Jangan Risaukan Pahalamu Wahai Isteriku

Mbah Muslim yang sedang bersiap pergi ke sawah kaget melihat Jarnobae, sahabatnya satu kelas waktu di Sekolah Rakyat datang.

“Assalamu alaikum, Slim.”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Datang dengan wajah kecut seperti mangga muda pasti lagi bokek.” Mbah Muslim mulai ngledek sohib karibnya.

“Ojok guyon, saya lagi mangkel,” ujar Jarnobae. Tiba-tiba Lukarni, isteri Jarnobae muncul dengan mata sembab. Mbah Muslim tanggap, pasti ada apa-apa dengan laki-bini sahabatnya ini.

“Assalamu alaikum. Tolong saya, Cak…..”

“Ayo masuk rumah saja, nggak enak ngobrol di teras.” Mbah Muslim segera mengajak tamunya masuk rumah dan duduk di ruang tamu.

“Ada apa ini kok pagi-pagi kalian berdua datang dengan wajah awut-awutan?”

“Tanya saja kepada Lukar. Kalau saya ngomong nanti dikira lambe prucat-prucut kayak beton.” Jarnobae melirik isterinya yang lagi menangis terisak-isak.

“Kalau ada masalah sebaiknya segera dituntaskan. Kalian kan sudah beranak-cucu. Malu donk sama tetangga kalau ribut melulu. Sembako habis?”

“Bukan itu, Cak.” Lukarni mulai angkat bicara.” Semalam bapake arek-arek marah besar lalu keluar rumah, entah pergi ke mana.”

“Nah lho. Ada apa dengan kamu, Jar?” Mbah Muslim ganti menginterogasi sahabatnya.

“Siapa yang nggak marah. Suami sudah ingin banget kok isteri dijawil diajak dangdhutan malah tidur memunggungi suami sambil ngempit bantal.”

“Kamu memang nggak tahu diri, Yo. Malam-malam kok ngajak isteri dangdhutan apa nggak menganggu tetangga.” Mbah Muslim seperti kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

“Hwokkkk, kamu kayak nggak tahu kebutuhan laki-laki saja.” Mbah Muslim tertawa ngakak mendengar ocehan temannya. Tak urung Lukar ikut tersenyum mendengar ucapan dua sohib karib itu.

“Malam itu saya memang lagi capek, Cak. Siang sampai sore saya menjaga cucu yang lagi demam. Bapak-ibunya kan bekerja di luar rumah jadi saya yang mbantu mengurus cucu. Kebetulan pembantu mereka lagi mudik.” Lukar menuturkan alasannya. “Habis sholat Isya saya ngantuk banget. Eeee…Bapake arek-arek colak-colek saya ngajak haha hihi.”

“Jadi kamu menolak ajakan suami?”

“Iya, Cak. Sampeyan kan tahu tabiat teman sampeyan ini. Kalau di tempat tidur saya diam saja dia ngamuk.” Lukar mulai bicara blak-blakan.

“Iya donk, ngapaian dangdhutan jika nggak ada gerakan.” Jarnobae yang memang SH3 (suami hot..hot..hotz…) mulai berreaksi. Tak urung Mbah Muslim nggak tahan juga untuk tidak ngakak lagi. Walaupun ini urusan domestik tetapi bagaimanapun juga masalah tempat tidur sahabatnya harus diluruskan.

“Terus terang saya memahami apa yang diutarakan oleh isterimu, No. Namanya badan lagi letoi dan mata juga mengantuk, kalau dibawa tidur kan memang asoi.” Jarnobae sudah menduga bahwa sahabatnya ini akan membela isterinya.

“Ah kamu, lalu bagaimana dengan saya?” Jarnobae memang idem dito dengan Kromo Dingklik, jago ngeyel. “Kalau kepala sudah cekot-cekot saya harus bagaimana?” Mbah Muslim faham apa yang dimaksud dengan ‘kepala cekot-cekot’ itu.

“Tindakan Lukar juga kurang pas. Kamu kan bisa berbicara baik-baik dengan suamimu, Luk. Tidur membelakangi suami sambil ngempit bantal kan kayak nantang perang dan merupakan indikasi bahwa kamu sedang melakukan aksi konfrontasi.” Mbah Muslim melirik Lukarni.

“Nah, betul itu,” Jarnobae langsung nyletuk. Lukar buang muka sambil tersenyum…pyook. Melihat gelagat ini maka Mbah Muslim meluncurkan jurus terakhir sebelum berangkat ke sawah.

