan acara pernikahan atau sunatan seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Makanan lain yang tidak dibuat oleh Mas Suyoko kami membelinya di toko misalnya permen untuk anak-anak waktu lebaran.

Kue basah kami pesan untuk isi kotak ketika kami menyelenggarakan selamatan hari lahir, aqiqah, sunatan, pernikahan, tingkeban, peringatan 100 hari, haul, 1000 hari keluarga yang meninggal dunia. Jenis kue basah tersebut antara lain: nagasari, lemper, apem, mendut, ketan tetel, lemet, roti kukus, bikang, lumpia, kue procot, semar mendem, dadar gulung, dan lain sebagainya.

Mas Suyoko juga melayani pesanan kue untuk hantaran waktu acara lamaran atau mengembalikan lamaran. Termasuk juga kue-kue untuk dihidangkan di meja tamu saat acara walimatul urusy (resepsi pernikahan)

.

Ketan tetel aneka warna yang dipakai pada acara Tedak Siten(turun tanah) juga bisa dipesan di mas Suyoko

.

Perlu tumpeng? Pesan saja kepada Mas Suyoko

.

Usaha rumahan membuat kue yang dijalankan mas Suyoko ini bukan hanya mengurangi kerepotan saya sekeluarga tetapi juga meringankan kerepotan tetangga satu desa. Penduduk dari desa-desa se kecamatan dan bahkan penduduk dari kecamatan lainnya juga tak sedikit yang memesan kue dari mas Suyoko.

Dengan banyak pesanan kue tersebut Anda jangan lantas membayangkan bahwa alat peralatannya lengkap dan ruang masaknya bagus. Tidak saudara-saudara. Mas Suyoko dan keluarganya membuat kue bukan di ruang khusus tetapi cukup di dapurnya. Peralatannya juga hanya mixer, oven, cetakan kue, alat pemarut kelapa belaka, dan peralatan kecil lainnya.

.

Peralatan membuat kue yang sangat sederhana

.

Belum ada ruang khusus untuk memproduksi kue, cukup di dapur

.

Dalam perbincang dengan saya, Mas Suyoko sebenarnya ingin memiliki oven yang agak besar. “Harganya mahal dan listrik di rumah juga tidak mencukupi,” ujarnya. Selain itu sahabat saya ini juga ingin memiliki ruang khusus untuk membuat kue dan juga kios kecil untuk menjual kue buatannya. Tampaknya biaya masih merupakan kendala. “Wah saya tidak pernah menghitung berapa penghasilan tiap bulannya. Yang penting cukup untuk menafkahi keluarga saja.”

Beberapa tetangganya juga menyarankan agar di depan rumah di pasang papan nama agar lebih banyak yang mengetahui usaha rumahannya. “Nggak pakai papan nama saja sudah kewalahan melayani pemesan kue kok.” Begitu lugu dan lugas jawabannya. Tampaknya promosi dari mulut ke mulut dari konsumennya sudah cukup ampuh. Pesanan kue untuk perayaan ulang tahun, bawaan untuk acara lamaran, hajatan, lebaran, dan acara-acara tradisional terus mengalir.

Melihat kondisi tersebut saya mencoba melakukan simulasi dana yang bisa dipakai untuk memberdayakan sahabat saya ini. Saya memanfaatkan alat Simulasi Menabung Untuk Memberdayakan yang disiapkan oleh Bank BTPN. Saya mulai simulasi dengan mengisi nama dan email pada kolom yang tersedia. Lalu saya pilih bidang Culinary. Selanjutnya saya tekan tombol Login.

Muncul halaman baru untuk mengisi jumlah tabungan dan jangka waktunya. Sebagai seorang pensiunan penghasilan saya memang tidak terlalu besar sehingga untuk menabung juga tak bisa terlalu banyak. Untuk menabung saya ambil plafon yang paling minim yaitu Rp.500.000/bulan. Jangka waktu saya ambil 2 tahun.

Setelah tombol Lihat Hasil Simulasi saya tekan maka dana saya akan tumbuh menjadi Rp.12.617.443. Walaupun dana tersebut belum mencukupi untuk membuat ruang khusus membuat kue, kios, dan papan nama tetapi setidaknya saya sudah ikut andil memberdayakan usaha rumahan Mas Suyoko.

.

.

Mas Suyoko yang jago main kasti ketika Sekolah Rakyat mengaku menikmati usaha rumahan dengan membuat kue. Sayangnya sahabat saya ini belum bisa saya ambil fotonya.” Malu ach, belum mandi,” ujarnya. Hal senada juga disampaikan oleh sang isteri. “Cukup anak saya saja yang tampil mewakili keluarga.”

.

Putri Mas Suyoko yang kini menjadi andalan membuat kue

.

