Tetangga Memang Harus Begitu

Setelah lulus dari pendidikan militer saya di tugaskan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ini adalah perjalanan perdana saya ke luar Pulau Jawa. Ternyata saya harus menetap di kota ini selama lebih dari 10 tahun hingga saya berpangkat kapten. Dua anak saya lahir di kota minyak ini. Selama dinas di Kalimantan Timur saya hanya beberapa kali cuti menengok orangtua di Jawa Timur dan mertua di Jawa Barat. Beruntung di antara masa penugasan itu saya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan di Bandung, Cimahi, dan Bogor. Itu kesempatan lain bagi saya sekeluarga untuk mudik menengok orangtua.

Saya sekeluarga menempati perumahan dinas yang disiapkan oleh Kodam. Penghuninya sebagian besar anggota Kodam yang masih aktif. Hanya beberapa di antaranya sudah purnawirawan. Selama tinggal di kompleks perumahan dinas hubungan dengan tetangga baik sekali. Walaupun tetangga kami terdiri dari beraneka macam suku bangsa dan agama hubungan kami harmonis. Demikian pula para isteri dan anak-anak. Kami seringkali saling berbagi makanan, tenaga, maupun pikiran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada siapapun. Hal ini sesuai firman-Nya dalam surat An Nisa ayat 36 yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Sebagai makhluk sosial  manusia akan berinteraksi dengan manusia lainnya. Selain dengan keluarga maka dengan tetanggalah kita paling sering berhubungan satu sama lain. Jika terjadi sesuatu dengan diri kita maka kepada tetangga kita biasanya minta bantuan. Demikian pula sebaliknya, tetangga juga akan minta pertolongan kepada kita atau tetangga yang lainnya. Apalagi jika orangtua dan saudara lainnya tinggal cukup jauh dari rumah kita. Contohnya saya sendiri. Orangtua dan kerabat tinggal di pulau Jawa sementara saya dan anak-isteri berada di Kalimantan. Mana mungkin saya minta bantuan kepada orangtua jika saya sakit atau mempunyai kerepotan. Pastilah tetangga dulu yang saya minta bantuannya. Oleh karena itu hubungan baik dengan tetangga selama dinas di Balikpapan, Cimahi, Palembang, dan Surabaya benar-benar kami jaga dan pelihara agar selalu baik.

Bantuan tetangga

Tetanggalah yang paling dahulu membantu kita

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintah kaum muslim agar berbuat kepada tetangganya. “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” [HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut umatnya tidak beriman jika tetangganya merasa tidak aman dari kejahatan yang dilakukan oleh umatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” [HR. Bukhari 6016, Muslim 46]

Dalam berhubungan dengan tetangga kadang timbul perselisihan misalnya karena urusan anak-anak. Maklum dalam pergaulan sehari-hari atau ketika sedang bermain anak-anak kadang berebut mainan, saling mengejek, bertengkar, dan bahkan berkelahi. Dalam menghadapi ulah anak-anak seperti ini jangan sampai para orangtua terpancing emosinya sehingga pertengkaran mereka akhirnya melibatkan para orangtua. Tak jarang diantara tetangga saling menyindir atau mengumpat dengan kata-kata yang kurang baik. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam  sangat tidak suka terhadap umat yang ucapannya menyakitkan hati tetangganya. Silakan simak hadits berikut ini.

“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88]

Kebiasaan manusia Indonesia yang sering saya lihat, utamanya di tempat saya tinggal adalah saling mengirim makanan. Hal ini tampak lebih jelas jika salah satu di antara tetangganya sedang melaksanakan suatu hajatan. Saya juga sering mendapat kiriman makanan atau buah-buahan dari tetangga. Demikian pula sebaliknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Emak. Jika di rumah sedang mengadakan kenduri maka tetangga diundang ke rumah. Kepada tetangga yang berhalangan hadir atau para janda juga dikirim makanan. Kebiasaan ini memang masih berlaku sampai sekarang. Untuk urusan perut ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar umatnya memperhatikan pula tetangganya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim beliau bersabda yang artinya: “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik.”

Pada hadits yang lain beliau bersabda:” “Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” [HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149]

Kenduri tumpengan

Saat mengadakan kenduri tetangga jangan dilupakan

.

