Kumbakarna: Kecintaan Kepada Negaranya NgeTop

Latihan terjun payungDalam wayang kulit maupun wayang orang, Kumbakarna digambarkan bertubuh dan berwajah mengerikan, menakutkan. Bodinya yang bongsor dan dalam wajahnya juga nggak ada unsur ganteng manisnya blas. Anak dari Resi Wisrawa dan Dewi Kaikesi ini juga hobi banget makan dan tidur. Adik Rahwana ini bahkan bisa tidur selama 6 bulan terus-menerus. Habis makan malam dia masih blusukan ke kantin Alengka, jajan getuk, lemper, bakpao dan aneka makan berat lainnya. Setelah minum es cendol dia juga tak ragu-ragu nyosor soda gembira 2-3 gelas besar.

Salah satu sikap terpuji dari Kumbakarna adalah kecintaannya kepada Alengka, tanah tumpah darahnya. Kumbakarna tahu dengan pasti bahwa Rahwana kakaknya telah melakukan perbuatan tak terpuji yaitu menculik Dewi Sinta, isteri Prabu Rama. Saudara Sarpakenaka ini juga bukan cuek-bebek. Ia telah menasihati kakaknya agar segera mengembalikan Dewi Sinta kepada yang berhak. Tapi saran dan nasihat Kumbakarna tak dihiraukan oleh Rahwana. Raja yang mempunyai kesaktian menyulap wajahnya menjadi 10 ini malahan memerintahkan Kumbakarna maju ke medan laga untuk menyerang Prabu Rama.

Setelah tangan, kakinya ditebas, Kumbakarna masih bisa mengobrak-abrik pasukan Rama yang menyerang negaranya. Dengan bodinya yang tambun dia glundang-glundung melindas pasukan monkey yang dibawah perintahkan oleh Prabu Sugriwa kepada Prabu Rama. Akhirnya dia tewas oleh pusaka andalan Prabu Rama. Kepala dan bodinya terpisah jauuuuuh banget.

Saya tentu tak meniru perilaku Kumbakarna yang doyan makannya naudzubillahi mindzalik. Tumpeng ultah saja bisa amblas dalam hitungan menit loch. Juga tak mengikuti hobi tidurnya yang berbulan-bulan. Saya justeru ingin meniru sikap perwira dan patriotisme yang ditunjukkannya. . Kumbakarna berperang melawan Prabu Rama bukan untuk membela kakaknya yang salah tetapi mempertahankan negerinya yang diserang oleh pasukan musuh.

Sebagai seorang purnawirawan TNI saya sangat mencintai negara saya, Indonesia. Loyalitas kepada negara bukan hanya saya tunjukkan ketika saya masih dinas aktif sebagai anggota militer. Kecintaan kepada tanah tumpah darah saya insya Allah akan terus subur hingga akhir hayat saya. Manakala ada negara lain yang mengusik ketenangan negeri nan elok ini,  dan jika pemerintah akan memobilisasi umum warganegaranya untuk angkat senjata melawan musuh, maka saya menyatakan “siap bergabung.”

Saya tidak akan meniru Wibisana yang hengkang dari negerinya lalu bergabung kepada pasukan musuh pimpinan Prabu Rama. Walaupun dengan dalih memihak kepada kebenaran sekalipun. Kelak ketika Rahwana tewas di tangan Prabu Rama, Gunawan Wibisana diangkat menjadi raja Alengka. Menyeberang kepada negara lawan adalah pamali bagi saya, apapun alasannya.

Saya juga tak meniru Karna, yang membela Hastinapura dengan alasan untuk membalas kebaikan Duryudana yang telah memberikan pangkat dan derajat kepadanya. Tak heran, walaupun Raja Astina bersaudara berada pada posisi yang keliru, Karna yang diangkat sebagai Raja Awangga tetap membela Hastina. Ajakan ibunya, Dewi Kunti, agar karna bergabung dengan Pandawa tak dihiraukannya.

Kumbakarna, Gunawan Wibisana, dan Karna adalah sosok yang serig menjadi bahan diskusi. Namun Kumbakarna lah, dengan sikap perwira dan patriotismenya merupakan inspirasi bagi saya. Sungguh, saya tak rela jika ada anak bangsa yang suka menjelek-jelekkan negaranya sendiri.

Setiap presiden dan aparat pemerintah lainnya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tantangan mereka juga berbeda-beda. Kritik juga tak diharamkan. Syokur jika kritik itu disertai alternatif solusinya.

Indonesia adalah negara saya. Indonesia adalah negara besar, Rek. Sak dumuk batuk, sanyari bumi akan ditohi pati oleh rakyat Indonesia. Makanya jangan macam-macam dengan Indonesia. Berani menyentuh dahi orang Indonesia atau mengambil sejengkal tanahnya. Gibeng ae!

Artikel ini diikutsertakan dalam acara Challenge One day One Post yang digelar oleh Fun Blogging Group

[16 Juli 2016]




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Wiihh tokoh fiksi wayang memang sarat makna, sayang aku ga kenal deket…heuheu

    Saya pernah kopdar dengan Kumbakarna
    Nasi sak meja ludes

  2. zata ligouw says:

    Udah pernah denger nama Kumbakarna, tapi baru bisa tau karakternya dari artikel ini. Top banget ya pakde…

    Iya, patriotismenya tinggi

  3. Okti Li says:

    Suka wayang apalagi kalau wayang golek, cuma pas bodorannya aja, hehe…

    Iya, lucu2

Leave a comment