Tebu, Riwayatku Dulu

Rumpun tebu

Setiap mendengar kata tebu, melihat rumpun, dan batang tebu saya selalu teringat masa kecil. Apalagi jaman sekarang banyak pedagang di pinggir jalan yang menjual minuman khas air tebu. Para sahabat bisa melihat air tebu yang dijajakan di kawasan Mojokerto dan Jombang. Bahkan di kota Surabaya juga mudah menjumpai minuman khas ini. Terus terang saya belum pernah membelinya. 

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Rakyat, di kampung saya banyak tanaman tebu. Sawah petani banyak yang disewa untuk ditanami tebu. Pada waktunya kelak, tebu ini akan ditebang dan selanjutnya dibawa dengan truk ke pabrik gula yang ada di kota Jombang. Yup, tebu memang merupakan bahan baku untuk membuat gula, baik gula pasir maupun gula merah.

Persis di samping rumah saya, sawahnya ditanami tebu. Untuk menjaga keamanan tebu, ditugaskanlah 1-2 orang penduduk desa. Kami menyebutnya Sekaut (mungkin diambil dari bahasa asing Squad ya…) Bapak ini setiap hari berjalan-jalan mengitari lorong-lorong tebu. Kadang, secara berkala, datang petugas dari kota yang mengendarai mobil jenis jeep. Kami menyebutnya sinder. Pada umumnya kami takut jika melihat sekaut atau sinder.

Begitu tanaman sudah mulai tinggi dan layak untuk dimakan maka saya dan beberapa teman mulai masuk ke arena pertebuan. Tentu saja kami harus tengok kanan-kiri dulu sebelum masuk ke dalam area ini. Jika tampak ada pak sekaut maka kami tidak masuk dulu. Begitu pak sekaut pulang atau pergi entah ke mana barulah kami masuk dan makan tebu sepuasnya. Kami baru keluar dari pertebuan setelah puas dan perut kenyang.

Entah siapa yang mengajari, kami kemudian mempunyai area khusus untuk duduk dan makan tebu yang manis dan tidak terlalu keras. Kami menyebutnya kawasan ‘tebu tek’. Jika pisau kami tutulkan ke batang tebu maka batang itu akan terbelah sedikit dan berbunyi ‘tek.’ Inilah jenis tebu yang rasanya manis, pas di gigi, dan pas pula di hati. Kadang kami mencoba tebu ‘sogolan.’ Ini termasuk jenis tebu yang batangnya besar, rasanya manis, dan banyak juga yang batangnya berbunyi ‘tek’ ketika pisau saya tutulkan di batangnya.

Bayangkan sodara-sodara, hampir setiap hari saya, Imam Syafii, Slamet, dan Sunyoto masuk arena pertebuan. Kami sudah sangat hafal lorong dan tempat tebu tek ‘milik’ kami tersebut. Aih..gile bener. Kecil-kecil kok sudah nakal ya.

Apakah kami pernah dipergoki oleh sekaut (penjaga tebu) selama petualangan tersebut? Pernah sodara-sodara.

Alkisah, Pak S, yang menjadi sekaut melihat kami sedang menikmati tebu. Beliau berteriak “Heiiiii…” Melihat pak Sekaut menuju arah kami maka tanpa pikir panjang kami ngacir melalui lorong-lorong untuk keluar dari kawasan pertebuan. Ternyata Pak S terus mengejar. Entah siapa yang memberitahu perihal kejar-mengejar ini akhirnya sampai di telinga Emak. Alih-alih minta maaf atas kelakuan anaknya, Emak justeru menghampiri Pak S. “Emangnya anak saya makan tebu berapa truk kok sampeyan kayak mengejar maling.” Pak S lalu ngeloyor meninggalkan kami yang masih ketakutan. “Saved by Emak,” kami merasa aman terkendali. Duh, Maafkan kami ya Pak S.

Masa jaya kami menjadi berkurang ketika tebu sudah mulai dipanen. Para penebang tebu memotongi tebu-tebu, mengikatnya, dan kemudian memasukkannya ke dalam truk. Namun kami masih bisa mengambil beberapa batang tebu untuk dibawa pulang. Bahkan ketika truk yang membawa tebu tersebut mulai berjalan kami masih berlarian dibelakangnya dan membetot beberapa tebu.

Tebu bukan hanya untuk diusung ke pabrik gula tetapi juga ada orang yang menjualnya di depan sekolah kami. Entah dari mana penjual mendapatkan tebu. Mungkin mengumpulkan tebu yang tercecer ya. Tebu itu dijual dalam bentuk batangan pendek-pendek atau di jual dalam bentuk sudah dikupas kulitnya, lalu dipotong-potong sekitar 5 cm.

