Satu Kaki di Penjara Kaki Yang Lainnya di Alam Baka

Mbah Muslim sedang membersihkan musala ketika Cak Ngaderi datang dengan wajah bermuram durja. “Ada masalah apa lagi nih si anak,” batin Mbah Muslim.

“Assalamu ‘alaikum, Mbah.”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Ada masalah apa lagi, Ri?” Mbah Muslim langsung menembak.

“Ini seperti peribahasa dalam bahasa Jawa, anak polah bapak kepradah, Mbah.”

“Apa saja kelakuan anak yang menanggung orangtuanya,” sahut Mbah Muslim menerjemahkan arti peribahasa. “Ada apa dengan anakmu, kebut-kebutan lagi?”

“Lebih parah dari itu, Mbah.” Cak Ngaderi tampak sedih banget. “Semalam anak saya ditangkap polisi.”

“Mengedarkan narkoba atau terlibat kekerasan sexual?” Mbah Muslim kadang suka langsung mengaitkan kejadian yang satu dengan kejadian yang sedang ngetren.

“Tidak seberat itu sih tapi tetap saja membuat saya malu sekaligus khawatir. Apalagi beberapa anak muda ikut menulis status nyinyir di media sosial.”

“Nyinyir bagaimana?”

“Mereka bilang ‘siapa dulu donk bokapnya?’ Itu kan nyindir dan sekaligus menampar saya, Mbah. Apalagi status itu dibaca, dikomentari, dan dishare ratusan pengguna medsos.”

“Waduh, status tentang kamu dan anakmu jadi artikel viral donk. Sebenarnya apa yang dilakukan anakmu kok sampai diseret ke kantor polisi?”

“Ah, istilahnya itu loch. Masa di seret, emangnya anak saya kambing gitu?”

“Iyalah, dibawa, maksud saya.” Mbah Muslim menahan tawa.

“Dringo, anak saya, menulis status di media sosial berbunyi: Kadus galak tur clutak, uang pembangunan desa dibajak untuk wanita piaraannya yang kondenya gede sak roda becak. Rupanya status itu dibaca oleh Rairisy anak Pak Kadus. Tak ayal Rairisy menuduh status anak saya amoral, asosial, memfitnah, pembunuhan karakter, dan mencemarkan nama baik ayahnya secara masif dan sistemik. Status itu menjadi ramai karena ada yang pro dan kontra.” Mbah Muslim mlongo mendengar penuturan sahabatnya yang terdengar runtut dan kekinian tersebut.

“Pak Kadus sendiri sudah tahu masalahnya?”

“Sudah, Mbah. Saya kira anaknya yang memberitahu. Itulah sebabnya beliau lalu melaporkan kasus yang juga dianggap sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan itu ke Polsek.”

“Semalam saya sudah minta maaf kepada beliau tapi Pak Kadus tak merespon dengan baik. Sambil menunjukkan muka berak beliau berkata: ‘Makanya anak itu jangan dijejeli uang, handphone, atau sepeda motor saja. Ajari anakmu dengan etika dan sopan santun agar akhlaknya baik.” Airmata Cak Ngaderi tampak mengambang di matanya.

“Mungkin semalam Pak Kadus masih terbawa emosi. Jadi harap maklum. Nanti kalau hati beliau sudah sejuk kamu sowan lagi ke rumah atau kantornya lalu minta maaf lagi ya. Btw, apakah kamu pernah mendengar bahwa Pak Kadus memakai uang pembangunan desa untuk mengurusi wanita simpanannya?” Mbah Muslim mencoba melakukan test the water.

“Saya kok nggak pernah mendengar isu ngeri-ngeri sedap itu, Mbah.”

“Bagaimana dengan wanita simpanannya itu?” Mbah Muslim yang pernah kursus intel itu melanjutkan pancingannya.

“Saya juga tak pernah mendengarnya.”

