Saya GR Karena THR

Entah siapa yang menghembuskan kabar bahwa pemerintah juga akan membagikan THR para pensiunan. Walaupun, katanya, jumlahnya tidak sebesar tunjangan pensiun yang biasa kami terima namun kami tetap H2C (harap-harap cemas). Namanya juga uang kaget tentu banyak yang menyambutnya dengan antusias. Termasuk saya tentunya. Ternyata kabar burung itu tidak benar.

Sebagai purnawirawan saya sudah sangat bersyukur pemerintah masih ‘ngopeni’ kami. Selain tunjangan pensiun yang kami terima setiap bulan juga masih ada gaji ke-13. Berarti bulan Juli 2016 kemarin saya menerima uang dari pemerintah dua kali lipat yaitu tunjangan bulan Juli dan gaji ke-13. Alhamdulillah, Lebaran masih bisa tersenyum lebar. Namun demikian, namanya manusia, tetap saja ada GRnya jika mendapat kabar tentang adanya THR.

Masih bisa bagi angpao, Pakde? Alhamdulillah masih bisa. Pemberian angpao ini juga mirip nostalgia bagi saya. Ketika saya masih kecil para famili juga memberikan uang kepada saya saat lebaran tiba. Memang kala itu belum dikenal istilah angpao, setidaknya di kampung saya. Kami lebih sering menyebutnya sebagai ‘sangu’ Lumayan banyak uang yang saya terima dari kakek, nenek, paman, dan kerabat yang lain. Uangnya langsung diserahkan, tanpa dimasukkan amplop. Seorang tetangga bahkan ada yang menyebar koin di halaman rumahnya ketika anak-anak berdatangan mengunjunginya. Alhasil kami saling berebut untuk mendapatkan koin tersebut.

Kini jaman sudah berubah. Di toko sudah banyak dijual amplop kecil bertuliskan Selamat Idul Fitri. Gambarnya juga warna-warni, umumnya ada gambar anak-anak kecil, beduk, ketupat, atau masjid. Ke dalam amplop itulah uang sangu untuk anak-anak (dan juga orang dewasa) dimasukkan. Namun demikian masih masih juga yang memberikan sangu langsung tanpa dimasukkan ke dalam amplop.

.

Angpao Lebaran

.




Karena cucu dan cucu keponakan saya cukup banyak maka saya juga membeli amplop imut-imut tersebut. Saya masukkan uang sangu ke dalamnya. Seperti biasa, angpao saya sampaikan utamanya kepada anak-anak kerabat yang ikut berkunjung ke rumah. Bukan pilih kasih atau diskriminasi tetapi karena kemampuan saya masih terbatas untuk lingkungan terdekat yaitu para sanak-famili. Selain itu saya juga mempedomani hadits berikut ini.

Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)

Semoga pada kali yang lain saya bisa meningkatkan jumlah penerima angpao. Insya Allah.

.

Artikel ini diikutsertakan dalam acara Challenge One day One Post yang digelar oleh Fun Blogging Group

[14 Juli 2016]




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Amiin yarobbal’alamin.
    Jaman kecil..saya kok aneh ya..tiap dikasi duit angpau malah aku buangin…hahahha…

    Ada juga cucu yang cuek-bebek dikasih amplop hahahaha

  2. Nchie Hanie says:

    aseek..ditabokin pake amplop sangu sing menik2

    Bereees

  3. Jiah says:

    Amin….

    Klo saya ngasihnya ponakan doang, Dhe blm ke yg lain

    Iya, sesuaikan kemampuan

  4. Ipeh Alena says:

    Saya kemarin gak bagi-bagi sangu, Pakde. Tapi diganti jadi coklat :D, biar ga bosan. Hehe.

    Mereka pasti senang banget tuh

  5. Saya juga mau Pakde dilempar pake angpau… xixi. Kabuuur…

    Bisa diatuuuur

Leave a comment