Masya Allah, betapa bagusnya ajaran agama Islam dan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ada kata bijak berbunyi: ”Tetangga yang dekat lebik baik daripada saudara yang jauh,” memang ada benarnya. Rasanya tidak elok jika karena satu dan hal ada seorang muslim yang tidak bertegur sapa dengan tetangga kanan-kiri rumahnya. Akan lebih bagus jika kaum muslim bisa hidup berdampingan secara damai dengan tetangganya tanpa membedakan suku, ras, golongan, atau agamanya.

Jika hubungan kita dengan tetangga kurang baik biasanya ada yang berkomentar: “Tetangga masa gitu.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

24 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Senangnya kehidupan bertenangga yang rukun dan saling membantu.. Memang benar Pakde, tetangga itu ibaratnya sama dengan saudara sendiri.. Ketika kita sedang sakit dan membutuhkan bantuan tentunya sang tetangga dekatlah yang akan menolong lebih awal.. Maka memang sudah pada tempatnya ya Pakde kita berbaik2 dan menjalin silaturahmi yang bagus dengan tetangga kita..

    Iya Jeng
    Apalagi saya anak tunggal
    Tetangga adalah saudara saya

  2. Saya punya tetangga yang baiknya luar biasa Pakde.. Kebaikannya malah seperti saudara kandung sendiri.. Saya kan tipa hari kerja, pergi pagi pulang dah sore.. Demikian juga dengan suami, irama kerjanya sama dengan saya.. Pintu pagar tiap hari digembok.. Tukang pos, tukang catat meteran listrik dan PAM, pengantar undangan, dll semuanya dihandle oleh tetangga saya.. Termasuk yang mengawasi rumah saya tiap hari ya tetangga itu.. Banayngkan kalo gak ada tetangga yang baik meninggalkan rumah dalam kondisi tak berpenghuni setiap hari tentunya bikin kita was2.. Makasih ya tetangga kami yang baik ..

    Tetangga saya beragama Nasrani tapi perhatian sekali.
    Sering ngajak makan ke luar, ngirim makanan, dan ngasih coklat ke cucu saya.

  3. Saya paling seneng kalau di rumah mertua. Kebetulan tetangganya ya adik2nya Bapak, rukun banget. Terutama kalau ibu mertua sakit semua gantian jagain, sementara anaknya belum datang 🙂

    Itu yang bagus
    Tetangga saya juga baik2

  4. Betul sekali Pakde.. tapi di tempat tinggal yang sekarang tetangganya pada sibuk euy.. Atau perasaan saya aja ya? karena kami sekeluarga ngantornya di rumah 😀

    Beda di kampung..yang perasaan sering banget ketemu. Tapi gak papa sih, yang penting masih saling ada rasa kekeluargaan. Cuma mungkin frekuensi bertemunya yang kurang.

    tetangga saya juga
    Jarang ketemu karena mereka bekerja dari pagi sampai sore
    malanya sudah kecapekan

  5. Tetangga di sebelah rumah itu sudah seperti saudara ya Pak Dhe 🙂

    Betul, harus kita pelihara.

  6. April Hamsa says:

    Alhamdulillah selalu berusaha akrab ma tetangga.Eh, tapi ada lho tetangga baru pindah yg kalau gak dismperin buat kenalan gak akan mau kenalan. Utamanya yg manten2 baru. Mungkin krn msh pd muda2 jd gak tau caranya masuk ke lingkungan baru mesti gmn. Ya, walau gak semua sih. Mungkin jg tergantung ajaran ortunya masing2.

    Iya, yang baru sebaiknya memperkenalkan diri

  7. Di sebuah pengajian ustadznya berpesan : punya tetangga baik atau buruk perangainya tetap harus disyukuri. Tetangga yang buruk perilakunya adalah tempat kita belajar bersabar, ladang pahala jadi ya tetap bersyukur dianugerahi Allah jalan untuk menambah pahala. Kalau tetangganya buaik ya pasti bersyukurrr buanget 🙂

    Kita doakan agar mereka segera diasadarkan ya

  8. Agung Rangga says:

    betul banget pakdhe.
    buat saya yang mahasiswa rantau, punya tetangga/teman satu kost itu memang membantu banget. bisa saling tolong-menolong juga bila ada yang sedang kesusahan. 😀

    Memang harus kompak Mas

  9. Nathalia DP says:

    hubungan dgn tetangga (warga) lama sih alhamdulillah baik…
    sama yg br2 nih, agak2 aneh, ky jelangkung 😀

    hahahaha…gonta-ganti ya

  10. Liswanti says:

    Asyik ya pakdhe, kalau sama tetangga saling membantu

    Gotong royong selayaknya ditumbuh-suburkan

  11. Bahagia rasanya kalau berada di lingkungan dengan tetangga yang baik-baik. Memang benar, keluarga terdekat adalah tetangga.