“Kamu nggak bertanya kepada anakmu asal-muasal gosip itu sampai ditulis di media sosial?”

“Ketika saya tanya Dringo menjelaskan bahwa berita itu katanya dari temannya. Sedangkan temannya juga hanya menduga-duga saja.”

“Waduuh, lha kabar angin yang belum jelas sumbernya kok sudah ditulis di media sosial sih. Pantas kalau Pak Kadus marah besar. Saya sendiri juga nggak pernah mendengar isu itu.”

“Lalu saya harus bagaimana, Mbah?”

“Tak ada jalan lain kecuali minta maaf kepada pak Kadus. Syokur jika beliau mau mencabut pengaduannya ke Polsek.”

“Baik, Mbah. Saya juga mohon bantuan doanya, syokur jika Mbah Muslim juga ikut membantu saya dengan melobi Pak Kadus agar kasus ini tidak diteruskan.” Cak Ngaderi mengatupkan kedua tangannya dan diletakkan di depan dada.

“Saya akan mencobanya. Ini pelajaran bagi kita semua, Ri. Internet, termasuk media sosial di dalamnya, memang ada manfaatnya tetapi juga tak sedikit mudharatnya. Kita, utamanya para remaja, hendaknya berhati-hati dalam menulis status atau berkomentar di media sosial. Termasuk memasang foto atau gambar orang lain. Jangan sampai karena keisengan, kelalaian, dan candaan kita berakibat buruk kepada kita dan orang lain.”

“Iya, Mbah. Saya akan wanti-wanti berpesan kepada anak-anak dan keponakan agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial.”

“Harap diingat, jika kita tidak cerdas menggunakan media sosial itu sama halnya meletakkan kaki kiri di penjara dan kaki kanan di alam baka.”

“Hahhhhh. Mbah Muslim kok nakut-nakuti sih!” Cak Ngaderi keder mendengar warning Mbah Muslim.

“Ya iyalah. Jika menebar kejahatan atau keburukan di media sosial mungkin orang yang menjadi sasaran keburukan akan menyeret pelakunya ke meja hijau. Jika terbukti bersalah maka terhukum akan masuk penjara.”

“Lha kok sampai ke alam baqa segala itu apaan maksudnya?”

“Nah, jika orang yang menjadi sasaran fitnah merasa dipermalukan atau dicemarkan nama baiknya getem-getem dan emosi mungkin tidak melaporkan kasusnya kepada polisi tetapi main hakim sendiri. Kalau hanya ditonjok atau digibeng sih masih mending. Lha kalau dianiaya terus diglundungkan ke jurang nan dalam kan bisa koit dan langsung pindah ke alam baqa.” Melihat ekspresi wajah Mbah Muslim yang tampak biasa-biasa saja itu Cak Ngaderi tambah ciut nyalinya.

“Untung Pak Kadus masih waras,” gumam Cak Ngaderi sambil membayangkan postur tubuh Pak Kadus yang tinggi besar dan berkumis sak kepel itu.

“Kok nglamun, Ri. Pasti membayangkan satu kaki di penjara kaki yang lainnya di alam baka ya.” Mbah Muslim menepuk pundak sahabatnya. “Pesankan kepada anak-anak agar menggunakan media sosial untuk menebar kebajikan. Itu lebih aman dan nyaman.” Mbah Muslim menyorongkan sebuah buku berjudul Yuk Ibadah di Dumay. “Suruh anak-anak baca buku ini.”

“Siap, Mbah.”