Ketika saya berbincang dengan mas Suyoko saya juga menyempat diri memesan kue Roti Ban Karamel. Ini saya lakukan bukan hanya sekedar untuk merasakan kue buatannya tetapi juga ingin mengetahui cara membuatnya dan bagaimana kinerjanya. Ternyata dalam waktu sekitar setengah jam kue pesanan saya tersebut sudah jadi.

Ini dia Roti Ban Karamel buatan putri Mas Suyoko yang sehari-harinya memang menjadi tenaga andalan untuk membuat kue yang dipesan oleh konsumen.

.

Proses pembuatan Roti Ban rasa karamel

.

Tampilan Roti Ban rasa karamel yang lezat

.

Walaupun pesanan roti dan makanan lain cukup banyak tetapi mas Suyoko mengerjakannya hanya dengan isteri dan anaknya saja. Paling hanya nambah satu tenaga lagi yaitu tetangganya sendiri. “Kalau pesanan kue banyak kami bisa bekerja mulai jam 4 pagi hingga jam 4 pagi hari berikutnya. Jadi semalam nggak tidur karena harus nglembur,’ kata mas Suyoko sambil tertawa terkekeh.

Bagaimana dengan harga kue dan cara pembayarannya? Mas Suyoko sangat fleksibel. Pemesan bisa membayar dengan secara kontan (cash) saat pemesanan, memberi uang muka dulu, atau membayar semuanya belakangan. Harga kue juga relatif murah, sesuai daya beli masyarakat pedesaan.

Menjelang lebaran mas Suyoko juga sudah sibuk membuat aneka kue karena biasanya banyak tetangga yang order.

.

Terima kasih Mass Market. Matur nuwun mas Suyoko. Kamu telah membantu meringankan keluarga saya dan juga para tetangga. Kami tak lagi melewati jalan becek, berdebu, atau berbatuan. Jalan aspal yang kamu bangun berupa usaha rumahan membuat kami tak perlu lagi bercucuran keringat untuk membuat kue, tumpeng, dan makanan tradisional lainnya.

Usaha Rumahan Mas Suyoko yang sudah dijalani puluhan tahun itu benar-benar telah meringankan kerepotan keluarga saya..

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

11 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Senang ya Pakde kita bisa terlibat membantu orang lain yg punya usaha kecil.. Kita aterbantu mendapatkan makanan yg kita inginkan.. mereka usahanya bisa berlanjut karena bertransaksi dgn kita..

    Iya, saling bantu

  2. Jiah says:

    waaa di kampungku nggak ada lelaki yg ngurusin dagang roti. keren bgt ini mas suyoko dan keluarga

    Perlu diajak tuh laki2 mbuat kue

  3. khairiah says:

    Wah keren banget mas suyoko, semoga usahanya makin sukses, ingin icio kue2 buatan mas suyoko

    Amiin
    Saya sering sekali pesan kue dari sahabatku itu

  4. Rani R Tyas says:

    sepertinya usahanya jadi usaha turun menurun ya Dhe..

    Akan begitu karena anaknya Mas Suyoko yang menjadi andalan untuk membuat kue
    Dulu Ibunya yang ahli tetapi anaknya semakin banyak pengetahuannya tentang aneka kue

  5. evrinasp says:

    Mas Suyoko, kuenya enak mesti soale sering jadi langganan pak dhe, masih kecil ya ruang produksinya dan menyatu dengan rumah, semoga nanti usahanya semakin besar, syukur bisa di toko dan punya kemasan ada PIRT dan label halal, tapi tanpa itu semua sudah punya langganan sih ya pak dhe

    Pelangggannya sudah banyak sekali
    Sayang alpalnya masih kurang memadai

  6. Zata says:

    Wahhh coba rumah saya deket rumah mas Suyoko ya pakdhe, pasti saya juga bakal sering pesan buat arisan dan konsumsi sehari2 🙂

    Kuenya enak2 dan kumplit dengan kue tradisionalnya

  7. Elsa says:

    orang orang seperti mas suyoko itu banyak ya pakde
    memulai usaha dari dapur, dalam skala yang saaaaangat sangat kecil
    tapi siapa kira, ada begitu banyak pelanggan yang terpuaskan
    itu kalo dihitung pahalanya pasti buuuuuanyaaaak ya pakde

  8. Dolly Putra says:

    tulisan dan ulasan yang menggugah. semoga menang ya, pak.

  9. bengkel says:

    asyik tinggal makan ga perlu repot

    Betul Mas

  10. susanti dewi says:

    Semoga usahanya pak Suyoko tambah maju. Aamiin

    Amiin, terima kasih

  11. Galih says:

    Senang sekali bisa punya usaha yang mandiri, Semoga menginspirasi banyak org khususnya yang mau berkembang dan sukses melalui bisnis rumahan.

Leave a comment