Workshop dan Talkshow Bukan Sekedar Show

Terus terang saya sudah sering mengikuti aneka workshop utamanya ketika saya masih dinas aktif di lingkungan militer. Workshop dilaksanakan di lembaga pendidikan maupun dalam lingkungan instansi atau kesatuan. Workshop tentang peace keeping operation paling sering saya ikuti, di dalam maupun di luar negeri.

Salah satu workshop yang pernah saya ikuti setelah pensiunan dari dinas militer dan menjadi blogger adalah Workshop Fun Blogging 7 di Surabaya. Acara ini menghadirkan 3 narasumber yaitu Haya Aliya Zaki, Shinta Ries, dan Ani Berta. Mereka memang pakar blogging sehingga kami memperoleh banyak pengetahuan dari mereka.

.

Workshop Fun Blogging 7

.

Selain itu saya juga pernah menghadiri acara semacam workshop bertajuk Sunday Sharing, kerjasama antara blogdetik.com dengan Trans 7 di Surabaya. Sedangkan pada acara workshop yang digelar oleh Dompet Duafa bertajuk Indonesia Move On saya menjadi salah satu nara sumber.




Berbeda dengan workshop, acara talkshow atau gelar wicara dilaksanakan di televisi atau radio. Saya juga dua kali menjadi narasumber. Yang pertama di RRI Jember dan yang kedua di Radio Suara Muslim Surabaya. Topiknya nyaris sama yaitu masalah blogging.

.

Talkshow tentang Blogging

.

Baik workshop maupun talkshow pada hakekatnya adalah berbagi ilmu dan pengalaman. Setelah paparan dari nara sumber dilanjutkan tanya jawab yang bisa berkembang menjadi diskusi. Pada talkshow biasanya ada host sebagai pemandu acara sekaligus bertindak sebagai moderator.

Berdasarkan pengalaman menghadiri acara workshop dan talkshow maka saya sampaikan beberapa tips agar kita dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari acara tersebut.

1. Mempersiapkan diri lebih dini dengan cara membaca referensi terkait dengan tema atau topiknya. Di antara ilmu yang telah kita miliki mungkin masih ada yang belum kita fahami dengan baik. Itulah sebabnya ada orang yang menyarankan agar kita mengosongkan otak sehingga siap diisi dengan ilmu yang akan segera kita terima.

2. Mendengarkan dengan seksama penjelasan nara sumber. Walaupun kita sudah mengetahui ilmunya namun tak elok jika kita menganggap sepele narasumber dengan ngobrol, main gadget, dan perilaku kurang terpuji lainnya.

3. Mencatat dengan tertib penjelasan narasumber yang mungkin belum tertuang dalam handout yang dibagikan kepada peserta.

4. Pembicara biasanya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, setelah seluruh sesi selesai atau setiap saat jika ada materi yang belum difahami. Pembicara biasanya menjelaskan kapan peserta boleh mengajukan pertanyaan.

5. Hindari menimbulkan kegaduhan dengan melakukan interupsi berkali-kali. Hormati mekanisme yang berlaku.

6. Jika ada penjelasan narasumber yang dianggap menyimpang atau bertentangan dengan teori maka ajukan tanggapan jika sudah diijinkan oleh pembicara. “Nyletuk” bernada menegur narasumber bisa menimbulkan kesan kita kurang memahami etika berdiskusi.

7. Ajukan pertanyaan terhadap materi yang benar-benar belum kita fahami. Hindarkan kesan bahwa pertanyaan yang kita ajukan bersifat menguji kemampuan narasumber.

8. Ajukan pertanyaan dengan santun dan beradab. Gunakan kata atau kalimat yang baik.

9. Jangan bergumam apalagi berteriak ‘Huuuuuuuuuuuu’ jika ada peserta lain sedang mengajukan pertanyaan.

10. Jika tidak setuju penjelasan narasumber ajukan tanggapan dengan menyebut sumber atau referensi yang mendukung ketidaksetujuan tersebut.

.

Itulah beberapa tips yang bisa saya sampaikan. Silakan ditambahkan agar bermanfaat bagi sahabat yang lainnya.

Artikel ini diikutsertakan dalam acara Challenge One day One Post yang digelar oleh Fun Blogging Group

[20 Juli 2016]




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

3 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Inayah says:

    Interupsi berkali2…hahaa nyebelin kalau ikut seminar ada yg begitu. Sok iyee…

    Interupsi narasumber…interupsi…interupsi Pimpinan
    Halah…halah

  2. Ruth Nina says:

    3 & 4 itu penting Pakde. Terutama ketika diberi kesempatan bertanya, soalnya saya sering malu bertanya sesat di jalan. Hehe.

    Hooh, tukang becak atau jukir juga tempat bertanya

  3. Eko Nurhuda says:

    Sepakat dengan tips-tips di atas. Utamanya soal sopan santun dalam bertanya. Saya pernah ikut semacam workshop di mana penanya justru terkesan “menyerang” narasumber karena berbeda pendapat. Tentu ini bukan hal yang terpuji.

    Walau wakil rakyat ya jangan suka menyerang

Leave a comment