Hanya Kaum Perempuan Yang Suka Marah

Tradisi atau kebiasaan di desa berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Perubahan jaman juga menyebabkan sebuah tradisi perlahan-lahan sirna. Ada yang karena kesadaran masyarakat menyebabkan tradisi itu kini tiada. Kondisi ekonomi dan keinginan untuk melakukan penghematan serta mencegah pemborosan ikut mempengaruhinya. Namun tak sedikit pula penduduk yang masih melestarikannya walaupun wujudnya sudah dimodifikasi, agak berbeda dengan aslinya namun esensi dan tujuannya tetap sama.

Β Era abad ke-20, suatu pagi.

Terdengar suara uluk salam:”Kula nuwun,” berkali-kali. Karena Emak tak kunjung keluar maka saya yang membukakan pintu untuk melihat siapa gerangan yang bertamu di pagi hari ini. Seorang wanita berdiri di depan pintu. Saya amati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita separuh baya ini memakai kerudung di kepalanya, berkebaya, berkain jarit, dan bersandal jepit terbuat dari karet.

“Emak ada, Nak?” tanya ibu itu. Saya mengangguk lalu lari memanggil Emak. Saya mengintili beliau dari belakang. [Kalimat ini termasuk pemborosan karena mengintili pasti dari belakang. Kalau di depan namanya menuntun]

“Eeeeee, Yu Nah,” kata Emak sambil menyalami tamu. “Ada apa, Yu?”

“Saya diutus Mak Raki. Dinten Setu Pon panjenengan dipun aturi neda usik ten griyane Mak Raki.”

“Lho, laopo?”

“Mak Raki nyelamaken yogane sing ruju.”

“Oooooo…iya, Insya Allah.”

“Nggih, sampun, ngaten kemawon. Nyuwun pamit.”

“Lho, nggak pinarak disik tah?”

“Sampun, matur nuwun. Bade nglajengaken lampah margi teksih katah.” Wanita tadi menyalami Emak dan langsung pergi.

Dialog di atas intinya mengundang Emak untuk menghadiri acara khitanan anak bungsu Mak Raki pada hari Sabtu Pon.

Yu Nah, wanita yang datang tadi bertugas marah kepada orang-orang kampung, khususon kaum wanita. Marah adalah istilah dalam bahasa Jawa artinya memberi tahu. Mungkin berasal dari kata warah, diwarahi artinya diberitahu. Kata ini tentu berbeda dengan kata marah dalam bahasa Indonesia yang kadang disertai jotosan, makian, dan membalikkan meja segala.

Kala itu memang ada dua jenis undangan yang dikirim oleh shohibul hajat. Ada undangan berbentuk kartu yang disebut ulem-ulem. Kaum laki-laki biasanya mendapat undangan model kertas ini. Kepada kaum wanita, utamanya mereka yang masuk dalam lingkaran-1, alias famili atau kerabat biasanya didatangi oleh utusan pemangku hajat. Wanita inilah yang disebut tukang marah. Sepanjang ingatan saya, belum ada kaum laki-laki yang ditugasi marah. Kalimat yang diucapkan oleh duta marah tampaknya sudah baku. “Dipun aturi neda usik benjang dinten………ing dalemipun….,” artinya diundang makan nasi usik pada hari…di rumah…..

Usik adalah jenis lauk-pauk, mirip nasi kare atau gule, walaupun nanti yang terhidang adalah nasi rawon, nasi remas, atau nasi sop. Ini mirip kalimat : naik honda, walaupun yang dinaiki angkot merk Toyota atau Suzuki.

Anehnya, tukang merah belum pernah diperankan oleh seorang gadis, selalu wanita yang sudah berumur atau sudah menikah. Mungkin shohibul hajat takut kalau nyuruh anak gadis menjadi tukang marah. Takut kalau si juru marah cengengesan atau malah mblakrak main ke mana-mana dulu. Sekarang sudah jarang tampak tukang marah berkeliling desa, door to door menyampaikan undangan secara lisan.

.

Walimatul 'Urusy

Jika diundang walimatul ‘ursy sebaiknya datang

.

Ditonjok mringis.

Selain undangan berbentuk kartu dan diberitahu langsung oleh seorang tukang marah ada cara lain untuk mengundang tetangga. Undangan ini walkhusus untuk kerabat atau sesepuh.

“Mbah ditonjok Yu Ngatirah yang mau mantu,” kata Mak Ti. Jangan kaget ya jika nenek saya ditonjok tetangganya. Ditonjok dalam kalimat ini artinya dikirimi makanan berbentuk nas lengkap dengan lauk-pauknya. Sangking seringnya nenek atau Emak menerima tonjokan saya sampai hafal menunya. Nasi putih, ayam dan tahu atau tempe bumbu bali, telur bumbu bali, mi goreng atau bihun goreng, dan oseng-oseng. Daging ayam biasanya yang empuk yaitu bagian dada dalam ukuran jumbo. Menu tonjokan jaman sekarang sudah beraneka ragam. Demikian pula wadahnya. Untuk kepraktisan tonjokan juga bisa dikemas dalam bentuk kotak atau rantang plastik.