    Betul, serasa dekat dengan kerabat sendiri

  12. Irly says:

    Tetangga itu perannya penting banget ya PakDhe… Ramadhan nanti akan lebih terasa tuh suasana kekeluargaannya.^^

    Iya, lebaran juga pasti ramai hilir-mudik, termasuk anak2

  13. Eko Nurhuda says:

    Saya tipe pendiam dan cenderung introvert, Pakde. Saya kurang suka ngobrol ngalor-ngidul semalaman dengan siapapun, termasuk tetangga. Jadi jarang kalo ngobrol-ngobrol, tapi tegur sapa dan senyum tetap terjaga. Hubungan pun baik meski jarang ngobrol. Itu gimana, Pakde?

    Ya jangan semalaman
    nanti tetangganya malah malas

  14. Tetangga masa gitu sich,,
    hehe,,, (ngikut TV)

    Saya sih ramah, tapi sama tetangga yang masil lajang doank,,, kalau yg udah dewasa/orang tua, saya agak segan,,, hehe

    Saling menghormati

  15. Prih says:

    Rukun Tetangga jadi kekuatan sosial nggih Pakdhe. Budaya ‘pager mangkok’ bagian dari kerukunan antar tetangga.

    Wah baru dengar istilah pager mangkok

  16. Evi says:

    Dulu waktu tinggal di perkampungan saya masih berantakan ngantar mengantar makanan di antara tetangga, Pakde. Tapi Sedi tempat tinggal sekarang rasanya kebiasaan itu jadi aneh. Hanya yang berhubungan sangat dekat saja saling memberi oleh-oleh kalau habis pulang jalan-jalan. Kebiasaan masyarakat memang selalu berubah ya.

    Di kampung saya masih sering saling antar makanan

  17. Saya dua kali menempati rumah, alhamdulillah selalu dapat tetangga yg baik. Pernah malam2 anak sakit dan diantar ke RS. Nggak perlu sewa taksi, hehehe
    Kalo ketemu tetangga yg nggak baik, ya udah bersabar aja dan di rumah yg sekarang nih. Jadi pengen bikin artikel ttg tetangga, Pakdhe 🙂

    Betul, kalau nggak sabar bisa berantem

  18. Senangnya jika dapat hidup berdampingan seperti itu ya Pakde. Gilirannya ketemu tetangga yang nyinyir bahkan lubrak-labrak tanpa investigasi terlebih dahulu suka ngelus dada deh. Biasanya hanya mengedepankan prasangka. Duh.

    Biasanya memang ada yang model begitu

  19. Adi pradana says:

    Kalimat terakhir itu kayak judul sebuah acara di salah satu stasiun televisi ya pakdhe… Aku sering nonton… Lucu soalnya. Hehehe

    Betul Mas

  20. barhan says:

    iya, tetangga memang harus begitu.
    garam, gula, kopi kalau lupa beli, bisa nebeng ke tetangga….

    Ndremis

  21. Anne Adzkia says:

    Tetangga memang saudara terdekat kita pad akhirnya. Dan memiliki tetangga yang baik adalah anugerah bagi umat Muslim ya Pakde, katanya Rasulullah SAW.

    Iya betul, apalagi jika kita diperantauan dan jauh dari kerabat

  22. Tetanggga yang paling cepat menolong kita jika kita butuh bantuan atau terkena musibah ya, Pakde. Btw, itu judulnya plesetan banget siiiy. :)))

    Betul sekali, famili yang jauh nggak mungkin segera datang membantu

  23. Inayah says:

    Kalau tinggal d perumahan cluster susah nemuin tetangga kayak di desa pak Dhe. Aheuu…

Leave a comment