Teks

Ketika Mulut Berbunyi Pyek

Ketika kita sedang berbicara atau melakukan suatu aktivitas kemudian terdengar suara ‘pyek’ dari mulut seseorang lihatlah wajah pemilik suara itu. Ada sesuatu di sana walau tak terucap. Yup, wajah orang itu menandakan kekurangsenangan atau bahkan ketidaksukaan terhadap tutur kata atau sikap kita.

Saya berikan sebuah contoh yang saya alami.

Cara bermain golf

.

Pada suatu permainan golf saya satu grup bersama dua orang teman dan seorang atasan. Ketika permainan sampai di hole sekian bola atasan dekat dengan lubang, demikian pula bola saya. Menurut pandangan saya dua bola itu akan dengan mudah masuk hole, cukup dengan sentuhan halus.

Saya mendapat giliran memukul terlebih dulu dari atasan. Giliran selanjutnya adalah atasan. Saat saya sedang melakukan practice, terdengar suara ‘pyek’ dari mulut seorang teman. Dugaan saya benar. Dengan pukulan halus bola saya masuk lubang dengan mulus. Demikian pula bola sang atasan. Pada hole itu terjadi draw.

Anehnya, saat menuju ke tempat pemukulan bola di hole berikutnya tak ada seorangpun berbicara. Atasan diam, teman yang lainnya idem dito. Saya berpikir keras apa yang sebenarnya yang terjadi.

Saya baru ngeh sebelum pulang sahabat yang mulutnya berbunyi ‘pyek’ tadi bilang: “Wong bapak itu tadi mau par kok sampeyan par duluan sih.” Ooooo…alaaaaaaa….itu tho maksudnya. “Kalau mau ngatur begitu ya mestinya sejak awal bola tak pleset-plesetkan agar masuk grumbul atau nyemplung di kolam donk. Kalau main sabun di dekat lubang kan kelihatan ABSnya.”  Sahabat tadi diam seribu basa.

Di Indonesia dalam suatu olahraga kadang harus dicampuri olahrasa. Jika dalam olahraga kkita bertemu dengan atasan yang hobi dan penginnya menang terus apapun caranya ya silakan berbijak ria. Kita jangan terlalu ambisi untuk mengalahkannya. Bisa repot nanti. Walaupun dia berkata: “Selamat yaaaa!”  coba lirik wajahnya. Apakah dia berwajah cerah atau mendung.

Tetapi tidak semua atasan berperilaku seperti itu. Banyak kok atasan yang fair dalam berolahraga. Bahkan atasan ini tak segan-segan berkata: “Kamu jangan main sabun ya. Saya tidak suka!” Tentu saja atasan model begini ini yang disenangi bawahannya. Olahraga ya olahraga. Kalah menang harusnya merupakan hal yang biasa.

Tapiiiiii, bangsa Indonesia kan terkenal ramah-tamah. Walaupun atasannya baik tentu anak-buah masih saja ada yang memiliki rasa sungkan wal rikuh untuk menggebuk dengan keras bola tenis yang ada di depannya, bukan.

Menang dalam permainan dalam olahraga tentu menyenangkan. Tetapi jika kemenangannya itu karena ‘disiapkan’ kan kurang elok. Bisa saja anak buah tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Gimana nggak menang wong pukulan lunak saya arahkan ke bos terus. Ibarat kata beliau tinggal ngemplok.”

Penahkah sahabat merasakan hal seperti itu manakala bertanding olahraga dengan masbos?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

1 Comment

Skip to Comment Form ↓
  1. Anne Lesmana says:

    Hmm.. Begitu ya pakdhe.. Harus pintar mengolah rasa.. Makasih kisah inspiratifnya pakdhe.

Leave a comment