.

Nasi dan lauk-pauk tonjokan

Menu tonjokan jaman sekarang sudah bervariasi.

.

Barangsiapa yang menerima tonjokan maka wajib hukumnya untuk menghadiri undangan itu. ‘Kalau sudah ditonjok ya malu kalau nggak datang,” begitu prinsip dasar yang dianut oleh warga kampung saya. Kalau tanggal muda atau persediaan padi masih ada ya nggak masalah. Tapi kalau sedang paceklik dan tanggal tua ya memang agak mringis sedikit hehehe.

Kedatangan tukang marah atau ditonjok oleh tetangga menunjukkan bahwa seseorang berlabel spesial, setidaknya menurut anggapan si empunya hajat.

Apakah sahabat pernah ditonjok? Atau didatangi kaum perempuan yang suka marah? Bagaimana rasanya?




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

30 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Hihihi lucu2 istilahnya. Saya baru tahu ini Pakde. Terima kasih, jadi nambah vocabulary Jawa

    Iya, sekarang tukang marah agak langka. Mungkin si empunya hajat kasihan kalau nyuruh perempuan keliling kampung dan marah-marah.

  2. Donna Imelda says:

    hahaha, aku terkecoh dengan judulnya, kalau gitu aku mau ah sering2 ditonjok hahaha. gak marah kok… gak marah.

    Lumayan untuk santap malam

  3. Susindra says:

    Saya belum pernah jadi pemarah Pakde. Krn di sini harus laki-laki. Kalau penonjok baru… biasanya perempuan krn istilah tonjok/nonjok berarti mengantar berkat sebelum waktunya. Bapak2 wegah ngirim2 berkat. Nah itu saya sering. Hahahahaha

    Bukan wegah tapi juga malu kale ya

  4. Evi says:

    Tukang marahnya perempuan sudah berumur. Cocok itu pakde.

    Kenapa diberikan kepada perempuan yang sudah berumur, maksudnya sebagai penghormatan barangkali ya Pakde

    Mungkin mereka lebih hafal nama dan letak rumah tetangganya Jeng.

  5. Alaika says:

    Oalah, saya kira tadi hanya kaum perempuan yang suka marah, artinya hanya kaum perempuan yang suka emosi. Hihi, ternyata….

    Matur nuwun Pakdhe, jadi nambah kosa kata saya nih. Catet ah, marah, ditonjok, berarti ga boleh balas dengan tonjokan dan amarah [dalam artian bahasa Indonesia] ya, tapi senyum, berterima kasih dan bersiap untuk hadir pada saat hajatan, plus sedia amplop, ya, Dhe? Hehe.

    Hooh, jangan lupa bawa gula kopi atau mi instan ya

  6. Nchie Hanie says:

    hahahhaaa..terkecoh eykeh Dhe…
    kirain lagi tonjok2 kan ampe jambak2an tuh kalo perempuan mrah2..

    kalo tonjokan ini mah aku mauuu tiap hari juga di tonjok Dhe eehhh

    Tonjok lontong kikil wal sate ya

  7. Muh.Ahsan says:

    Di dusun saya juga masih ada istilah marah Pakdhe, biasanya yang kebagian marah-marah adalah garwane kap kepala dusun. Bahkan ada orang yang didedikasikan khusus untuk tugas nonjok-nonjok setiap ada hajatan mantu, kebetulan juga yang biasanya kebagian nonjok-nonjok ini dikoordinasi oleh anaknya pak kepala dusun.

    Bagus juga jika isteri kepala dusun mau turba agar lebih dekat dengan warganya

  8. sumarno says:

    pesen jajan goyange pandhe… itu yang warna pink bentuknya kayak bunga…. kalo disini namanya goyang… πŸ˜€

    Namanya Kembang Goyang

  9. Rahmah says:

    Wah, saya jd kaya bahasa. Baru tahu istilah ini. Suwun Pakde.

    Kalau tak tonjok jangan marah ya

  10. nunu says:

    Tadinya mau marah, ngga terima sama judulnya…hahaha..ternyatah…jadi tambah wawasan bahasa jawa, andai istilah marah dan tonjok di serap jadi bahasa Indonesia…damai kayaknya yaa..rela di tonjok…heheh..

