Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi: Tamu Istimewa

Ketika saya bertugas di Pomdam V/Brawijaya pernah diajak oleh sahabat saya berkunjung ke kediaman Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi di Ploso, Jombang. Sahabat saya termasuk salah satu murid beliau. Selain untuk bersilaturahmi juga untuk menyerap ilmu dan mendapatkan nasihat-nasihat dari beliau. Kyai Mukhtar yang sudah sepuh itu kegiatannya banyak sekali, baik dalam pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah adalah salah satunya.

Salah satu nasihat beliau yang disampaikan kepada saya adalah tentang tamu istimewa. Karena nasihat ini sangat berguna maka saya teruskan nasihat beliau kepada para sahabat.

Dalam hidup dan kehidupan kita sering menerima tamu. Mereka yang datang berkunjung antara lain: keluarga, sahabat, relasi, atau orang yang bahkan belum kita kenal sekalipun. Maksud kedatangan mereka juga bermacam-macam. Ada yang datang untuk sekadar silaturahmi, ada juga yang ingin melepas rasa kangen. Di antara tamu tersebut mungkin akan melamar anak kita dan ada pula yang datang untuk minta bantuan atau memberi bantuan.

Setelah menjelaskan tamu secara umum, Kyai Mukhtar selanjutnya masuk ke inti nasihatnya. Beliau menerangkan bahwa ada dua tamu istimewa yang selalu datang dalam kehidupan manusia. Kedua tamu itu bisa muncul kapan saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Datangnya juga tak pernah memberi tahu terlebih dahulu.

Tamu istimewa yang pertama adalah kesedihan. Dia bisa berwujud kegagalan dalam ujian, sakit, kematian, kehilangan harta benda, kecelakaan, putus cinta, dan lain sebagainya. Setiap orang pasti pernah kedatangan tamu ini. Sedangkan tamu istimewa yang kedua adalah kegembiraan. Tamu ini bisa berupa kenaikan pangkat, lulus ujian, pernikahan, kelahiran, kesuksesan dalam bisnis, mendapat hadiah mobil, dan lain sebagainya. Pokoknya yang menyenangkan, menggembirakan, dan membahagiakan.

Bagaimana sikap kita jika kedatangan tamu istimewa tersebut? Karena yang datang adalah tamu VIP dan istimewa maka selayaknya kita menyambut kedatangan mereka secara istimewa pula. Begitulah Kyai Mukhtar menasihatkan.

Jika yang datang adalah tamu istimewa bernama kesedihan maka kita siapkan tempat duduk dan mempersilakan beliau menempati kursi empuk yang bermerek Sabar. Sebaliknya, jika yang berkunjung adalah tamu yang bernama kegembiraan maka kita dudukkan si dia di kursi istimewa yang bermerek Syukur.

Dengan kesiapan seperti itu maka hidup kita tak akan terkaget-kaget, tergoncang-goncang, atau terombang-ambing secara tidak proporsional.

Jika kesedihan datang, kita memang bersedih, dan itu manusiawi. Tetapi, kesedihan itu selayaknya dikelola dengan baik agar tak berlarut-larut. Kesedihan itu jangan menjadikan kita putus asa, frustrasi, merobek-robek baju, menampar pipi, atau menjambak-jambak rambut. Jangan pula kesedihan itu membuat kita menyalahkan pihak lain, mencari kambing hitam, atau menjadikan Tuhan sebagai tersangka.

Sebaliknya, jika kegembiraan itu datang jangan sampai kita lupa daratan. Ungkapkan rasa syukur secara proporsional dan tetap pada koridor yang benar. Syukuran dalam bentuk melarung pakaian bekas ke laut, menggundul rambut beramai-ramai, jalan mundur puluhan kilometer rasanya kurang layak. Mari kita syukuri kegembiraan itu di dalam hati dengan meyakini bahwa kegembiraan itu datangnya dari Tuhan. Ungkapkan pula rasa syukur itu secara lisan dan wujudkan rasa syukur itu dengan tindakan yang benar dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sedih dan gembira adalah romantika kehidupan yang datang silih berganti. Agar hidup kita bisa tenang maka kita harus menyikapi keduanya secara positif dan proporsional. Itulah nasihat berharga yang saya terima dari Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi.

Catatan saya

Setelah kunjungan perdana itu saya lanjutkan dengan kunjungan-kunjungan berikutnya. Tamu beliau banyak sekali sehingga saya tak bisa berlama-lama bersilaturahmi. Setelah pensiun saya bahkan belum pernah sowan beliau. Jarak antara rumah saya dengan kediaman beliau sekitar 3 km. Semoga saya bisa mengunjungi beliau lagi. Semoga beliau selalu sehat, sejahtera, dan bahagia. Amiin.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. M Rinaldy says:

    Semangat Senin pakdhe …
    Terima kasih sudah mengingatkan untuk menjaga silaturahmi …

    Sama2 Mas

  2. Eko Nurhuda says:

    Pertamaxxxx, horee!
    Jaman di Jogja suka sengaja jumatan di daerah yg merupakan pusat pondok pesantren di utara ringroad utara, deket Jalan Godean. Sowan dari satu kyai ke kyai ngajak teman. Alhamdulllah, banyak ilmu yang didapat dari silaturahim singkat begini. Malah kadang ada kyai yang memberi kudapan pol alias makan enak 🙂

    Btw, saya baru menyadari kalau kesedihan adalah tamu istimewa manusia. Jadi, sebagai tamu kita seharunya menyambut dengan perlakuan istimewa pula. Insya Allah bisa menjalankan nasihat sederhana ini, Pakde. Sabar memang tidak mudah, tapi kalau tidak pernah dilatih tidak akan pernah bisa.

    Sabar dan syukur memang sebaiknya menjadi kebiasaan kita agar hidup tidak pontang-panting

  3. sumarno says:

    ajak-ajak saya pakdhe kalau berkunjung lagi…. tp pakdhe jemput saya ya…. 😀

    Jemput di mana?

  4. Lidya says:

    harus siap menyambut kedatangan tamu istimewa ya pakde

    Yoi, mereka pasti datang kok

  5. Ibaratnya ada dua sayap. Yakni, sayap sabar dan sayap syukur. Keduanya mesti berkepak menuju kesempurnaan iman nggih, Pakde 🙂

    Betul Mas. Kalau nggak gitu pontang-pontin kita

  6. ophi ziadah says:

    nasehat yang sangat menggugah pak de..
    mestinya kedua tamu istimewa itu bs kita sikapi sewajarnya..
    kadang kita suka lebay klo kedatangan tamu pertama
    trus suka berlebihan saat dateng tamu kedua
    TFS pak dhe

    Betul, ada yang mengoyak-ngoyak bajunya segala kalau sedang dilanda kesedihan

  7. ninda says:

    wah terima kasih sudah berbagi pakdhe, catatannya bikin saya merenung

    Bagus jika mau merenung lalu aktualisasi diri

  8. silaturrahmi memperlancar rezeki,
    tamu istimewa yg berilmu memberikan keberkahan untuk shohibul bait..

    Betul sekali Mas

  9. Gani says:

    Nasihat yang sangat bagus pakdhe…
    Sabar & syukur memang sangat mudah di ucapkan…walaupun terkadang kita lupa untuk dipakai ketika “tamu” itu datang…

Leave a comment