Emak, Aku Masuk Majalah

“Kata tetangga kamu masuk majalah ya, Nak. Kok pinter,” tulis Emak dalam sepucuk suratnya. Itu terjadi pada tahun 1980an ketika saya dinas di Balikpapan. Kata “Kok pinter” itu sering diucapkan Emak manakala saya mendapat nilai baik pada pelajaran sekolah. Termasuk jika saya tiba-tiba berbaik hati mengisi bak kamar mandi atau mencuci kursi tamu menjelang lebaran. Maklum, sebagai anak tunggal saya amat jarang turun tangan mengerjakan tugas rumahan hahahaha.

Tahun 1980 an itu adalah pertama kali tulisan saya tembus di majalah Femina, sebuah majalah wanita yang sangat beken hingga sekarang. Sebelumnya saya beberapa kali mengirim naskah ke Femina tetapi tak pernah dimuat. “Naskah Anda belum sesuai dengan misi Femina,” demikian jawaban redaksi yang sering saya terima melalui surat. Tapi saya memang pantang mundur. Saya terus mengirim artikel.

Kesabaran saya akhirnya membuahkan hasil. Artikel saya berjudul Sepakbola Wanita Melanggar Kodrat? akhirnya dimuat di rubrik Opini. Kala itu saya tidak setuju jika ada yang mengatakan bahwa sepakbola wanita melanggar kodrat. Saya berikan contoh anggota Korps Wanita ABRI yang terjun payung, jungkir, merayap, merangkak, melintasi halang rintangan, memanjat tebing, turun tebing, dan latihan berat lainnya. Apakah mereka juga melanggar kodrat wanita? Tentu saja tidak. Tengok juga atlit judo yang saling banting-membanting dengan lawannya. Bagi saya, wanita tak selalu melenggang-lenggok dengan lemah lembut.

Bukti terbit majalah Femina saya terima yang disusul dengan honor dan beberapa jenis kosmetik singgah di rumah kami. Wow, senang bukan main. Tetangga saya di Jawa rupanya juga membeli majalah tersebut dan bercerita kepada Emak.

Sukses dengan artikel opini saya menjajal rubrik lain. Bingo, saya mengirim artikel humor. Lucu banget sih tidak tetapi cukup menyentil. Ini dia kutipannya.

Seorang pria yang selalu sibuk dengan workshop, seminar, dan aneka rapat kerja, suatu hari bertanya kepada isterinya. “Ma, apa kira-kira tema peringatan hari ulang tahun perkawinan kita bulan depan?”

Sang isteri yang sering ditinggal suaminya itu dengan nada datar menjawab :”Bagaimana kalau bertemakan ‘Makan nggak makan asal kumpul.”

[Nggak lucu ya babahno tah- yang penting kan dimuat dan dapat honor hehehehe]

Selain Femina artikel saya juga pernah dimuat di majalah remaja Gadis. Saya kirim artikel humor juga. Setelah dimuat saya mendapat honor yang langsung saya gunakan nraktir bakso isteri dan adik ipar.

Sayangnya tanda bukti terbit Femina dan Gadis yang ada artikel saya tersebut tidak saya arsipkan dengan baik. Ketlisut saat saya pindah dari Balikpapan ke Cimahi sehingga saya tidak bisa menampilkan gambarnya.

Kala itu kemampuan menulis saya sebenarnya belum sebaik sekarang. Tapi naskah saya kok dimuat ya. Lha sekarang saya belum bisa menembus Femina lagi. Naskah Gado-Gado saya berjudul Reformasi Busana ditolak. Mungkin kurang greget dan pengirim naskah yang lain karyanya lebih bagus.

Selain mengirim ke majalah umum dan koran, saya juga masih suka mengirim naskah ke majalah Gajah Mada milik Polisi Militer Angkatan Darat, di mana saya pernah mengabdi selama lebih dari 25 tahun. Salah satu tulisan saya berjudul Bintara, Tulang Punggung Kesatuan Militer. Lumayan lho, selain dapat honor saya jadi terlihat masih eksis di lingkungan korps.

.

Majalah Corps Polisi Militer TNI AD

Tulisan saya di Majalah Corps Polisi Militer TNI-AD

.

Menulis untuk media sesungguhynya sangat menyenangkan. Memang dibutuhkan kemampuan menulis artikel yang sesuai dengan misi majalah atau koran serta rubrik yang tersedia. Itulah sebabnya saya ingin menulis lagi untuk majalah atau koran. Bukan untuk mengejar honor tetapi sebagai selingan sekaligus mengasah kemampuan menulis di berbagai tempat. Walaupun sama-sama menulis tetapi tentu ada perbedaan antara menulis di blog, menulis buku, dan menulis naskah untuk media. Manfaatnya tentu hampir sama yaitu semakin sering kita menulis maka urat menulis akan semakin lentur dan lambat laun kita bisa menemukan grip, lagak, lagu, dan gaya menulis sendiri. Menulis dengan gaya sendiri lebih enak daripada meniru-niru gaya penulis lain. 