    Ditonjok malah tersenyum ya Jeng

  11. Di daerah Purworejo uleman acara (termasuk acara kumpulan) masih disampaikan secara lisan dari rumah ke rumah pakde. Yang begini ini bikin nggak enak kalau mau absent kumpulan.
    Kalau tak ada halangan sebaiknya memang hadir ya Jeng

  12. Keke Naima says:

    Istilahnya lucu, Pakde. Ini sih tonjokan yang menyenangkan. Bukan buat ngajak berantem hehehe

    Beda bahasa, beda pula artinya

  13. jiah says:

    kalo yg marah anak gadis, mgkn gak tau org2nya, Dhe. ini curhatku yg krg paham tetangga yg sdh berumur, hihihi

    Iya, bolak-balik tanya ya

  14. Jarwadi MJ says:

    saya kira marah yang berarti angry, pakdhe ;-D

    Beda rupa Mas

  15. Saya jadi ingaat saat KKN di pelosok Lampung Utara yang isinya transmigran dari Jawa, pakdhe. Anak KKN pun sering ditonjok hehehe

    Lumayan, makan gratis ya

  16. Akhdan Baihaqi says:

    maksudnya di tonjok itu, menghadiri ganti gitu ta?haduh ada2 aja ya. baru tau ini kata2 di tonojk maknanya ganti menghadiri.

    Ditonjok itu artinya dikirimi makanan oleh orang yang punya hajat.
    Tapi ini mirip undangan juga

  17. novaviolita says:

    hi2..kirain postingannya..berisi tentang prempuan yang dasarnya..suka bicara..nyinyir dan marah-marah..wkkwkw

    Beda istilah

  18. momtraveler says:

    Kalo ditonjok kaya begini aku mbok mau dhe sering2 ditonjok hahhaha…. aneh2 aja istilahnya tapi jd nambah pengetahuan baru ni

    Tapi nyumbang loch

  19. Unik ya istilah-istilahnya, Dhe. Mirip sih dengan tradisi di Semarang, ada yang tukang marah, ada pula tonjokan..hihi.
    Tapi biasanya di Semarang, yang tukang marah itu kebanyakan laki-laki Dhe…kalo yang perempuan biasanya jadi tukang nonjok..alias ater-ater πŸ˜€

    Beda rasa ya tonjokannya

    • Waduh, rumahku termasuk Semarang mana nih ya Mba Ika, kok ga ada istilah marah sama tonjokan hihihiiii… padahal pengin banget dimarahi dan ditonjok nih. Tolong, tonjok aku Pakdheeeee πŸ™‚

      Tenan? Awas kalau ketemu

  20. kania says:

    wah, kalau ditonjok yg seperti ini enak ya pakde, kenyaaang πŸ™‚

    Iya, bayar belakangan

  21. Rhodoy says:

    Saya juga mau Om ditonjok, lumaya buat sangu belajar nulis untuk posting di blog.

    hehehe..kalau dekat pasti tak tonjok tenan

  22. Ety Abdoel says:

    Oalah kirain marah-marah.. Eh, di kampung halaman saya juga ada Pakde tapi namanya bukan marah.
    Ulem-ulemnya pakai datang ke rumah orang satu persatu.
    Yang biasa melakukannya seorang ibu separuh baya. Beliau memang spesialisnya Pakde. Soalnya kalau ada orang punya gawe pasti ibu tadi yang datang dan hingga beliau meninggal gak ada lagi yang melanjutkan tugas ini.
    Digantikan oleh undangan kertas Pakde.

    Ulem2 kan tertulis Jeng

  23. damarojat says:

    betul Pakde. kalo tukang marahnya masih gadis biasanya nyasar. disuruh ke rumah A malah ke rumah Pakde. njuk piye no….

    tapi saya baru tahu istilah ini Pakde. asyik, nambah pengetahuan. jadi lain kali kalo didatangi tukang marah pasang senyum aja.

    Iya, kalau masih muda mungkin belum kenal yang sepuh2 ya

  24. Agung Han says:

    liat foto jajanan di atas
    jadi inget dulu makanan itu akrab banget saat ada hajatan di kampung halaman
    sekarang lama banget ga makan kembang goyang hehehe
    salam sehat dan semangat

    Saya kurang begitu suka Mas
    Enakan lemper atau nagasari

  25. Yoekaa says:

    Dapat ilmu baru, ALHAMDULILLAH…. makasih informasinya

    Sama2 Mas

  26. oalah judulnya mengecoh nih hahaha πŸ˜€

    Banyak yang merasa terkecoh hahahaha

  27. Tradiainya seperti di kampung kelahiranku di daerah pecinan Semarang. Kalo ada warga yang mau punya gawe, ada seorang ibu2 yg diutus untuk ngaturi tindak njagong. Sekarang beberapa warga asli di kampung kelahiran masih menggunakannya, tapi banyak juga yang sudah meninggalkan.

    Mungkin enakan pakai surat undangan ya jeng

  28. oalah ketipu enyong de sama judul nya.. kirain tonjokan bener di tonjok.. hehe

    hehehehe…kalau ditonjok bisa nggeblak

  29. ndop says:

    Iki hasanah bahasa sing klasik sing penting untuk ditulis. Sip pak dhe. Juwarak!

    Sekarang sudah langka Mas

Leave a comment