Buku bagus untuk remaja




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

12 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. adi pradana says:

    Musti hati2 ya pakdhe kalo update status di sosmed. Bener, satu kaki di penjara kaki yang lainnya di alam baka… Semoga kita bisa lebih bijak…

    Apalagi kalau ada yang nekad minta ganti kerugian immaterial sebesar 5 trilyun hahaha

  2. Mugniar says:

    Medsos memnag mudah bikin orang kalap. Seolah milik sendiri padahal bisa dengan cepat tersebar ke mana2 (jadi viral) ya Pakdhe

    Iya, apalagi yang saling menyerang satu sama lain
    Pengikutnya makin banyak

  3. cputriarty says:

    makanya saya terkesiap dan lebih diingatkan untuk terus hati2 membaca “Mulutmu, Harimaumu..hehehe

    Yup, gara-gara mulut bisa masuk bui ya

  4. barhan says:

    iya pa, jangan mudah terprovokasi di medsos, apalagi ikut menyebarkannya untuk masalah negatif….di sisi si dalang, bisa jadi hanya untuk meningkatkan trafik situs atau akun medsos nya.
    biasanya kita cepat terpengaruh dengan judul, judulnya memprovokasi……, tanpa dibaca dulu isinya lalu ikut eyel-eyel ngamuk……

    Apalagi sekarang musim grup-grup mendukung ini-itu je

  5. Hanan M says:

    Harus bisa mengelola dan mempergunakan sosmed dengan baik ya pakde.. akan lebih baik jika hanya menuliskan dan membagian hal2 yang bermanfaat

    Betul, lebih aman dan nyaman menebar kebaikan

  6. Dani says:

    Ah, PakDhe, terimakasih banyak untuk pengingatnya. Bener juga ya PakDhe, kalo tidak bisa menjaga ucapan di dunia maya sama aja langsung naruh satu kaki di penjara dan satu kaki di alam baka. Hiks. Sekali lagi maturnuwun dan salam hangat untuk artikelnya PakDhe 🙂

    Di alam reformasi kan orang bisa macam2 ya

  7. Evi says:

    Biar separo kaki tidak di alam baka dan separo lagi tidak di neraka kita Pelabuhan Dumay itu seperti di dunia Sebenarnya ya Pakde. Baik di sosial media baik pula di Kehidupan sebenarnya

    Betul sekali.
    Hati2 agar tak masuk penjara

  8. nova says:

    status bisa nyeret k penjara dan neraka ya..pak de..

    tapi saya suka nasehat… anak jangan cuma dijejali harta benda tapi juga etika….

    Kebanyakan dijejali harta malah manja dan malas bekerja

  9. Pakdhe, aku makin hati-hati komen di medsos. NIat baik bisa jadi diterjemahkan lain. Tapi aku agak aneh aja kalau baca ada status teman menjelek-jelekkan orang lain (bukan aku) di medsosnya. Mengap anggak menyampaikan langsung aja ya. Makasih sharingnya ya pakdhe

    Lebih baik saling menjaga agar tak heboh

  10. DollyPR says:

    Nah iya Pak Dhe,
    Terlalu banyak orang di medsos yang menganut mahzab “komen dulu, cari bukti kalo ingat”
    Lalu saat diingatkan malah ngeles, “ah yang lain juga begitu kok!”
    Hadeeuh kok malah mengikuti contoh yang salah dan gak mengakui kesalahan.
    Secara sadar mengikuti yang salah aja sudah merupakan kesalahan, kok.

    hahaha..iya Mas
    Kadang hal yang nggak bagus malah dishare sana-sini

  11. inda chakim says:

    quote nya mbah muslim bnr2 sesuatu..
    kulo ngge klok mau nulis status di medsos, kudu berpikir sekian kali de. takut ada yg tersungging.

    Iya, jangan sampai dilabrak orang

  12. Kita memang harus ekstra hati-hati dengan media sosial ya Dhe.. Apalagi menuliskan yang belum tentu kebenarannya. Ujung-ujungnya malahan jadi fitnah. Kalo udah menfitnah orang, ngeri, deh! Katanya bakalan jadi dosa jariyah. Dosa yang akan mengalir terus. Naudzubillah.

    Betul sekali. Lebih baik menebar kebaikan, lebih aman dan nyaman.

Leave a comment