Justeru Karena Saya Seorang Pensiunan

Mengapa saya memasang judul artikel berbunyi Justeru Karena Saya Seorang Pensiunan? Yup, ini merupakan penerapan ilmu yang semalam saya peroleh dari Merry Riana. Wanita cantik penulis buku Mimpi Sejuta Dollar itu menjadi host sebuah acara di MetroTV bertajuk I’m Possible. Hadir pada acara itu James Gwee yang bertindak sebagai nara sumber.

Malam itu Merry menyarankan agar kita memandang sesuatu dari sudut yang lain. Pada slide yang ditayangkan sebuah tulisan berbunyi IMPOSSIBLE. Lalu muncul kartun yang mendorong kata tersebut sehingga berubah menjadi I’M POSSIBLE. Inilah yang dikatakan Merry sebagai melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.

.

.

“Sebaiknya jangan mengatakan ‘Saya hanya’ tetapi ubahlah menjadi ‘Justeru karena,” tutur Merry. Yang belakangan itu lebih memberikan kesan optismistis sehingga kita tidak menjadi nglokro, apatis, psarah, dan mudah menyerah. Dengan cara itu kita akan terdorong untuk melakukan berbagai cara agar cita-cita bisa terwujud.

Setelah saya bersatus purnawirawan beberapa teman bertanya tentang kegiatan saya sehari-hari. Sambil bergurau saya katakan: “Saya di PT Timah.” Teman saya langsung menyalami sambil berkata:”Wah cakep. Sudah pensiun masih terpakai juga. Saya tertawa terbahak-bahak. “Yang maksud PT. Timah itu artinya Pensiunan Tentara Tinggal di Rumah.Faktanya memang demikian, saya tidak bekerja lagi.

Setelah mendapatkan saran bijak dari Merry Riana tersebut di atas maka jika ada teman yang bertanya tentang kegiatan yang saya lakukan saya akan menjawabnya dengan lebih positif. “Justeru karena saya sudah pensiun maka saya bisa memanfaatkan waktu yang banyak itu untuk menulis artikel di blog dan menerbitkan buku.” Lebih positif dan keren, bukan. Hal yang sama akan saya katakan jika ada orang bertanya:”Bapak bekerja di mana?”

Pada beberapa kesempatan saya menyampaikan kekurangsetujuan ketika membaca halaman About atau Profil di blog sahabat. “Saya hanya seorang ibu rumah tangga, isteri dari suami yang menyintai saya, dan ibu dari 3 orang krucil yang lucu dan manis.” Kalimatnya kurang positif dan juga kurang menggambarkan sikap optmis.

Jika halaman itu isinya diubah tentu akan lebih bagus. “Saya Ninany, seorang ibu rumah tangga. Justeru sebagai ibu rumah tangga itu saya bisa meneruskan hobi menulis buku tanpa meninggalkan kewajiban saya sebagai isteri dan ibu dari anak-anak saya.  Tak kurang dari 23 buku solo dan 8 buku antologi sudah saya terbitkan.” Nah, lebih ciamik kan.

.

Mom Blogger yang kegiatannya seabreg

.

Sementara itu James Gwee yang menjadi motivator malam itu menjelaskan formula what, why, who, dan how dalam rangka mencapai suatu tujuan yang hendak kita capai. Tentang faktor how, James menasihatkan agar kita tak segan-segan memberitahu kepada orang lain apa yang hendak ingin dicapai. Orang lain itu bisa sahabat, kolega, isteri/suami, orangtua, atau anak-anak. Dengan cara itu kita akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Mengapa? Ya, karena akan ada orang lain yang menanyakan atau menagihnya.

Pertanyaan sahabat berbunyi: “Jadi membuat program Satu Bulan Satu Buku, Pakde?” atau: “Berapa buku yang sudah diterbitkan. Ini sudah bulan Agustus berarti buku ke-8 ya Pakde.” Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menjadi pemicu dan pemacu semangat saya untuk menerbitkan Program Ambisius tersebut. Faktanya saya memang berhasil menyelesaikan program itu dengan menerbitkan 12 buku sepanjang tahun 2015.

.

Pensiunan bukan berarti pengangguran

Banyak hal yang bisa diperbuat

.

Masih ingatkah sahabat kisah seorang penarik becak yang tanpa malu-malu mengantarkan anaknya menuju acara Wisuda Sarjana dengan becaknya? Jika ditanya orang sekampung tentang pekerjaannya maka bapak itu bisa menjawab dengan bagus.”Saya seorang penarik becak. Justeru karena menarik becak itu saya bisa membiaya kuliah anak saya yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta.”

“Saya hanya seorang ibu rumah tangga.” Oh Come On, nothing wrong with a housewife. You have various roles. Not only giving a birth. You are also breastfeeder, chef, teacher, nurse, singer, story teller, driver, Ojeker, and many other tasks. Jangan terlalu merendahkan diri dengan jabatan seabreg tersebut. Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa peran ibu tak tergantikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Lidya says:

    saya seorang ibu ruma tangga itu yang seharusnya ya pakde, bukan cuma ibu rumah tangga 🙂

  2. innnayah says:

    justeru karena saya jomblo..saya bebas jalan kemana aja…sama siapa aja..asal sudah ijin orangtua 🙂

  3. ndop says:

    Keren pak Dhe! Aku banget kui!

    Memang orang-orang optimis dan percaya dirinya tinggi, selaluuu aja ada yg iri. Yang ngecap sombong, yang ngecap bener sendiri. DIkasih kritik membangun (kritik plus solusi), eh malah dinyinyirin “Kamu itu kayak benar sendiri aja!”

    Lah piye to? Pancen sampean kui salah! Kudu dibenerne. Nek ragelem yowis. Kok repot. HAHAHHA.

    Padahal pengertian sombong itu khan merendahkan orang lain. Jadi membanggakan diri sendiri menurutku bukan sombong, tapi percaya diri. Sombong itu negatif, membanggakan diri (asal gak berlebihan) itu positif (banget!).

  4. Hastira says:

    wah mantap Pakde, aku mau ikutan ah, pensiun tinggal di desa dan menulis

  5. Heni Puspita says:

    Ibu rumah tangga harus lebih pede ^_^

    Dan bangga

  6. vizon says:

    Ternyata, merubah satu kata dalam sebuah kalimat dapat merubah mindset dan bahkan jalan hidup seseorang ya Pakde.. Keren banget ini..

    Iya Mas. Begitu dahsyat.

  7. nh18 says:

    kata “hanya” memang kadang membuat kita tidak bersemangat …
    maksudnya merendah … tetapi malah terlihat seperti menganiaya diri sendiri … atua bahkan sebaliknya … merendahkan diri untuk meningkatkan mutu …

    hehehe …
    “mari lho silahkan dinikmati hidangannya. Hanya sekedarnya saja lho ini … ” (Padahal menu masakannya komplit banget mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup, Mulai masakan Indonesia sampai masakan Eropa … berlimpah pula …)

    Salam saya Pak De

    Merendahkan diri-menaikkan mutu banyak terjadi Om
    “Wah ada tamu jauh kok dianggurin saja nih.” Pulangnya disangoni dan diberi sovenir hahahaha

  8. wah, mantap pakde, makasih sudah sharing ya.. 🙂

    Sama-sama Mas Harga

Leave a comment