Kecil-kecil Sudah Kreatif

Ketika saya duduk di SMP, internet maupun gadget dalam bentuk handphone belum ada. Penduduk yang mempunyai radio transistor saja bisa dihitung dengan jari. Bapak juga baru membeli radio ketika RRI sedang gencar-gencarnya menyiarkan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) Beliau membeli benda yang harganya agak mahal kala itu bukan karena ingin mendengarkan sidang tetapi karena ingin mendengarkan siaran ludruk, ketoprak, wayang kulit, atau klenengan gamelan.

Jika sebuah kreativitas remaja tahun 1960an diukur maka tak akan menemukan karya yang ngedab-edapi atau significan. Yang dilihat cukuplah kemampuan apapun yang agak melebihi anak-anak lain seusianya. Saya misalnya, sudah bisa main harmonika. Bukan sekedar iseng, saya bahkan sudah mampu mengumandangkan beberapa lagu pada pagelaran pencak silat di kampung. Wah, sepertinya hebat, bukan.

Waktu itu kakek mendirikan grup pencak silat. Entah dari mana ide itu berasal. Pemainnya selain para pemuda dari desa sendiri juga dari desa tetangga. Latihannya di halaman rumah kakek. Tak ada gedung khusus untuk berlatih. Pencak silat ini selain untuk bela diri juga untuk dipertontonkan di rumah tetangga yang mempunyai hajat, misalnya mengkhitankan atau menikahkan anaknya.

Mengetahui cucunya bisa main harmonika maka kakek mengajak saya untuk ikut manggung. Yang saya ingat, kala itu yang mempunyai hajat adalah adik nenek saya. Beliau tidak nanggap ludruk, wayang, atau orkes gambus tetapi hanya nanggap grup pencak silat pimpinan kakek.

Alat musik untuk mengiringi pencak silat sangat sederhana yaitu gendang, jidor (semacam beduk berbentuk bulat) dan harmonika. Nah, pemain harmonikanya adalah cucu beliau sendiri yang bernama Abul Cholik. Dalam pencak silat tak ada irama yang sulit-sulit. Kesannya bahkan monoton. Untung ada saya si peniup harmonika jadi agak ramai sedikitlah hahahaha.




Saya masih ingat dua buah lagu yang paling sering saya mainkan yaitu Lenggang-lenggang Kangkung dan lagu Terang Bulan. Dua lagu ini saya kumandangkan ketika pesilat masih memainkan gerakan ‘kembang-kembangan.’ Begitu dua pesilat mempertunjukkan gerakan perkelahian maka harmonika diam. Irama gendang dan jidor nya menjadi cepat, bertalu-talu, sehingga saya kesulitan mencari dan memainkan lagu yang sesuai. Mau memperdengarkan lagu Potong Bebek Angsa kok rasanya kurang pas ya.

Selain main harmonika, saya juga piawai memukul ketipung (semacam rebana) Alai ini bukan saya mainkan di grup pencak silat asuhan kakek tetapi di grup musik gambus asuhan bapak. Pukulan ketipung saya juga dikagumi oleh para pemain gambus loch. Saya juga pernah ikut pentas pada acara perpisahan di Sekolah Dasar (kala itu namanya SR-Sekolah Rakyat) yang lokasinya agak jauh dari desa saya. Bapak menjabat Kepala Sekolah di SD tersebut.

Dengan dua keahlian tersebut bolehlah saya diberi label Kecil Kecil Sudah Kreatif. Mohon tepuk tangan yang meriah.

Untuk main harmonika dan memukul alat musik tersebut apakah saya mendapat imbalan uang? Ah tidak, hanya dapat makan saja. Maklum yang nanggap famili sendiri.

Terus terang, sekarang saya malah agak kesulitan meniup harmonika. Tetapi saya, hanya dengan latihan lagi beberapa kali pasti akan bisa memainkan aneka lagu. Bukan hanya lagu pop saja, lagu dangdut pun barangkali akan saya lahap.

Sssst…ini rahasia kita ya. Saya ternyata juga bisa main gendang. Ini saya buktikan ketika kami menyelenggarakan lomba panjat pinang menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI di kampung saya. Kami mendatangkan grup kuda lumping. Ketika itulah saya mengambil alih tugas pemain gendang. Ternyata pukulan saya tak jelek-jelek amat. Lha wong tetangga saja nggumun kok. “Mas Lik kok bisa main gendang ya,” celetuk mereka.

Ketika pesinden memperdengarkan lagu campursari Caping Gunung saya kasih aba-aba kepada para main: “Naik ke dangdut.” Suasana menjadi semakin ramai, tepuk tangan dan suitan bersahut-sahutan. Kirain tepuk tangan untuk saya nggak tahunya mereka bersorak-ria karena salah satu peserta panjat pinang celananya melorot bhwaa hahahahaha.

.

Kuda Lumping Orchestra

Kuda lumping orchestra

.

Artikel ini diikutsertakan dalam acara Challenge One day One Post

yang digelar oleh Fun Blogging Group

[22 Juli 2016]




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Ipeh Alena says:

    jiwa seni Pakde sudah terasah sejak kecil ya. Dan Kreatifnya itu sampe sekarang as always kreatif, Pakde.

    Iya, akibat pergaulan dengan teman sebaya yang hobinya sama
    Matur nuwun

  2. Wah, Pakdhe udah keburu seneng, ternyata bukan karena pinter main gendang yang dapat applaus, hehe

    Waktu kecil saya sering diajak simbah nonton ketoprak dan wayang wong. Eh ternyata nurun juga ke anak sulung saya.

    Bagus tuh, ikut melestarikan budaya Nusantara

  3. aseekkk pakdhe, kapan2 nanggap pakdhe ya buat maen kendang 😀

Leave a comment