Teks

Hoax di Padang Kurusetra

“Aswatama mati!”
Suara Bima menggelegar di Padang Kurusetra, medan perang Bharatayudha antara Pandawa dan Kurawa. Berita duka cita ini akhirnya sampai ke telinga Drona, ayah Aswatama. Sang begawan yang kala itu menjabat sebagai panglima perang pasukan Astina mendadak linglung, lemas, dan tak berdaya. Nafsu perangnya rontok seketika.

“Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu tapi jangaaaaaan kau bunuh Aswatama anakku.” Drona bersenandung sedih, mengadaptasi lirik lagu dangdut berjudul Pasrah yang dipopulerkan oleh Hamdan ATT.

Kepada setiap orang yang melintas di depannya Drona selalu melempar pertanyaan: “Benarkah Aswatama anakku mati?” Di antara mereka ada yang menggeleng, ada yang mengangguk, dan adapula yang mengangkat bahu.

Dapat dimaklumi, dalam suasana perang besar seperti ini tak sedikit anggota pasukan yang morilnya turun. Bayangan kematian dirinya disertai wajah isterinya yang kemungkinan akan menjadi janda muncul bergantian. “Ngapain ngurusi Aswatama, wong saya saja belum tentu masih bisa makan nasi pecel besok pagi,” begitu barangkali pikir mereka.

Bahaya Berita Hoax

Teriakan Aswatama mati terus berkumandang dari kubu Amarta. Yel-yel bersahut-sahutan ‘Hidup Bima!’ bak duri binatang landak yang mengorek-ngorek telinga sang begawan. Pihak istana Kurawa pun tak memberikan keterangan pers untuk mengklarifikasi kematian anak kesayangan Drona.

Drona kemudian ingat akan ucapannya: “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Bokap Aswatama dengan sembunyi-sembunyi bergegas menjumpai Yudhistira, raja Amarta yang terkenal jujur.

Ketika Drona minta konfirmasi tentang kematian Aswatama, raja Amarta yang tak pernah berbohong itu menjawab dengan singkat: “Aswatama mati.” Kalimat pendek ini semakin membuat Drona yakin bahwa anak kesayangannya telah tiada. Drona patah semangat, jabatan sebagai senopati pasukan Astina tak diemban dengan baik.

Ketika Patih Sengkuni bertanya tentang formasi apa yang akan dipasang pada pertempuran esok hari Drona menjawab dengan cuek bebek. “Terserah. Mau formasi Supit Udang kek, Garuda Melayang kek, formasi Paruh Lembing kek terserah saja.” Sang begawan bahkan melemparkan terompah ke arah Sengkuni ketika patih berposur kurus ceking itu dengan nada slengekan bilang: “Ye, biasa aja kaleee, nggak usah nyolot gitu.”

Pada akhirnya Drona juga gugur dibunuh oleh Drestadyumena. Kematian sang komandan pasukan membuat Korawa kocar-kacir sehingga dapat dengan mudah dikalahkan oleh Pandawa.

Benarkah Aswatama mati? Benar, tetapi yang mati adalah seekor gajah, bukan Aswatama anaknya Drona. Gajah bernama Aswatama itu sengaja dibunuh oleh Bima atas perintah Sri Kresna, penasihat perang pihak Pendawa. Trik ini dilakukan karena Pandawa agak repot menghadap Drona yang teramat sakti dan ahli siasat perang. Panglima peeang Korawa itu harus dilumpuhkan, begitu pikir Kresna.

Berarti Yudhistira tidak jujur donk. Ah, enggak juga. Kan raja Amarta itu hanya menjawab ‘Aswatama mati’ tanpa menjelaskan apakah yang mati itu orang atau gajah. Drona yang sedang kalut tak minta klarifikasi lebih jauh kepada suami Drupadi itu.

Hoax di Padang Kurusetra adalah sebuah cerita. Namun berita tidak benar semacam itu juga sering dilansir oleh orang atau sekelompok orang di dunia nyata. Mereka yang malas mencari tahu kebenaran langsung percaya dan bahkan langsung menyebarkannya dengan menggunakan aneka cara. Termasuk di dalamnya penggunaan media sosial.

Berita hoax bisa menimbulkan dampak luar biasa bahkan dapat membuat gonjang-ganjing suatu negara. Hoax jika dibiarkan bisa merugikan orang perorangan, organisasi, partai, institusi, bahkan perusahaan.