“Saya ingin menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ”Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia (suaminya) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” Jarnobae mengacungkan dua jari sementara Lukar tertunduk, manggut-manggut.

“Dengarkan tuh kultum Cacakmu.” Jarnobae merasa mendapat  angin.

“Sebaliknya suami yang bijak sebaiknya juga melihat sikon pasangannya. Masa nahan semalam saja nggak bisa.” Kini gantian Lukar yang unjuk jempol.

“Komando dan pengendalian terhadap nafsu harus ciamik ya, Cak.” Jarnobae mringis.

“Sekarang kamu masih letoi dan ngantuk, Luk?” tanya Mbah Muslim kepada Lukarni.

“Kalau sekarang sih sudah oke, Cak.” Lukar mulai cengengesan.

“Ya sudah. Kalau begitu kalian berdua sekarang pulang. Tutup pintunya, stel kaset, lalu dangdhutan satu atau dua lagu. Saya mau ke sawah nich.” Mbah Muslim ngasih tanda kepada sohibnya. Jarnobae ngedipin mata sambil nyolek isterinya. Lukar langsung nyubit paha sang suami.

*

Kewajiban seorang  perempuan sebagai isteri dan ibu rumah tangga cukup menguras tenaga dan pikiran. Apalagi jika sudah beranak-pinak. Sejak bangun tidur di pagi hari hingga mau tidur kembali di malam hari pekerjaan seolah tak ada habisnya. Membuatkan sarapan untuk suami dan anak-anak merupakan kegiatan perdana di pagi hari. Mungkin nanti malam akan ditutup dengan membuatkan kopi atau mi instan bagi sang suami. Nah, di antara waktu itu segudang pekerjaan harus dikerjakan, utamanya jika tidak ada pembantu rumahtangga di rumah.

Belum lagi wanita juga merangkap sebagai pemimpin dalam rumah tangga yang kelak juga akan dimintai pertangungjawaban atas apa yang dilakukan dan tidak dilakukannya. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang Imam (pimpinan) adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang khadim (pembantu) adalah pemimpin pada harta tuannya (majikannya), dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” [Bukhari dan Muslim]

Nah, masih adakah yang mencibir kepada perempuan yang berperan sebagai ibu rumahtangga? Masih adakah perempuan yang merasa minder karena merasa sebagai ‘orang rumahan’? Nothing wrong with a house wife karena faktanya kewajiban mereka demikian kompleks dan tak bisa dianggap enteng. Saya sendiri sudah menyaksikan bagaimana sibuknya Emak dan isteri saya yang sehari-hari berada di rumah mengurus dan menyelesaikan aneka pekerjaan. “Kalau berjalan saya mungkin sudah sampai Jakarta,” kata isteri saya setelah seharian hilir-mudik di seputaran rumah.

Rumah tangga sesungguhnya juga menjadi lahan bagi para isteri untuk mendulang pahala. Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bazzar, Anas bin Malik ra. mengatakan, “Para shahabiyah mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kaum lelaki pergi dengan membawa keutamaan jihad fi sabilillah, sedangkan kami tidak memiliki suatu amalan yang bisa menyamai amal para mujahidin fii sabiilillah.’ Maka beliau pun menjawab, ‘Pekerjaan salah seorang di antara kalian di rumahnya menyamai amalan para mujahidin fii sabiilillah.”

.

Menyiapkan makanan untuk keluarga 
merupakan salah satu tugas isteri

.

Dari hadits di atas jelas bahwa pekerjaan perempuan yang dilakukan di rumah juga bernilai ibadah dan Insya Allah akan mendapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memasak, mencuci, menyeterika, dan membersihkan rumah memang memang melelahkan. Belum lagi mengurus anak dan menyiapkan aneka keperluan untuk suami tercinta. Oleh karena para wanita selayaknya meluruskan niat yaitu menikah sebagai ibadah agar dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dapat dilaksanakan dengan ikhlas sehingga hasilnya barokah.

Pahala bukan hanya didapatkan oleh seorang isteri dari hasil kerja keras dalam bentuk kegiatan di dapur atau di sumur serta di tempat cuci-setrika semata. Ketaatan, kesetiaan, dan kemauan serta kemampuan menyenangkan hati suami termasuk di dalamnya.

Seseorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam:”Ya Rasulullah, wanita manakah yang lebih baik?”

Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Wanita yang menyenangkan suaminya sewaktu suaminya memandangnya, juga taat kepadanya ketika suaminya menyuruhnya, dan tidak menentangnya baik terhadap diri maupun harta suaminya dengan hal-hal yang tidak disukai suaminya.” [HR. Ash-habus Sunan]

Ketaatan isteri juga harus ditunjukkan ketika suami mengajak isteri utuk melakukan hubungan badan sebagaimana digambarkan pada awal artikel ini.

Jika suami mempuyai kewajiban memenuhi nafkah lahir dan nafkah batin suami isteri maka sebaliknya isteri juga mengimbanginya dengan kebaikan-kebaikan sesuai ajaran agama. Dengan cara ini maka Insha Allah isteri juga akan mendulang pahala. Selain itu rumahtangga juga akan harmonis, bahagia, dan sejahtera.

Pahala bagi wanita akan semakin bertambah ketika mereka hamil dan melahirkan anak-anaknya serta mengasuhnya.  Dalam sebuah hadits, Salamah ra mengemukakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Apakah kamu tidak rela apabila kamu hamil dari suamimu yang mana ia rela kepadamu. Kamu akan memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa da pahala orang yang berjuang menegakkan agama Allah. Apabila suamimu mentholakmu, penghuni langit dan bumi tidak ada yang mengetahui terhadap rahasia yang kamu simpan. Apabila kamu melahirkan, maka kamu akan mendapatkan kebaikan dari setiap teguk air susumu. Jika kamu berjaga malam, maka bagimu pahala dari pahala memerdekakan tujuh puluh hamba sahaya untuk menegakkan agama Allah.”[HR. Thobroni & Ibnu Asakir]

Berbahagialah para wanita karena begitu banyak ladang pahala baginya. Oleh karena itu jangan risaukan pahalamu wahai isteriku

.

Artikel di atas merupakan bagian dari buku Berburu Pahala di Luar Musala karya AbdulCholik.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

13 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. inda fitri says:

    alhamdulillaaahhh, makasih de, jd tambah seneng dan semangat 🙂

    Sip

  2. emang banyak tugas istri ya pak de….

    Iya Mas
    begitu bangun pagi tugas sudah menunggu je

  3. Tanti Amelia says:

    Untuk jaman sekarang, harus tambah pengertian di antara kedua belah pihak ya PakDhe..

    Soalnya ada juga yang istrinya cari nafkah di luar, jadi untuk urusan menyiapkan makanan harus dilakukan berdua

    Sejak dulu sebenarnya

  4. Susindra says:

    Waah…. Sangat bermanfaat, nih. Maturnuwun Pakde.

    Ya sami2 Jeng

  5. momtraveler says:

    Dangdhutan ….ngakaakk!!…
    Saling pengertian..komunikasi yg baik itu memang jd kunci utama rumah tangga bahagia ya dhe. Makaaih ilmunya dhe 🙂

    Yoi, banyak saling deh

  6. cputriarty says:

    serasa mbrebes mili diingatkan akan hadist penting dalam postingan pakde yang joss gandhoz ini. Maturnuwun ya pakde keren 🙂

    Tugas isteri sangat mulia loch
    Sama2

  7. ade sutisna says:

    kita harus menyayanngi istri setulus mungkin http://www.haperoom.com/

    Betul, jangan dikerjain

  8. ade anita says:

    aku baru tahu, bahwa sapaan Cak di Jawa Timur itu ketika diucapkan dengan bersahabat menjadi Cacak. Aku pikir nggak boleh digituin, jadi abis Cak ya lanjut dengan nick name gitu.

    Kakak itu bahasa Suroboyoan/Jombangannya Cacak, disingkat Cak

  9. sulis says:

    Bener pakdhe.. Kalau sudah seharian beres2 n anak rewel….malam paling enak ya tidurrr….dhandutan nya ntar2 aja…

    Asal jangan lupa hahahaha

  10. retno says:

    Salam kenal pakdhe…

    Terima kasih kunjungannya

  11. Dani Kaizen says:

    karena sekarang sudah malam(jam 21.00)….sekarang waktunya buat pasutri untuk “dangdutan”……hehehe… 🙂

    *Terimakasih buat semua para istri di Indonesia …….kalian luar biasa…… 🙂

    Mantep

  12. Uwien says:

    Harus saling membantu antara suami-istri ya , Pakdhe.

    Betul Jeng. Laki-laki juga sebaiknya ikut meringankan beban tugas isteri

  13. Maturnuwun pakde sudah diingatkan, tulisannya benar-benar membuat merenung, untuk introspeksi

    Jangan khawatir soal pahala yaaa

Leave a comment