Yuk kita keluar kandang dengan menulis untuk media.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

19 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. @kakdidik13 says:

    Keren Pakdhe, ketika kita menulis dan tulisan tersebut masuk dalam majalah rasanya seneng banget dan gimana githu hehehe 😀

    Iya Mas
    Senang banget karena dapat honor juga

  2. Pak De keren…ternyata hobi menulis sudah sejak tahun 80an yak. Saya terenyuh juga saat baca yg lewat surat itu. Hihi…dulu surat bener2 dinanti ya Pak De…

    Sejatinya sejak tahun 72an saya sudah menulis untuk majalah Api Sudirman (majalah Akabri Darat)

  3. Agung Han says:

    Pakde Kereeen
    semangat nulisnya mengisnpirasi

    Matur nuwun
    Semoga tulisan sederhana ada manfaatnya

  4. Pak De pindah ke Cimahi?deket dong sama saya. semoga someday bisa meet up dan menularkan kemampuan nulisnya hehehe. Saya juga kirim naskah ke femina di tolak tapi y ga kapok tetep kirim sampe tembus 🙂 makasi sharingnya Pak De

    Dulu dinas di Cimahi, di Pusdikpom
    Juga beberapa kalisekolah di situ
    Lebaran kemarin kami juga nengok ibu mertua

  5. rita dewi says:

    Sejak mulai marak media online… sepertinya pamor media cetak seperti majalah dan tabloid mulai meredup ya? Atau saya salah?

    Media cetak juga sudah melengkapi versi onlinenya
    Kita tinggal memilihnya

  6. Pakdhe tuh keren deh, punya sesuatu yang selalu bisa di ceritakan. Kereeen 😀

    Semua orang sejatinya bisa bercerita apa saja
    Tinggal mau apa tidak tho Jeng

  7. nduk pipit says:

    Salam kenal Pakde, wah hebat sll punya hal yg menginspirasi. aku aja yg muda kalah ini, hehehe

    Saya memang punya banyak waktu luang sehingga bisa menulis kapan saja saya mau

  8. nh18 says:

    Saya salut dengan semangat Pak De …
    Pak De itu tidak menggunakan atribut yang pak de punyai untuk menembus majalah.
    Pak De murni mengandalkan kemampuan menulis untuk bisa dimuat di majalah-majalah tersebut.

    (kalau saja pemimpin redaksi tau siapa sebetulnya Pak De … mungkin cerita bisa berbeda)

    Salam saya Pak De

    Iya Om
    Saya menulis dan mengirim naskah ke majalah umum begitu saja, cukup nama dan alamat.Saya harus berjuang bersama penulis-penulis lainnya.
    Pangkat baru saya pakai ketika menulis di Majalah Gajah Mada dan Majalah Akabri Darat karena merupakan suatu keharusan.
    Setelah pensiun dan masih mengisi artikel di Majalah Gajah Mada saya juga mengandalkan isi tulisan saja.

  9. Ratna Dewi says:

    Pakdhe kereenn euy. Ternyata udah eksis di majalah dari tahun 80an. Aku kira kalo yang ngisi tulisan di Femina kebanyakan perempuan. Eh tapi ternyata seorang TNI AD yang biasanya identik sama ‘garang’ bisa juga menulis dan tembus di majalah-majalah perempuan. Semangat menulis terus, Pakdhe.

    Ketika saya masih menjadi Taruna Akabri sebenarnya sudah beberapa kali mengisi artikel di Majalah kabri Darat Api Sudirman.
    Lumayan jadi terkenal dan mendapat honor untuk nambah uang saku.

  10. Marsudiyanto says:

    Selamat sore Dhe…
    Salam dari Kendal.
    Ini saya sedang di Lab bersama blogger Kendal (murid saya).
    Anak2 titip salam untuk Pak Dhe dan semua yg di Surabaya

    Selamat pagi Eyang Bhatara Guru
    Wah blogger Kendal pakai acara ngeLab segala ya
    Matur nuwun, salam hangat kembali dari Jombang

  11. astutiana says:

    Pakde top markotop sehat selalu dan terus berkarya ya Pakde

    Matur nuwun Mbak
    Insya Allah akan terus menulis
    Lha mau sepakbola atau main tenis sudah sepuh takut pinggang pedot hahahaha

  12. tenggorokan says:

    wawww…kalo menurutku , selain isi artikelnya yang bagus, saya lebih suka liat kemasan kontennya keren banget gan, patut ditiru..thanks infonya min

    Terima kasih

  13. rumah sehat says:

    saya sangat mengapresiasi karya pak dhe, semoga terus jaya dengan karya-karyanya!
    hehe…

    Matur nuwun

  14. Mantap lah, sukses terus ya mas

    Matur nuwun mas Gamat

  15. Frutablend says:

    Hebat ni Pakde udah masuk majalah duluan,,, tunggu aku pakde,,

    Saya tunggu sampai memutih rambutku

  16. Pakdhe emang jos gandhos sejak muda yaaa 🙂

    Alhamdulillah dikarunia olehNya
    Matur nuwun

  17. ndop says:

    Jam terbange wis uwaaaakeh…

    Mari kita kejar wahai blogger2 muda! hahahaha.

    Keren pak dhe!
    Kejarlah daku kau kutangkap
    Matur nuwun

  18. Yati Rachmat says:

    Emaaak, anakmu ki pancen pinter nganti saiki, hehe…Saluut buat Pakde Cholik.

    Terima kasih Mbak

  19. Pakde ni ok banget, pantas jadi inspirasi bagi para blogger,,

    Terima kasih

Leave a comment