Tak heran jika baru-baru ini di tanah air kemudian muncul gerakan anti hoax yang bertujuan untuk membasmi berita atau informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya itu.

I’ve never written a song in my life. It’s all a big hoax.

Elvis Presley

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

14 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. vizon says:

    Dalam istilah agamanya disebut ‘tabayyun’ ya Pakde.
    Perlu upaya untuk meneliti lebih dalam tentang berita yang sampai, terlebih di masa “perang kepentingan”, berita yang salah bisa dibuat benar, dan sebaliknya berita benar bisa dibuat salah. Semoga kita terhindar dari perbuatan menyebar berita hoax ya Pakde..

    Iya Mas
    Banyak yang langsung share padahal belum dicek kebenarannya

  2. cumilebay says:

    Semoga orang2 semua sadar kalo hoax ini menyesatkan, dan mulai bijak untuk mensharing berita atau informasi

    Jangan terpancing untuk share

  3. suka gemes nggih Pakde kalo ada yang share berita hoax,

    Yang penting jangan ikut share

  4. Kang Jawal says:

    Wah, andai saja beneran ada judul wayang seperti itu sepertinya bakalan seru.

    Rame lakone Mas

  5. Anton says:

    Memang Yudhistira tidak berbohong, tetapi dia tidak mengungkapkan kebenaran. Hoax juga bisa diartikan menutupi kebenaran yang ada.

    Oleh karena itu, kalau dalam ceritanya Kereta Perang si sulung dari Pandawa biasanya tidak menyentuh tanah ketika berjalan. Itu karena dia mendekati tahap “dewa” karena tidak pernah berbohong. Tetapi, sejak kejadian ini, keretanya langsung turun menyentuh tanah.

    Sesuatu yang melambangkan Yudhistira hanyalah manusia biasa yang “juga” bisa berbuat “kesalahan” demi kepentingannya.

    Bukan begitu pakde?

    Betul. Sangat disayangkan, seorang raja sampai mempertaruhkan negara dan isteri untuk main judi

  6. yuni says:

    Banyak berita hoax d medsos,….sperti like dan amin….

    Iya

  7. Saya suka banget sama tulisan Pakdhe yang ini. Selain nyeritain wayang dengan cara gaul, sekalian jadi pengingat dan pelajaran buat banyak orang. Iya ya Pakdhe, di zaman wayang, strategi menyebar hoax saja sudah ada e… Baru ngeh sayanya!

    Iya, tipu2 juga banyak untuk mencapai tujuan

  8. perlu smart action untuk memenangkan pertarungan. apalagi perang melawan guru dan saudara sendiri

    Iya, Arjuna juga sempat grogi, adem panas ketika melihat yang dihadapi adalah eyang, paman, guru, dan saudara-saudaranya. Untung ada Kresna yang mampu membangkitkan semangat perangnya

  9. Luar biasa lakonnya pakdhe cholik, izin share pakdhe….

    Monggo Jeng
    Matur nuwun

  10. oRiN says:

    Enak soalnya Pakdhe. Tinggal baca judulnya, captionnya, gak perlu klik buat baca lengkapnya, langsung share…

    Kalau hoax baru mringis ya hahahaha

  11. MD Ayomi says:

    Masih seru ceritanya pakde.. tp udahan.. hahhaa.. hoaxnnya kurang panjang, apalagi kalau sudah ditambah bumbu.. lebih sedap. 😀

  12. indah nuria says:

    Harus cermat menyaring berita dan mencernanya dengan akal sehat ya pakdhe…gemeeeees aku kalau liat berita ngg bener tapi terus dishare. Semoga kita makin bijak dalam menggunakan media sosial. Happy 2017, pakdhe…

    Hoax sudah sada sejak dulu kala

  13. […] tersenyum cuek-bebek sambil mengamati timeline media sosial di ponselnya.” Ah itu mah berita hoax. Pulang yuk, mau ke pasar sebentar. Kang Yudhis pengin dahar ayam panggang plus lalapan […]

  14. Kita harus bijak dalam membuat keputusan, tidak boleh tergesa gesa apalagi sampai terbawa emosi

    Agar tak salah mengambil keputusan

Leave a comment