Hati-hati Terhadap Kedudukan Atau Jabatan

Kedudukan dalam pengertian umum mengandung elemen jabatan dan pangkat pada sebuah instansi sipil maupun militer. Jabatan seseorang diberi nama sesuai lingkungannya. Ada yang disebut komandan, kepala, direktur, asisten, inspektur, dan lain sebagainya. Tugas dan tanggung jawabnya juga beraneka ragam. Salah satunya adalah memimpin bawahannya untuk menyuskseskan tugas pokok instansi atau kesatuannya.

Orang memperoleh kedudukan, jabatan, dan pangkat dengan berbagai cara. Ada yang naik jabatan dan pangkat karena kinerja dan prestasinya memang bagus yang didukung oleh moral yang baik. Ada pula yang karena faktor koneksi dan juga tak sedikit mereka yang tanpa malu-malu minta jabatan.

Untuk mereka yang suka meminta jabatan sebaiknya menyimak nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu: Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” [HR.Bukhari]

Dalam menyikapi kedudukan atau jabatan yang sedang diembannya, manusia digolongkan menjadi dua bagian. Yang pertama adalah manusia yang mensyukurinya dan yang kedua adalah manusia yang kufur atas kedudukan yang diperolehnya.

Bagi yang mensyukuri atas kedudukan atau jabatan yang diembannya maka dalam menjalankan kedudukannya itu mereka akan bersikap sebagai berikut.

  1. Jabatan adalah suatu amanah, maka mereka akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya berdasarkan ketentuan yang berlaku. Semua kegiatan dilaksanakan untuk kemajuan instansi, negara, bangsa, dan kemaslahatan seluruh anggotanya. Sebelum menjalankan tugasnya, dia akan meluruskan niat—bekerja untuk ibadah.
  2. Golongan ini menganggap anggota bawahannya sebagai mitra kerja. Dia memperlakukan anak buahnya secara manusiawi dengan tetap memperhatikan derajat dan martabat mereka. Ia bertindak sebagai pemimpin yang adil, tidak pilih kasih, tidak ada anak emas atau anak tiri dalam memperlakukan bawahannya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk memanfaatkan bawahan sebagai pelayan, gedibal, atau jongos. Ia tak pernah berbuat semena-mena terhadap anak buah apalagi menjadikan sasaran pelampiasan kemarahan atau kambing hitam manakala tugasnya tak dapat diselesaikan dengan baik.
  3. Golongan ini mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi dan atau golongannya. Dia tak akan memberikan fasilitas apa pun kepada keluarga maupun sahabatnya. Jika ada famili atau sahabat yang melamar pekerjaan di instansinya maka syarat dan ketentuan baku juga diberlakukan kepada mereka.
  4. Golongan ini tidak menggunakan prinsip “aji mumpung” dengan menggunakan dan memanfaatkan pangkat dan jabatannya untuk mengeruk sebesar-besar keuntungan bagi pribadinya dan keluarganya. Boleh dikata dia mempertanggungjawabkan setiap sen dari biaya yang ada secara transparan.
  5. Punya sifat legawa, untuk pada suatu saatnya menyerahkan kedudukannya kepada penggantinya secara ikhlas. Tak ada sedikit pun keinginannya untuk mempertahankan jabatannya jika masa tugasnya sudah selesai.



 

Mereka yang kufur atas anugerah kedudukan, pangkat, dan jabatan yang diperolehnya tentu akan melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang sudah diuraikan di atas. Muncul sifat congkak, arogan, zhalim, serakah, dan perilaku negatif lainnya. Sudah banyak contoh pejabat yang mengingkari nikmat kedudukan dan jabatannya yang akhirnya harus dipecat dan dimasukkan penjara karena terlibat dalam perkara penyalahgunaan jabatan. Mereka yang semula dihormati dan disegani akhirnya tak berani mengangkat wajah karena malu dengan sikap dan tingkahlakunya yang tak terpuji.

Ketika seseorang mendapat kepercayaan untuk menduduki jabatan tertentu selayaknya mengingat dan memedomani firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran ayat 26)

Begitulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaanNya bisa mengangkat seseorang ke tempat yang mulia dan sebaliknya juga dengan cepat dapat mencabutnya kembali.

Setiap pemimpin atau pejabat akan dimintai pertanggungjawabannya di dunia maupun di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebelum memangku jabatan sebaiknya meluruskan niat bahwa jabatan adalah amanah dan menjabat adalah untuk ibadah.

Artikel ini diikutsertakan dalam acara Challenge One day One Post yang digelar oleh Fun Blogging Group

[24 Juli 2016]




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

8 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. @kakdidik13 says:

    Terima kasih atas pencerahannya pak Dhe, sangat bermanfaat sekali 🙂

    Sama2 Mas
    Tak sedikit orang yang mempunyai kedududkan melalaikan tugasnya

  2. Andhika says:

    Keren banget pakde petuahnya..
    dulu ketika masih ijo, saya sangat berambisi untuk mengejar “singgasana”
    bener sih, jadi kebeban dlsb
    harusnya ga perlu gitu ya pakde, cukup santai.. dan musti ingat, jabatan sama dengan tanggung jawabnya

    Salam

  3. Inayah says:

    Pencerahan…apalgi buatku yg lg menapaki karir

  4. topik says:

    ora seperti saya ini pakde belum cocok untuk berkedudukan, saat ini saya hanya ingin bersantai menikmati hidup

  5. Lusi says:

    Jabatan itu amanah sekaligus godaan.

  6. Catcilku says:

    jabatan oh jabatan… menggoda sekaligus petaka bila tidak amanah

  7. Indah Nuria says:

    Dan tanggung jawab ini yang akan dibawa hingga akhir hayat nanti ya pakdhe..

    Betul, kalau nggak baik bisa dilengserkan juga

  8. Kembali diingatkan untuk meluruskan niat didalam hati..

    Agar perbuatan kita tak sia-sia

Leave a comment