Jangan Membuat Kegaduhan

Tiba-tiba kalimat berbunyi “jangan membuat kegaduhan” sering muncul. Entah siapa yang memulai dan ditujukan kepada siapa kalimat bernada suruhan, perintah, atau instruksi itu. Yang jelas pengeluaran kalimat itu pasti ada maksud dan tujuannya. Seringkali dikatakan bahwa kegaduhan itu memang sengaja untuk mengalihkan perhatian.

Waktu saya sekolah kalimat senada diucapkan oleh pak atau Bu Guru. “Ibu tinggal sebentar. Kerjakan soal hitungan pada halaman 23 sampai selesai. Jangan gaduh.” Kami tertib hanya sebentar. Setelah itu kegaduhan mulai terdengar. Mereka yang tidak bisa mengerjakan soal hitungan mulai bertanya ke kiri dan kekanan. Teman yang sedang mengerjakan pun ikut gaduh karena merasa terganggu oleh suara temannya. Kami baru tenang kembali setelah Bu Guru masuk ruangan. “Kalian ini memang suka banget membuat kegaduhan,” ujar beliau.

Jangan membuat kegaduhan juga sering dipesankan oleh dokter atau perawat. Ketika ada pengunjung yang menengok orang sakit selalu dipesan agar tenang karena pasien sedang istirahat. Namun dalam prakteknya tetap saja ada pengunjung yang berbicara sambil tertawa-tawa.

Kegaduhan juga bisa terjadi jika ada suatu kegiatan atau peristiwa yang mengundang perhatian publik. Ucapan, sikap, dan tingkah laku serta serta kebijakan seseorang kadang dinilai dapat menimbulkan kegaduhan. Kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan yang menyangkut hajat hidup rakyat sering menimbulkan kegaduhan. Maklum, bagi rakyat biasa kenaikan harga barang akan menambah anggaran belanja. Apalagi jika kenaikan harga barang tidak diikuti kenaikan upah atau gaji.

Kegaduhan tersebut semakin menjadi-jadi karena sebuah berita muncul di media cetak maupun media elektronik. Belum lagi munculnya status di media sosial yang segera menyebar dalam waktu singkat. Kicauan di twitter segera di retweet oleh yang lain. Status di Facebook juga dishare oleh pengguna yang lain.

Setelah kalimat “Jangan membuat gaduh” dilontarkan biasanya akan manjur beberapa saat. Namun kalimat sakti yang lagi ngetren itu akan muncul lagi manakala peristiwa yang lain terjadi. Demikian silih berganti. Entah sampai kapan.

Kegaduhan bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Namanya juga dunia, kayaknya kurang sip jika tak dibumbui kegaduhan. Yang harus dijaga adalah: kegaduhan itu tidak menimbulkan bencana.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

2 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Asop says:

    Pasti ujung2nya nanti “jangan membuat kegaduhan politik!” 😀

    Rasa2nya kata politik bisa digabungkan dengan berbagai kata. Ada kegaduhan politik, kekacauan politik, ada perdamaian politik, dan lainnyaaaa 😀

  2. Susindra says:

    Saya jadi ingat puisinya cinta, Pakde. Biar gaduh sampai mengaduh. Xixixixi…
    Saya becanda kok.
    Sebenarnya kegaduhan itu wujud perbedaan pikir, watak dan pola hidup. Di situlah nanti toleransi merajutnya menjadi harmoni indah.

    Jika terlalu sering dilakukan maka kita tak akan bisa dengan tenang bekerja

Leave a comment