Jangan Mencela Demam

Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabdaJanganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.“ [HR. Muslim 4/1993, no. 2575]

Setiap anak manusia pada umumnya pernah terserang demam. Mulai saat balita, ABG, remaja, dewasa, sampai manula. Orang kaya, agak kaya, dan yang kurang kaya juga pernah demam. Saya pun pernah mengalaminya.

Terakhir saya menderita demam sekitar sebulan yang lalu. Konon, demam itu bukan penyakit tetapi semacam efek dari sesuatu yang kurang beres dari tubuh kita. Mungkin ada virus tertentu yang bisa menimbulkan demam. Kekurangan atau kelebihan sesuatu dalam tubuh kita juga bisa menimbulkan demam.

Walaupun bukan penyakit, tetapi demam dirasakan agak mengganggu. Kadang disertai pusing, kadang tidak. Suhu badan agak meningkat, tubuh malah menggigil seolah kedinginan.

Reaksi manusia terhadap demam beraneka ragam. Ada yang diam, ada pula yang nggruguh (tubuh menggigil sambil mulutnya bergumam) Ada yang mencoba minum pil atau tablet ada pula yang mengonsumsi minuman atau makanan tradisional yang diyakini bisa menyembuhkan demamnya. Tak sedikit yang kepala atau dahinya dikompres dengan kain basah. Tujuannya sama yaitu agar demamnya segera mereda. Jika demam tak kunjung reda barulah kita berangkat ke poliklinik, Puskesmas, atau ke tempat dokter praktik.

Hadits yang saya kutip di bagian awal artikel ini untuk mengingatkan diri saya sendiri bagaimana cara menyikapi demam. Syokur jika bermanfaat bagi kaum muslim lainnya. Bahwa manusia tetap harus berusaha untuk mengobati demam tetapi jangan mencelanya. Di balik rasa yang kurang nyaman tersebut ternyata demam bisa merontokkan dosa manusia. Kesabaran dan keikhlasan lah kuncinya.

Hadits di atas juga diperkuat dengan hadits lainnya. “Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah dengan hadits di atas lalu manusia tidak berusaha untuk mengobatinya? Tentu saja tidak. Manusia tetap harus berikhtiar agar kesehatannya bisa pulih kembali. Dengan badan yang sehat maka manusia bisa meningkatkan kualitas ibadahnya. Jika kondisi tidak sehat kaum muslim memang bisa melaksanakan sholat sambul duduk, berbaring, atau hanya dengan isyarat saja. Namun tentu lebih afdhol jika kita bisa melakukan sholat secara sempurna, bukan.

Dari sisi medis, dokter atau perawat sering memberi advis agar manusia tidak meremehkan sebuah penyakit. Demam misalnya, jangan dianggap enteng. Di balik demam mungkin ada sesuatu yang lebih serius yang jika terabaikan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. Ini pernah saya alami.

Demam yang menyerang saya seperti biasanya saya obati sendiri dengan minum obat penghilang demam. Tetapi kali ini demamnya agak berbeda. Setelah sembuh ternyata demam itu kambuh lagi. Obat yang saya minum tidak meredakan demam sehingga saya berobat ke sebuah klinik dekat rumah saya.

Saat berhadapan dengan perawat saya mengatakan: “Pak, saya kok jadi teringat sebuah status di Facebook yang ditulis oleh sahabat saya. Bunyinya:’ Tuh betul kan.Penderita memang tidak merasakan apa-apa tetapi setelah dicek ternyata positif gejala demam berdarah.” Mendengar ucapan tersebut perawat langsung berkata:” Kalau begitu sebaiknya kita cek darah saja, Bah.” Saya menyetujuinya. Darah saya diambil untuk diperiksa. Saya diminta untuk menunggu beberapa saat.

Dua puluh menit kemudian perawat memanggil saya untuk masuk ruangannya. Dari hasil pemeriksaan darah tersebut diketahui bahwa trombosit saya turun ke angka 79.000. Sambil menunjukkan tabel saya diberitahu bahwa trombosit darah saya kurang dari nilai normal yaitu 150.000 – 450.000. “Abah saya sarankan untuk rawat inap agar bisa dilakukan perawatan yang lebih intensif sehingga trombosit darah bisa naik.” Pulang dari klinik saya langsung berangkat ke rumah sakit di kota Jombang.

Singkat kata, saya di rawat di rumah sakit selama 5 hari. Selama perawatan saya diberikan cairan infus, suntikan untuk lambung, dan mual. Saya juga diberikan obat untuk dikonsumi selama perawatan. Ketika dokter mengijinkan saya pulang posisi trombosit saya sudah berada pada angka 239.000. Ini berarti sudah normal. Anjuran dokter saya harus mengurangi aktivitas (banyak istirahat), jangan mengonsumsi makanan pedas dan asam, minum yang banyak, dan makan cukup. Suhu badan saya selama perawatan berkisar antara 36 derajat, kadang sampai 38 derajat. Isteri saya yang setia menunggu di rumak sakit kadang ikut membantu mengompres kepala saya dengan handuk basah.