Tebu bukan hanya diolah menjadi gula atau dijual airnya. Masih ada manfaat lain dari batang tebu. Dalam adat orang Jawa, batang tebu, utamanya yang berwarna ungu, dipakai dalam acara adat Tedak Siten (acara Turun Tanah) bagi balita. Batang tebu ini dirangkai menjadi semacam tangga. Si baby pura-puranya dinaikkan tangga tersebut sampai puncak. Ini melambangkan dan harapan agar si anak kelak dapat mencapai cita-citanya setinggi mungkin. Hampir semua cucu saya melakukan acara Tedak Siten ini. Acara ini memang sengaja saya gelar untuk melestarikan adat dan budaya Jawa.

.

Acara Turun Tanah

.

Acara Turun Tanah Biyan

Acara Tedak Siten (turun tanah) tangganya dibuat dari batang tebu

.

Batang tebu juga digunakan dalam acara pernikahan. Bersama dengan tumbuhan lain batang tebu ikut menghiasai terop si empunya hajat. Beberapa tanaman seperti pisang raja, daun alang-alang, daun kluwih, daun beringin, batang tebu berwarna hitam atau ungu-kemerahan (tebu wulungt) dirangkai menjadi satu dan disebut Tuwuhan. Konon, tebu diartikan sebagai ‘antebing kalbu’. Dalam melaksanakan acara pernikahan, orangtua dan kedua mempelai harus memiliki hati yang mantap agar semuanya berjalan dengan lancar dan aman. Pasangan suami-isteri yang baru menikah tersebut juga diharapkan mantap dalam membina rumah-tangganya.

.

Tuwuhan dalam Pernikahan Adat Jawa

Tebu sebagai bagian dari tuwuhan

dalam pernikahan adat Jawa

.

Kini, hampir sudah tidak ada anak-anak yang masuk arena pertebuan untuk makan tebu. Penjual tebu batangan juga jarang terlihat. Hanya padagang air tebu yang bisa ditemukan di berbagai tempat.

Tebu, memang mirip lagu dangdut. Di makan pagi enak, di nikmati pada siang hari juga segar, dan di santap pada malam hari juga tiada orang yang melarang.

Tetapi, tebu yang bagi saya penuh riwayat itu kini tinggal kenangan. Anak-anak jaman sekarang lebih suka menikmati makanan yang praktis, di kemas dalam bungkusan yang bergambar warna-warni. Lahan untuk menanam tebu tampaknya juga semakin berkurang karena di atasnya kini telah berdiri rumah-rumah mungil nan indah.




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

6 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. PIPIT says:

    Aku g pernah main di arena tebu pakde, lebih sering main di sawah sama kali, “buron” sama temen2.
    Tapi kalau ngomogin inget jaman SD dulu suka rebutan kalau ada batang tebu yang siap dinikmati, soalnya termasuk langka tebu di daerah tempat tinggal dulu

    Sekarang sudah nggak jamannya nyolong tebu hahahaha

  2. Nining says:

    Saya inget banget pakde, dulu pas maen ke rumah keluarga di Jombang. Kebun tebu berdereeet, sekarang sepertinya udah berkurang ya.

    Iya, sudah ganti tanam rumah hahahaha

  3. Pak dhe, rumahku persis di blakang pabrik gula, tiap masa giling tebu, dulu anak2 suka narik2 tebu dr truk2 tebu yg antri yg lg ditinggal supirnya,,trs dibwa k rumah, dikupas dikerat2 kecil2,,tebu jaman dl manis2,,tp tebu jaman skrg gak semanis dl,,gak semanis kenangan ttg tebu jaman dl jg,,

    Sama dengan saya ya kelakuannya

  4. Tebu. Dulu waktu kecil saya pernah nyesep tebu potongan kecil2. Skrng sih langsung minum es tebu di pinggir jalan. Seger!

    Asyik loch..padahal nyolong

  5. Anak-anak dulu pernah kuberi tebu batangan, tapi nggak suka, aneh kata mereka. Padahal rasanya enak, manis sekali.

    Jamannya sudah lain
    Lebih senang makan pizza ya

  6. Manfaatnya banyak banget ya ternyata tebu itu, pakdhe.. saya tahunya cuma untuk dibuat minuman saja 🙁

    Acara adat masih menggunakan tebu

Leave a comment