.

Saya dirawat di RS. Airlangga Jombang

Teman pensiunan dan warakawuri membezuk saya di Rumkit Airlangga-Jombang

.

Mengetahui trombosit saya kurang dari nilai normal sepupu saya membantu membuatkan jus jambu batu yang isinya merah, ada yang membawa sari kurma, dan susu kental cap Bear Brand. Ada juga teman yang menyarankan agar saya minum air rebusan daun ubi jalar. Semua saya ikuti. Saya bahkan minta tolong menantu saya untuk mencarikan Angkak. Semacam beras merah yang katanya juga bagus untuk meningkatkan trombosit darah.

Dokter juga menyarankan agar saya melakukan pemeriksaan USG. Hasil USG ternyata baik. Alhamdulillah.

Kini saya masih rajin minum susu cair. Padahal saya agak kurang suka minum susu. Tetapi demi kesehatan maka susu cair yang dibelikan oleh sepupu saya selalu saya minum. Hanya saja, saya selalu menahan nafas setiap minum susu tersebut. Makanan pedas dan asam masih saya hindari agar lambung saya tetap terjaga dengan baik.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manusia sebuah penyakit maka DIA juga menyertakan obatnya. Jika obat yang kita konsumsi pas maka Insya Allah kesembuhan akan terjadi. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Memahami janji Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana saya uraikan di atas maka selayaknya saya bisa menerima dengan ikhlas dan sabar atas semua ujian dan cobaan dari-Nya. Tentunya saya juga harus berupaya untuk berobat disertai doa yang tak putus-putus agar kesehatan saya bisa pulih kembali.

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu memberikan ujian dan cobaan kepada hamba-Nya untuk mengetahui seberapa besar kadar keimanannya.

Namun demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengingatkan kepada hamba- Nya bahwa apa yang menimpa manusia juga bisa disebabkan karena ulah manusia sendiri. Misalnya, sudah tahu jika makan jeroan binatang itu tidak baik bagi kesehatan tetapi toh tidak sedikit yang mengonsumsinya karena rasanya enak. Minuman berakohol itu bisa memabukkan dan orang yang mabuk itu bisa melakukan apa saja. Betapa masih banyak manusia yang mengonsumsi arak, minuman polosan, dan lain sebagainya.

Mari kita simak firman Allah Subhanahu wa Taala yang artinya : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Tak usahlah berbangga diri jika manusia mampu makan sambal dengan cabai 23 buah. Tak ada orangtua yang mengacungi jempol jika semalam anaknya bisa minum satu kerat minuman keras. Manfaatnya tak ada tetapi mudaratnya sudah pasti.

Menutup artikel ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada isteri, anak-anak, menantu, para cucu, tetangga, kerabat serta sahabat, di dunia nyata maupun dunia maya atas segala perhatian dan doanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda semua berlipat ganda. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

..

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Alhamdulillah segera tertangani ya Pak Dhe. Waktu itu saya juga ga kerasa…malah masih jalan ke RS sendiri, tau-tau panasnyabudah 39 dan gejala DB serta positif Tifus

    Iya, memang harus segera ditangani jika trombosit drop

  2. Ipeh Alena says:

    Dari rasa sakit, manusia belajar ya Pakde, buat bersyukur, muhasabah dan banyak hal. Allhamdulillah Pakde dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan menyayangi dengan tulus, subhanallah itu nikmat tiada duanya kayanya ya Pakde 🙂

    Semoga Pakde dan keluarga sehat walafiat terus yaaa

    Alhamdulillah
    Matur nuwun atas perhatian dan doanya

  3. Risa says:

    Semoga sehat selalu, yaa, Pakde!

    Aamin
    Matur nuwun atas perhatian dan doanya

  4. Owalah, Pakde ini demam trombositopenia. Untung sudah sembuh ya Pakde. 🙂

    Alhamdulillah Jeng

  5. Alhamdulillah sekarang sudah segar bugar lagi ya Pakdhe. Konon katanya ketika kita sedang diuji penyakit, Allah sedang menggugurkan dosa-dosa kita ya pakdhe… 🙂

    Bukan konon tapi ada dalilnya
    Matur nuwun

  6. Syukurlah pakdhe cepat ditangani dan segera membaik.
    Bulan Juni lalu anakku yang ke 2 masuk RS saat trombosit sudah 26.000, angka yang kritis. Duh ngeri banget, takut dia pendarahan pakdhe, syukurlah akhirnya bisa pulih kembali.

    Wah lebih rendah dari saya ya
    Semoga selalu sehat

  7. Yati Rachmat says:

    Aamiin, Pakde Cholik, semoga Pakde selalu diberi keberkahan kesehatan yang paling prima.

    Aamin, matur nuwun Mbak

Leave a comment